P R A K T I S
P R A K T I S
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
369
368
DEFINISI:
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal > 38ēC) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium
KLINIS :
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berusia 6 bulan - 5 tahun.
Kejang disertai demam pada bayi < 1 bulan tidak termasuk kejang
demam. Jika anak berusia < 6 bulan atau > 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain seperti infeksi
SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Anak
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang
saat demam, tidak termasuk dalam kejang demam.
Kejang demam dibagi atas 2 jeins:
1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure) ; yaitu :
Kejang demam yang berlangsung singkat, < 15 menit dan
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berupa kejang umum
tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang demam tidak
berulang dalam 24 jam. Kejang jenis ini merupakan 80% dari
seluruh
kejang
demam
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure) ; yaitu :
Kejang dengan salah satu ciri berikut :
a. Kejang lama > 15 menit
b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang parsial
c. Berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam
PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin; dilaku-
kan untuk evaluasi penyebab demam, atau keadaan lain; misal-
nya pemeriksaan darah perifer, elektrolit dan gula darah.
Punksi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis; risiko meningitis bakterialis adalah
0.6% - 6.7 %. Jika yakin klinis bukan meningitis, tidak perlu
dilakukan.
Mengingat manifestasi klinis meningitis sering tidak jelas pada bayi ;
maka pada:
1. Bayi < 12 bulan sangat dianjurkan punksi lumbal
2. Bayi antara 12 18 bulan dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin
EEG tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi
berulangnya kejang atau memperkirakan risiko epilepsi di
kemudian hari. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang
demam tak khas; misalnya pada anak usia > 6 tahun atau kejang
demam fokal.
Pencitraan seperti foto X ray, CT scan atau MRI kepala hanya
dilakukan jika ada :
1. Kelainan neurologik fokal menetap (misal hemiparesis)
2. Paresis n.VI (n.abdusens) - bola mata tidak dapat melirik ke lateral
3. Papiledema
PENATALAKSANAAN
Saat kejang
Umumnya kejang berlangsung singkat dan berhenti sendiri. Jika
masih kejang diberikan diazepam intravena 0.3 0.5 mg/kg.bb
iv diberikan dalam waktu 3 5 menit, dosis maksimal 20 mg.
Atau diazepam per rektal 5 mg. untuk anak dengan berat badan
< 10 kg,. dan 10 mg. jika berat badan > 10 kg. Atau diazepam
per rektal 5 mg. untuk usia < 3 tahun dan 7.5 mg. untuk usia > 3
tahun. Jika setelah pemberian diazepam per rektal kejang belum
berhenti, dapat diulang dengan dosis sama setelah selang
waktu 5 menit. Jika setelah dua kali pemberian diazepam per
rektal masih belum berhenti, dianjurkan ke rumah sakit.
Di rumahsakit :
Diberikan diazepam intravena 0.3 0.5 mg/kg.bb. Jika masih
tetap kejang, berikan fenitoin intravena 10-20 mg/kg.bb/kali
dengan kecepatan 1 mg/menit atau < 50 mg/menit. Jika berhenti
dosis selanjutnya fenitoin 4-8 mg/kg.bb/hari dimulai 12 jam setelah
dosis awal. Jika masih belum berhenti, rawat di ruang intensif.
Pemberian obat saat demam
Tidak ada bukti bahwa pemberian antipiretik mengurangi risiko
kejang demam; tetapi dapat diberikan parasetamol dengan
dosis 10 -15 mg/kg.bb/kali diberikan 4 kali sehari, tidak lebih
dari 5 kali sehari. Obat lain ibuprofen dengan dosis 5-10 mg/
kgbb/kali, 3 4 kali sehari.Asam asetil salisilat tidak dianjurkan
terutama pada usia < 18 bulan karena risiko sindrom Reye Diazepam
oral 0.3 mg/kg.bb tiap 8 jam saat demam menurunkan risiko
berulangnya kejang demam pada 30% - 60 % kasus, begitu pula
diazepam rektal 0.5 mg/kg.bb setiap 8 jam pada suhu > 38.5ēC.
Hati hati dengan efek samping ataksia, iritabel dan sedasi berat
yang terjadi pada 25% - 39% kasus.
