LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
236
Latar Belakang
Simposium yang bertemakan "Frontier of Cancer Research"
ini merupakan bagian dari acara resmi pembukaan Mochtar
Riady Institute for Nanotechnology. Acara tersebut digelar
pada tanggal 10 - 11 Mei 2008, bertempat di Universitas
Pelita Harapan. Acara yang menghadirkan pembicara ternama
dari berbagai negara ini dipenuhi oleh para peserta yang
terdiri dari kalangan pers, mahasiswa, dan klinisi.
Berikut disampaikan beberapa topik menarik mengenai
targeted therapy untuk penanganan kanker :
Recent Trends in Colorectal Cancer Management
Oleh : Michael Boyer, MD, PhD (Sydney Cancer Centre,
Faculty of Medicine, University of Australia)
Kanker kolorektal merupakan salah satu jenis kanker
tersering di negara Barat dan relatif lebih jarang di Asia
walaupun insidennya semakin meningkat. Di Indonesia
sendiri, terdapat sekitar 18.000 pasien baru yang di-
diagnosis kanker kolorektal tiap tahunnya. Dalam 20
tahun terakhir, angka survival mengalami peningkatan
(50% - 65%) akibat peningkatan deteksi (darah samar
feses dan/atau kolonoskopi), pengenalan terapi ajuvan,
dan perkembangan terapi sistemik yang lebih efektif.
Dibandingkan regiman 5-FU/LV, regimen FOLFOX4 mem-
berikan peningkatan Progression Free Survival (PFS) (6
bulan - 8,2 bulan; p=0,0003), Overall Survival (OS) (14,7
bulan - 16,2 bulan; p=0,17), dan Response Rate (RR)
(22% - 51%; p=0,0001). Regimen kemoterapi yang me-
ngandung oxaliplatin atau irinotecan menurunkan risiko
rekurensi sebesar 20%.
Saat ini, berbagai penelitian menilai efektifitas penamba-
han targeted therapy dengan target epidermal growth
factor receptor atau pada proses angiogenesis. Cara
memblok jalur penghantaran sinyal (signaling pathway)
ada 2, yaitu dengan memblok reseptor (antibodi mono-
klonal) atau dengan memblok tirosin kinase. Pada kanker
kolorektal, kebanyakan studi umumnya menggunakan
antibodi monoklonal. Hasil studi tersebut menunjukkan
bahwa terapi molekular + kemoterapi memberikan sedikit
manfaat dalam meningkatkan survival. Dengan terapi saat ini,
median survival pasien kanker kolorektal lanjut sekitar 2 tahun.
Targeted Therapy for Lung Cancer
Oleh : Michael Millward, MD, PhD (Cancer Council Profes-
sor of Clinical Cancer Research, Head of Departement
Medical Oncology, University of Western Australia)
Kanker paru jenis non-small cell merupakan jenis tersering
dari seluruh kanker paru. Dibutuhkan terapi yang efektif,
onset cepat, ditoleransi dengan baik, dan yang menggu-
nakan pengetahuan tentang mekanisme molekular kanker
paru. EGFR Signalling terlihat pada > 80% pasien kanker
jenis ini. Terapi anti-angiogenesis, bevacizumab, hanya
memperlihatkan sedikit peningkatan efektifitas (median
OS : paclitaxel vs paclitaxel + bevacizumab : 10,2 bulan
vs 12,5 bulan). Studi klinis dengan multi-targeted tyrosine
kinase inhibitors sorafenib dan AZD2171 tidak menun-
jukkan efektifitas dan terjadi toksisitas.
Berdasarkan hasil studi hingga kini, penggunaan targeted
therapy ataupun identifikasi sub-grup molekular, tidak
memberikan manfaat pada kanker paru jenis small cell.
·
·
Simposium
Simposium
"Frontier of Cancer Research"
"Frontier of Cancer Research"
Mochtar Riady Institute for Nanotechnology,
Mochtar Riady Institute for Nanotechnology,
10 - 11 Mei 2008
10 - 11 Mei 2008
Simposium
"Frontier of Cancer Research"
Mochtar Riady Institute for Nanotechnology,
10 - 11 Mei 2008
H A S I L P E N E L I T I A N
Kriteria inklusi kelompok kontrol:
1. Murid yang belajar di SD yang terletak jauh dengan jalan
raya dengan rata-rata tingkat kebisingan kurang dari 50 dB.
