background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
293
I N F O P R O D U K
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
294
O P I N I
I N F O P R O D U K
Testosterone Deficiency
Syndrome (TDS) in Aging Male
S
indrom defisiensi Testosteron atau Testosterone deficiency
syndrome (TDS) pada aging male (pria lanjut usia) merupakan
sindrom klinis berupa kumpulan tanda dan gejala pada pria ber-
kaitan dengan bertambahnya usia akibat defisiensi hormon tes-
tosteron. Beberapa keluhan yang sering ditemukan pada sindrom ini:
libido menurun, lemas/kurang tenaga, daya tahan dan kekuatan
fisik menurun serta penurunan prestasi kerja, tinggi badan ber-
kurang, kenikmatan hidup menurun, emosi labil, ereksi kurang kuat,
dsb. Diagnosis TDS ditentukan berdasarkan adanya perubahan
mental & fisik yang diukur dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan
fungsi tubuh, adanya perubahan hormonal yang diukur dari
pemeriksaan laboratorium serta keluhan penderita seperti di
atas. Untuk mengatasi keadaan tersebut diperlukan tambahan
hormon Testosteron.
FARMAKOLOGI :
Tostrex
®
tergolong kelompok terapi androgen. Androgen endo-
gen terutama testosteron dan metabolit utamanya dehidro-
testosteron (DHT) disekresikan oleh testis. Hormon ini bertang-
gung jawab terhadap perkembangan organ kelamin pria baik
internal maupun eksternal. Selain itu, hormon ini juga diperlukan
untuk memelihara karakteristik seks sekunder seperti stimulus
pertumbuhan rambut, suara pecah, dan perkembangan libido.
Hormon ini juga memiliki sifat anabolisme protein, perkembangan
otot tulang rangka dan distribusi lemak tubuh, menurunkan
ekskresi nitrogen urin, natrium, kalium, klorida, fosfat dan air.
Testosteron tidak mempengaruhi perkembangan testis, namun
menurunkan ekskresi gonadotropin pituitari. Efek testosteron
pada beberapa organ target terjadi setelah perubahan perifer
testosteron menjadi estradiol yang kemudian mengikat reseptor
estradiol pada inti sel target seperti di kelenjar pituitari, jaringan
lemak, otak, tulang, dan sel-sel leydig testis.
Farmakokinetik
Absorpsi
Tostrex
®
memiliki formulasi hidroalkoholik yang akan mengering
segera jika terpapar dengan kulit. Kulit bertindak sebagai reservoir
untuk pelepasan testosteron secara lambat ke dalam sirkulasi sistemik.
Penyerapan testosteron ke dalam darah dilanjutkan selama 24
jam dengan konsentrasi yang secara bermakna berada di atas
kadar testosteron basal. Aplikasi antara 200 dan 800 m2 tidak
menunjukkan efek klinis yang relevan terhadap konsentrasi testos-
teron serum. Aplikasi testosteron di paha bagian dalam dan perut
menghasilkan kadar testosteron yang sebanding. Bioavailabilitas
Tostrex
®
sekitar 12%. Pemberian gel 3 gram setiap hari selama
lebih dari 6 bulan menghasilkan kadar testosteron serum 5,0 +
2,0 ug/L dan konsentrasi minimal individu yaitu 3,0 + 1,0 ug/L
dan konsentrasi maksimum yaitu 12,0 + 7,0 ug/L.
ASI mengandung substansi yang menunjang perkembangan sistem
saraf dan pertumbuhan otak.
8
ASI kaya akan antibodi untuk
melawan infeksi.
7
ASI dapat membantu bayi untuk merespon
secara baik terhadap vaksin mengingat jumlah antibodi yang tinggi
pada bayi usia 7-12 bulan yang menyusui.
8
Bayi yang menyusui
lebih sedikit mengalami alergi. Pada keluarga dengan riwayat alergi,
bayi menyusui mengalami lebih sedikit asma, alergi makanan
dan eksim. ASI eksklusif sampai 4 bulan akan menurunkan risiko
penyakit jantung anak ketika dewasa.