Fenobarbital, fenitoin dan karbamazepin saat demam tidak
berguna untuk mencegah kejang demam.
Pengobatan rumat/pencegahan/profilaksis
Diberikan jika:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Ada kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental,
hidrosefalus.
3. Kejang fokal
Dipertimbangkan jika :
1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
2. Terjadi pada bayi < 12 bulan
3. Kejang demam 4 kali/tahun
Jenis obat :
Pilihan pertama saat ini ialah asam valproat dengan dosis 15-40
mg/kg.bb/hari dibagi 2-3 dosis; atau fenobarbital 3-4 mg/kg.
bb/hari dibagi dalam 1-2 dosis.
Asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati pada
sebagian kecil kasus terutama pada usia < 2 tahun; fenobarbital
dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar
pada 40% - 50% kasus.
Lama pengobatan :
Diberikan selama 1 tahun bebas kejang; kemudian dihentikan
bertahap dalam 1-2 bulan.
PROGNOSIS
Risiko cacad akibat komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal
pada pasien yang sebelumnya normal.
Ada penelitian retrospektif yang melaporkan kelainan neurologis
pada sebagian kecil kasus, biasanya terjadi pada kasus dengan
kejang lama atau kejang berulang.
Kematian akibat kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Risiko berulang
Faktor risiko berulangnya kejang demam :
1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
2. Usia < 12 bulan
3. Suhu rendah saat kejang demam
4. Cepatnya kejang setelah demam
Jika semua faktor risiko ada , risiko berulang 80%; jika tidak ada
hanya 10-15%. Sebagian besar berulang pada tahun pertama
(setelah kejang).
Risiko epilepsi
Faktor risiko epilepsi adalah jika ada :
1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum
kejang demam pertama.
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.
Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko epilepsi sampai
4% 6%; kombinasi faktor risiko tersebut meningkatkan risiko
epilepsi menjadi 10% 49%.
Risiko epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat
rumat/profilaksis pada kejang demam.
EDUKASI PADA ORANGTUA
Orangtua sering panik menghadapi kejang karena merupakan
peristiwa yang menakutkan.
Kecemasan ini dapat dikurangi dengan antara lain:
1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai
prognosis
baik
2. Memberitahukan cara penanganan kejang
3. Memberi informasi tentang risiko kejang berulang
4. Pemberian obat pencegahan memang efektif, tetapi harus
diingat risiko efek samping obat
Jika anak kejang, lakukan hal berikut :
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama sekitar leher
3. Jika tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala
miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau
hidung. Walaupun ada risiko lidah tergigit, jangan masukkan
apapun ke dalam mulut.
4. Ukur suhu tubuh, catat lama dan bentuk/sifat kejang
5. Tetap bersama anak selama kejang
6. Berikan diazepam per rektal. Jangan diberikan jika kejang
telah
berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumahsakit jika kejang berlangsung 5
menit.
(BRW)
Disarikan dari :
Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S. (eds.).
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. UKK Neurologi IDAI, 2006.
KEJANG DEMAM
KEJANG DEMAM
KEJANG DEMAM
P R A K T I S
P R A K T I S
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
CDK 165/vol.35 no.6/September - Oktober 2008
369
368
DEFINISI:
Kejang demam ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan
suhu tubuh (suhu rektal > 38ēC) yang disebabkan oleh proses
ekstrakranium
KLINIS :
Kejang demam terjadi pada 2-4% anak berusia 6 bulan - 5 tahun.
Kejang disertai demam pada bayi < 1 bulan tidak termasuk kejang
demam. Jika anak berusia < 6 bulan atau > 5 tahun mengalami
kejang didahului demam, pikirkan kemungkinan lain seperti infeksi
SSP, atau epilepsi yang kebetulan terjadi bersama demam. Anak
yang pernah mengalami kejang tanpa demam, kemudian kejang
saat demam, tidak termasuk dalam kejang demam.
