Penurunan prevalensi
A.
lumbricoides, T. trichiura dan cacing
tambang didesa I, I bulan sesudah pengobatan ialah 80%, 84%
dan 95%.
Sedangkan didesa III adalah 92%, 93% dan 69%.
Ternyata hasil ini mendukung adanya pengaruh
DEC pada
A.
lumbricoides dan
T.
trichiura.
Hal ini juga terlihat 6 bulan sesudah pengobatan.
KESIMPULAN
Pengobatan cacing usus dengan menggunakan mebendazole
memberikan hasil yang bagus.
Tetapi pemberian mebendazole ke II, 3 bulan sesudah
Mebendazole I tidak memberikan hasil seperti yang diharap-
kan karena adanya reinfeksi terutama pada
A.
lumbricoides
dan mungkin pada cacing tambang.
Untuk daerah dengan keadaan lingkungan seperti daerah
penelitian diatas, mungkin pemberian mebendazole-ulang
dapat diundurkan, sehingga cacing yang masih dalam
stadiun larva ("hasil" reinfeksi) sudah menjadi dewasa
pada saat mebendazole II diberikan. Dengan demikian
frekwensi pemberian mebendazole pertahun dapat diku-
rangi tanpa menurunkan efektifitas pengobatan masal tsb.
Dari hasil penelitian diatas ternyata bahwa DEC mem-
punyai pengaruh terhadap
A.
lumbricoides, T. trichiura dan
cacing tambang.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Iskak Koiman yang
telah memberi kesempatan kepada kami sehingga penelitian ini dapat
terlaksana. Juga kepada Dr. Fauzi Darwis dengan staff yang telah --
membantu kami dalam melakukan penelitian ini.
Dan tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua tehnisi
dari Puslit Biomedis dan Namru-2 Jakarta.
KEPUSTAKAAN
I.Alisah SN Abidin : Kemajuan dalam pengobatan cacing yang ditular-
kan malalui tanah. Simposium masalah cacing usus di Indonesia dan
pengobatannya, April 1980.
2.Craig Faust s. Clinical Parasitology. 8ed. Taiwan, 1971; 273 338.
3.Goodman LL, Gilman A. The pharmacological basis of therapeutics,
2nd ed. I955, hal 1145.
4.Hawking F. DEC and new compounds for the treatment of filariasis.
Advances in phazmacology, 1979, vol. I6 hal 130 (I979).
Penggunaan Latrin Kering di Masyarakat
dalam Usaha Pencegahan lnfeksi Cacing
Usus
Tonny Sadjimin , Soesanto Tjokrosonto
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM,
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM.
Tanpa melupakan kemajuan ilmu kedokteran yang pesat
dalam beberapa dasawarsa ini, penyakit parasit masih me-
nyebabkan penderitaan lebih dari ratusan juta manusia,
kematian yang tinggi dan penekanan terhadap keadaan eko-
nomi dari masyarakat di negara sedang berkembang.
Keadaan ini banyak disebabkan oleh kemampuan yang
minimal dalam mengontrol penyakit. Yang dihadapi bukan
saja agent dan host yang sudah ada, tetapi juga oleh karena
adanya pembangunan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Malaria dan schistosomiasis merupakan contoh dari masa-
lah kesehatan masyarakat yang besar di bumi ini, yang ekologi-
nya banyak dibantu oleh pengadaan irigasi dan_waduk. Infes-
tasi dari parasit saluran pencernaan merupakan masalah di ne-
gara sedang berkembang yang sudah berabad mencekam kese-
jahteraan umat. Sifat epidemiologi dari masing-masing parasit
sudah dikenal secara mendalam, latihan-latihan dan pendidik-
an mengenai parasit sudah secara luas dilaksanakan.
Berbagai macam usaha dalam mempengaruhi ekologi cacing
usus sudah diselidiki serta didiskusikan dan dilaksanakan. Te-
tapi masalahnya masih di sana saja. Suatu pemutusan siklus
epidemiologi dari penyakit menular jelas merupakan langkah
yang ampuh dalam mengatasinya. Misalnya pemberian imuni-
sasi terhadap manusia yang masih rentan terhadap suatu pe-
nyakit secara pasti menurunkan angka kesakitan dan kematian
dari manusia (I). Tindakan Snow dalam membantu menghen-
tikan wabah cholera pada tahun 1955 merupakan uraian pasti
mengenai metoda pengontrolan ( 2).
