ABSTRAK
RISIKO SKIZOFRENIA DAN
MALNUTRISI
Studi di Belanda menunjukkan
bahwa orang-orang yang dikandung
dan dilahirkan oleh ibu yang menderita
malnutrisi di masa Perang Dunia ke
dua (Oktober 1944 - Maret 1945),
mempunyai risiko menderita skizo-
frenia dua kali lipat dibandingkan
dengan rata-rata populasi umum.
Penemuan serupa juga dihasilkan
dari penelitian di Wuhu, Anhui di Cina
yang mengalami bencana kelaparan di
tahun 1959-1961.
Melalui studi catatan medik di
satu-satunya rumahsakit jiwa di daerah
itu, orang-orang yang lahir antara tahun
1960-1961 yang ibunya mengalami
kelaparan, dua kali lebih berisiko
didiagnosis skizofrenia dibandingkan
dengan orang-orang yang dilahirkan di
tahun 1959 atau 1962.
JAMA 2005;294:557-62
brw
SMS UNTUK BERHENTI
MEROKOK
Penelitian di Selandia Baru
menggunakan pesan SMS untuk
berhenti merokok dan pesan kesehatan
lain 5 kali sehari mulai dari 5 hari
sebelum keputusan berhenti merokok
sampai selama 1 bulan penuh kepada
852 orang yang berniat berhenti
merokok.
Setelah 6 minggu, kelompok yang
di`bombardir' dengan pesan SMS dua
kali lebih banyak yang berhenti
merokok dibandingkan dengan kelom-
pok kontrol (yang hanya menerima
SMS terimakasih seminggu sekali).
Setelah 26 minggu, perbedaaan
tersebut masih tetap bermakna.
BMJ 2005;331:72
brw
FUNDUSKOPI PADA HIPERTEN-
SI
Studi
systematic review atas data
penelitian sejak 1990 ternyata menun-
jukkan bahwa funduskopi tidak banyak
memberikan data tambahan dalam
pengelolaan hipertensi.
Funduskopi umumnya dilakukan
untuk menilai retinopati hipertensi
yang sering dikaitkan dengan lamanya
seseorang menderita hipertensi.
Studi tersebut menunjukkan bahwa
nilai prediksi positif dan negatif atas
hubungan retinopati hipertensif dengan
hipertensi relatif rendah (42-72% untuk
nilai prediksi positif dan 32-67% untuk
nilai prediksi negatif).
Korelasi antara kelainan mikro-
vaskuler retina dengan risiko kardio-
vaskular juga rendah, kecuali untuk
stroke dan retinopati.
BMJ 2005 ; 331 : 73-6
brw
SILDENAFIL UNTUK HIPER-
TENSI PULMONAL
Sildenafil - obat yang selama ini
populer digunakan untuk disfungsi
ereksi, juga mempunyai kegunaan lain
melalui efek relaksasi otot polosnya.
Sildenafil diketahui menghambat
fosfodiesterase tipe 5 yang memeta-
bolisme cGMP: akibatnya kadar cGMP
meningkat sehingga dapat merelaksasi
otot polos vaskuler. Relaksasi otot
polos tersebut juga terjadi di paru,
sehingga obat ini dicobakan untuk
mengatasi hipertensi pulmonal.
Sejumlah 278 pasien hipertensi
pulmonal arteriil dibagi secara acak
buta ganda untuk mendapat plasebo
atau sildenafil (20,40,80 mg) per oral 3
kali sehari selama 12 minggu.
Ternyata pada akhir studi, jarak
yang berhasil ditempuh dalam 6 menit
berjalan meningkat rata-rata 45m
(+13%), 46 m(+13,3%) dan 50
m(+14,7%) untuk dosis sildenafil
20,40,80 mg (p<0.001 untuk semua).
Sildenafil juga mengurangii
tekanan rata-rata arteri pulmonalis
(p=0.04, p=0.01 dan p<0.001 untuk
masing-masing dosis), dan juga
memperbaiki kelas fungsional WHO
(p=0.003, p<0.001 dan p<0.001).
Efek samping meliputi flushing,
dispepsi dan diare. Kejadian
perburukan klinis tidak berbeda di
antara pengguna sildenafil dibanding-
kan dengan plasebo.
Di antara 222 pasien yang meng-
gunakan sildenafil selama 1 tahun,
perbaikan jarak berjalan dalam 6 menit
mencapai 51m.
N.Engl.J.Med. 2005: 353 : 2148-57
brw
OPIOID UNTUK NEUROPATI
Ternyata selama ini hanya 607
pasien yang terlibat dalam penelitian
berkualitas baik dalam menilai manfaat
opioid pada nyeri neuropatik; itupun
follow up terlama hanya 8 minggu.
Dari penelitian tersebut disim-
pulkan bahwa opioid seperti morfin
dan oksikodon dapat meringankan
nyeri neuropatik khronik jika digu-
nakan teratur selama beberapa minggu.
Penelitian atas 403 pasien
neuralgia pascaherpes, neuropati diabe-
tik atau nyeri fantom menunjukkan
bahwa opioid menurunkan skala nyeri
sebesar 14 point - perbaikan 20-30% -
sama efektifnya dengan gabapentin.
Efek samping yang terutama ialah
mual (NNH 3.6), konstipasi (NNH
4.6), mengantuk (NNH 3.3), muntah
(NNH 6.2) dan pusing (NNH 6.7).
