background image
Tabel 6
Distribusi telur cacing Ascaris lumbricoides pada berbagai
stadium dari sampel dasar, pada temperatur 33°C.
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
1 6
32 larva
permulaan
20.4 4.6
2.6
2
1.8
8.2 1 .8
dua minggu kemudian
1 9.2 7.4
3.6
3.8
4.2 11.4 1 .8
X
2
= 1 .836 p > 0.05
Tabel 5 dan 6 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang
bermakna pada kedua sampel, baik pada temperatur kamar
maupun pada 33° C. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak
terjadi perkembangan kehidupan telur-telur Ascaris lumbricoi-
des
pada dasar latrin.
Tabel 7
Distribusi telur cacing Ascazis lumbricoides pada berbagai
stadium dazi tiga macam sampel, pada pemeriksaan
permulaan.
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
16
32
larva
permukaan latrin
27.6 23.8
13
6.8
3.8
1.6 1 .2
pertengahan latrin
23
14.2
5
2.6
1.2
1 .6 0.4
dasarlatrin
1 7.8
3.2
1
1.2
1
5.4 0.6
Perbandingan antara hasil pemeriksaan permulaan dari per-
mukaan latrin, pertengahan latin dan dasar latrin ternyata
hanya antara permukaan latrin dan dasar latrin yang berbeda
bermakna (X
2
= 18.56 p < 0.0I)
Disini terlihat stadium muda dari telur cacing yang masih
banyak mengandung sel 1,2,4 dan 8 buah pada permukaan
latrin. Ini disebabkan karena masih terdapatnya tinja yang
baru selama dalam permulaan proses perkembangan bersamaan
dengan proses komposisasi.
Kesimpulan
Sejak bulan November I979 telah dilakukan percobaan
pada satu keluarga dari strata ekonomi terendah suatu latrin
kering.
Edukasi kontinyu dibutuhkan untuk memperoleh mana-
gement pemeliharaan yang memadai. Penggunaan Kader Sehat
dapat meringankan beban supervisi dari tingkat yang
lebih
tinggi.
Konstruksi latrin dan bangunan membutuhkan pemikiran
lebih mendalam agar komposisasi secara keseluruhan dapat
optimal.
Kehidupan telur Ascaris lumbricoides terhambat pada bagian
pertengahan dan dasar latrin.
Penggunaan latrin kering secara luas masih membutuhkan
percobaan lebih besar.
KEPUSTAKAAN
1.Cruikshank R. Experimental and applied epidemiology in communi-
cable diseases. In : Cruikshank R et al, eds. Epidemiology and
community health in warm climate countries. Edinburg : Churchill
Livingstone, I976 : pp I2 - I9.
2. Mausner JS, Bahn AK. Epidemiology, an introduction text. Phila-
delphia : WB Saunders Co, 1974.
3. Davis A. Epidemiology and control of intestinal dwelling nematodes.
In : Cruikshank R, et al eds. Epidemiology and community health in
warm climate countries. Edinburg : Churchill Livingstone, 1976;
317 - 330.
4.Hydrick JL. Intensive rural hygiene work and publicc health educa-
tion of the public health service of Netherlands India. Batavia-
Centrum, Java, Netherlands India 1937.
5.Ehler SVM, Steel EW. Municipal and rural sanitation, New York :
Mc Graw Hill Inc, I965 : pp 146 - 150.
6. Nimpuno K Sewage disposal in developing countries. A survey of
methods sanitation in developing countries to day. Pembroke
College Oxford : 5 - 9 July, 1977.
7.Uno Winblad. Sanitation without water. Monograph. I978.
VI. GIZI, IMUNOLOGI, AMCEBIASIS, GIARDIASIS
Hubungan keadaan Gizi dengan lnfeksi
Parasit
Soemilah Sastroamidjojo
Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran UI.