7
Menyusui juga membina
ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.
Penelitian di negara maju dan berkembang termasuk populasi
kelas menengah di negara maju, menunjukkan bukti kuat bahwa
ASI menurunkan insiden dan atau keparahan sejumlah penyakit
infeksi termasuk meningitis bakterial, bakteremia, diare, infeksi
saluran napas, necrotizing enterocolitis, otitis media, infeksi saluran
kemih, dan late-onset sepsis pada bayi prematur. Selain itu, angka
kematian postneonatal di USA berkurang hingga 21% pada bayi
menyusui. Sejumlah studi menunjukkan peran ASI pada penurunan
kejadian sudden infant death syndrome pada tahun pertama
kehidupan dan penurunan insiden DM tipe 1 dan 2, limfoma,
leukemia, penyakit Hodgkin, overweight dan obesitas, hiperkoles-
terolemia, dan asma pada anak yang lebih tua dan orang dewasa.
Menyusui juga berhubungan dengan peningkatan hasil tes per-
kembangan kognitif. Menyusui pada saat prosedur seperti heel-stick
untuk skrining bayi baru lahir akan membuat analgesia bagi bayi.
1
Manfaat menyusui bagi ibu antara lain menurunkan risiko perda-
rahan pasca persalinan dan mempercepat involusi uterus karena
berhubungan dengan peningkatan konsentrasi oksitosin, menurun-
kan kehilangan darah menstruasi dan meningkatkan jarak kelahiran
berhubungan dengan amenore pada masa laktasi, mempercepat
kembalinya berat badan seperti sebelum hamil, menurunkan risiko
kanker payudara dan kanker ovarium serta kemungkinan menurun-
kan risiko fraktur tulang pinggul dan osteoporosis pasca menopause.
1
Selain manfaat individual, menyusui menghasilkan manfaat sosial
ekonomi yang signifikan bagi negara, termasuk mengurangi biaya
perawatan kesehatan dan mengurangi orangtua absen dari
pekerjaan karena anak sakit. Insiden penyakit yang rendah pada
bayi menyusui membuat orangtua memiliki waktu yang lebih
untuk memperhatikan anak-anaknya yang lain serta tugas keluarga
yang lain dan mengurangi orangtua absen dari pekerjaan serta
menghindari berkurangnya pendapatan. Diperkirakan pada tahun
1993 biaya untuk membeli formula bayi pada tahun pertama
setelah melahirkan adalah $855. Selama 6 bulan pertama laktasi,
masukan kalori pada ibu yang menyusui tidak besar. Setelah
periode tersebut, intake makanan dan minuman lebih besar,
tetapi harga peningkatan intake kalori tersebut sekitar setengah
dari harga untuk membeli susu formula. Dengan demikian dapat
menghemat >$400 per anak untuk pembelian makanan selama
tahun pertama.
9
Daftar Pustaka
1. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 2005;
115: 496-506. Diakses dari: http://aap.policy.aappublications.org/.
2. Media Indonesia. Program ASI eksklusif hingga bayi enam bulan. 3 Agustus 2005. Diakses
dari:
http://www.mkia-kr.ugm.ac.id/.
3. Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI. Kebijakan Departemen Kesehatan tentang peningkatan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) pekerja wanita. Diakses dari: http://www.dinkeskota
semarang.go.id/.
4. Nindya S. Dampak pemberian ASI eksklusif terhadap penurunan kesuburan seorang wanita.
Cermin Dunia Kedokteran 2001; 133: 44-47.
5. LINKAGES. Pemberian ASI Eksklusif atau ASI saja: satu-satunya sumber cairan yang
dibutuhkan bayi usia dini. 2002. Diakses dari: http://www.linkagesproject.org/.
