background image
LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
234
T
elah diselenggarakan PKB PERABOI (Pendidikan Ke-
dokteran Berkelanjutan Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi
Indonesia) pada tanggal 24-26 April 2008 di hotel Grand
Mahkota Pontianak dengan tema "Peningkatan Peran Bedah
Onkologi dalam Penanggulangan Kanker di Era Globalisasi"
dihadiri oleh sekitar 300 peserta dokter bedah onkologi
dan bedah umum.
Beberapa topik yang menarik di antaranya adalah :
1) Taxanes, In the management of breast cancer oleh Dr.
Kunta Setiaji, SpB(K)Onk menjelaskan peranan taxan pada
kanker payudara stadium lanjut yang diteliti secara luas
dalam 10 tahun terakhir, baik sebagai terapi tunggal atau
kombinasi.
Taxan sebagai terapi tunggal
Pada pasien yang belum terpapar dengan antrasiklin
didapatkan Docetaxel lebih baik dibandingkan Antrasik-
lin, Paclitaxel sebanding dengan Antrasiklin, Paclitaxel
lebih baik dibandingkan regimen CMFP
Sedangkan pada pasien yang telah gagal dengan terapi
antrasiklin didapatkan Docetaxel lebih baik dibandingkan
kombinasi mitomycin/vinorelbine, methotrexate/5-FU
dan vinorelbine/5-FU
Taxan sebagai terapi kombinasi
Didapatkan kumpulan uji klinik sbb: D>AC, AD > FAC,
DAC> FAC, ED > FEC, AP >> FAC, AP = AC dan EP = EC
Manfaat taxan juga dilaporkan berdasarkan beberapa hasil
uji klinik dengan kesimpulan :
Meningkatkan dosis paclitaxel 175, 210 dan 250 mg/m
2
dalam interval 21 hari tidak memberikan manfaat; dosis
optimal pada kanker payudara 175 mg/m
2
.
Pemberian Paclitaxel secara mingguan dosis 80 mg/m
2
lebih baik dalam meningkatkan respon dan TTP diband-
ingkan pemberian secara 3 minggu dengan dosis 175
mg/m
2
; dan pemberian secara mingguan menurunkan
efek samping netropeni dan neuropati.
Peningkatan dosis Docetaxel hingga 100 mg/m
2
akan
meningkatkan efektivitas dinilai dari time to progression
dan harapan hidup pasien meskipun berkorelasi dengan
peningkatan efek samping demam netropeni dan neuropati.
Pemberian docetaxel secara mingguan dengan dosis
40 mg/m
2
juga lebih bermanfaat dibandingkan pembe-
rian setiap 3 minggu dengan menurunkan efek samping
terutama demam netropeni dan neuropati.
Perbandingan docetaxel dengan paclitaxel sebagai terapi
tunggal pada lini kedua kanker payudara didapatkan juga
docetaxel lebih unggul dibandingkan paclitaxel meskipun
disertai peningkatan efek samping terutama netropeni.
Terakhir disampaikan tingkatan pilihan regimen yang lebih
superior yang dapat digunakan sebagai terapi ajuvan pada
kanker payudara adalah :
- Regimen standar : CMF 6x, AC 4x
- Regimen superior :
CAF/CEF atau FAC/FEC atau AC-> CMF atau E-> CMF
AC-> P, atau AC ->D atau TAC atau FEC ->
AC dose danse -> P
2) Anthracycline based chemotherapy in breast cancer
oleh Dr. Fransiska Badudu SpB(K)Onk
Antrasiklin yang telah dikembangkan di pertengahan tahun
1970 an tetap menjadi terapi dasar pada kanker payudara,
sebagai terapi tunggal dicapai respon rata rata > 40 %
dan sebagai kombinasi dapat dicapai hingga > 70 %.
Efek samping utama yang diperhatikan adalah kardiotoksik.
Skema terapi antrasiklin pada kanker payudara metas-
tasis adalah :
Pasien pertama mendapatkan antrasiklin kombinasi
taxane dan dilanjutkan setelah mengalami rekurensi
dengan pemberian capecitabine
Pasien pertama mendapatkan antrasiklin kombinasi
non taxane dilanjutkan setelah mengalami rekurensi
dengan pemberian taxane tunggal atau kemoterapi
kombinasi dengan berbasis taxane (capecitabine +
PKB PERABOI 2008
PKB PERABOI 2008
PKB PERABOI 2008
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
1.
2.
3.
I.
II.
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
195
E. Hubungan antara tingkat konsentrasi dengan beberapa
variabel perancu
Variabel perancu (confounding) adalah jenis variabel yang ber-
hubungan (asosiasi) dengan variabel bebas dan berhubungan
dengan variabel tergantung, tetapi bukan merupakan variabel
antara. Identifikasi variabel perancu ini amat penting karena akan
bisa berakibat salah kesimpulan.
