background image
BERITA TERKINI
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
60
59
BERITA TERKINI
S
udah diketahui bahwa tingkat vitamin D dapat mem-
pengaruhi fungsi sistem kekebalan dan bahwa tingkat vitamin
D ibu mempengaruhi pertumbuhan janin. Lebih lanjut, pem-
berian suplemen vitamin D menunjukkan perbaikan hasil terapi
tuberkulosis (TB), yang bermakna bila dihubungkan dengan
HIV karena TB adalah penyebab penyakit dan kematian ter-
penting Odha.
Namun, hanya sedikit penelitian yang meneliti dampak tingkat
vitamin D pada ibu hamil yang HIV-positif dan hasilnya ter-
masuk efek samping kelahiran, MTCT, kematian bayi selama
awal bulan kehidupan, atau penularan HIV karena menyusui.
Penelitian penggunaan suplemen vitamin D pada ibu hamil
yang HIV-positif di Tanzania ditujukan untuk menilai pentingnya
tingkat vitamin D ibu.
Seluruhnya ada 884 perempuan yang dilibatkan dalam analisis.
Sebagian besar (80%) memiliki penyakit HIV tidak bergejala.
Pemberian suplemen vitamin dimulai antara minggu ke-12
dan 27 usia kehamilan.
Tidak ada hubungan antara tingkat vitamin D dan hasil buruk
kehamilan misalnya kelahiran prematur, bayi berat badan lahir
rendah, atau bayi lahir dengan ukuran yang kecil dibandingkan
usia kandungan.
Namun, vitamin D ibu yang rendah pada awal (di bawah 32
ng/ml), dikaitkan dengan 49% peningkatan risiko kematian
janin atau penularan HIV saat kelahiran (CI:95%; 7-109%),
dibandingkan bayi dari ibu dengan tingkat vitamin D yang
cukup.
Selain itu, bayi dari ibu dengan tingkat vitamin D yang rendah
50% lebih berisiko tertular HIV pada usia enam minggu
dibandingkan bayi dari ibu dengan tingkat vitamin D yang
normal (CI:95%; 1,02-2,20).
Setelah 24 bulan masa tindak lanjut, 30% bayi HIV-positif.
Bayi dari ibu dengan tingkat vitamin D yang rendah, yang HIV-
negatif pada usia enam minggu dua kali lipat lebih berisiko
tertular HIV dari ibunya selama menyusui dibandingkan bayi
dari ibu dengan tingkat vitamin D yang cukup (rasio tingkat
kejadian [IRR], 2,03; CI:95%; 1,08-3,82).
Secara keseluruhan tingkat MTCT setelah 24 bulan adalah
46% lebih tinggi pada bayi dari ibu dengan tingkat vitamin D
yang rendah, dibandingkan bayi dari ibu dengan tingkat
vitamin D normal.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa ibu dengan tingkat
vitamin D terendah paling berisiko terhadap MTCT (p = 0,01),
dan risiko menurun sesuai peningkatan vitamin D pada ibu.
Peneliti juga menemukan bahwa vitamin D rendah pada ibu
meningkatkan risiko kematian bayi selama masa tindak lanjut.
"Vitamin D diketahui menunjang perkembangan sistem ke-
kebalan janin; sistem kekebalan yang lebih kuat mungkin lebih
resistan terhadap infeksi HIV dan mungkin menjelaskan penurunan
MTCT yang diamati," komentar para peneliti.
Para peneliti melanjutkan, "temuan ini mungkin juga ber-
hubungan dengan infeksi dan penyakit oportunistik yang lebih
sedikit selama masa tindak lanjut dan hasilnya adalah penurunan
mortalitas. Selain itu, kian banyak bukti yang mendukung
peran vitamin D untuk melawan infeksi TB; TB adalah salah
satu pembunuh utama populasi terinfeksi HIV."
Para peneliti menyimpulkan bahwa apabila pemberian suplemen
vitamin D terbukti efektif dalam penelitian, pemberian vitamin
D yang dipakai bersamaan dengan ART "akan terbukti sebagai
cara yang cukup sederhana dan murah untuk mengurangi
mortalitas bayi dan membantu mencegah MTCT."