6. Black RE, Victora CG. Optimal duration of exclusive breast feeding in low income
countries. BMJ 2002; 325: 1252-1253. http://bmj.bmjjournals.com/.
7. Suririnah. Air Susu Ibu (ASI) memberi keuntungan ganda untuk ibu dan bayi. 2004. Diakses
dari:
http://www.infoibu.com/
8. Department of Nursing: Children's and Women's Services/Ob-Gyn Patient Education
Committee University of Iowa Children's Hospital. Breast is best!. Diakses dari:
http://www.uihealthcare.com/.
9. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 1997;
100: 1035-9. Diakses dari: http://aap.policy.aappublications.org/.
Distribusi
Sekitar 40% testosteron plasma terikat dengan SHBG (sex hormone
binding globulin), 2% dalam bentuk bebas dan sisanya terikat
dengan albumin dan protein lainnya. Ikatan albumin dan testos-
teron mudah dipisahkan dan merupakan ikatan yang secara biologis
aktif. Namun, ikatan dengan SHBG merupakan ikatan yang kuat;
oleh karena itu, konsentrasi testosteron bioaktif serum meru-
pakan fraksi yang tidak terikat dan yang terikat dengan albumin.
Metabolisme
Metabolit aktif utama testosteron yaitu estradiol dan DHT. Afinitas
ikatan DHT lebih kuat terhadap SHBG dibandingkan testosteron.
DHT kemudian akan dimetabolisme menjadi 3-alpha dan 2-beta
androstanediol.
Ekskresi
Sekitar 90% dosis testosteron yang diberikan secara intramus-
kuler akan dieksresikan di urin dalam bentuk asam glukoronat
dan konjugat sulfat dari testosteron dan metabolitnya. Sekitar
6% dosis akan diekskresikan melalui feses, sebagian besar dalam
bentuk unconjugate.
PROFIL PRODUK TOSTREX
®
Tostrex 2% gel merupakan Testosteron gel pertama di Indonesia
dengan teknologi transdermal untuk indikasi pada pria yang
mengalami hipogonadisme dengan defisiensi testosteron yang
telah dikonfirmasi melalui gejala klinis dan laboratorium
INDIKASI
Terapi pengganti testosteron untuk pria yang mengalami hipo-
gonadisme dengan defisiensi testosteron yang telah dikonfirmasi
melalui gejala klinis dan laboratorium.
DOSIS
Untuk pemberian per kutaneus.
Pada Pria Dewasa
Rekomendasi pemberian awal Tostrex
®
yaitu gel 3 g (60 mg testos-
terone) sekali sehari pada waktu yang sama setiap pagi. Titrasi
dosis berdasarkan kadar testosteron serum serta gejala dan tanda
klinis yang berkaitan dengan defisiensi androgen. Kadar testos-
teron fisiologis turun seiring dengan meningkatnya usia. Pemberian
setiap harinya tidak boleh melebihi 4 g gel (80 mg testosteron).
Pemberian dapat dilakukan di perut (seluruh dosis diberikan paling
sedikit 10 dari 30 cm) atau di paha bagian dalam ( setengah dosis
diberikan paling sedikit 10 dari 15 cm untuk setiap paha bagian dalam).
Pemberian secara rotasi antara perut dan paha dianjurkan untuk
menghindari efek samping pada tempat pemberian. Setiap
penekanan piston mengeluarkan _ gram gel (10 mg testosteron).
background image
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
295
I N F O P R O D U K
1
0,5
10
2
1
20
4
2
40
6
3
60
8
4
80
Jumlah
Penekanan
Jumlah gel (gram)
Jumlah Testosteron
Yang Diaplikasi ke
Kulit (mg)
·
·
Kehamilan dan Menyusui
Tostrex
®
hanya diberikan pada pria.
Tostrex
®
tidak diindikasikan untuk wanita hamil dan menyusui.
