O P I N I
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
292
M
eskipun angka inisiasi menyusui meningkat sejak tahun
1990, angka inisiasi ASI eksklusif masih rendah bahkan tidak
meningkat pada periode waktu yang sama. Proporsi bayi yang
mendapat ASI eksklusif 6 bulan setelah melahirkan meningkat
lebih lambat dibandingkan bayi yang mendapatkan makanan
tambahan.
Hambatan memulai dan melanjutkan proses menyusui antara
lain karena kurangnya edukasi tentang menyusui sebelum me-
lahirkan, praktek dan kebijakan rumah sakit yang tidak mendu-
kung, interupsi saat menyusui, pemulangan dari rumah sakit
yang lebih awal, kurangnya waktu untuk follow up rutin dan
kunjungan pasca persalinan, pekerjaan ibu (tidak adanya fasilitas
dan dukungan untuk menyusui di tempat kerja), kurangnya
dukungan keluarga dan masyarakat, promosi komersial susu
formula bayi, iklan di televisi dan majalah, kesalahan informasi
serta kurangnya bimbingan dan dukungan dari petugas medis.
1
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2002-2003
menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif pada bayi usia <2
bulan hanya 64%.
2
Persentase turun seiring dengan bertam-
bahnya usia bayi yakni 46% pada bayi usia 2-3 bulan dan 14%
pada bayi usia 4-5 bulan. Yang lebih memprihatinkan, 13% bayi
<2 bulan telah diberi susu formula dan satu dari tiga bayi usia 2-3
bulan telah diberi makanan tambahan. Survei Nutrition & Health
Surveillance System, Balitbangkes dan HKI (2002) di 4 perkotaan
(Jakarta, Surabaya, Semarang, Makasar) dan 8 pedesaan (Sumbar,
Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, NTB, Sulsel) menunjukkan
bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4-12%,
sedangkan di pedesaan 4-25%.
3
Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan
di perkotaan berkisar antara 1-13% sedangkan di pedesaan 2-13%.
ASI Eksklusif
WHO merekomendasikan pemberian ASI eksklusif bagi bayi sejak
lahir, sesegera mungkin (setengah-1 jam sejak lahir) sampai setidak-
nya usia 4 bulan dan bila mungkin hingga usia 6 bulan.4 Yang
dimaksud dengan ASI eksklusif adalah pemberian ASI saja tanpa
disertai makanan atau minuman tambahan yang lain kecuali vitamin,
mineral dan obat-obatan.
1
ASI harus diberikan sebanyak dan se-
sering yang diinginkan bayi, siang maupun malam, setidaknya 8 kali.
4
Rekomendasi pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan pertama
didasarkan pada bukti ilmiah manfaat ASI bagi daya tahan hidup
bayi, pertumbuhan dan perkembangannya.
5
ASI memberi semua
nutrisi yang dibutuhkan bayi selama 6 bulan pertama hidupnya.
Pemberian ASI eksklusif mengurangi tingkat kematian bayi yang
disebabkan berbagai penyakit seperti diare dan pneumonia serta
mempercepat pemulihan bila sakit.
ASI eksklusif telah terbukti meningkatkan proteksi terhadap
banyak penyakit dan meningkatkan kemungkinan melanjutkan
menyusui sedikitnya sampai usia 1 tahun.
1
Rendahnya pemberian ASI
eksklusif menjadi pemicu rendahnya status gizi bayi dan balita.
3
Studi pada populasi berpendapatan rendah, menunjukkan bahwa
cairan sebagai tambahan ASI tidak diperlukan untuk memper-
tahankan hidrasi.
6
Kandungan air dalam ASI yang diminum bayi
selama pemberian ASI eksklusif sudah mencukupi kebutuhan
bayi.
5
Penambahan air, teh, atau cairan lain berpengaruh pada
output ASI, pertumbuhan serta morbiditas dan mortalitas karena
penyakit infeksi.
6
Memberi cairan sebelum bayi berusia 6 bulan meningkatkan
risiko kekurangan gizi. Konsumsi air putih atau cairan lain meski-
pun sedikit, akan membuat bayi merasa kenyang sehingga tidak
mau menyusu. Penelitian menunjukkan bahwa memberi air
putih sebagai tambahan cairan sebelum bayi berusia 6 bulan
dapat mengurangi asupan ASI hingga 11%.