(NFA)
N
igel Dimmock, profesor di University of Warwick's Biological
Sciences Department, "terkejut" bahwa WHO begitu cepat
telah menyatakan virus A H1N1 adalah strain yang dominan
karena dapat berimplikasi pada pengembangan vaksin. "Jika
pandemi H1N1 telah menggantikan jenis lain, seperti yang
terjadi pada tahun 1957 dan 1968, maka vaksin lama tidak
perlu," katanya. "Tapi jika mereka tetap bersama beredar, maka
bila selanjutnya menjadi dominan, Anda akan membutuhkan
vaksin dengan tiga komponen tipe A, dan tipe musiman B. "
Di seluruh dunia, lebih dari 3.000 orang meninggal sejak
bulan April 2009.
Di Jepang, flu telah menjadi sebuah epidemi, menandakan
bahwa musim flu tahunan dapat memanjang. WHO juga
menunjukkan beberapa perbedaan signifikan flu babi dari flu
musiman; pada flu musiman, 90 persen kasus-kasus yang
parah dan fatal terjadi pada orang berusia di atas 65 tahun,
sedangkan sebagian besar dari mereka yang meninggal akibat
flu babi berusia di bawah 50 tahun.
WHO telah mendapat laporan sebuah "bentuk sangat parah"
yang menyebabkan kegagalan pernafasan berat di kalangan
orang muda dan sehat, hal ini menegaskan perlunya perawatan
sangat khusus. WHO mengingatkan bahwa sejumlah besar
pasien tersebut bisa memenuhi unit perawatan intensif dan
mengganggu penyediaan perawatan untuk penyakit lain.
Di belahan bumi selatan yang rawan flu musim dingin, kota-
kota di beberapa negara telah melaporkan bahwa hampir 15
persen kasus rawat memerlukan perawatan intensif. Langkah-
langkah kesiapsiagaan diperlukan untuk mengantisipasi me-
ningkatnya permintaan pada unit perawatan intensif.
Badan Kesehatan PBB menegaskan bahwa wanita hamil dan
orang-orang dengan kondisi medis seperti asma, penyakit jantung
dan diabetes termasuk yang paling rentan terhadap flu. Selain
itu, studi menunjukkan bahwa kelompok-kelompok minoritas
dan penduduk asli, hingga lima kali lebih tinggi berisiko ter-
kena penyakit parah atau kematian akit daripada populasi
umum.
Tampaknya hanya ada satu titik terang, orang terinfeksi HIV
tidak menunjukkan peningkatan risiko penyakit parah atau fatal
jika mereka menderita flu babi. Menurut WHO, hal ini dapat ber-
guna untuk negara-negara di mana HIV umum dijumpai.
(NFA)
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa virus Swine Flu (flu babi) telah menyusul virus
lainnya untuk menjadi strain flu yang paling prevalen. Menurut WHO, pandemi virus A (H1N1) merupakan
yang paling cepat dan sekarang merupakan strain dominan di sebagian besar dunia. Pandemi akan
bertahan dalam bulan-bulan mendatang karena virus terus menyebar melalui populasi yang rentan.
Kadar Vitamin D yang rendah pada ibu terkait dengan peningkatan risiko penularan HIV dari
ibu-ke-bayi (mother-to-child HIV transmission / MTCT) dan mortalitas bayi. "Peningkatan
risiko terinfeksi HIV atau kematian saat kelahiran diamati pada bayi yang lahir dari ibu
dengan tingkat vitamin D rendah pada awal; tingkat vitamin D yang rendah pada ibu juga
terkait dengan penularan HIV melalui menyusui, dan dengan mortalitas bayi yang lebih tinggi
selama masa tindak lanjut," tulis peneliti dalam Journal of Infectious Diseases versi internet.
WHO : Virus
WHO : Virus Swine
Swine Flu
Flu
Sekarang
Sekarang Strain
Strain Virus
Virus Paling Prevalen
Paling Prevalen
WHO : Virus Swine Flu
Sekarang Strain Virus Paling Prevalen
Vitamin D yang Rendah pada Ibu
Vitamin D yang Rendah pada Ibu
Meningkatkan Risiko Penularan HIV
Meningkatkan Risiko Penularan HIV
dan Mortalitas pada Bayi
dan Mortalitas pada Bayi
Vitamin D yang Rendah pada Ibu
Meningkatkan Risiko Penularan HIV
dan Mortalitas pada Bayi