2. Telah belajar selama minimal 3 tahun di sekolah tersebut.
3 Bersedia mengikuti penelitian.
Kriteria eksklusi kelompok terpajan dan kontrol:
1. Tempat tinggal di sekitar jalan raya.
2. Terdapat infeksi telinga tengah kronik.
D. Prosedur Penelitian
Pengukuran tingkat kebisingan lingkungan menggunakan Sound
level meter yang diukur pada saat murid sedang mengerjakan
tes konsentrasi. Alat ukur bising yang digunakan adalah preci-
sion sound level meter (SLM) merek NTI minianalyzer dengan
tingkat ketepatan sebesar 0,1 dB. Pengukuran dilakukan di
tiap ruangan kelas 4 yang dipakai dalam penelitian ini, sedang-
kan pengukuran konsentrasi belajar dilakukan sebanyak 2 kali,
yaitu pada awal tahun dan akhir tahun pelajaran.
Gambar 8: Skema prosedur penelitian
E. Variabel dan Batasan Variabel
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat kebisingan
lingkungan sekolah yang merupakan tempat subyek penelitian
belajar, yaitu sekolah yang berada di sekitar jalan raya (jarak
dari pinggir jalan sejauh kurang dari 150 meter) dan langsung
berhadapan dengan jalan, sesuai dengan kriteria Sutherland
dan Lubman (2001), dengan tingkat kebisingan ruangan kelas
di atas 50 dB untuk sekolah dengan kategori bising dan di
bawah 50 dB untuk kategori sekolah tidak bising.
4,28
Yang
dimaksud dengan jalan raya pada penelitian ini adalah jalan
yang dapat dilalui oleh segala jenis kendaraan secara rutin,
terutama kendaran umum seperti bis kota.
Variabel tergantung adalah konsentrasi belajar yang diambil dari
hasil tes konsentrasi awal tahun ajaran dan akhir tahun ajaran,
selain dari pada itu diukur pula variabel bebas lain seperti jenis
kelamin dan pendidikan orang tua karena mungkin dapat meng-
ganggu hasil penelitian.
F. Instrumen Pengumpulan Data
Murid sekolah dasar yang telah memenuhi kriteria inklusi,
dan orang tua murid setuju mengikuti penelitian dan telah
menandatangani informed consent dibagi menjadi kelompok
terpajan dan kelompok kontrol. Pengambilan data identi-
tas, jenis kelamin, umur dan pendidikan orang tua, diambil
melalui pengisian kuesioner.
Pengukuran tingkat kebisingan dilakukan di ruangan kelas
SD saat proses belajar mengajar berlangsung dengan
menggunakan precision sound level meter (SLM) merek
NTI minianalyzer.
Pengukuran tingkat konsentrasi murid diambil dari 2 kali
hasil tes konsentrasi.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karekteristik Subyek
Pemilihan subyek pada penelitian ini diupayakan secara kom-
promis agar mendapatkan pasien atau subyek yang homogen
tetapi cukup realistik, sehingga hasil dapat digeneralisasi
untuk populasi yang lebih luas. Subyek penelitian ini dipilih dari
murid sekolah dasar yang terletak di daerah pinggir jalan raya
dan yang jauh dari pinggir jalan raya serta berada dalam
wilayah Kota Yogyakarta.
Dalam memilih subyek penelitian peneliti berusaha memenuhi
syarat-syarat: (1) Spesifik dan jelas sehingga benar-benar
membatasi subyek yang harus dikeluarkan karena tidak me-
menuhi kriteria minimal; (2) Sensitif sehingga menghindari
kesalahan subyek yang seharusnya masuk malah dikeluarkan;
(3) Pasti (tidak mendua) sehingga bisa dilakukan secara seragam
oleh segenap tim peneliti.
Subyek pada penelitian ini sebanyak 212 orang, dibagi 2 kelompok,
106 orang dalam kelompok murid yang terpajan bising dan berasal
dari 5 sekolah, dan 106 orang dalam kelompok murid yang
tidak terpajan bising dan berasal dari 6 sekolah. Data demo-
grafi dan karakteristik umum pasien dapat dilihat pada tabel 2.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
193
1.
2.
3.