Pencegahan terhadap timbulnya investasi parasit usus
hanyalah mencegah jangan sampai ada kontak langsung mau-
pun tidak langsung antara faeces dan mulut atau tempayak
dan kulit. Pencegahan terhadap infeksi cacing dengan transmi-
si melalui tanah sampai kini masih memberikan hasil yang
lebih kecil dibandingkan lain macam tindakan pencegahan.
Untuk menjadikan masalah cacing usus ini tidak berarti,
negara-negara
yang
sudah maju melaksanakan pemecahan
masalah dengan berbagai macam tindakan yang dilaksanakan
serentak : pengobatan, sanitasi, lingkungan yang baik, per-
undangan kesehatan, pendidikan kesehatan yang meluas dan
peningkatan nilai kehidupan.
Ada tiga tindakan ntama yang dapat diketengahkan dalam
mengatasi masalah cacing perut (3) :
1. Pendidikan masyarakat mengenai kesehatan
2. Pembuangan faeces manusia secara sehat
3. Pengobatan massal
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat akan berhasil opti-
mal kalau usaha tersebut sudah merupakan kegiatan yang
diinginkan oleh masyarakat. Pendidikan kesehatan bertujuan
untuk mencapai hal tersebut, dengan memberikan pengertian
kepada masyarakat bahwa higiene dan kebiasaan hidup yang
mendasar dan penting dapat mengatasi atau bahkan meng-
hilangkan beberapa penyakit yang merugikan.
Pendidikan yang terus menerus dan mengarah merupakan
tindakan dasar yang selalu harus diperhatikan (4).
Ehlers dan Steel (5) menyebutkan beberapa kriteria dalam
pengelolaan faeces manusia :
1. Tanah permukaan jangan sampai terkontaminasi
2. Air tanah jangan sampai terkontaminasi oleh karena
dapat mempengaruhi air sumur dan/mata air.
3. Air permukaan jangan terkontaminasi
4. Faeces jangan sampai dicapai oleh vektor, lalat atau
binatang lain, sehingga dapat dilanjutkan kepada ma-
nusia.
5. Jangan sampai faeces segar diproses dengan tangan
secara langsung.
8 5
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
6. Tidak berbau dan enak dipandang.
7. Metoda harus sederhana dan tidak menelan dana yang
tinggi.
Dengan demikian dalam pengelolaan faeces ada dua prinsip
umum, yaitu : penghancuran renik patogen dan dikomposisasi
secara sempurna dari benda-benda organik (6).
Untuk kesehatan, secara khusus, harus diusahakan agar jasad
renik patogen dicegah secara optimal jangan sampai meluas
ke mana-mana.
Bahaya dari sanitasi yang buruk akan meningkat dengan
bertambahnya kepadatan penduduk. Sistem pembuangan
faeces yang sangat sederhana, misalnya di semak-semak, di
halaman atau di tempat terbuka mempunyai akibat lebih
kecil pada daerah dengan penduduk yang sangat langka di-
bandingkan dengan daerah yang berpenghuni banyak.
Terdapat 2 kemungkinan pengelolaan faeces manusia : dengan
transportasi dari faeces untuk diproses dan tanpa transportasi.
Transportasi
Tanpa transportasi
Dengan air
1. W.C. dihubungkan
dengan selokan/
3. Septic tank
Aqua privy
Tanpa air
saluran
2. Bucket latrine
Biogas tank
4. Compost latrine
Pit latrine
Metoda dengan transportasi membutuhkan dana yang tinggi,
80% dari seluruh dana hanya dipergunakan untuk jaringan
pengumpulan faeces.
Bucket latrine yang banyak dipakai di dataran Cina membu-
tuhkan penanganan khusus sedangkan biaya akan menjadi
tinggi dalam penggunaan jangka waktu lama.
Di negara sedang berkembang metoda tanpa transportasi lebih
tepat digunakan. Metoda group ketiga sudah dikenal secara
umum di Indonesia, di mana sistem transport, walaupun
minimal, masih dipergunakan untuk membersihkan dan mem-
bawa faeces ke tempat pengumpulan. Di daerah dengan
langka air masalah ini akan menimbulkan banyak problem.