5
Pemberian cairan tambahan juga meningkatkan risiko terkena
penyakit. Pemberian cairan dan makanan dapat menjadi sarana
masuknya bakteri patogen. Bayi usia dini sangat rentan terhadap
bakteri penyebab diare, terutama di lingkungan yang kurang
higienis dan sanitasi buruk. ASI menjamin bayi dapat memperoleh
air bersih yang tersedia setiap saat. Penelitian di Filipina menun-
jukkan bayi yang diberi air putih, teh, atau minuman herbal
lainnya berisiko terkena diare 2-3 kali lebih banyak dibanding
bayi yang diberi ASI eksklusif.
5
Reanalisis studi di Brazil dan Bangladesh menunjukkan bahwa
bayi menyusui dalam 6 bulan pertama kehidupan yang diberi
makanan tambahan memiliki risiko 2-3 kali lipat lebih tinggi
dalam hal kematian akibat diare dan pneumonia dibandingkan
bayi yang menyusui eksklusif. Randomised controlled trial di
Honduras menemukan, seperti studi observasional sebelumnya,
bahwa mengenalkan cairan atau makanan pada diet bayi sebelum
6 bulan tidak bermanfaat bagi pertumbuhan.
6
Manfaat ASI
Menyusui adalah suatu proses alamiah yang besar artinya bagi
kesejahteraan bayi, ibu dan keluarga.
4
ASI memberi segala kebutu-
han bayi, baik dari segi gizi, imunologis, maupun psikologis. ASI
bersifat species-specific dan lebih unggul dibandingkan dengan
makanan pengganti untuk bayi.
1
ASI merupakan makanan alamiah
dengan komposisi nutrisi yang sesuai untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi.
7
ASI mudah dicerna dan diserap, jarang
menyebabkan konstipasi.
ASI Eksklusif
Tantur Syahdrajat
Klinik Rumah Zakat Indonesia
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
293
I N F O P R O D U K
CDK 170/vol.36 no.4/Juli - Agustus 2009
294
O P I N I
I N F O P R O D U K
Testosterone Deficiency
Syndrome (TDS) in Aging Male
S
indrom defisiensi Testosteron atau Testosterone deficiency
syndrome (TDS) pada aging male (pria lanjut usia) merupakan
sindrom klinis berupa kumpulan tanda dan gejala pada pria ber-
kaitan dengan bertambahnya usia akibat defisiensi hormon tes-
tosteron. Beberapa keluhan yang sering ditemukan pada sindrom ini:
libido menurun, lemas/kurang tenaga, daya tahan dan kekuatan
fisik menurun serta penurunan prestasi kerja, tinggi badan ber-
kurang, kenikmatan hidup menurun, emosi labil, ereksi kurang kuat,
dsb. Diagnosis TDS ditentukan berdasarkan adanya perubahan
mental & fisik yang diukur dari pemeriksaan fisik, pemeriksaan
fungsi tubuh, adanya perubahan hormonal yang diukur dari
pemeriksaan laboratorium serta keluhan penderita seperti di
atas. Untuk mengatasi keadaan tersebut diperlukan tambahan
hormon Testosteron.
FARMAKOLOGI :
Tostrex
®
tergolong kelompok terapi androgen. Androgen endo-
gen terutama testosteron dan metabolit utamanya dehidro-
testosteron (DHT) disekresikan oleh testis. Hormon ini bertang-
gung jawab terhadap perkembangan organ kelamin pria baik
internal maupun eksternal. Selain itu, hormon ini juga diperlukan
untuk memelihara karakteristik seks sekunder seperti stimulus
pertumbuhan rambut, suara pecah, dan perkembangan libido.
Hormon ini juga memiliki sifat anabolisme protein, perkembangan
otot tulang rangka dan distribusi lemak tubuh, menurunkan
ekskresi nitrogen urin, natrium, kalium, klorida, fosfat dan air.
Testosteron tidak mempengaruhi perkembangan testis, namun
menurunkan ekskresi gonadotropin pituitari. Efek testosteron
pada beberapa organ target terjadi setelah perubahan perifer
testosteron menjadi estradiol yang kemudian mengikat reseptor
estradiol pada inti sel target seperti di kelenjar pituitari, jaringan
lemak, otak, tulang, dan sel-sel leydig testis.
Farmakokinetik
Absorpsi
Tostrex
®
memiliki formulasi hidroalkoholik yang akan mengering
segera jika terpapar dengan kulit. Kulit bertindak sebagai reservoir
untuk pelepasan testosteron secara lambat ke dalam sirkulasi sistemik.
