background image
108
CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008
Laporan
Khusus
Mini Seminar "Active Aging",
Rektorat UI Salemba, 26 Januari 2008
Mengangkat subtema "Menjadi Tua secara Aktif untuk
Kesehatan Anda sendiri, Keluarga, Masyarakat dan Sum-
bangsih Anda kepada Negara", diskusi yang dihadiri oleh
sekitar 75 orang pengusaha, akademisi dan wakil peme-
rintahan berjalan sangat semarak. Gedung Rektorat UI di
Salemba Jakarta, terasa begitu sempit dengan antusiasme
peserta. Para pembicara adalah: Dr Boenyamin Setiawan,
PhD., DR Martha Tilaar, Dr Ch. Heriawan Soejono, DR Evi
Arifin, DR Aris Ananta dan Prof Tri Budi Rahardjo. Acara ini
terselenggara berkat kerjasama Rektorat UI dengan Stem
Cell and Cancer Institute, suatu lembaga yang mengkhu-
suskan diri pada Stem Cell (sel punca) dan kanker. Turut
mendukung acara divisi Anti Aging PT Kalbe Farma.
Setelah ucapan selamat datang dari Rektor UI, tampil Dr
Boenyamin yang pada awal presentasi menjelaskan me-
ngenai pentingnya ABG. Menurut person yang akrab di-
panggil dr Boen tersebut, Akademik adalah sumber SDM
terdidik dan sumber IPTEK. Selama dana pemerintah untuk
R&D kecil maka sebaiknya fokus pada IPTEK teraplikasi. Di-
lain pihak, Bisnis adalah tempat untuk mengkonversi IPTEK
menjadi produk praktis yang bermanfaat untuk masyarakat.
Aspek terakhir dari ABG adalah G untuk Goverment atau
pemerintah yang merupakan katalisator untuk menciptakan
peraturan yang kondusif untuk Inovasi melalui R&D.
StemCell to Slowdown the Aging Process
Selanjut dr Boen mempresentasikan pengetahuan terba-
ru mengenai Sel Punca dengan judul "Stem Cell to Slow-
down the Aging Process". Seperti diketahui ada 5 teori
yang terkenal mengapa manusia menjadi tua, yaitu:
1. Teori Genetik atau Kerusakan DNA
2. Teori ROS (Reactive Oxygen Species): antioksi-
dan vs radikal bebas
3. Teori Apoptosis
4. Teori Hormonal
5. Teori Stem Cell senescene
Tips Active Aging
Menurut Presiden Komisaris Stemcell and Cancer Insti-
tute (SCI) Indonesia tersebut, ada beberapa hal yang bisa
dilakukan agar kita hidup berkualitas di usia tua, seperti:
1. Menjalankan program CRAN (Calorie Restriction and
Adequate Nutrition) dan puasa teratur. Hal ini diper-
caya bisa menambah usia kita hingga 30 - 40 tahun.
2. Konsumsi obat-obatan anti aging seperti Anti Oksidan,
DHA, Growth Hormon, dll. Hal ini bisa memperpan-
jang usia kita hingga 20 - 30 tahun.
3. Gerak badan dan olahraga teratur (bisa memperpan-
jang 20 - 30 tahun)
4. Sifat optimistis, banyak ketawa, bergembira dan berli-
bur teratur (bisa memperpanjang usia 15 - 20 tahun)
5. Periksa kesehatan secara teratur (plus 15 - 20 tahun).
Traditional & Natural Values to Improve the Beauty of
Older Person
Pembicara kedua adalah DR Martha Tilaar, founder Mar-
tha Tilaar Group yang menjelaskan produk-produk ala-
mi bangsa Indonesia (herbal) guna menjaga kesehatan
para orang tua (senior citizens). DR Martha memaparkan
bagaimana pengaruh gaya hidup manusia saat ini yang
mempunyai efek negatif terhadap kesehatan seseorang.
Hal ini bisa terlihat jelas pada kondisi kulit yang tidak se-
hat lagi. Indonesia yang terdiri dari pel-bagai suku bangsa
kaya akan jawaban dari masalah penuaan ini yang di-
rangkum dalam konsep yang dinamakan The cycles of
life concept Rupasampat Wahyabiantara.
Setelah coffe break dilanjutkan oleh Dr Ch Heriawan Soe-
jono yang menjelaskan mengenai Healthy and Successful
Ageing. Mengakhir sesi terakhir tampil berturut-turut DR
Evi Arifin, DR Aris Ananta dari Insitute of Southeast Asian
Studies (Singapore) dan juga Prof DR Tri Budi Rahardjo.