Sistem dari ketiga group pertama sudah banyak ditulis dan
dikenal. Sistem latrin kering komposisasi , yang selanjutnya
disebut latrin kering, dibicarakan dalam tulisan ini mengenai
penggunaannya oleh masyarakat dan dampaknya terhadap
perkembangan telur Ascaris lumbricoides. salah satu cacing
yang mempunyai angka prevalensi tinggi di Indonesia.
Latrin kering sudah banyak dipakai di Vietnam (The
Doublevault latrine), India ("Gopuri" dan "Sopa Sandas"),
Swedia ("Multrum"), dll.
Cara Pembuatan Latrin kering (lihat Gb. 1)
1. Dinding
Dinding dapat dibuat permanen (batu merah, pasangan
setengah batu) atau semi permanen (gedeg). Luas 2 x 2 m
2
.
dapat beratap ataupun tidak (sinar matahari dan air hujan
dapat membantu penyehatan )
2. Bak Kom pos
Dibuat agar kuat dan tidak bocor, dengan beton cor atau
pasangan setengah batu dengan lepo bligen I:3 Bagian
bawah dibuat berlobang atau blig porius.
Ukuran :
· panjang : I60 cm (2 lobang) bersekat
· tinggi
:
80 cm
· lebar
:
80 cm
· Bagian depan diberi berlobang yang dapat dibuka dan
ditutup.
7. Bak abu dapur
Bak abu dapur dibuat dengan papan; ukuran panjang 60 cm
lebar 20 cm, tinggi 20 cm.
8. Tempat cuci
Setelah buang kotoran bak ditutup dan cuci di tempat
lain dengan air yang dibawanya sendiri.
9. Lobang peresapan air, lebih kurang 6 m.
10.Atap dari bak dibuat sedemikian rupa sehingga dapat untuk
mengalirkan urin/air kencing pemakai untuk tidak masuk
ke dalam bak, tetapi ke lantai.
Tehnik Pemasangan (lihat Gb. 2)
Bak yang dibuat dari beton atau pasangan bligon I : 3 dengan
ukuran : panjang I60 cm, lebar 80 cm, tinggi 80 cm, yang
bertutup di depan dengan tehnik engsel atau tutup yang
direkatkan dengan pasangan kapur, agar mudah dilepas pada
waktu membersihkan dan dapat dipasang kembali seperti
semula.
Bak dipasang di atas permukaan tanah.
Untuk menjaga agar letak bak kompos tidak bergerak (labil),
maka tehnik pemasangan sebagai berikut :
I. Sebelum bak dipasang tanah digali lebih kurang 20 cm.
Pada lobang galian tanah itu ditimbun sebagai lapisan
dasar adalah batu krakal bercampur pasir berbanding 1 : I,
setinggi I0 cm.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
86
2. Di atas lapisan krakal tersebut, ditimbun pasir bercampur
kapur dengan perbandingan 2 : 1 , setinggi I0 cm.
Lapisan pasir bercampur kapur ini sebagai pelarut asam.
Penggunaan Latrin Kering
Setelah siap semua (dinding, atap, pintu, kotak abu) selesai
dipasang berarti latrin kering siap untuk dipakai.
Sebelum dipakai, untuk alas (dasar) agar kotoran tidak lang-
sung melekat pada semen bak diberi serbuk gergaji atau
mrambut dan menyiapkan abu dapur.
Untuk persiapan abu dapur dan persediaannya agar tidak
menimbulkan masalah bagi masyarakat atau keluarga yang
menggunakan latrin tersebut, diadakan pengumpulan abu dari
mereka yang memasak dengan kayu bakar, atau membakar
sampah dedaunan dari kebun.
Tehnik Pemakaian Latrin Kering
Setiap orang yang buang kotoran jongkok di atas lobang. Se-
telah selesai buang kotoran, melalui lobang itu kotoran ditim-
bun dengan abu dapur lebih kurang 200 gram atau satu panci
cuci tangan untuk setiap orang. Di samping abu dapur harus di-
tambah atau ditimbun sampah dedaunan atau rumput yang
dapat membusuk, sehingga proses komposisasi dapat menjadi
lebih baik. Perlu diperhatikan bahwa urin tidak boleh mengalir
dan masuk ke dalam bak.
Dalam satu bak disiapkan 2 lobang yang terpisah dengan
sekat, bukan berarti kedua-duanya dipakai bersama-sama,
tetapi pemakaian latrin ini satu per satu.