Penyerapan testosteron ke dalam darah dilanjutkan selama 24
jam dengan konsentrasi yang secara bermakna berada di atas
kadar testosteron basal. Aplikasi antara 200 dan 800 m2 tidak
menunjukkan efek klinis yang relevan terhadap konsentrasi testos-
teron serum. Aplikasi testosteron di paha bagian dalam dan perut
menghasilkan kadar testosteron yang sebanding. Bioavailabilitas
Tostrex
®
sekitar 12%. Pemberian gel 3 gram setiap hari selama
lebih dari 6 bulan menghasilkan kadar testosteron serum 5,0 +
2,0 ug/L dan konsentrasi minimal individu yaitu 3,0 + 1,0 ug/L
dan konsentrasi maksimum yaitu 12,0 + 7,0 ug/L.
ASI mengandung substansi yang menunjang perkembangan sistem
saraf dan pertumbuhan otak.
8
ASI kaya akan antibodi untuk
melawan infeksi.
7
ASI dapat membantu bayi untuk merespon
secara baik terhadap vaksin mengingat jumlah antibodi yang tinggi
pada bayi usia 7-12 bulan yang menyusui.
8
Bayi yang menyusui
lebih sedikit mengalami alergi. Pada keluarga dengan riwayat alergi,
bayi menyusui mengalami lebih sedikit asma, alergi makanan
dan eksim. ASI eksklusif sampai 4 bulan akan menurunkan risiko
penyakit jantung anak ketika dewasa.
7
Menyusui juga membina
ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.
Penelitian di negara maju dan berkembang termasuk populasi
kelas menengah di negara maju, menunjukkan bukti kuat bahwa
ASI menurunkan insiden dan atau keparahan sejumlah penyakit
infeksi termasuk meningitis bakterial, bakteremia, diare, infeksi
saluran napas, necrotizing enterocolitis, otitis media, infeksi saluran
kemih, dan late-onset sepsis pada bayi prematur. Selain itu, angka
kematian postneonatal di USA berkurang hingga 21% pada bayi
menyusui. Sejumlah studi menunjukkan peran ASI pada penurunan
kejadian sudden infant death syndrome pada tahun pertama
kehidupan dan penurunan insiden DM tipe 1 dan 2, limfoma,
leukemia, penyakit Hodgkin, overweight dan obesitas, hiperkoles-
terolemia, dan asma pada anak yang lebih tua dan orang dewasa.
Menyusui juga berhubungan dengan peningkatan hasil tes per-
kembangan kognitif. Menyusui pada saat prosedur seperti heel-stick
untuk skrining bayi baru lahir akan membuat analgesia bagi bayi.
1
Manfaat menyusui bagi ibu antara lain menurunkan risiko perda-
rahan pasca persalinan dan mempercepat involusi uterus karena
berhubungan dengan peningkatan konsentrasi oksitosin, menurun-
kan kehilangan darah menstruasi dan meningkatkan jarak kelahiran
berhubungan dengan amenore pada masa laktasi, mempercepat
kembalinya berat badan seperti sebelum hamil, menurunkan risiko
kanker payudara dan kanker ovarium serta kemungkinan menurun-
kan risiko fraktur tulang pinggul dan osteoporosis pasca menopause.
1
Selain manfaat individual, menyusui menghasilkan manfaat sosial
ekonomi yang signifikan bagi negara, termasuk mengurangi biaya
perawatan kesehatan dan mengurangi orangtua absen dari
pekerjaan karena anak sakit. Insiden penyakit yang rendah pada
bayi menyusui membuat orangtua memiliki waktu yang lebih
untuk memperhatikan anak-anaknya yang lain serta tugas keluarga
yang lain dan mengurangi orangtua absen dari pekerjaan serta
menghindari berkurangnya pendapatan. Diperkirakan pada tahun
1993 biaya untuk membeli formula bayi pada tahun pertama
setelah melahirkan adalah $855. Selama 6 bulan pertama laktasi,
masukan kalori pada ibu yang menyusui tidak besar. Setelah
periode tersebut, intake makanan dan minuman lebih besar,
tetapi harga peningkatan intake kalori tersebut sekitar setengah
dari harga untuk membeli susu formula. Dengan demikian dapat
menghemat >$400 per anak untuk pembelian makanan selama
tahun pertama.