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang ibu-ibu minta di-
beri resep obat cacing untuk anaknya dengan alasan bahwa
anaknya tetap kurus walaupun makannya banyak atau kurus
karena tidak nafsu makan. Hal ini menunjukkan bahwa ibu-
ibu tersebut menghubungkan keadaan gizi kurang yang di-
derita anaknya dengan infeksi cacing. Sebenarnya hubungan
antara keadaan gizi kurang dengan infeksi telah lama dikenal
sebab dalam sejarah tercatat bahwa dalam keadaan kekurangan
pangan seperti perang, bencana alam, paceklik, dan lain-lain,
jumlah penderita penyakit infeksi bertambah secara me-
nyolok dan kadang-kadang sampai menjadi wabah. Tetapi
penyelidikan dalam bidang ini relatif baru mulai dilakukan.
Pada permulaan abad ini, di negara-negara barat banyak
perhatian dicurahkan kepada masalah pengaruh infeksi ter-
hadap keadaan gizi orang-orang yang makannya kurang karena
pada waktu itu prevalensi penyakit infeksi (menular) tinggi,
terutama pada golongan masyarakat yang gizinya kurang, dan
pengetahuan tentang penyakit gizi kurang mulai berkembang.
Kemudian perhatian beralih kepada hal yang sebaliknya yaitu
pengaruh infeksi terhadap keadaan gizi karena sekitar waktu
itu sindroma Kwashiorkor mulai dikenal, penyakit ini ternyata
banyak ditemukan di negara-negara yang sedang berkembang
dan didapat kesan bahwa penyakit ini erat hubungannya
dengan infeksi. (I)
Akhir-akhir ini hubungan pengaruh timbal balik keadaan
gizi dengan infeksi mendapat perhatian besar terutama di
negara-negara yang sedang berkembang. (1, 2, 3, 4). Hasil-hasil
penyelidikan yang terkumpul sementara ini - walaupun
masih terbatas - menunjang pendapat bahwa antara keadaan
gizi dengan infeksi parasit terdapat interaksi yang terdapat
antara "host" dan
"
agent
"
.
89
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
Dalam tulisan ini akan dikemukakan hasil-hasil penyelidik-
an tentang efek interaksi keadaan gizi dengan infeksi parasit
tersebut.
Hubungan Keadaan Gizi dengan Infeksi Parasit
Keadaan gizi, kadang-kadang juga disebut status gizi, adalah
keadaan kesehatan sebagai akibat interaksi antara makanan,
tubuh dan lingkungan hidup manusia. Kita kenal beberapa
macam tingkat keadaan gizi yaitu keadaan gizi baik dan
keadaan gizi salah.
Keadaan gizi salah dibagi lagi dalam keadaan gizi lebih dan
keadaan gizi kurang. Macam-macam tingkat keadaan gizi
tersebut pada dasarnya tergantung dari besarnya kebutuhan
badan akan zat-zat gizi di satu pihak dan jumlah zat-zat gizi
y.ang tersedia bagi tubuh di lain pihak.
Jika kebutuhan badan akan zat-zat gizi dapat dipenuhi, maka
keadaan gizi baik, kalau zat-zat gizi yang tersedia dalam tubuh
melebihi kebutuhan akan didapati gizi lebih sedangkan jika
kebutuhan badan tak terpenuhi akibatnya gizi kurang.
Besarnya kebutuhan badan akan zat-zat gizi ditentukan
oleh berbagai faktor yaitu jenis kelamin, umur, berat dan
tinggi badan, aktivitas, suhu sekitar, kehamilan, menyusukan
bayi dan penyakit.
Adapun penyakit-penyakit yang dapat mempengaruhi keadaan
gizi adalah golongan-golongan penyakit yang dapat mem-
pengaruhi pencernaan makanan/zat-zat gizi, absorpsi, utilisasi
dan ekskresi zat-zat gizi. Termasuk dalam golongan penyakit-
penyakit ini adalah penyakit infeksi parasit.