Setelah bak pertama atau yang satu penuh dan ditutup tidak
dipakai kita pindah memakai yang sebelah atau yang satunya.
Tehnik penggunaan seperti pada waktu permulaan meng-
gunakan bak yang pertama.
Setelah 6 bulan, kotoran, abu dan sampah ataupun rumput
di bak yang pertama telah berubah menjadi kompos. Bak ter-
sebut dapat dikosongkan melalui lobang di depan, dan kompos
sudah siap untuk pupuk tanaman pekarangan atau sawah,
sehingga bak pertama ini menjadi kosong kembali. Setelah bak
kedua penuh dan ditutup seperti bak yang pertama, kita
kembali memakai bak yang pertama. Setelah 6 bulan bak
dapat kita kosongkan seperti pada waktu kita mengosongkan
bak yang pertama.
Demikian tehnik pemakaian latrin kering ini dan seterusnya.
Latrin kering ini lebih cocok untuk daerah-daerah pedesaan
yang jauh dari air, dan sebagian besar masyarakat memasak
dengan kayu bakar, sehingga abu dapur mudah didapat.
Dalam bulan November 1979 telah diperkenalkan jenis
latrin kering kepada suatu keluarga di R.K. Karangwaru
Lor, Kecamatan Tegalrejo, Yogyakarta, setelah melalui suatu
proses pendekatan melalui pamong desa dan tatap muka.
Pendekatan lebih diarahkan depada maksud dan tujuan dari
penggunaan latrin jenis ini. Konsekuensi akibat penerimaan
latrin ini diuraikan secara jelas. Keluarga ini dari strata sosial
ekonomi terendah di desa tersebut, yang dengan demikian
kesulitan-kesulitan dalam operasional akan segera dapat di-
ketahui. Keadaan ini dibutuhkan untuk dapat menguraikan
hambatan-hambatan yang mungkin timbul jika sistem ini akan
dikembangkan.
Terdapat beberapa hal yang harus diketahui dalam proses
komposisasi faeces ini. Proses komposisasi dalam sistem
latrin kering ini terjadi secara perlahan-lahan.
Keadaan-keadaan yang mempengaruhi pembuatan kompos
dengan proses biologis ini ialah : udara, panas, kelembaban,
ratio C/N dan pH.
Proses komposisasi merupakan proses serentak dari aerobic
dan anaerobik. Proses aerobic terjadi di permukaan dan ber-
guna untuk mempercepat pembusukan dan tidak berbau.
Sedangkan proses anaerobic terjadi di bagian dalam, pemhu-
sukan berjalan lambat dan berbau. Proses aerobic membutuh-
kan panas, sebaliknya proses anaerobic tidak. Kondisi untuk
pembusukan akan baik pada temperatur di atas 45° C dengan
0,5 - 1 m
3
.
Sampah mengandung kelembaban 50 - 60%. Kelembaban
yang tinggi akan menaikkan kondisi aerobic yang dapat
menyebabkan proses aerasi akan berkuTang. Sedangkan dalam
kelembaban rendah proses pembusukan akan terhambat.
Pada tingkat proses anaerobic dibutuhkan suasana pH
yang tinggi, untuk mana dibutuhkan serbuk kayu atau limau.
Ratio C/N yang baik untuk proses pembusukan adalah
ratio 15/
l sampai 30/l. Untuk mempercepat pembusukan
dalam latrin dibutuhkan bahan-bahan yang kaya akan karbon,
misalnya rumput-rumputan, sampah halaman, serbuk kayu
dan abu. Menghilangkan turut campurnya urin dalam proses
pembusukan ini akan memberikan efek yang sama.
Adanya beberapa binatang kecil-kecil dan cacing
tanah
di dalam isi latrin akan menguntungkan percampuran aerasi
dan penghancuran isi latrin, sehingga keberadaan mereka
dalam latrin perlu dirangsang. Pengawasan yang teliti terhadap
binatang-binatang kecil ini perlu diadakan untuk mencegah
terjadinya penularan bibit penyakit oleh mereka.
Setelah jangka waktu 6 bulan isi latrin dibiarkan di tempat
yang dapat dianggap aman, kemudian diletakkan di dalam
lobang yang dangkal dan ditimbun dengan tanah. Sebagain
besar parasit sudah dihancurkan dan jumlah coliform sudah
setingkat dengan jumlah yang normal dalam tanah.