9
Daftar Pustaka
1. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 2005;
115: 496-506. Diakses dari: http://aap.policy.aappublications.org/.
2. Media Indonesia. Program ASI eksklusif hingga bayi enam bulan. 3 Agustus 2005. Diakses
dari:
http://www.mkia-kr.ugm.ac.id/.
3. Pusat Kesehatan Kerja Depkes RI. Kebijakan Departemen Kesehatan tentang peningkatan
pemberian Air Susu Ibu (ASI) pekerja wanita. Diakses dari: http://www.dinkeskota
semarang.go.id/.
4. Nindya S. Dampak pemberian ASI eksklusif terhadap penurunan kesuburan seorang wanita.
Cermin Dunia Kedokteran 2001; 133: 44-47.
5. LINKAGES. Pemberian ASI Eksklusif atau ASI saja: satu-satunya sumber cairan yang
dibutuhkan bayi usia dini. 2002. Diakses dari: http://www.linkagesproject.org/.
6. Black RE, Victora CG. Optimal duration of exclusive breast feeding in low income
countries. BMJ 2002; 325: 1252-1253. http://bmj.bmjjournals.com/.
7. Suririnah. Air Susu Ibu (ASI) memberi keuntungan ganda untuk ibu dan bayi. 2004. Diakses
dari:
http://www.infoibu.com/
8. Department of Nursing: Children's and Women's Services/Ob-Gyn Patient Education
Committee University of Iowa Children's Hospital. Breast is best!. Diakses dari:
http://www.uihealthcare.com/.
9. American Academy of Pediatrics. Breastfeeding and the use of human milk. Pediatrics 1997;
100: 1035-9. Diakses dari: http://aap.policy.aappublications.org/.
Distribusi
Sekitar 40% testosteron plasma terikat dengan SHBG (sex hormone
binding globulin), 2% dalam bentuk bebas dan sisanya terikat
dengan albumin dan protein lainnya. Ikatan albumin dan testos-
teron mudah dipisahkan dan merupakan ikatan yang secara biologis
aktif. Namun, ikatan dengan SHBG merupakan ikatan yang kuat;
oleh karena itu, konsentrasi testosteron bioaktif serum meru-
pakan fraksi yang tidak terikat dan yang terikat dengan albumin.
Metabolisme
Metabolit aktif utama testosteron yaitu estradiol dan DHT. Afinitas
ikatan DHT lebih kuat terhadap SHBG dibandingkan testosteron.
DHT kemudian akan dimetabolisme menjadi 3-alpha dan 2-beta
androstanediol.
Ekskresi
Sekitar 90% dosis testosteron yang diberikan secara intramus-
kuler akan dieksresikan di urin dalam bentuk asam glukoronat
dan konjugat sulfat dari testosteron dan metabolitnya. Sekitar
6% dosis akan diekskresikan melalui feses, sebagian besar dalam
bentuk unconjugate.
PROFIL PRODUK TOSTREX
®
Tostrex 2% gel merupakan Testosteron gel pertama di Indonesia
dengan teknologi transdermal untuk indikasi pada pria yang
mengalami hipogonadisme dengan defisiensi testosteron yang
telah dikonfirmasi melalui gejala klinis dan laboratorium
INDIKASI
Terapi pengganti testosteron untuk pria yang mengalami hipo-
gonadisme dengan defisiensi testosteron yang telah dikonfirmasi
melalui gejala klinis dan laboratorium.
DOSIS
Untuk pemberian per kutaneus.
Pada Pria Dewasa
Rekomendasi pemberian awal Tostrex
®
yaitu gel 3 g (60 mg testos-
terone) sekali sehari pada waktu yang sama setiap pagi. Titrasi
dosis berdasarkan kadar testosteron serum serta gejala dan tanda
klinis yang berkaitan dengan defisiensi androgen. Kadar testos-
teron fisiologis turun seiring dengan meningkatnya usia. Pemberian
setiap harinya tidak boleh melebihi 4 g gel (80 mg testosteron).
Pemberian dapat dilakukan di perut (seluruh dosis diberikan paling
sedikit 10 dari 30 cm) atau di paha bagian dalam ( setengah dosis
diberikan paling sedikit 10 dari 15 cm untuk setiap paha bagian dalam).
Pemberian secara rotasi antara perut dan paha dianjurkan untuk
menghindari efek samping pada tempat pemberian. Setiap
penekanan piston mengeluarkan _ gram gel (10 mg testosteron).