I N F O R M A T I K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
52
Gambar 3. Arsitektur Sistem PSIK
Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran
Portal sistem informatika kedokteran yang telah terbentuk tentunya
memerlukan konten yang bisa disimpan di dalam portal tersebut
dan bisa diakses secara terbuka, sehingga pengkayaan konten
informatika kedokteran harus mempunyai sistem yang dinamis,
user friendly, dan mudah diperbaharui.
Rancangan Sistem Engine Pengkayaan Konten
Kegunaaan sistem ini adalah sebagai engine untuk mengatur mana-
jemen konten yang berupa hasil penelitian, artikel populer, materi
kuliah atau semua kegiatan yang berkaitan dengan materi pem-
belajaran informatika kedokteran. Metode yang digunakan dalam
pengkayaan konten adalah dengan mendapatkan hasil penelitian atau
materi pembelajaran yang berkaitan dengan informatika kedokteran.
Konten materi pembelajaran mencakup :
· Bioinformatika
· Informatika Pencitraan Medik
· Informatika Keperawatan
· Informatika Klinis
· Informatika Kesehatan masyarakat
Untuk merancang pembuatan setiap materi pembelajaran akan
ditunjuk dosen di lingkungan Universitas Gunadarma yang mem-
punyai kompetensi di bidang-bidang tersebut; tidak menutup
kemungkinan dosen di luar institusi berperan serta memperkaya
konten informatika kedokteran. Topik topik tersebut akan disimpan
dalam engine sistem pembelajaran informatika kedokteran. (gambar 4).
Gambar 4. Engine Pengayaan Konten Pembelajaran
Pengembangan Inkooperasi Hasil Pemeriksaan USG ke dalam
Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh
untuk Bidang Kebidanan
Sistem ini direncanakan dengan mengacu pada artikel TeleNursing
dan Telemedicine
(5,6)
dan kemampuan Universitas Gunadarma
dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi serta adanya
program studi D3 kebidanan; tentunya ditunjang oleh bandwidth
backbone INHERENT yang sangat memadai.
Rancangan Sistem
Sistem ini digunakan untuk menyimpan data rekam medik secara
digital dan aplikasi pembelajaran jarak jauh untuk bidang kebidanan.
Sistem ini menyediakan layanan pembelajaran jarak jauh secara
real time baik dalam model kuliah ataupun pemakaian peralatan
kedokteran (USG). (gambar 5).
Gambar 5. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Real Time
PENUTUP
Sesuai definisi informatika kedokteran yang merupakan per-
paduan ilmu medik dengan teknologi informasi dan ruang lingkup
bidang tersebut, serta dengan melihat kekuatan dan potensi
Universitas Gunadarma di bidang teknologi informasi, maka
selayaknya Universitas Gunadarma dapat mengembangkan dan
melaksanakan program TIK K-1 DIKTI.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dwi Astuti Aprijani, M. Abdushomad Elfaizi. Bioinformatika: Perkembangan,
disiplin ilmu dan penerapannya di Indonesia. download from Internet, 2007.
2. Anis Fuad. Memahami difusi teknologi informasi kesehatan. http://anisfuad.
wordpress.com/ 2006/01/, January 2006.
3. Handbook of Medical Informatics. download from Internet, August 2008.
4. Johan Harlan. Informatika Kesehatan. Penerbit Gunadarma, 2006.
5. Nur Martono. Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) alternatif
asuhan keperawatan Indonesia menjelang Indonesia Sehat 2010. http://nurmartono.
blogspot.com/ 2006/07/, July 2006.
6. Handayani Tjandrasa. Teknologi informasi dalam aplikasi telemedika. download
from Internet, 2007.
7. Team PHK-TIK UG. Universitas Gunadarma dalam jaringan antar perguruan tinggi
se-Indonesia. Desember. e-mail: (eri,setia,harlan johan)@staff.gunadarma.ac.id 2006.
O P I N I
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
53
M
asyarakat telah mengenal stroke sebagai penyakit yang potensial
berbahaya dan berisiko menyebabkan kecacatan; tetapi yang mungkin
belum disadari sepenuhnya adalah bahwa stroke sebetulnya bisa di-
cegah dengan penanganan faktor risiko yang baik. Peningkatan usia
harapan hidup akan memperbesar populasi lanjut usia sehingga harus
diantisipasi adanya peningkatan kejadian stroke di masa mendatang.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang sering tanpa gejala;
masyarakat dianjurkan untuk mengukur dan memantau tekanan
darahnya secara berkala, apalagi sekarang sudah tersedia alat pengukur
tekanan darah yang dapat dibeli di mana-mana.; mengendalikan tekanan
darah dapat menurunkan risiko stroke sampai sepertiganya
(1)
Faktor
risiko lain yang juga penting ialah diabetes mellitus yang seharusnya
bisa dikontrol .
Survai atas 2065 pasien stroke di 28 rumahsakit di seluruh Indonesia
(Oktober 1996 - Maret 1997)
(2)
menunjukkan bahwa 73,9% menderita
hipertensi; 33.5% tidak diobati dan 8.9% bahkan baru terdiagnosis
saat dirawat. Sedangkan diabetes mellitus ditemukan pada 17.3%
pasien. Kematian akibat stroke merupakan 5.4% dari semua kematian
di rumahsakit.
(3)
Masalah lain yang juga penting ialah menyadarkan masyarakat agar
waspada terhadap gejala awal stroke yang sering dapat diamati,
sehingga dapat sedini mungkin dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat;
karena meskipun studi yang mutakhir menunjukkan bahwa rtPA masih
berguna jika diberikan sampai 6 jam setelah serangan
(4)
, manfaat ini
tidak banyak membantu jika pasien baru tiba di rumahsakit rata-rata
48,5 jam setelah serangan.