Sangat penting diperhatikan bahwa Ascaris lumbricoides
dan Strongyloides stercoralis masih mampu hidup, sehingga
penanganan kompos iiarus bersih.
Pemeliharaan
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
pemeliharaan setelah latrin ini dipasang. Seperti telah diurai-
kan, latrin ini memerlukan kondisi kering. Dalam proses
pemakaian hal ini tidak dapat dipertahankan 100%, kadang-
kadang masih dijumpai urin yang masuk dalam kotak feces.
Dalam hal ini konstruksi dari latrin itu yang perlu diperhatikan
Posisi jongkok dari pemakai tidak selalu sesuai dengan kons-
truksi yang ada, kalau terlalu ke belakang, secara spontan urin
akan masuk ke dalam latrin.
Merupakan keuntungan bahwa keluarga yang diberi latrin
ini cukup patuh untuk selalu menyediakan abu di dalam
ruangan. Sehingga pemberian abu setelah berhajat bukan
merupakan masalah. Namun anak-anak dan pemakai yang
bukan keluarga pemilik sering tidak memahami sopan santun
dalam menggunakan latrin kering ini.
Kurang lebih 3 hari sekali, si pemilik menambahkan daun-
daunan ke dalam bak faeces. Jawaban yang tepat mengenai
berapa banyak daun-daunan yang harus dimasukkan belum
diperoleh, sampai sekarang jumlah itu masih sekehendak pe-
milik. Sewaktu mengadakan supervisi kadang-kadang diketahui
87
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus I980
bahwa pemilik lupa memberikan daun-daunan untuk waktu
satu minggu. Apa akibat.
kelupaan ini terhadap proses
pembusukan masih belum jelas.
Dengan adanya program Kader Sehat supervisi dapat lebih
sering dilakukan. Hanya dengan sepintas lalu mengingatkan
pemilik untuk menambah daun-daunan, persoalan lupa ini
dapat lebih dikurangi.
Konstruksi bak dari latrin percontohan ini jelas belum
memadai. Dengan berpegangan kepada pengalaman selama
ini perlu ada perobahan-perobahan sedikit dalam konstruksi
bak dan bangunan kamar kecil. Bentuk bangunan kamar
kecil disesuaikan dengan posisi jongkok dan aliran urin,
sedangkan jalan masuk sebaiknya berlawanan dengan pintu
pengambilan kompos. Pintu pengambilan kompos sebaiknya
dapat dibuka dari luar bangunan sehingga akan memudahkan
pengambilan kompos kelak.
Pemeriksaan Parasitologik dari Latrin Kering
Pemeriksaan secara parasitologik
dimaksudkan
untuk
mengetahui apakah dengan pemakaian latrin kering yang
isinya akan dipakai sebagai kompos masih merupakan pusat
penyebaran telur-telur cacing usus yang masih hidup dan
berkembang.
Metode Pemeriksaan
Sampel isi latrin (kompos) diambil dari tiga tempat secara
random :
1. Dasar latrin
2. Pertengahan latrin
3. Permukaan latrin.
Pengambilan sampel dilakukan pada bulan berikutnya setelah
latrin penuh dan ditutup, masing-masing diambil 5 contoh
sampel, dan ditempatkan pada tempat plastik.
Pemeriksaan sampel dilakukan pada saat
permulaan
dan se-
telah selesai masing-masing sampel dibagi dua untuk selanjut-
nya masing-masing di tempatkan pada tempat yang berbeda :
1. Bagian pertama ditempatkan pada temperatur kamar.
2. Bagian kedua ditempatkan pada tempat dengan
temperatur
33° C, temperatur optimal bagi perkembangan telur cacinl
Ascaris sp.
Pemeriksaan kedua dilakukan setelah
dua minggu
kemudian
Metoda pemeriksaan dilakukan secara konsentrasi dengar
menggunakan eter, formalin dan detergen.
Pemeriksaan dilakukan untuk mengamati jumlah sel (
stadium)
dari telur
Ascaris lumbricoides,
dengan menggunakan mikro
skop.
HASIL
Tabel 1
Distribusi telur cacing Ascaris lumbricoides pada berbaga
stadium dazi sampel permukaan latrin, pada
temperatur
kamar (rata-rata)
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
16
32
larva
I
(permulaan)
32.4
26
I2.2 7.8 3.2
2
1.6
II (dua minggu kemu-
dian)
23.4
28
13.6
8.2 4.8
3
1.8
X
2
= 2.119, p> 0.05
Tabel 2
Distribusi telur cacing Ascaris lumbricoides pada berbagai
stadium dari sampel permukaan latrin, pada temperatur
33°C.