Seperti kita ketahui, menurut definisi infeksi adalah invasi
tubuh oleh suatu organisme, pertumbuhannya atau perkem-
bangbiakannya dalam tubuh dan reaksi jaringan tubuh ter-
hadap organisme tersebut atau toxin yang dibentuknya,
sedangkan parasit menurut definisi adalah organisme yang
mengambil makanan dan mencari perlindungan dari organisme
lain (host), dalam hal mana parasitlah yang mendapat ke-
untungan. (1, 5)
Dari uraian diatas jelas bahwa interaksi antara keadaan gizi
dengan infeksi parasit berpokok pangkal pada kebutuhan
(tubuh) manusia dan (organisme) parasit akan zat-zat gizi,
serta respons imun yang efektivitasnya antara lain tergantung
dari tersedianya zat-zat gizi. Seperti kita ketahui, respons imun
tergantung dari tersedianya zat anti, sel-sel khusus dll., yang
kesemuanya memerlukan zat-zat gizi. Adapun efek interaksi
tersebut dapat bermacam-macam, seperti yang mungkin terjadi
pada suatu hubungan antara host dengan agent.
Seperti kita ketahui kemungkinan-kemungkinannya adalah
efek sinergistik atau antagonistik atau tidak ada efek/pengaruh.
Perlu dikemukakan disini bahwa yang dimaksud dengan efek
sinergistik adalah efek yang lebih merugikan host (tubuh
manusia) dan efek antagonistik adalah efek yang lebih me-
nguntungkan host jika didapati keadaan gizi salah bersama-
sama dengan infeksi. Dari penyelidikan-penyelidikan yang
telah dilakukan ternyata bahwa pada manusia sementara ini
ditemukan efek sinergistik sedangkan pada binatang dapat
ditemukan efek sinergistik atau kadang-kadang antagonistik
atau tidak ada efek. Mengingat macam interaksinya, penyeli-
dikan tentang hubungan keadaan gizi dengan infeksi dibagi
dalam 2 golongan yaitu pengaruh/efek infeksi terhadap keada-
an gizi dan pengaruh/efek keadaan gizi terhadap resistensi
tubuh jika mengalami infeksi.
Pengaruh infeksi parasit terhadap keadaan gizi (1).
Seperti telah dikemukakan terlebih dahulu dalam tulisan
ini, pengaruh infeksi terhadap keadaan gizi telah lama dikenal
dan menarik perhatian para penyelidik.
Di antara berbagai macam organisme yang mendapat banyak
perhatian serta diselidiki adalah mikroorganisme yang paling
nyata merugikan kesehatan dan helminthes. Demikianlah
sementara ini paling banyak dilakukan penyelidikan mengenai
pengaruh infeksi bakteri dan helminthes terhadap keadaan
gizi. Data pengaruh infeksi virus dan rickettsia sangat terbatas
karena tehnik penyelidikannya baru
mulai berkembang.
Begitu pula penyelidikan tentang pengaruh infeksi fungus
sedikit sekali, mungkin karena akibatnya terhadap keadaan
gizi tidak nyata.
Mengingat pengaruh infeksi terhadap keadaan gizi adalah
melalui zat-zat gizi, organisme penyebab infeksi ada ber-
macam-macam dan keadaan gizi, bergantung dari status ma-
sing-masing zat gizi, maka penyelidikan pengaruh infeksi
terhadap keadaan gizi dibagi lagi dalam pengaruh macam
organisme terhadap status masing-masing zat gizi yaitu protein,
vitamin, mineral, lemak, dan hidrat arang.
Kadang-kadang pengaruh infeksi tidak dapat langsung di-
hubungkan dengan status zat gizi tertentu tetapi dihubungkan
dengan hal-hal yang erat kaitannya dengan dampak status
beberapa zat gizi misalnya pertumbuhan dan perkembangan
badan.
Hasil-hasil penyelidikan yang pada waktu ini terkumpul
menunjukkan bahwa :
(1) Infeksi mempengaruhi status protein. Misalnya infeksi
ringan sekalipun akan mengakibatkan bertambahnya kehi-
langan nitrogen melalui urin.
Infeksi juga membantu terjadinya kekurangan protein karena
menyebabkan berkurangnya nafsu makan. Seperti kita ketahui
infeksi cacing bisa mengurangi absorpsi nitrogen apa lagi ka-
lau disertai diare. Telah banyak sekali penyelidikan yang me-
nunjukkan bahwa penyakit Kekurangan Kalori Protein yang
berat seperti kwashiorkor terjadi jika anak yang makanannya
kurang menderita diare atau morbilli atau penyakit infeksi
lainnya.