Tabel 2 Data karakteristik umum subyek penelitian
H A S I L P E N E L I T I A N
Sebagian besar sekolah berada di daerah dengan tingkat ke-
bisingan sedang (±55%). Sekitar 30% sekolah terletak di daerah
dengan kepadatan lalu lintas yang cukup ramai (jalan raya), sisanya
terletak di daerah yang agak jauh dari keramaian (pemukiman/jalan
kecil). Jalan yang termasuk ramai seperti Prawirotaman,
Kolonel Sugiyono, AM Sangaji, Wolter Monginsidi dan sebagainya,
sedangkan jalan yang termasuk sepi seperti jalan Pasiraman,
SD Tegal Mulyo, jalan Bener dan sebagainya. Daftar jumlah
sekolah dasar dan alamatnya dapat dilihat pada lampiran.
13
Kerangka Konsep
Gambar 6: Skema kerangka konsep
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Penelitian kohort merupakan penelitian epidemiologik analitik
non-eksperimental yang mengkaji hubungan antara faktor risiko
dengan efek. Pada penelitian ini desain penelitian yang digunakan
adalah kohort prospektif yaitu subyek penelitian diamati dalam
kurun waktu tertentu terhadap suatau faktor risiko kemudian
dipelajari efek yang terjadi, (Gambar7).
46
B. Populasi dan Sampel
Sampel penelitian ini adalah murid yang terpajan maupun tidak
terpajan bising lingkungan, yang belajar di sekolah dasar di wilayah
Kota Yogyakarta dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi tertentu.
Cara pengambilan sampel adalah secara penunjukan langsung
sekolah dasar yang memenuhi syarat yaitu SD yang berada di
sekitar jalan raya berdasarkan distribusi kecamatan di kota
Yogyakarta.
47
Sekolah kontrol ditentukan secara langsung pada
sekolah yang berada jauh dari pinggir jalan raya. Kriteria sekolah
sampel sesuai dengan kriteria Sutherland dan Lubman yaitu;
sekolah dengan jarak dari pinggir jalan raya sejauh kurang dari
150 meter dan langsung berhadapan dengan jalan raya dengan
intensitas bisingnya minimal 50 dB.
28
Kriteria sekolah kontrol
adalah sekolah dengan jarak dari pinggir jalan raya sejauh lebih dari
150 meter dengan intensitas bisingnya kurang dari 50 dB.
28
Besar sampel pada penelitian ini ditentukan berdasarkan rumus
perbedaan rerata 2 populasi seperti dibawah ini:
n adalah jumlah sampel,
: 5%, tingkat kemaknaan 5% ditetap-
kan oleh peneliti untuk tingkat kesalahan tipe I (besarnya peluang
untuk menolak H0 pada sampel, padahal pada populasi H0
benar), sebagai tingkat kemaknaan statistik yang diinginkan;
:
20% ditetapkan oleh peneliti untuk kesalahan tipe II (besarnya
peluang untuk tidak menemukan perbedaan yang bermakna
dalam sampel, padahal pada populasi perbedaan itu ada); power
atau kekuatan yang mempunyai nilai (1-
) = 80%, yang berarti
penelitian ini mempunyai peluang sebesar 80% untuk mende-
teksi perbedaan penurunan konsentrasi belajar, apabila perbe-
daan tersebut memang ada di populasi.
48
Diperoleh data X1
(rata-rata hasil kemampuan membaca pada kondisi bising tinggi
= 100,6; X2 (rata-rata hasil kemampuan membaca pada kondisi
bising rendah = 105,2; Simpang baku kemampuan membaca
pada kondisi bising tinggi adalah 10. Data ini diperolah dari peneli-
tian Haines et al. (2001).
14
Jumlah sampel yang diperoleh berdasarkan perhitungan besar
sampel minimal untuk masing-masing kelompok adalah 103.
Dengan demikian, jumlah total sampel (subyek) penelitian yang
dibutuhkan pada penelitian ini adalah 206 orang.
C. Kriteria Inklusi dan Ekslusi
Kriteria inklusi kelompok terpajan:
1. Murid yang belajar di SD yang terletak di sekitar jalan raya
dengan rata-rata tingkat kebisingan lebih 50 dB.
