I N F O P R O D U K
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
S
elain berdampak langsung terhadap penurunan kualitas
hidup dan penurunan kepatuhan terapi, CINV dapat menim-
bulkan komplikasi yang mengancam nyawa (misal, dehidrasi,
ketidakseimbangan elektrolit, alkalosis, dsb). Oleh sebab itu,
dibutuhkan penanganan seoptimal mungkin dalam mengon-
trol CINV.
Antiemesis golongan antagonis reseptor 5-Hydroxytryptamine 3
(5-HT3) / serotonin subtype 3 merupakan obat dengan
potensi antiemesis yang kuat tanpa efek samping terkait
dopamin (dopamine related), dan direkomendasikan sebagai
terapi lini pertama oleh berbagai guideline di dunia, seperti
guideline American Society of Clinical Onology (ASCO) dan
National Comprehensive Cancer Network (NCCN).
Palonosetron merupakan antiemesis generasi terbaru dari
golongan antagonis reseptor 5-HT3 dengan efektifitas yang
lebih tinggi dan profil keamanan yang baik, dan telah
mendapat approval badan pengawas obat dan makanan
(FDA) Amerika Serikat pada Juli 2003. Palonosetron bekerja
sebagai antagonis reseptor 5-HT3 sehingga mencegah
aktivasi / penghantaran sinyal muntah melalui nervus vagus di
saluran cerna dan di chemoreceptor trigger zone, serta pusat
muntah di otak.
Dari sisi farmakologi, palonosetron berbeda dengan antago-
nis 5-HT3 lainnya (seperti dolasetron, ondansetron, dan
granisetron). Karena memiliki waktu paruh terpanjang (40
jam vs 5 - 12 jam untuk antagonis 5-HT3 lain) dan afinitas
ikatan tertinggi (minimal 30 kali lebih kuat dibandingkan
antagonis 5-HT3 lain), maka palonosetron cukup diberikan
sebagai dosis tunggal 0,25mg untuk setiap siklus.
Sifat farmakologi yang hanya dimiliki palonosetron adalah
sifat ikatan allosterik, di mana ikatannya dengan sisi alosterik
pada reseptor 5-HT3 dapat menyebabkan perubahan bentuk
reseptor sehingga afinitas reseptor terhadap palonosetron
semakin meningkat (positive cooperativity). Sifat farmakologi
unik tersebut yang menurut pendapat para ahli dapat
menjelaskan superioritas palonosetron terhadap obat sejenis-
nya, seperti terlihat pada resume uji klinis di bawah ini.
Hingga kini telah ada berbagai uji klinis perbandingan
langsung palonosetron dengan antagonis 5-HT3 lainnya
(lihat tabel). Hasil uji klinis perbandingan menunjukkan efekti-
fitas palonosetron yang lebih tinggi dengan antagonis 5-HT3
lain. Studi perbandingan head-to-head dengan granisetron
pada kemoterapi berbasis cisplatin (dilakukan di Jepang, di
mana palonosetron belum mendapat approval), menunjuk-
kan bahwa palonosetron mencapai complete response lebih
tinggi pada fase lambat dan sebanding pada fase akut.
Sedangkan profil efek samping palonosetron sebanding
dengan antagonis 5-HT3 lain.
Tabel: Perbandingan Palonosetron dengan Antagonis 5-HT3 Lain
Palonosetron 0,25 mg dosis tunggal saat ini diindikasikan
oleh BPOM Indonesia dan FDA Amerika Serikat, serta direko-
mendasikan oleh NCCN dan ASCO, untuk prevensi CINV
pasien yang mendapat kemoterapi moderately dan highly
emetogenic (kategori 1). (LHS)
Referensi:
1. Evidence-Based Prevention of CINV: What»s New in ASCO Guidelines?The Journal of Supportive Oncology.6(2).p71-2
2. Jordan, Karin; et al.Guidelines for Antiemetic Treatment of CINV: Past, Present, and Future Recommendations.
The
Oncologist.2007.12.p1143-50
3. Noonan, Kimberly A.The Impact of CINV on the Daily Function and Quality of Life of Patients.Advanced Studies om
Nursing.2005.3(1).p16-21
4. Aloxi Monograph.ver.2008
5. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology.Antiemesis.V.1.2009.www.nccn.org
6. Kris, Mark G; et al.American Society of Clinical Oncology Guideline for Antiemetics in Oncology: Update 2006.2006.J Clin
Oncol.24(18).p2932-47
7. Nelson, Raxanne.Palonosetron Superior to Granisetron in Preventing Chemotherapy-Induced Emesis.Medscape.2008. www.medscape.com
8. Sekine,I; et al.Palonosetron vs Granisetron, Both Combined with Dexamethasone in Preventing CINV Associated with Cisplatin or
Anthracycline Plus Cyclophosphamide-based Regimens.American Society of Clinical Oncology.2008.Abstract
9. Aapro, MS; et al.A Phase III, Double-blind, Randomized Trial of Palonosetron Compared with Ondansetron in Preventing CIVN
Following Highly Emetogenic Chemotherapy.Annals of Oncology.2006.17.p1441-9
54
Palonosetron, A Breakthrough
Antiemesis for Chemotherapy Induced
Nausea and Vomiting (CINV)
Di tengah semakin berkembangnya terapi kanker (khususnya kemoterapi), efek samping
mual-muntah akibat kemoterapi (CINV) tetap menjadi perhatian khusus, karena insidennya
yang tinggi dan menjadi efek samping kemoterapi yang paling ditakutkan pasien.
Moderately
Emetogenic
Chemotherapy
Highly
Emetogenic
Chemotherapy
Ket : CR: Complete Response; NS: Non Significant
CR Akut
(%)
81,0
68,6
(p=0,0085)
77,5
75,2
(p=ns)
56,8
44,5
(p<0,001)
64,7
55,8
(p=ns)
42,0
28,6
(p=0,025)
74,1
55,1
(p<0,001)
CR Lambat
(%)
CR Akut
(%)
CR Lambat
(%)
(Yoshizawa, et al) n = 1.114
- Palonosetron
- Granisetron
(Aapro, MS; et al)
- Palonosetron (n=223)
- Ondansetron (n=221)
(Gralla; et al)
- Palonosetron (n=189)
- Ondansetron (n=185)
Studi :