(2) Metabolisme vitamin ternyata dipengaruhi infeksi. Pe-
nyakit-penyakit karena kekurangan vitamin seperti keratoma-
lasia, beri-beri, scurvy (skorbut) misalnya, timbul setelah
anak-anak yang makanannya kurang menderita meningitis,
diare , tuberkulosis, pertussis, morbilli atau varicella. Absorp-
si vitamin A ternyata terganggu oleh infeksi Giardia lamblia.
Anak-anak dan orang dewasa yang menderita malaria ternyata
kadar vitamin C-nya dalam darah berkurang sedangkan eks-
kresinya melalui urin bertambah. Penyelidikan lain pada anak-
anak yang
menderita influensa, typhus abdominalis atau
morbilli menunjukkan bahwa kadar vitamin C darah penderita-
penderita tersebut menurun. Demikian pula terbukti bahwa
metabolisme vitamin-vitamin lainnya juga dipengaruhi infeksi.
(3) Infeksi juga mempengaruhi tersedianya mineral bagi tu-
buh.
Salah satu mineral yang banyak mendapat perhatian para
penyelidik adalah zat besi. Pengaruh infeksi akut terhadap
metabolisme zat besi telah banyak diselidiki dan efeknya
telah diketahui, tetapi mekanismenya belum dapat dijelaskan
seluruhnya. Begitu pula pengaruh infeksi kronik, mekanisme-
Simposium Masalah Penyakit Parasit
90
background image
nya belum jelas. Sementara ini dianggap bahwa anemia yang
dihubungkan dengan infeksi terjadi karena kehilangan darah
langsung atau terhambatnya erythropoiesis atau karena he-
molisis. Misalnya kita ketahui bahwa infeksi cacing tambang
menyebabkan kehilangan darah, parasit malaria memenuhi
kebutuhannya akan protein melalui pemecahan hemoglobin
yang menyebabkan terdapatnya gugusan heme dalam bentuk
pigmen malaria.
Penyelidikan mengenai pengaruh infeksi terhadap mineral yang
lain belum begitu banyak dilakukan. Berbagai infeksi yang
sistemik maupun lokal dalam usus yang menyebabkan diare
dapat mempengaruhi status mineral-mineral yang penting
fungsinya dalam balans elektrolit tubuh. Misalnya infeksi
Trichinella spiralis
pada tikus ternyata lebih mengganggu
asimilasi zat kapur daripada protein, sedangkan ekskresi
fosfor sangat berkurang, yang menunjukkan bahwa absorpsi
fosfor menurun. Penyelidikan lain pada marmot yang me-
derita tuberkulosis menunjukkan bahwa binatang-binatang ini
kehilangan banyak zat kapur dan fosfor.
Di samping contoh-contoh ini, kita semua mengetahui penga-
ruh infeksi basil cholera terhadap balans elektrolit tubuh.
(4) Pengaruh infeksi terhadap status lemak sedikit sekali
diselidiki tetapi penyelidikan-penyelidikan yang telah dilaku-
kan menunjukkan bahwa rupanya ada pengaruh infeksi ter-
hadap status lemak, yaitu menambah lemak dalam hepar dan
faeces; hal yang terakhir ini menyebabkan gejala yang disebut
steatorrhea.
Keadaan ini misalnya ditemukan pada influenza, pneumonia
dan juga pada infeksi usus dengan
Giardia lamblia.
(5) Kadar glukosa darah dipengaruhi oleh infeksi. Misalnya
pada binatang-binatang percobaan infeksi dengan parasit
malaria menyebabkan kadar glukosa darah menurun dengan
menyolok.
(6) Di antara berbagai penyelidikan tentang pengaruh infeksi
terhadap keadaan gizi, pengaruh infeksi terhadap pertumbuhan
dan perkembangan badan khususnya telah menarik perhatian
banyak penyelidik. Pada umumnya hasil-hasil penyelidik-
an dalam bidang ini seperti dapat kita perkirakan, menunjuk-
kan bahwa infeksi menghambat pertumbuhan badan anak-anak
yang sedang tumbuh.