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
16
32
larva
I (permulaan)
II (dua minggu kemu-
dian)
27.6
1 8
23.8
31.2
13
23.2
6.8
20.8
3.8
17
1.6
19.8
1.2
4.2
X
2
= 25.300
p < 0.01
Perbandingan antara jumlah sel (stadium) telur
Ascaris lum-
bricoides
dari permukaan isi latrin yang diletakkan pada
temperatur 33° C ternyata menghasilkan perbedaan yang
bermakna; ini yang berarti telur-telur yang terdapat pada
lapisan permukaan masih dapat berkembang.
Sedangkan pada Tabel I menghasilkan perbedaan yang tidak
bermakna antara pemeriksaan permulaan dan dua minggu
sesudahnya pada temperatur kamar.
Di sini sekaligus terbukti bahwa temperatur 33° C lebih
baik bagi perkembangan telur
Ascaris lumbricoides
dibanding-
kan dengan ternperatur kamar.
Tabel 3 : Distribusi telur cacing Ascazis lumbricoides pada berbagai
stadium dari sampel pertengahan latrin, pada temperatur
kamar
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
16
32
larva
Permulaan
23
14.2
5 2.6
1.2
1 .6
0.4
dan minggu kemudian
24.8 13.6
7 2.6
1 .6
2
0.6
X
2
=0.38p>0.05
Tabel 4
Distribusi telur cacing Ascaris lumbricoides pada berbagai
stadium dari sampel latrin, pada temperatur 33°C .
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
16
32
larva
permulaan
24
14.2 5.2
3
1 .6
1.4
0.2
dua minggu kemudian 22
16.2 5.2
3.4 2.2
2.8
0.6
x
2
= 0.928 p > 0.05
Dari Tabel 3 dan 4 ternyata bahwa tidak ada perbedaan yang
bermakna antara kedua pemeriksaan; ini menunjukkan tidak
adanya perkembangan sel telur dari sampel pertengahan latrin.
Tabel 5 : Distribusi telur cacing Ascazis lumbricoides pada berbagai
stadium dazi sampel dasar latrin, pada temperatur kamar.
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
I6
32 larva
permulaan
1 7.8 3.2
1
1 .2
1
5.4 0.6
dua minggu kemudian
1 8.8 4
1 .8 1.8
2.2
7.2 1.2
x
2
= 0.691p>0.05
Simposium Masalah Penyakit Parasit
88
Tabel 6
Distribusi telur cacing Ascaris lumbricoides pada berbagai
stadium dari sampel dasar, pada temperatur 33°C.
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
1 6
32 larva
permulaan
20.4 4.6
2.6
2
1.8
8.2 1 .8
dua minggu kemudian
1 9.2 7.4
3.6
3.8
4.2 11.4 1 .8
X
2
= 1 .836 p > 0.05
Tabel 5 dan 6 menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang
bermakna pada kedua sampel, baik pada temperatur kamar
maupun pada 33° C. Sehingga dapat dikatakan bahwa tidak
terjadi perkembangan kehidupan telur-telur Ascaris lumbricoi-
des
pada dasar latrin.
Tabel 7
Distribusi telur cacing Ascazis lumbricoides pada berbagai
stadium dazi tiga macam sampel, pada pemeriksaan
permulaan.
Jumlah sel telur/stadium
1
2
4
8
16
32
larva
permukaan latrin
27.6 23.8
13
6.8
3.8
1.6 1 .2
pertengahan latrin
23
14.2
5
2.6
1.2
1 .6 0.4
dasarlatrin
1 7.8
3.2
1
1.2
1
5.4 0.6
Perbandingan antara hasil pemeriksaan permulaan dari per-
mukaan latrin, pertengahan latin dan dasar latrin ternyata
hanya antara permukaan latrin dan dasar latrin yang berbeda
bermakna (X
2
= 18.56 p < 0.0I)
Disini terlihat stadium muda dari telur cacing yang masih
banyak mengandung sel 1,2,4 dan 8 buah pada permukaan
latrin. Ini disebabkan karena masih terdapatnya tinja yang
baru selama dalam permulaan proses perkembangan bersamaan
dengan proses komposisasi.