Variabel perancu dalam penelitian ini adalah jenis kelamin, lama studi,
pendidikan ortu dan les privat. Pada tinjauan pustaka selain pajanan
bising ternyata keempat variabel perancu ini dapat mempenga-
ruhi tingkat konsentrasi siswa SD. Variabel perancu tersebut tidak
dapat disingkirkan dengan desain penelitian sehingga dilakukan
teknik statistik analisis multivariat. Dengan tehnik ini dapat dilihat
peran masing masing variabel bebas, termasuk perancu, terhadap
tingkat konsentrasi siswa SD yang dinilai dua kali dalam kurun
waktu 2 semester, yakni pada awal tahun ajaran (tingkat konsen-
trasi 1) dan akhir tahun ajaran (tingkat konsentrasi 2). (tabel 8).
Tabel. 8. Hubungan antara tingkat konsentrasi dengan variabel perancu
Pada tabel 8 terlihat pada tingkat konsentrasi 1 hanya lama studi
yang mempunyai hubungan bermakna (p < 0,05). Sesuai dengan
pendapat Wickens cit. Veenstra (1995), faktor usia ikut berpenga-
ruh dalam kemampuan konsentrasi individu karena kemampuan
konsentrasi tumbuh dan berkembang sesuai dengan usia
individu.
42
Untuk tingkat konsentrasi 2 hanya jenis kelamin yang memiliki
hubungan yang bermakna. Hal tersebut sesuai pendapat
Saminah (1997), perbedaan jenis kelamin anak seringkali menun-
jukkan perbedaan karakteristik belajar anak. Anak perempuan
akan lebih cepat memasuki tahap keremajaannya dibandingkan
anak laki laki. Anak perempuan lebih cepat mengenal hidup teratur
sehingga kesan umum anak perempuan lebih mudah diatur dan
lebih mudah mandiri.
51
D. Hubungan antara lama pajanan bising disekolah dengan
tingkat
konsentrasi
Hubungan antara faktor risiko bising (variabel bebas) dengan
tingkat konsentrasi (variabel tergantung) pada studi kohort
dapat ditentukan dengan mencari nilai risiko relatif. Risiko relatif
(RR) disebut pula rasio risiko dapat diketahui dengan mem-
bandingkan tingkat konsentrasi subyek penelitian dengan
faktor risiko bising dengan tingkat konsentrasi kelompok tanpa
faktor risiko (tidak bising). Tabel 2x2 menunjukkan hasil
pengamatan pada studi kohort. Pada awal tahun ajaran baru,
didapatkan Risiko relatif 2,2 artinya kelompok sekolah yang
terpajan bising mempunyai risiko akan mempunyai tingkat
konsentrasi yang kurang, sebesar 2,2 kali dibandingkan dengan
sekolah yang tidak terpajan bising (tabel 6).
Tabel 6. Kategori tingkat konsentrasi berdasarkan hasil tes konsentrasi 1
Pada akhir tahun ajaran, didapatkan Risiko relatif 18 artinya
pelajar di kelompok sekolah yang terpajan bising mempunyai
risiko kurang konsentrasi, 18 kali dibandingkan dengan pelajar
di kelompok sekolah yang tidak terpajan bising (tabel 7).
Tabel 7. Kategori tingkat konsentrasi berdasarkan hasil tes konsentrasi 2
Risiko dalam hal ini pajanan bising di sekolah terhadap tingkat
konsentrasi pada awal dan akhir tahun naik (RR 2,22 menjadi
18). Ada teori yang menyatakan bahwa bising akan menyebab-
kan kenaikan kadar dopamin pada korteks prefrontal yang
selanjutnya menyebabkan gangguan fungsi memori. Asumsinya
bising akan menyebabkan siswa mengeluarkan banyak energi
untuk memilih dan berkonsentrasi pada salah satu stimulus
yang ada untuk diproses lebih lanjut di memori. Gangguan
memori ini akan berdampak sulit meningkatkan konsentrasi,
sehingga kelompok terpajan bising cenderung tidak dapat
meningkatkan skor konsentrasi selama 2 semester. Penelitian
Hanies et al. (2001) pada sekolah-sekolah di sekitar bandara
menyatakan bahwa lama pajanan bising pesawat terbang dalam
jangka waktu 1 tahun akan meningkatkan gangguan perhatian atau
konsentrasi karena tidak ada proses adaptasi.
14
Lama pajanan
bising jalan raya di lingkungan sekolah selama 2 semester berpen-
garuh meningkatkan risiko kurang konsentrasi pada murid.
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
194
Dalam tabel 2 dapat dilihat penyebaran karekteristik subyek pada
kedua kelompok merata, semua variabel pada kedua kelompok,
mempunyai nilai p > 0,05 (tabel 2). Dengan demikian subyek pada
kedua kelompok penelitian ini adalah homogen.