Misalnya suatu penyelidikan longitudinal yang dilakukan pada
anak-anak di Inggris, yang keadaan gizinya baik, mulai lahir
sampai umur 5 tahun, menunjukkan bahwa terdapat perbeda-
an tinggi badan yang jelas antara anak-anak yang pernah men-
derita suatu infeksi berat, beberapa infeksi sedang dan tidak
pernah menderita penyakit infeksi.
Suatu penyelidikan lain
pada sekelompok tentara muda (remaja) di Puerto Rico
menunjukkan bahwa infeksi cacing tambang menyebabkan
penurunan berat badan. Penambahan antibiotika pada makan-
an unggas dan ternak yang sekarang banyak dilakukan, ter-
utama di negara-negara Barat, didasarkan atas percobaan-
percobaan yang menunjukkan bahwa makanan semacam itu
menambah berat badan.
Percobaan sejenis ini pernah dilakukan pada anak-anak sekolah
di Guatemala. Anak-anak yang kurang gizi dan hidup dalam
lingkungan yang keadaan sanitasinya kurang diberi aureo-
mycin 50 mg, setiap hari selama 6 bulan. Ternyata penamnah-
an tinggi dan berat badan anak-anak tersebut jelas lebih besar
daripada anak-anak yang diberi placebo.
Tetapi ketika tinggi dan berat badan mereka diperiksa lagi
pada akhir bulan ke I2, I8 dan 24 ternyata tidak terdapat
perbedaan antara kedua kelompok. Percobaan dengan anti-
biotika lain, yaitu penicillin, yang dilakukan pada sekelompok
anak sekolah lain, dalam keadaan (gizi, sanitasi, dan lain-lain)
yang sama, memberikan hasil yang berbeda yaitu tidak dida-
pati perbedaan antara kelompok yang mendapat penicillin dan
yang mendapat placebo selama seluruh percobaan.
Pengaruh keadaan gizi terhadap resistensi tubuh (1)
Dari
penyelidikan-penyelidikan
yang telah dilakukan
dalam bidang ini ternyata bahwa pada umumnya keadaan
gizi kurang menurunkan resistensi host (manusia atau bina-
tang) terhadap infeksi.
Pada manusia ternyata efeknya sinergistik sedangkan pada
binatang umumnya juga sinergistik tetapi kadang-kadang
antagonistik.
Seperti kita ketahui determinan sinergisme yang dapat
dikaitkan dengan keadaan gizi/status zat-zat gizi ada ber-
macam-macam yaitu; (a) berkurangnnya kemampuan host
(tubuh manusia atau binatang percobaan) untuk membentuk
zat anti yang sifatnya spesifik, (b) penurunan daya fagositosis
dari mikrofag dan makrofag, (c) gangguan dalam pembentukan
zat anti yang sifatnya tidak spesifik, (d) penurunan daya
resistensi yang sifatnya tidak spesifik terhadap toksin yang
dibentuk bakteri, (e) perubahan dalam integritas jaringan,
(f) hilangnya daya reaksi radang (inflamatory response) dan
perubahan dalam penyembuhan luka serta pembentukan
jaringan kolagen, (g) efek yang disebabkan perubahan dalam je-
nis flora usus, (h) variasi dalam aktivitas (kelenjar) endokrin.
Adapun determinan utama antagonisme adalah tidak terpe -
nuhinya kebutuhan agent (organisme) karena tidak/kurang ter-
sedianya zat gizi, pada host (tubuh).
Kelebihan zat gizi yang tersedia pada host seperti yang terda-
pat dalam keadaan gizi lebih , dapat menguntungkan atau justru
merugikan agent dalam hal patogenitasnya atau
perkembang
biakannya. Apakah interaksi pada umumnya berupa sinergisme
belum dapat dinyatakan karena belum cukup banyak penyeli-
dikan yang dilakukan untuk menunjang suatu pendapat tentang
hal ini.
Penyelidikan tentang pengaruh keadaan gizi kurang ter-
hadap infeksi relatif telah banyak dilakukan, baik pada ma-
nusia maupun pada binatang. Karenanya dari hasil penyelidik-
an-penyelidikan tersebut sudah dapat dibuat beberapa kesim-
pulan umum tentang pola interaksinya. Pola interaksi ini
dapat ditinjau dari segi keadaan gizi kurang host atau jenis
organime penyebab infeksi.