Kejang demam dibagi atas 2 jeins:
1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure) ; yaitu :
Kejang demam yang berlangsung singkat, < 15 menit dan
umumnya akan berhenti sendiri. Kejang berupa kejang umum
tonik atau klonik, tanpa gerakan fokal. Kejang demam tidak
berulang dalam 24 jam. Kejang jenis ini merupakan 80% dari
seluruh
kejang
demam
2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure) ; yaitu :
Kejang dengan salah satu ciri berikut :
a. Kejang lama > 15 menit
b. Kejang fokal atau parsial satu sisi, atau kejang umum
didahului kejang parsial
c. Berulang atau lebih dari satu kali dalam 24 jam
PEMERIKSAAN PENUNJANG :
Pemeriksaan laboratorium tidak dikerjakan secara rutin; dilaku-
kan untuk evaluasi penyebab demam, atau keadaan lain; misal-
nya pemeriksaan darah perifer, elektrolit dan gula darah.
Punksi lumbal dilakukan untuk menegakkan atau menyingkirkan
kemungkinan meningitis; risiko meningitis bakterialis adalah
0.6% - 6.7 %. Jika yakin klinis bukan meningitis, tidak perlu
dilakukan.
Mengingat manifestasi klinis meningitis sering tidak jelas pada bayi ;
maka pada:
1. Bayi < 12 bulan sangat dianjurkan punksi lumbal
2. Bayi antara 12 18 bulan dianjurkan
3. Bayi > 18 bulan tidak rutin
EEG tidak direkomendasikan karena tidak dapat memprediksi
berulangnya kejang atau memperkirakan risiko epilepsi di
kemudian hari. Pemeriksaan EEG dapat dilakukan pada kejang
demam tak khas; misalnya pada anak usia > 6 tahun atau kejang
demam fokal.
Pencitraan seperti foto X ray, CT scan atau MRI kepala hanya
dilakukan jika ada :
1. Kelainan neurologik fokal menetap (misal hemiparesis)
2. Paresis n.VI (n.abdusens) - bola mata tidak dapat melirik ke lateral
3. Papiledema
PENATALAKSANAAN
Saat kejang
Umumnya kejang berlangsung singkat dan berhenti sendiri. Jika
masih kejang diberikan diazepam intravena 0.3 0.5 mg/kg.bb
iv diberikan dalam waktu 3 5 menit, dosis maksimal 20 mg.
Atau diazepam per rektal 5 mg. untuk anak dengan berat badan
< 10 kg,. dan 10 mg. jika berat badan > 10 kg. Atau diazepam
per rektal 5 mg. untuk usia < 3 tahun dan 7.5 mg. untuk usia > 3
tahun. Jika setelah pemberian diazepam per rektal kejang belum
berhenti, dapat diulang dengan dosis sama setelah selang
waktu 5 menit. Jika setelah dua kali pemberian diazepam per
rektal masih belum berhenti, dianjurkan ke rumah sakit.
Di rumahsakit :
Diberikan diazepam intravena 0.3 0.5 mg/kg.bb. Jika masih
tetap kejang, berikan fenitoin intravena 10-20 mg/kg.bb/kali
dengan kecepatan 1 mg/menit atau < 50 mg/menit. Jika berhenti
dosis selanjutnya fenitoin 4-8 mg/kg.bb/hari dimulai 12 jam setelah
dosis awal. Jika masih belum berhenti, rawat di ruang intensif.
Pemberian obat saat demam
Tidak ada bukti bahwa pemberian antipiretik mengurangi risiko
kejang demam; tetapi dapat diberikan parasetamol dengan
dosis 10 -15 mg/kg.bb/kali diberikan 4 kali sehari, tidak lebih
dari 5 kali sehari. Obat lain ibuprofen dengan dosis 5-10 mg/
kgbb/kali, 3 4 kali sehari.Asam asetil salisilat tidak dianjurkan
terutama pada usia < 18 bulan karena risiko sindrom Reye Diazepam
oral 0.3 mg/kg.bb tiap 8 jam saat demam menurunkan risiko
berulangnya kejang demam pada 30% - 60 % kasus, begitu pula
diazepam rektal 0.5 mg/kg.bb setiap 8 jam pada suhu > 38.5ēC.
Hati hati dengan efek samping ataksia, iritabel dan sedasi berat
yang terjadi pada 25% - 39% kasus.