International Center for Aging and Development Stud-
ies University of Indonesia (ICADS@UI)
Pada akhir acara, para peserta menyambut baik dengan
usulan pembentukan suatu badan yang melakukan pene-
litian mengenai usia lanjut yang disebut dengan Internatio-
nal Center for Aging and Development Studies University
of Indonesia (ICADS@UI). ICADS adalah suatu alat untuk
menjadikan UI sebagai Universitas Riset, juga merupakan
suatu model untuk "marketisasi" pelayanan umum dan re-
formasi birokrasi di Indonesia. Diharapkan dengan hadirnya
ICADS tersebut, akan tercipta pemahaman yang lebih baik
mengenai salah satu isu pembangunan yang makin penting
di Indonesia, yaitu masalah Penuaan Penduduk.
background image
CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008
109
Pembentukan Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI)
merupakan tindak lanjut dari salah rumusan hasil Work-
shop yang diselenggarakan Dewan Riset Nasional (DRN)
Komisi Teknis Kesehatan dan Obat bulan November
2007. Demikian dijelaskan DR Ir Tusy A. Adibroto, MSI,
Ketua Panitia Persiapan Pembentukan ASPI di depan
sekitar 200 peserta Seminar Sel Punca, "The new Era
of Biotechnology" di Gedung Widya Graha LIPI, Jl Gatot
Soebroto Jakarta, Sabtu 2 Januari 2008.
Melengkapi Tim Stem Cell Nasional yang telah diben-
tuk sebelumnya, ASPI lebih berorientasi kepada bidang
riset. Hal ini (riset) dianggap penting karena meskipun
kita tahu negara-ne-gara besar seperti: Amerika Serikat
(AS), Cina, Jepang, Jerman, Perancis, India dan Inggris
bahkan beberapa negara tetangga kita, Singapura dan
Malaysia sudah demikian tekun melakukan riset Sel Pun-
ca (padanan kata Stem Cell), namun Indonesia sendiri
belum semaju itu,lontar Dr Boenyamin Setiawan, Ph. D,
salah satu pendiri ASPI.
Sebagai perbandingan biaya penelitian, menurut dr Boen
(tanpa teks), AS mengeluarkan dana sekitar US$ 250 mil-
iar, RRC sebesar US$ 160 miliar dan India US$ 40 miliar.
Sayangnya di Indonesia budgetnya masih kecil sekali,
sesal dr Boen. Dari APBN tahun 2006 sebesar Rp 700
triliun yang dikeluarkan untuk penelitian kira-kira Rp 1,5
triliun (atau US$ 150 juta). Suatu jumlah yang amat kecil
sekali karena kira-kira hanya 0,04 per-sen dari APBN. Dr
Boen mengharapkan dana penelitian bisa ditingkatkan
menjadi sekurang-kurangnya 0,5% dari APBN. Kemudian
secara bertahap pada tahun 2015 menjadi 1 persen dan
2020 menjadi 2,5 persen.
Menurut Kusmayanto, Ketua ASPI, terdapat 3 misi
yang akan dijalankan ASPI yaitu dalam hal (1) eti-
ka, (2) hukum dan (3) sosial. Dalam waktu dekat
ASPI akan membuat media informasi seperti web-
site di mana masyarakat luas bisa bertanya apa
saja mengenai Sel Punca ini. Dengan demikian
masyarakat bisa memperoleh informasi langsung
dari pakarnya. Dengan demikian akan terbentuk
kepedulian masyarakat terhadap Sel Punca.
Apabila ditemui isu mengenai etika maka ASPI
tidak segan-segan untuk bekerjasama dengan
bagian lain, misalnya, dengan Komite Bioetika
Nasional.
Menjawab `sentilan/provakasi' dr Boen, Kusmayan-
to memuji Chairman Stem Cell and Cancer Institute
(SCI) tersebut, sebab dr Boen tidak hanya sekadar
mengeluh mengenai perkembangan penelitian di Indone-
sia tetapi juga turut berperan mengaktifkannya di Indonesia
dengan hadirnya Stem Cell and Cancer Institute.
Temu Pers
Pada Temu Pers yang diadakan setelah acara seremoni
di atas (lihat foto), salah satu Dewan Penasihat ASPI,
Prof DR Dr Arry Harryanto Reksodiputro, SpPD, KHOM,
yang juga Ketua Tim Stem cell Nasional menjelaskan
bahwa saat ini sedang digodok peraturan mengenai pe-
doman penelitian dan pelayanan terapi Sel Punca. Den-
gan demikian siapapun yang ingin berkecimpung pada
area ini bisa mengetahui aturan mainnya.
Susunan Pendiri ASPI
Dari panitia diperoleh daftar susunan pendiri ASPI:
1. Prof. Dr. dr Akmal Taher, SpU
2. Prof. Dr. dr Amin Soebandrio, SpMK
3. Dr Boenjamin Setiawan, Ph.D
4. Ferry Sandra, Ph.D
5. Ir. Ferry Soetikno, MBA, MSc
6. Prof. dr. Menaldi Rasmin, SpP(K), FCCP
7. Prof. Dr. dr Suhartono Taat Putra
8. Prof. dr. Sultana MH Faradz, Ph.D
9. Prof. Umar Anggara Jenie, Ph.D
Para Ketua
1. Dewan Penasehat: Dr. Ir. Kusmayanto Kadiman
2. Dewan Ilmiah: Dr. dr Amin Soebandrio Sp.MK
3. Dewan Pelaksana: (masih kosong)
Masing-masing Dewan diisi oleh dari 10 - 30 anggota.
Seminar Sel Punca "The new Era of Biotechnology" & Pendirian ASPI,
Gedung LIPI Jakarta, 2 Februari 2008