Tinjauan pola interaksi dari segi keadaan gizi kurang biasa-
nya diperinci menjadi suatu tinjauan dari segi status (masing-
masing) zat gizi yang kurang. Kesimpulan umum ditinjau dari
segi ini adalah sebagai berikut :
1).Kekurangan protein biasanya menyebabkan efek sinergistik
tetapi kadang-kadang antagonistik. Misalnya, penderita
tuberkulosis paru-paru berat yang mendapat makanan
tinggi protein, prognosanya lebih baik dan percobaan-
percobaan pada binatang
menunjang pengamatan ini.
Contah lain, angka kematian anak-anak penderita morbilli
di Afrika menurun setelah diberi susu skim; pada tikus-tikus
percobaan yang kekurangan protein didapatkan lebih
banyak cacing
Trichinella spiralis
dari yang diberi makanan
9 1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
tinggi protein.
Susunan asam amino rupanya juga berpengaruh. Misalnya
pada tikus-tikus yang dibeni makan kurang lysina dan di-
infeksi dengan Bacillus anthracis didapati resistensi yang
sangat rendah.
2). Pengaruh kekurangan vitamin tergantung sekali dari macam
vitamin, jenis host dan jenis agent. Kekunangan vitamin A,
kekurangan vitamin C, efeknya sinergistik, kekurangan
vitamin D tidak berpengaruh sedangkan golongan vitamin
B, terutama thiamin, pyridoxin, asam pantothenat dan
asam folat efeknya antagonistik.
Contoh-contoh : pada suatu penyelidikan pada orang de-
wasa didapati korelasi yang signifikan antara konsumsi
makanan rendah vitamin A dengan (timbulnya) tuberkulo-
sis; kelainan mata kanena infeksi Onchocerca volvulus
lebih banyak didapati pada penderita-pendenita/masyarakat
yang konsumsi vitamin A-nya kunang; furunculosis yang
disebabkan Staphylococcus aureus lebih banyak ditemukan
pada anak-anak yang dirawat di rumah sakit yang men-
derita scurvy; angka kematian karena disentri (shigella)
di antara para tawanan dalam kamp tawanan Jepang turun
setelah diberi vitamin B I.
3).Pengaruh kekurangan mineral, efeknya dapat sinengistik
atau antagonistik dan tengantung sekali dari macam minenal,
jenis host dan jenis agent. Misalnya : anjing dan kucing yang
diinfeksi dengan Ancylostoma caninum dan makanannya
kurang zat besi menjadi lebih rentan; pada anak ayam yang
diinfeksi dengan Ascaridia galli dan diberi makanan yang
kurang Ca atau P ditemukan lebih banyak cacing dan
cacing-cacingnya lebih besar.
4).Penyelidikan tentang penganuh kekurangan hidrat arang
jarang sekali dilakukan karena di negana-negara/daenah-
daerah di mana prevalensi penyakit infeksi tinggi justru
konsumsi hidrat arang tinggi. Penyelidikan tentang penga-
ruh makanan yang kadar hidrat arangnya tinggi juga sedikit
sekali sehingga tidak/belum dapat dibuat sesuatu kesimpul-
an.
5).Pengaruh kekurangan lemakpun jarang diselidiki walaupun
,
seperti kita ketahui di negara-negara/daerah-daerah di mana
prevalensi penyakit infeksi tinggi konsumsi lemak rendah.
Dari beberapa penyelidikan pada binatang ditemukan hasil
yang menunjukkan bahwa jika infeksi tidak begitu berat,
konsumsi makanan rendah lemak untuk waktu yang lama
menyebabkan "survival time" lebih lama.
Tetapi pada beberapa penyelidikan binatang mengenai pe-
ngaruh makanan tinggi lemak didapati efek antagonistik,
seperti yang diamati pada tikus tikus yang diinfeksi dengan
Plasmodium berghei dan pada monyet monyet yang diin-
feksi dengan Entamoeba histolytica.
6). Di samping penyelidikan-penyelidikan tentang pengaruh
masing-masing zat gizi, cukup banyak pengamatan dan
penyelidikan mengenai pengaruh beberapa zat gizi sekaligus
(multiple deficiency) serta pengaruh kunang makan.