Tidak ada yang mengukur potensi
ketergantungan, mungkin karena lama
penelitiannya relatif singkat.
JAMA 2005; 293:3043-52
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006
66
EFEK DINAS MALAM
Dinas malam di antara residen
terbukti meningkatkan risiko kecela-
kaan. Sejumlah 2737 residen di AS
mela-porkan bahwa mereka bekerja
rata-rata 70.7 jam perminggu dan
menjalani rata-rata 3.9 shift panjang
(rata-rata 32 jam) dalam sebulan.
Selama masa tersebut mereka
mela-porkan 320 kecelakaan lalulintas.
Analisis menunjukkan bahwa shift
panjang meningkatkan risiko kecela-
kaan dua kali lipat dan risiko nyaris
kecelakaan (near-miss) enam kali lipat.
N.Engl.J.Med. 2005;125-34
brw
DIET DAN EXERCISE
Pada suatu studi selama 1 tahun,
224 dewasa obese semuanya diberi diet
1200-1500 kalori/hari dan program
exercise, selanjutnya dibagi 4 perla-
kuan: diberi sibutramin 15 mg/hari oleh
dokter keluarga dalam 8 pertemuan,
nasihat perubahan gaya hidup saja
dalam bentuk 30 kali group-session,
sibutramin + group session (terapi
kombinasi); atau sibutramin + kon-
seling oleh dokter keluarga selama 10-
15 menit tiap pertemuan .
Setelah 1 tahun, kelompok terapi
kom-binasi turun berat badan rata-rata
12.1 ± 8.9 kg, sedangkan kelompok
sibu-tramin saja turun 5.0 ± 7.4 kg;
kelompok nasihat perubahan gaya
hidup turun rata-rata 6.7 ± 7.9 kg
sedangkan ke-lompok sibutramin +
konseling dokter keluarga turun 7.5 ±
8.0 kg (p<0.001).
Di kelompok terapi kombinasi
mereka yang sering mencatat apa yang
dimakan/dietnya turun lebih banyak
daripada mereka yang tidak mencatat
(18.1 ± 9.8 kg vs. 7,7 ± 7.5 kg; p=0.04)
Hal ini menekankan perlunya
perubah-an gaya hidup dan konseling
di samping hanya memberikan obat.
N.Engl.J.Med. 2005;353:2111-20
brw
STUDI POPULASI ATAS KEJA-
DIAN VASKULER
Oxford Vascular Study bertujuan
untuk mencatat setiap kejadian vasku-
ler di masayarakat. Studi ini dilaksa-
nakan di Oxfordshire, Inggris kota
yang berpenduduk 91 106 orang selama
tahun 2002-2005.
Selama masa tersebut tercatat 2024
kejadian vaskulaer pada 1657 orang:
918 (45%) bersifat serebrovaskuler
terdiri dari 618 kasus stroke dan 300
kasus TIA (transient ischemic attack ),
856 (42%) bersifat koroner 159 kasus
infark miokard dengan elevasi ST, 316
kasus infark miokard non elevasi ST,
218 kasus angina unstable dan 163
kasus sudden cardiac death.
Kasus vaskuler perifer tercatat 188
(9%) kasus 43 aortik, 53 emboli viseral
atau anggota gerak, 92 kasus iskemi
berat anggota gerak; dan 62 kasus
dengan sebab kematian tak
tergolongkan.
Kejadian relatif serebrovaskuler
dibandingkan dengan kejadian koroner
1.19 (95%CI:1.06-1.33) untuk seluruh
kasus, 1.40 (1.23-1.59) untuk kasus non
fatal dan 1.21 (1.04-1.41) jika kasus
TIA dan unstable angina tidak
diperhitungkan.
Angka kejadian naik bersamaan
dengan usia psda semua kasus - 735
(80%) kasus serebrovaskuler, 623
(73%) kasus koroner dan 147 (78%)
kasus vaskuler perifer di kalangan usia
65 tahun ke atas; dan 503 (54%), 402
(47%) dan 105 (56%) masing-masing
di kalangan 5919 (6%) usia 75 tahun ke
atas Meskipun case-fatality rate naik
bersama lanjutnya usia, 736 (47%) dari
1561 kasus non fatal terjadi di kalangan
usia 75 tahun ke atas.
Lancet 2005;366:1773-83
brw
DIAZEPAM VS. MIDAZOLAM
UNTUK KEJANG ANAK-ANAK
Mengingat kesulitan alplikasi rektal
diazepam pada kasus-kasus kejang di
kalangan anak-anak, suatu alternatif
berupa pemberian midazolam buccal
dujicobakan pada anak-anak usia 6
bulan ke atas yang datang ke
rumahsakit di Inggris karena kejang
dan tanpa jalur intravena. Dosis yang
digunakan berkisar antara 2.5 - 10 mg.
untuk kedua jenis obat.
Keberhasilan terapi sebesar 56%
(61 dari 109 kasus) untuk midazolam
buccal dan 27% (30 dari 110) untuk
diazepam rektal perbedaan persentase
29%, 95%CI 16-41).
Kejadian depresi pernapasan tidak
berbeda bermakna antara kedua perla-
kuan. Analisis regrresi logistik
menunjukkan bahwa midazolam buccal
lebih efektif dibandingkan dengan
diazepam rektal.
Lancet 2005;366:205-10
brw
It is easy to give advice from a port of safety
Cermin Dunia Kedokteran No. 150, 2006 67