B. Pengukuran Tingkat Kebisingan
Rerata hasil pengukuran intensitas bising pada sekolah dasar
yang terpajan bising jalan raya sebesar 57,2 dB (SD 3,9), sedang-
kan di sekolah dasar yang tidak terpajan bising jalan raya adalah
sebesar 48,3 dB (SD 2,4). Kedua kelompok layak dibandingkan
karena berdasarkan uji t, perbedaan rerata intensitas bising antara
kedua kelompok tersebut adalah bermakna (p=0,001). (tabel 3).
Tabel 3. Data intensitas bising ruang kelas (dB)
Hasil tersebut menunjukkan bahwa intensitas bising di sekolah
dasar yang terletak jauh dari jalan raya sudah mendekati am-
bang batas maksimum yang diperkenankan, sedangkan untuk
sekolah dasar yang dekat dengan jalan raya nilainya melebihi
ambang batas yang diperkenankan; hanya sebagian kecil (15%)
sekolah dasar yang berada jauh dari jalan raya.
13
Artinya bila
dilakukan generalisasi hasil penelitian ini maka mungkin sekitar
85% sekolah dasar di Kota Yogyakarta mempunyai tingkat kebi-
singan melebihi batas ambang kebisingan lingkungan yang
diperkenankan. Hasil ini serupa dengan penelitian Croskey &
Devens (1975) cit. Jonsdotir (2003) yang hanya menemukan 1 dari
9 sekolah yang memenuhi kriteria tingkat kebisingan 40-50 dB.
49
Hal serupa diperoleh dari penelitian Sanders (1965) cit. Jonsdotir
(2003) : 75% sekolah TK mempunyai tingkat kebisingan lebih dari
65 dB.
49
Penelitian Modley (1989) di SD Austria menemukan
rerata intensitas ruang kelas sebesar 65,3 (47,5 - 81,3) dB.
50
Idealnya pengukuran tingkat kebisingan sekolah dilakukan
selama aktivitas belajar mengajar berlangsung. Pada penelitian ini
pengukuran bising ruang kelas berlangsung sekitar 5-10 menit
pada masing-masing ruangan kelas, pada jam yang hampir
bersamaan di semua sekolah yaitu pada pukul 9-11 pagi. Asum-
sinya pada jam-jam tersebut keadaan jalan raya sudah mulai
stabil (tidak terjadi lonjakan akibat saat berangkat sekolah,
berangkat kerja dan sebagainya, sebaliknya setelah jam tersebut
sudah mulai terjadi arus pulang dari sekolah maupun kantor).
Dengan asumsi tersebut diharapkan rerata bising minimal dapat
ditentukan. Bising sekolah dapat lebih tinggi dari rerata bising
yang diperoleh pada penelitian ini.
C. Skor Tes Konsentrasi
Hasil tes konsentrasi dilakukan dua kali yaitu pada awal (tabel 4)
dan akhir tahun ajaran (tabel 5). Pada awal tahun ajaran, diban-
dingkan skor konsentrasi siswa pada kelompok sekolah yang
terpajan bising dan yang tidak terpajan bising. Terdapat perbe-
daan bermakna p = 0.047 (p <0.05). (tabel 4).
Tabel 4. Hasil Pengukuran skor konsentrasi pada awal tahun ajaran.
Setelah 2 semester, pada akhir tahun ajaran, siswa yang sama
pada SD yang sama kembali menjalani tes konsentrasi. Hasil
skor tes konsentrasi ke dua ternyata naik pada dua kelompok
SD baik yang terpajan bising maupun yang tidak terpajan bising
dibandingkan skor tes konsentrasi pada awal tahun ajaran,
perbedaan kedua skor konsentrasi pada 2 kelompok tersebut
tetap berbeda bermakna (p = 0.001). (tabel 5).
Tabel 5. Hasil Pengukuran skor konsentrasi pada akhir tahun ajaran
Tabel 4 dan tabel 5 menunjukkan bahwa hasil tes konsentrasi
pada awal semester dan akhir semester pada kelompok tidak
terpajan bising lebih baik dibandingkan kelompok terpajan bising.
Bising meningkatkan kadar dopamin korteks prefrontal sehingga
terjadi hambatan pada kontrol voluntary terhadap pemusatan perha-
tian sehingga proses pemusatan perhatian akan terganggu.
36
Tingkat konsentrasi akan meningkat berdasarkan latihan dan
pengalaman,
43
sehingga pada 2 kelompok tersebut terdapat
kenaikan tingkat konsentrasi pada akhir semester dibandingkan
awal semester. Kelompok tidak terpajan bising mengalami kenaikan
yang lebih tinggi dibandingkan kelompok yang terpajan bising.