Seperti kita ketahui keadaan yang terakhir ini sering kita
jumpai di negara-negara yang sedang berkembang dan
dialami kebanyakan negara selama perang dunia kedua.
Hasil-hasil pengamatan dan penyelidikan yang sementara
ini terkumpul menunjukkan bahwa kurang makan, jika
berat, efeknya sinergistik dengan kebanyakan infeksi
tetapi antagonistik dengan beberapa infeksi virus atau
infeksi protozoa intraseluler. Misalnya prevalensi penyakit
tuberkulosis di antara para tawanan perang dunia kedua di
Jerman, paling rendah pada kelompok yang mendapat
makan paling baik/adekwat. Pengamatan ini ditunjang oleh
penyelidikan pada tikus. Pada penyelidikan lain, pada tikus
yang diinfeksi dengan Plasmodium berghei didapati efek
antagonistik yaitu parasitemia makin berkurang jika pem-
berian makanan yang kurang diberikan dalam jangka waktu
lebih lama.
7).Walaupun jumlah penyelidikan tentang pengaruh kelebihan
zat-zat gizi masih sangat terbatas, didapat kesan bahwa
penambahan zat-zat gizi pada makanan yang adekuat tidak
b
e
rmanfaat atau kadang-kadang justru mengurangi resisten-
si tubuh terhadap infeksi. Misalnya pemberian vitamin B
kepada anak-anak ayam dalam jumlah 30 x yang diperlukan
tidak berpengaruh apa-apa.
Jika pola interaksi ditinjau dari segi jenis organisme penye-
bab infeksi maka pada waktu ini dapat dikemukakan beberapa
kesimpulan umum sebagai berikut :
I).infeksi bakteri, rickettsia, protozoa usus dan helminthes
usus biasanya efeknya sinergistik jika keadaan gizi hostnya
kurang.
2).efek infeksi virus pada host yang kurang gizi adalah antago-
nistik; demikian pula halnya dengan jenis protozoa yang
menyebabkan infeksi sistemik.
Kesimpulan dan rekomendasi
Interaksi antara keadaan gizi dan infeksi parasit mem-
pengaruhi kesehatan manusia maupun binatang. Pada manusia
efek interaksi umumnya sinergistik dalam arti keadaan gizi
kurang memperberat infeksi di satu pihak dan infeksi mem-
perberat keadaan gizi kunang di lain pihak.
Mengingat hal ini dan kenyataan bahwa di Indonesia masa-
lah gizi yang dihadapi adalah masalah gizi kurang (6) serta
penyakit infeksi masih tinggi prevalensinya (2), maka hendak-
nya para petugas kesehatan, khususnya mereka yang bekenja
dalam
bidang pelayanan kesehatan
menyadari pengaruh
timbal balik antana keadaan gizi dengan infeksi panasit.
KEPUSTAKAAN
1.Schrimshaw Nevin S, Taylor CE, Gordon JE. Interactions of nutri-
tion and infection, Monograph Series no. 57. Geneva : WHO, I968.
2. Sunoto. Pengaruh parasit usus pada pertumbuhan dan perkembang-
an anak dalam kaitannya dengan tingkat kesehatan nasional. Simpo-
sium Pengobatan Amebiasis, Helmintiasis Usus dan Trichomoniasis.
Jakazta : 19 April I980.
3.Karyadi D. Hubungan ketahanan fisik dengan keadaan gizi dan
anemi gizi besi. Thesis, Universitas Indonesia, 1974.
4.Mahani binti Zakaria. The influence of ascaris infestation on some
aspects of nutritional status of school children between seven to
nine years. Thesis, The Regional Graduate Applied Nutrition Course.
CCBTM PH ­ SEAMEO, Jakarta, 1978 - 1979.
5.Brown Harold W. Basic Clinical Parasitology, 3rd edition, 1969.
6.Tarwotjo. Muhilal, Djumadias Abunain, Darwin Karyadi . Masalah
gizi di Indonesia. Widya Karya Nasional Pangan dan Gizi. Bogor :
10 - I4 Juli 1978.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
9 2