Kesimpulan
Sejak bulan November I979 telah dilakukan percobaan
pada satu keluarga dari strata ekonomi terendah suatu latrin
kering.
Edukasi kontinyu dibutuhkan untuk memperoleh mana-
gement pemeliharaan yang memadai. Penggunaan Kader Sehat
dapat meringankan beban supervisi dari tingkat yang
lebih
tinggi.
Konstruksi latrin dan bangunan membutuhkan pemikiran
lebih mendalam agar komposisasi secara keseluruhan dapat
optimal.
Kehidupan telur Ascaris lumbricoides terhambat pada bagian
pertengahan dan dasar latrin.
Penggunaan latrin kering secara luas masih membutuhkan
percobaan lebih besar.
KEPUSTAKAAN
1.Cruikshank R. Experimental and applied epidemiology in communi-
cable diseases. In : Cruikshank R et al, eds. Epidemiology and
community health in warm climate countries. Edinburg : Churchill
Livingstone, I976 : pp I2 - I9.
2. Mausner JS, Bahn AK. Epidemiology, an introduction text. Phila-
delphia : WB Saunders Co, 1974.
3. Davis A. Epidemiology and control of intestinal dwelling nematodes.
In : Cruikshank R, et al eds. Epidemiology and community health in
warm climate countries. Edinburg : Churchill Livingstone, 1976;
317 - 330.
4.Hydrick JL. Intensive rural hygiene work and publicc health educa-
tion of the public health service of Netherlands India. Batavia-
Centrum, Java, Netherlands India 1937.
5.Ehler SVM, Steel EW. Municipal and rural sanitation, New York :
Mc Graw Hill Inc, I965 : pp 146 - 150.
6. Nimpuno K Sewage disposal in developing countries. A survey of
methods sanitation in developing countries to day. Pembroke
College Oxford : 5 - 9 July, 1977.
7.Uno Winblad. Sanitation without water. Monograph. I978.
VI. GIZI, IMUNOLOGI, AMCEBIASIS, GIARDIASIS
Hubungan keadaan Gizi dengan lnfeksi
Parasit
Soemilah Sastroamidjojo
Bagian Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran UI.
PENDAHULUAN
Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang ibu-ibu minta di-
beri resep obat cacing untuk anaknya dengan alasan bahwa
anaknya tetap kurus walaupun makannya banyak atau kurus
karena tidak nafsu makan. Hal ini menunjukkan bahwa ibu-
ibu tersebut menghubungkan keadaan gizi kurang yang di-
derita anaknya dengan infeksi cacing. Sebenarnya hubungan
antara keadaan gizi kurang dengan infeksi telah lama dikenal
sebab dalam sejarah tercatat bahwa dalam keadaan kekurangan
pangan seperti perang, bencana alam, paceklik, dan lain-lain,
jumlah penderita penyakit infeksi bertambah secara me-
nyolok dan kadang-kadang sampai menjadi wabah. Tetapi
penyelidikan dalam bidang ini relatif baru mulai dilakukan.
Pada permulaan abad ini, di negara-negara barat banyak
perhatian dicurahkan kepada masalah pengaruh infeksi ter-
hadap keadaan gizi orang-orang yang makannya kurang karena
pada waktu itu prevalensi penyakit infeksi (menular) tinggi,
terutama pada golongan masyarakat yang gizinya kurang, dan
pengetahuan tentang penyakit gizi kurang mulai berkembang.
Kemudian perhatian beralih kepada hal yang sebaliknya yaitu
pengaruh infeksi terhadap keadaan gizi karena sekitar waktu
itu sindroma Kwashiorkor mulai dikenal, penyakit ini ternyata
banyak ditemukan di negara-negara yang sedang berkembang
dan didapat kesan bahwa penyakit ini erat hubungannya
dengan infeksi. (I)
Akhir-akhir ini hubungan pengaruh timbal balik keadaan
gizi dengan infeksi mendapat perhatian besar terutama di
negara-negara yang sedang berkembang. (1, 2, 3, 4). Hasil-hasil
penyelidikan yang terkumpul sementara ini - walaupun
masih terbatas - menunjang pendapat bahwa antara keadaan
gizi dengan infeksi parasit terdapat interaksi yang terdapat
antara "host" dan
"
agent
"
.
89
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980