Hal ini dapat dijelaskan dengan teori bahwa bising menghambat
proses pemusatan perhatian.
36
LAPORAN KHUSUS
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
235
taxane, gemcitabine + taxane, paclitaxel+ bevacizumab)
Pasien pertama tidak berbasis antrasiklin dan tidak ber-
basis taxane, dilanjutkan setelah mengalami rekurensi
dengan mendapatkan antrasiklin tunggal atau taxane
tunggal atau antrasiklin kombinasi taxane atau capeci-
tabine taxane, paclitaxel bevacizumab.
3) Isu strategi pemakaian terapi hormon pada kanker payu-
dara oleh Dr. Sutjipto SpB(K)Onk
Terapi antiestrogen merupakan terapi utama pada pasien
kanker payudara dengan reseptor estrogen positif, pilihan
terapi anti estrogen adalah blokade reseptor estrogen
(tamoxifen), blokade sintesis estrogen (aromatase inhibitor:
letrozole dll) dan supresi ovarium dengan ablasi (operasi/
radiasi) atau pemberian LHRH agonis (Goserelin/ Buserelin)
Tamoxifen merupakan terapi standar sebelum adanya
terapi hormonal aromatase inhibitor yang diberikan
selama 5 tahun; kelemahan tamoxifen adalah resistensi
setelah 5 tahun dan meningkatkan risiko kanker endo-
metrium, emboli paru dan stroke
Hasil studi Up Front aromatase inhibitor ATAC dan BIG-98
mengindikasikan: Aromatase inhibitor monoterapi supe-
rior dari tamoxifen dan AI kombinasi tamoxifen tidak lebih
baik dibandingkan tamoxifen tunggal ( ATAC)
Uji klinik lanjutan (ARNO/ABCSG dan IES) menunjukkan
terapi sekuensial (Tamoxifen 2 tahun ­ AI 3 tahun) lebih
superior daripada pemberian tamoxifen berkelanjutan
selama 5 tahun
BIG 1-98 akan mengklarifikasi keuntungan dari sekuensial
terapi antara AI-> tamoxifen atau tamoxifen -> AI vs AI saja
Kelemahan terapi hormonal aromatase inhibitor adalah
meningkatkan insiden hiperkolesterolemi, kehilangan massa
tulang, meningkatkan risiko fraktur, meningkatkan kejadian
artralgia dan arthritis dibandingkan pemberian tamoxifen.
4) Taxotere as neoadjuvant treatment for primary breast
cancer oleh Dr. Eddy H. Tanggo
Menjelaskan berbagai uji klinik Docetaxel sebagai terapi
neoadjuvant pada kanker payudara
Uji klinik oleh Hutcheon dkk (n=145) dilaporkan pada
ASCO 2000, docetaxel tunggal tetap efektif pada pasien
yang tidak respon dengan terapi berbasis antrasiklin
dengan pCR: 44% dan cCR : 55%, dan pada kelompok
pasien yang respon dengan terapi antrasiklin (CVAP) 4
siklus dan dilanjutkan dengan pemberian docetaxel
tunggal secara sekuensial 4 siklus dicapai respon klinis
hingga 94% dan secara bermakna meningkatkan respon
patologis serta meningkatkan progression free survival.
Uji klinik fase II (n: 25) oleh Hurley dkk. dilaporkan pada
ASCO 2000, docetaxel (75 mg/m
2
) kombinasi dengan
cisplatin (70 mg/m
2
) sebagai neoadjuvan pada kanker
payudara stadium lokal lanjut 4 siklus dicapai ORR
hingga 96 % dengan CR sebesar 52%
Uji klinik fase II (n=16) lain oleh Hurley dkk dilaporkan
pada ASCO 2001, menggabungkan docetaxel (70
mg/m
2
) kombinasi Cisplatin ( 70 mg/m
2
) dan herceptin
dicapai ORR hingga 100 %
3 uji klinik fase II kombinasi Doxorubicin (50 mg/m
2
) atau
Epirubicin (100 mg/m
2
) kombinasi Docetaxel (75 mg/m
2
)
interval 2 atau 3 minggu dengan tamoxifen dicapai ORR
68-93%
Kesimpulan dari kumpulan uji klinik tersebut menunjukkan
docetaxel sebagai kemoterapi neoajuvan aktif dan dapat
ditoleransi dengan baik, uji klinik untuk menentukan regimen
optimal masih berlangsung; uji klinik NSABP B-27 mem-
bandingkan AC 4x _ operasi dengan AC 4x _ docetaxel 4 x _
operasi dengan AC 4x _ operasi _ docetaxel 4x. Kumpulan
uji klinik tersebut juga menunjukkan docetaxel kombinasi
antrasiklin paling menjanjikan sebagai ajuvan terapi.
(ARI)
·
·
·
·
·
·
·
·
·
·
III.