(2)
Jika seseorang wajahnya lumpuh sesisi ,atau menderita kelemahan
lengan/anggota gerak, atau mengeluh bicaranya terganggu/pelo,
probabilitas disebabkan oleh stroke sebesar 72%.
(5)
Kampanye deteksi
dini gejala stroke perlu dilakukan terus menerus di kalangan masyara-
kat luas, antara lain penyebarluasan tanda dini melalui poster seperti
yang telah dilakukan di AS (gambar), melalui siaran radio dan/atau televisi,
dapat dengan cara bekerja sama dengan salah satu rumahsakit. Juga
penting untuk memberi pemahaman bahwa stroke dapat dicegah se-
maksimal mungkin melalui pengendalian faktor risiko seperti hipertensi,
diabetes mellitus, hiperkholesterolemi dan penyakit metabolik lain.
Upaya peningkatan kewaspadaan di kalangan masyarakat harus
diimbangi dengan kesiapan personil rumahsakit yang andal dan
fasilitas diagnostik yang memadai karena pemberian obat yang spesifik
seperti rtPA memerlukan kepastian jenis strokenya, di samping fasilitas
pemantauan ketat di rumahsakit
(6)
. Ketersediaan obat tersebut di
Indonesia masih belum merata, di samping adanya hambatan peng-
gunaannya mengingat masalah ketepatan diagnostik dan rentang
waktunya. Masalah transportasi ambulan juga perlu diperbaiki; di
samping masalah kepadatan lalu lintas yang berada di luar jangkauan
bidang kesehatan. Perlu dipikirkan apakah hal-hal ini dapat diatasi
dengan metode tele medicine meskipun harus diakui bahwa metode
ini padat teknologi dan tidak murah
(7)
.
Klub-klub stroke yang sampai saat ini kegiatannya lebih banyak pada
aspek rehabilitasi hendaknya lebih diberdayakan untuk memberi
pemahaman yang lebih baik mengenai pencegahan stroke melalui
cara hidup sehat, tidak/berhenti merokok, berat badan ideal dan me-
nangani faktor risiko sebaik-baiknya. Di sini pula peran serta masyara-
kat dapat diaktifkan meskipun tetap memerlukan pembinaan. Upaya
pencegahan terhadap penyakit-penyakit kronis penyakit jantung,
stroke, diabetes dan kanker jika dijalankan dengan konsisten dapat
mencegah 36 juta kematian prematur di seluruh dunia; separuhnya di
kalangan usia di bawah 70 tahun ; kira-kira seperenamnya (6 juta)
berasal dari pencegahan kematian akibat stroke
(8)
. Bahkan jika dihitung
secara ekonomi biaya, masih tetap menguntungkan; penurunan 2%
kematian akibat penyakit kronis bisa menghemat sekitar US$ 8 milyar atau
10% dari potensi penurunan pendapatan nasional dalam kurun waktu10
tahun. Penggunaan multidrug untuk mencegah penyakit jantung, stroke
dan diabetes di kalangan risiko tinggi dapat menghindari 17.9 juta kematian.
Upaya-upaya ini memang tidak akan segera terlihat hasilnya dalam waktu
dekat, dan seperti halnya dengan upaya pencegahan lainnya, memerlukan
kesinambungan. Berpulang pada kita semua, apakah cukup bersungguh-
sungguh berupaya mencegah penyakit yang menimbulkan kecacatan dan
(mungkin) kematian ini sekaligus dapat menghemat biaya kesehatan.
Daftar Pustaka
1. Adams HP,delZoppo GJ, vKummer R. Management of Stroke. 2
nd
ed. 2002.
2. Misbach J, Wendra A. Clinical pattern of hospitalized stroke in 28 hospitals in Indonesia.Med.J.Indon. 2000;9(1):29-34
3. Data Survey Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2006
4. Wardlaw JM, Murray V, Sandercock PAG. Thrombolysis for acute ischemic stroke: an update of the Cochrane thrombolysis
meta-analysis. Abstracts. Internat.J.Stroke 2008;3 suppl.1:50
5. Gabrielli A,Idris AH, Layon AJ. Ch.14. Prehospital Care of the Patient with Neurologic Injury. Dalam: Layon AJ, Gabrielli A,
Friedman WA. Textbook of Neurointensive Care. Saunders, 2004. pp.450-1
6. Guidelines for the Early Management of Adults with Ischemic Stroke. Stroke 2007;38:1655-1711
7. Ilyan T, Sakasasmita S. Aplikasi Telemedicine bagi Pendidikan Kedokteran di Pedesaan. Cermin Dunia Kedokt.2008;35(5):271-78
8. Bonita BR. Costs of stroke prevention in the context of the chronic disease goal: what are the savings? Abstracts. Internat.J.Stroke
2008;3
suppl.1:77
Setiap orang pasti sudah pernah mengenal istilah
stroke - penyakit gangguan peredaran darah otak -
yang merupakan penyebab kecacatan utama dan
penyebab kematian penting - di samping kanker dan
serangan jantung. Bahkan mungkin di antara sejawat
sudah ada yang merasakannya sebagai pengalaman
di kalangan keluarga sendiri.
MENGELOLA
STROKE
DENGAN
LEBIH BAIK
Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Dokter Spesialis Saraf, Jakarta
Ket.Gambar:
Poster yang digunakan
untuk kampanye deteksi
dini stroke di AS.
(Sumbangan drg.Wasis Sumartono)