EFEK SAMPING
Efek samping yang paling umum terjadi akibat penggunaan
Tostrex
®
hingga 4 gram yaitu reaksi lokal pada tempat aplikasi
(26%) yang terdiri dari parestesia, xerosis, pruritus, ruam atau
eritema. Efek samping ini bersifat ringan hingga sedang dan
hilang atau bersih kembali kecuali pengobatan dilanjutkan.
INTERAKSI OBAT
Kortikosteroid : pemberiaan testosteron bersamaan dengan ACTH
atau kortikosteroid dapat meningkatkan risiko edema. Oleh
karena itu, pemberian obat ini harus dengan kewaspadaan,
terutama pada pasien dengan penyakit jantung dan hati.
Jika androgen diberikan simultan dengan antikoagulan, efek
antikoagulan dapat meningkat. Pasien yang menerima anti-
koagulan oral membutuhkan monitoring terutama ketika terapi
androgen dimulai, dihentikan atau dosis Tostrex
®
diubah.
Androgen dapat menurunkan konsentrasi globulin pengikat
tiroksin, yang menyebabkan penurunan konsentrasi serum T4
dan peningkatan pengambilan T3 dan T4. Konsentrasi hormon
tiroid bebas tidak berubah. Namun tidak terdapat bukti klinis
terjadinya disfungsi tiroid.
PENYIMPANAN & KEMASAN
Simpan di bawah suhu 250. Jangan di refrigerator. Jauhkan dari
jangkauan anak-anak
Tostrex
®
2% gel : Dus berisi 1 kanister @ 60 gram. (IWA)
·
·
·
·
·
·
Tabel Dosis pemakaian Testosteron gel (Tostrex®)
Pasien yang mandi pada pagi harus menggunakan Tostrex
®
setelah
mandi. Tostrex® tidak boleh digunakan di organ genitalia.
Kontrol Pengobatan
Konsentrasi testosteron serum harus dievaluasi setelah 14 hari
sejak pengobatan awal untuk meyakinkan dosis yang tepat.
Sampel darah untuk pengukuran kadar testosteron serum diambil 2
jam setelah pemberian Tostrex
®
. Jika konsentrasi testosteron
serum di antara 5,0 dan 15,0 ug/L, dosis tidah boleh diubah dari
3 g setiap harinya.
Anak-anak
Tostrex
®
tidak diindikasikan untuk anak-anak dan belum di-
evaluasi secara klinis pada laki-laki di bawah usia 18 tahun.
KONTRAINDIKASI
Androgen dikontraindikasikan pada :
Diketahui atau dicurigai kanker payudara atau prostat, Sindroma
nefrotik, Hiperkalsemia dan Hipersensitivitas
PERINGATAN DAN PERHATIAN
Tostrex
®
seharusnya tidak digunakan untuk mengobati gejala
hipogonadisme tidak spesifik jika tidak menunjukkan defisiensi
testosteron dan jika etiologi penyebab lain belum disingkirkan.
Defisiensi testosteron harus ditunjukkan dengan gejala klinis
dan dikonfirmasi dengan dua pengukuran kadar testosteron
yang terpisah sebelum mulai terapi testosteron, termasuk
Tostrex
®
. Untuk meyakinkan dosis yang tepat, harus dievaluasi
konsentrasi testosteron serum.
Tostrex
®
tidak diindikasikan untuk pengobatan sterilitas pada
pria atau impotensi seksual.
Pada saat hendak memulai pengobatan terapi penganti tes-
tosteron, semua pasien harus diperiksa lengkap untuk meny-
ingkirkan risiko kanker prostat. Monitoring kelenjar prostat
dan payudara yang teratur dan hati-hati harus dilakukan sesuai
rekomendasi (pemeriksaan rektal dengan jari dan estimasi
kadar prostate specific antigen PSA) pada pasien usia lanjut
dan pasien dengan faktor risiko (klinis atau faktor keturunan)
yang menggunakan testosteron setidak-tidaknya sekali atau 2
kali setiap tahunnya.