2. Telah belajar selama minimal 3 tahun di sekolah tersebut.
3. Bersedia mengikuti penelitian.
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
192
Gambar 7. Diagram alur penelitian
LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
237
Targeted Therapy for Breast Cancer
Oleh : John Wong, MD, PhD (Vice President National
University Singapore / Dean of Yong Loo Lin Faculty of
Medicine, National University Singapore)
Saat ini, kemampuan menganalisa jalur intrinsik meng-
hasilkan terciptanya obat baru yang secara spesifik men-
targetkan langkah penting yang mempengaruhi survival
sel kanker. Penggunaan Aromatase Inhibitor (AI) (misalnya,
anastrozole, letrozole, dan exemestane) memberikan
sedikit penurunan rekurensi dibanding tamoksifen, dan
meningkatkan survival lebih tinggi setelah pemberian
tamoksifen selama 2-5 tahun. Saat ini masih tidak jelas
AI yang mana yang paling memberikan benefit, dan juga
masih tidak diketahui manfaat da efek samping pembe-
rian AI > 5 tahun. Saat ini, AI termasuk terapi ajuvan pada
pasien ca payudara post-menopause dengan reseptor
hormon positif sebagai terapi awal atau setelah pembe-
rian tamoksifen selama 2,3, atau 5 tahun.
Trastuzumab merupakan antibodi monoklonal humanised
yang berikatan dengan HER2 (Human Epidermal Receptor 2)
pada permukaan sel kanker. Sekitar 15 % - 20 % pasien
kanker payudara mengalami overekspresi HER2/neu.
Dibandingkan kemoterapi saja, trastuzumab menurunkan
relaps dan kematian sebesar 52% dan 33%. Sebagai
neoajuvan, trastuzumab meningkatkan pathological com-
plete response (paclitaxel vs paclitaxel + trastuzumab :
25% vs 65,2%; p=0,016). Trastuzumab umumnya
ditoleransi dengan baik, dan mempunyai efek samping
serius berupa kardiotoksisitas (7%).
Lapatinib merupakan obat dengan target Her2-neu dan
EGFR yang kini telah diakui untuk kasus metastatik yang
progresif dengan trastuzumab. Karena merupakan
inhibitor tirosin kinase small molecule, lapatinib dapat
menembus sawar darah-otak dan terlihat aktif terhadap
metastasis di susunan saraf pusat.
Bevacizumab, suatu anti-angiogenesis, terlihat mening-
katkan RR dan PFS dibandingkan kemoterapi saja, dan
telah diakui sebagai terapi lini pertama. Antibodi monoklonal
lainnya, pertuzumab, sedang dalam perkembangan
aktif. Dalam 30 tahun terakhir, terlihat perkembangan
terapi kanker payudara secara nyata dengan perkembangan
obat baru. Targeted agents mulai berkembang sebagai
obat generasi baru dalam penanganan kasus kanker.
·
The Global Burden of Cancer and the Promise of
Nanotechnology
Oleh : Joe B. Harford, PhD (Director, Office for International
Affairs, National Cancer Institute)
Penyakit kanker telah membunuh pasien lebih banyak
dibandingkan gabungan penyakit TBC, AIDS, dan malaria.
Kematian akibat kanker berbeda di tiap negara, dan lebih
tinggi terutama pada negara yang kurang maju (less developed).
Tiga ciri khas penyakit kanker yang ditemukan di negara
kurang maju, menurut Harford adalah : late presentation,
late presentation, dan late presentation (tumor ditemukan
dalam stadium lanjut).
Potensi nanotechnology dalam dunia kedokteran, khusus-
nya dalam penanganan kanker, saat ini mulai terealisasi.
Peran nanotechnology dalam tatalaksana kanker yaitu
dalam hal :
perkembangan zat imaging dan diagnostik yang dapat
mendeteksi kanker sedini mungkin.
sistem yang memungkinkan penilaian real-time efektifi-
tas terapi dan pembedahan sehingga dapat memper-
cepat perubahan terapi.
targeted device yang dapat berpenetrasi langsung ke
sel kanker.
zat yang dapat mengevaluasi perubahan molekular dan
mencegah lesi pre-kanker menjadi kanker.
menangani gejala kanker yang berdapak negatif ter-
hadap kualitas hidup pasien.
research tool yang memungkinkan identifikasi cepat
suat target baru untuk dikembangkan secara klinis dan
memprediksi resistensi terhadap obat.
Saat ini, di Amerika Serikat, telah dikembangkan The U.S
Government's National Nanotechnology Initiative yang
menghabiskan dana sekitar 1 milyar dolar Amerika / tahun.
Suatu analisis memperkirakan, bahwa pada tahun 2014,
sekitar 16% barang / obat di sektor kesehatan dan life
science adalah hasil nanotechnology.
(LHS)
·
-
-
-
-
-
-