Baru-baru ini dilaporkan bahwa dosis tinggi tiamin (vitamin B1) secara nyata dapat menurunkan ekskresi albumin
dan dapat memperbaiki stadium ginjal kronik stadium awal pada pasien diabetes mellitus (DM) tipe 2.
Pernyataan ini merupakan laporan studi pilot yang telah dipublikasikan di Jurnal Diabetologia Desember 2008 .
Potensi Tiamin untuk Melindungi Ginjal
Kelompok yang mendapat tiamin mengalami penurunan ekskresi
albumin hingga 41% dibandingkan pada awal terapi (median -17.7
mg/24 jam; p < 0.001, n = 20). Ekskresi albumin melalui urin pada
kelompok tiamin lebih rendah dibandingkan di kelompok plasebo
(30.1 vs 35.5 mg/24 jam, p < 0.01). Selain itu pada 35% pasien
dengan mikroalbuminuria eksresi albumin urinnya menjadi dalam
batas normal setelah mendapat tiamin. Tidak dijumpai efek samping
yang bermakna, serta tidak ada gangguan kontrol kadar gula darah
maupun profil lipid selama tiamin diberikan.
Kesimpulan studi ini adalah bahwa pemberian tiamin dosis tinggi
dapat mengoptimalkan terapi dan mengurangi insiden mikroalbu-
minuria pada pasien nefropati diabetes stadium awal. Pemberian
suplemen vitamin B1 dapat dipertimbangkan khususnya pada
stadium awal nefropati diabetes untuk mengurangi risiko kerusakan
vaskular. (DHS)
Referensi:
1. High Doses of Thiamine May Improve Early-Stage Diabetic Nephropathy. http://www.docguide.com
2. Rabbani et al. High-dose thiamine therapy for patients with type 2 diabetes and microalbuminuria: a
randomised, double-blind placebo-controlled pilot study. Diabetologia, 2008; Dec 5. (abstract)
3. Vitamin B1 Could Reverse Early-stage Kidney Disease in Diabetes Patients. http://www.sciencedaily.com
4. Vitamin B1 Deficiency Key to Vascular Problems for Diabetic Patients, Study Suggests. http://www.sciencedaily.com
Apakah Suplementasi Vitamin C dan E
Dapat Mencegah Kanker ?
S
alah satu pemicu berubahnya sel normal menjadi sel kanker
adalah kerusakan struktur DNA yang dapat disebabkan oleh
proses oksidasi. Oleh sebab itu, mengkonsumsi antioksidan
seperti vitamin C dan E dapat menjadi suatu strategi pencegahan
kanker.
Di pertemuan tahunan American Association for Cancer Research,
16 November 2008 di Washington DC, Amerika Serikat,
disampaikan hasil penelitian acak berskala besar dan jangka
panjang. melibatkan 14.000 dokter berusia di atas 50 tahun.
Para dokter (subjek penelitian) tersebut dikelompokkan secara
acak ke dalam 2 kelompok, yaitu : Kelompok 1 : mendapat
vitamin E 400 IU 2 hari sekali atau plasebo dan Kelompok 2 :
mendapat vitamin C 500 mg tiap hari atau plasebo
Kedua kelompok ini dipantau selama 10 tahun, dinilai
banyaknya angka kejadian timbulnya kanker. Hasilnya,
kanker timbul pada 1.929 orang dan ternyata pemberian
suplemen vitamin C maupun E tidak bermanfaat dalam
mencegah kanker.
Dari hasil penelitian ini, para ahli berpendapat bahwa suplemen
vitamin mungkin tidak memberikan manfaat yang sama
seperti vitamin yang didapat dari makanan sehat (misalnya
sayur dan buah-buahan). Selain penelitian ini, beberapa
penelitian besar lain juga memperlihatkan hal yang sama.
Dapat disimpulkan bahwa sebagai pencegahan kanker, suplemen
vitamin antioksidan tidak menunjukkan manfaat, sedangkan
makan makanan sehat yang kaya vitamin seperti buah dan
sayur terbukti mengurangi risiko timbulnya kanker. Dengan
kata lain, manfaat buah dan sayur tidak dapat digantikan
dengan suplemen vitamin. (LHS)
Referensi :
1. Vitamin E and Vitamin C Supplementation do not Appear to Prevent Cancer.
www.connonc.com.2008
2. Vitamin E and Vitamin C Supplementation do not Appear to Prevent Cancer.
www.caring4cancer.com.
2008.
3. Greenwald P et al.Clinical Trials of Vitamin and Mineral Supplements for Cancer
Prevention.Am.
J.
Clin.Nutr.2007;85(1).p314S-7S
4. Ritenbaugh C et al.Routine Vitamin Supplementation to Prevent Cancer.
Agency for Healthcare Research and Quality.2003.www.ahrq.gov
D
iabetes sangat erat hubungannya dengan kelainan vaskular
baik yang bersifat mikrovaskular seperti kerusakan ginjal (nephropati
diabetes) dan retina hingga yang bersifat makrovaskular seperti:
penyakit jantung dan stroke. Adanya mikroalbuminuria dapat
menjadi petanda awal kerusakan ginjal.
Studi oleh The University of Warwick, Inggris menunjukkan bahwa
pasien-pasien diabetes mengalami defisiensi tiamin. Rendahnya
kadar tiamin dalam plasma darah pasien diabetes ini ternyata ber-
hubungan dengan peningkatan komplikasi vaskular. Para peneliti
melihat bahwa konsentrasi tiamin turun hingga 76% pada
pasien diabetes tipe 1 dan 75% pada diabetes tipe 2. Menurut
mereka, defisiensi tiamin pada pasien PGK bukan karena rendah -
nya asupan vitamin B1, tetapi lebih karena peningkatan ekskresi
tiamin melalui urin.
Studi acak, buta ganda dilakukan untuk melihat apakah pemberian
suplemen tiamin dapat memperbaiki mikroalbuminuria pada
pasien diabetes tipe 2. Sejumlah 40 pasien diabetes tipe 2 berusia
35-65 tahun secara acak diberi tiamin 300 mg/hari (3x100mg)
atau plasebo selama 3 bulan. Target utama studi ini adalah untuk
melihat perubahan eksresi albumin lewat urin.
CDK 168/vol.36 no.2/Maret - April 2009
B E R I T A T E R K I N I
125
www.kalbe.co.id