background image
301
| MEI - JUNI 2010
S
ejumlah studi telah menunjukkan
peran tambahan anestetik lokal
sebagai antimikroba. Sebagai
tambahan terhadap sifat anestetiknya,
obat anestetik lokal seperti bupiva-
caine dan lidocaine telah menunjuk-
kan efek bakteriostatik, bakterisidal,
fungistatik dan fungisidal terhadap
mikroorganisme dengan spektrum
luas.
Suatu studi telah dilakukan Coghlan
dkk untuk meneliti aktivitas antibak-
teri berbagai anestetik lokal dan obat
tambahan yang digunakan dalam in-
fus epidural terhadap berbagai mik-
roorganisme yang dikaitkan dengan
abses epidural.
Dalam studi tersebut, kristal bupi-
vacaine, ropivacaine, dan levobupiva-
caine dilarutkan dan ditambahkan ke
dalam agar Mueller-Hilton dalam kon-
sentrasi 0,06%, 0,125%, 0,2%, 0,25%,
0,5% dan 1%. Fentanyl, adrenaline dan
clonidine juga dicampur dengan agar
dalam isolasi dan dalam kombinasi
dengan anestetik lokal.
Hasilnya menunjukkan bahwa bupiva-
caine mempunyai aktivitas antibakteri
terhadap Staphylococcus aureus, En-
terococcus faecalis dan Eschericia coli
dengan MIC (kadar hambat minimal)
antara 0,125% dan 0,25%, namun tidak
menghambat Pseudomonas aerugino-
sa. Levobupivacaine dan ropivacaine
tidak menunjukkan aktivitas terhadap
Staphylococcus aureus, Enterococcus
faecalis dan Pseudomonas aerugi-
nosa, sedangkan MIC terhadap E.coli
adalah 0,5% untuk levobupivacaine
dan 1% untuk ropivacaine.
Fentanyl, adrenaline, dan clonidine
tidak mempunyai efek tambahan pada
aktivitas antibakteri anestetik lokal.
Suatu studi literatur komprehensif
menggunakan MEDLINE 1950 hingga
saat ini, juga telah dilakukan untuk
studi in vitro dan in vivo yang meneliti
aktivitas antimikroba berbagai anest-
etik lokal terhadap bakteri dan jamur
patogen.
Studi tersebut meneliti efek pengham-
batan mikroba anestetik lokal dan efek
kondisi suhu dan konsentrasi anestetik
lokal. Penilaian outcome meliputi jum-
lah koloni, AUC (area under the curve),
dan perhitungan kurva waktu-bunuh,
MIC (kadar hambat minimal), dan
postantibiotic effect.
Hasilnya menunjukkan bahwa anest-
etik lokal terbukti memiliki efek an-
timikroba terhadap kuman patogen
manusia dengan spektrum luas.
Anestetik lokal pada konsentrasi yang
biasa digunakan dalam klinis (misalnya
bupivacaine 0,125%-0,75% atau lido-
caine 1%-3%) dapat menghambat per-
tumbuhan sejumlah bakteri dan jamur
dalam berbagai kondisi.
Anestetik lokal yang berbeda kapasi-
tas antimikrobanya berbeda, sebagai
contoh, bupivacaine dan lidocaine
menghambat pertumbuhan mikroba
lebih kuat secara bermakna dibanding
dengan ropivacaine.
Konsentrasi yang lebih besar, paparan
yang lebih lama, dan suhu yang lebih
tinggi berkorelasi dengan peningka-
tan hambatan pertumbuhan mikroba
secara proporsional.
Beberapa studi menunjukkan me-
kanisme kerja antimikroba anestetik
lokal adalah mengganggu permea-
bilitas membran sel mikroba yang me-
nyebabkan kebocoran komponen se-
luler dan selanjutnya mengakibatkan
lisis sel mikroba.
Dari hasil studi tersebut disimpulkan
bahwa anestetik lokal tidak hanya ber-
manfaat sebagai kontrol nyeri, tetapi
juga memiliki aktivitas antimikroba.
Dalam kapasitas ini, anestetik lokal
mungkin dapat dipertimbangkan se-
bagai tambahan terhadap penggu-
naan antimikroba tradisional dalam
klinis maupun laboratorium.
Studi lainnya juga telah meneliti per-
tumbuhan Staphylococcus epider-
midis pada anestetik lokal lidocaine
0,5%, 1%, 2%, bupivacaine 0,125%,
0,255, 0,5%, dan mepivacaine 0,5%,
1%, 2% dibandingkan dengan laru-
tan salin steril non-bakteriostatik.
Hasilnya menunjukkan bahwa koloni
S.epidermidis menurun pada ketiga
anestetik yang menunjukkan bahwa
ketiga anestetik lokal tersebut da-
pat
menghambat
pertumbuhan
S.epidermidis, dengan aktivitas anti-
mikroba bupivacaine paling kuat, dii-
kuti lidocaine dan kemudian mepiva-
caine.
Efek antimikroba tersebut proporsion-
al terhadap konsentrasi, konsentrasi
yang lebih tinggi dan waktu paparan
yang lebih lama menyebabkan penu-
runan koloni bakteri yang lebih besar.
Dari hasil studi tersebut disimpulkan
bahwa bupivacaine, lidocaine dan
mepivacaine dapat menghambat per-
tumbuhan S.epidermidis.
Sebagai tambahan, sebaiknya hati-
hati memberikan anestetik lokal sebe-
lum prosedur diagnostik pengambilan
spesimen biakan/kultur, karena aktivi-
tas antimikroba anestetik lokal dapat
menyebabkan hasil negatif palsu atau
hasil kultur yang suboptimal. n (EKM)
referensI
1. Coghlan MW, Davies MJ, Hoyt C, Joyce L,
Kilner R, Waters MJ. Anaesth Intensive Care
2009, 37(1): 66-9
2. johnson sM, john Bes, dine aP. Local An-
esthetics as Antimicrobial Agents: A Review.
Surgical Infections. 2008, 9 (2): 205-213.
3. Xu H, Zhang L, Arita H, Hanaoka K. Antimi-
crobial activity of local anesthetics. Pain Re
2003;18(1):19-24.
efek antimikroba anestetik lokal
BERITA
TERKINI
CDK ed_177 mei ok2.indd 301
4/25/2010 7:43:42 PM