Fenobarbital, fenitoin dan karbamazepin saat demam tidak
berguna untuk mencegah kejang demam.
Pengobatan rumat/pencegahan/profilaksis
Diberikan jika:
1. Kejang lama > 15 menit
2. Ada kelainan neurologis nyata sebelum atau sesudah kejang,
misalnya paresis Todd, cerebral palsy, retardasi mental,
hidrosefalus.
3. Kejang fokal
Dipertimbangkan jika :
1. Kejang berulang dua kali atau lebih dalam 24 jam
2. Terjadi pada bayi < 12 bulan
3. Kejang demam 4 kali/tahun
Jenis obat :
Pilihan pertama saat ini ialah asam valproat dengan dosis 15-40
mg/kg.bb/hari dibagi 2-3 dosis; atau fenobarbital 3-4 mg/kg.
bb/hari dibagi dalam 1-2 dosis.
Asam valproat dapat menyebabkan gangguan fungsi hati pada
sebagian kecil kasus terutama pada usia < 2 tahun; fenobarbital
dapat menimbulkan gangguan perilaku dan kesulitan belajar
pada 40% - 50% kasus.
Lama pengobatan :
Diberikan selama 1 tahun bebas kejang; kemudian dihentikan
bertahap dalam 1-2 bulan.
PROGNOSIS
Risiko cacad akibat komplikasi kejang demam tidak pernah
dilaporkan.
Perkembangan mental dan neurologis umumnya tetap normal
pada pasien yang sebelumnya normal.
Ada penelitian retrospektif yang melaporkan kelainan neurologis
pada sebagian kecil kasus, biasanya terjadi pada kasus dengan
kejang lama atau kejang berulang.
Kematian akibat kejang demam tidak pernah dilaporkan.
Risiko berulang
Faktor risiko berulangnya kejang demam :
1. Riwayat kejang demam dalam keluarga
2. Usia < 12 bulan
3. Suhu rendah saat kejang demam
4. Cepatnya kejang setelah demam
Jika semua faktor risiko ada , risiko berulang 80%; jika tidak ada
hanya 10-15%. Sebagian besar berulang pada tahun pertama
(setelah kejang).
Risiko epilepsi
Faktor risiko epilepsi adalah jika ada :
1. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum
kejang demam pertama.
2. Kejang demam kompleks
3. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.
Masing-masing faktor risiko meningkatkan risiko epilepsi sampai
4% 6%; kombinasi faktor risiko tersebut meningkatkan risiko
epilepsi menjadi 10% 49%.
Risiko epilepsi tidak dapat dicegah dengan pemberian obat
rumat/profilaksis pada kejang demam.
EDUKASI PADA ORANGTUA
Orangtua sering panik menghadapi kejang karena merupakan
peristiwa yang menakutkan.
Kecemasan ini dapat dikurangi dengan antara lain:
1. Meyakinkan bahwa kejang demam umumnya mempunyai
prognosis
baik
2. Memberitahukan cara penanganan kejang
3. Memberi informasi tentang risiko kejang berulang
4. Pemberian obat pencegahan memang efektif, tetapi harus
diingat risiko efek samping obat
Jika anak kejang, lakukan hal berikut :
1. Tetap tenang dan tidak panik
2. Kendorkan pakaian yang ketat, terutama sekitar leher
3. Jika tidak sadar, posisikan anak telentang dengan kepala
miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut dan/atau
hidung. Walaupun ada risiko lidah tergigit, jangan masukkan
apapun ke dalam mulut.
4. Ukur suhu tubuh, catat lama dan bentuk/sifat kejang
5. Tetap bersama anak selama kejang
6. Berikan diazepam per rektal. Jangan diberikan jika kejang
telah
berhenti.
7. Bawa ke dokter atau rumahsakit jika kejang berlangsung 5
menit.
(BRW)
Disarikan dari :
Pusponegoro HD, Widodo DP, Ismael S. (eds.).
Konsensus Penatalaksanaan Kejang Demam. UKK Neurologi IDAI, 2006.
KEJANG DEMAM
KEJANG DEMAM
KEJANG DEMAM