Rumah Sakit Matra Laut
Dr. H. Sigit Widodo
Rumah Sakit TNI Angkatan Laut Mintohardjo, Jakarta
ABSTRAK
Tugas utama suatu Rumah
sakit pada umumnya adalah pelayanan kesehatan (Yankes).
Tetapi tugas utama suatu Rumah
sakit Matra Laut (RSML) adalah dukungan kesehatan
(Dukkes) operasi dan latihan kelautan.
Peran RSML pada PJPT II akan meningkat karena :
1. Dibangunnya keretaapi bawah tanah dengan sistem caisson untuk menanggulangi
kemacetan lalulintas di Jakarta dan kota-kota besar lainnya.
2. Meningkatnya pemboran lepas pantai untuk mencari minyak dan gas bumi.
3. Meningkatnya industri pariwisata kelautan (bahari).
PENDAHULUAN
Bumi terdiri dari 70% lautan dan 30% daratan. Indonesia
terdiri dari 13.335 pulau-pulau besar kecil, dengan luas daratan
1/3 bagian dan luas lautan 2/3 bagian. Manusia sangat berkepen-
tingan dengan lautan, karena potensi laut yang amat besar. Laut
merupakan sumber bahan mahakan hewani dan nabati yang
melimpah. Laut memiliki sumber energi yang besar, berupa
minyak dan gas bumi. Lautpun mengandung aneka bahan tam-
bang/mineral. Baru kira-kira 10% potensi laut yang diman-
faatkan oleh manusia. Bangsa-bangsa yang maju seperti
Amerika Serikat, Jepang dan Rusia telah memanfaatkan dengan
baik potensi laut tersebut.
Bangsa Indonesia harus lebih memperhatikan laut dengan
potensi yang luar biasa banyaknya itu. Menteri Kependudukan
dan Lingkungan Hidup Prof. Emil Salim pada seminar tentang
Teknologi Maritim, yang diselenggarakan oleh Yayasan De-
waruci, September 1987 menyatakan bahwa di masa depan
bangsa Indonesia akan menggantungkan kehidupannya dari
lautan.
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21-- 25 November 1993.
100
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
DEFINISI
Kesehatan Kelautan adalah bidang kesehatan yang men-
cakup semua aspek mengenai laut, dapat meliputi segi militer
maupun non-militer. Rumah Sakit Matra Laut (RSML) adalah
Rumah Sakit yang mempunyai tugas pokok Dukungan Kese-
hatan (Dukes) berupa Kesehatan Kelautan (Kesla), disamping
tugas Pelayanan Kesehatan (Yankes) seperti umumnya Rumah
Sakit lainnya.
Kesehatan Kelautan meliputi 2 (dua) fungsi uatama, yaitu :
1) Uji dan Pemeriksaan Kesehatan (Urikkes) personil untuk
bertugas di laut.
2) Pembinaan Kesehatan Kapal Atas Air, Kapal Selam, Penye-
laman (Hiperbarik), Penerbangan Laut, Pangkalan (Pelabuhan),
Industri dan Jasa Maritim, Amfibi (Marinir).
PERAN DI MASA PEMBANGUNAN
Semua Rumah Sakit TNI-AL adalah RSML. Belum semua
RSML itu dapat berfungsi secara optimal. Untuk dapat melak-
sanakan tugas Dukkes dengan baik, RS harus memiliki personil
dan peralatan khusus. Dan dari fungsi Pembinaan Kesehatan,
yang berkembang dan mempunyai prospek yang baik adalah
Kesehatan Penyelaman (hiperbarik).
Ada 2 (dua) manfaat utama dari Kesehatan Penyelaman
(hiperbarik) :
1) Bidang Penyelaman dan Caisson
2) Bidang terapi penyakit klinis
Penyelaman :
1) Olahrga dan rekreasi (pariwisata)
2) Tugas inspeksi dan reparasi kapal
3) Konstruksi, misalnya jembatan, terowongan, dermaga,
waduk, dok, caisson
4) Membantu pengeboran minyak lepas pantai (offshore
drilling)
5) Taktis
6) Penelitian
Manusia adalah makhluk darat; hidup dan bekerja terbaik
pada lingkungan sekitar permukaan laut dengan tekanan 1 atm.
Bila menyelam setiap bertambah dalam 10 meter, tekanan di
sekitarnya bertambah 1 atm. Bila menyelam sedalam 40 meter,
maka tekanan di sekitarnya sebesar 1 + 4 = 5 atm. Pada tekanan
tinggi, yaitu Iebih besar dari 1 atm, disebut hiperbarik, manusia
harus melakukan penyesuaian (adjustment). Bilagagal melakukan
penyesuaian, maka akan mengalami penyakit penyelaman. Salah
satu bentuk penyakit penyelaman adalah penyakit dekompresi,
yang terjadi bila penyelam naik (ascend) dari kedalaman atau
dasar laut ke permukaan, tanpa prosedur yang benar.
Terapi penderita penyakit dekompresi adalah dengan me-
nekan kembali (recompress), yaitu memasukkan penderita ke
dalam Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT). Di dalam
RUBT penderita bernafas dengan udara atau oksigen sesuai
dengan tabel pengobatan tertentu, yang lamanya (waktunya)
tergantung dari tabel pengobatan tersebut. Bila bernafas dengan
oksigen, waktunya lebih singkat sekitar separuhnya dibanding
bila bernafas dengan udara. Terapi di RUBT bernafas dengan
oksigen disebut terapi oksigenasi hiperbarik (OHB).
Pembinaan kesehatan penyelaman di Indonesia akan terus
bertambah dan berkembang karena :
1) Meningkatnya pariwisata bahari, penyelaman di taman-
taman laut (Bunaken, Ambon), Bali dan sebagainya.
2) Meningkatnya pencarian minyak dan gas bumi lepas pantai,
yang membutuhkan tenaga penyelam profesional, yang hingga
kini masih didominasi oleh penyelam asing.
3) Pembangunan yang menggunakan konstruksi pneumatic
caisson sebagai fondasinya, karena tidak mungkin terdiri dari
tiang-tiang pancang, seperti underground communication
(kereta api bawah tanah, terowongan), dan atau bendungan air,
tanki minyak bawah tanah, fasilitas pelabuhan (dermaga dsb),
dok kering dan lain-lain bangunan bawah tanah. Pekerja yang
bekerja di situ disebut pekerja caisson, yang bekerja di ling-
kungan hiperbarik, yang diperlukan untuk mencegah (menekan)
masuknya air bawah tanah ke ruang kerja. Pekerja caisson dapat
disebut sebagai penyelam "kering", yang dapat menderita penya -
kit dekompresi bila melanggar prosedur kerja yang baku.
Untuk mengurangi kemacetan lalu lintas di Jakarta, salah
satu alternatif adalah dengan membangun kereta api bawah tanah
seperti kota-kota besar lainnya di negara maju. Singapura telah
membangun kereta api bawah tanah sebagai MRT (Mass Rapid
Transport) sejak tahun 1984 - 1987. Dari 2392 pekerja caisson,
sebanyak 164 orang menderita penyakit dekompresi (0,087%)
yang ditangani oleh Kesehatan Angkatan Laut Singapura (The
Naval Diving and Hyperbaric Medicine). Indonesia, dalam hal
ini TNI-AL, tepatnya Kesehatan Komando Penataran Angkatan
Laut (Konatal) telah mempunyai pengalaman menangani pender-
ita penyakit dekompresi pekerja caisson. Pada waktu memba-
ngun graving dock di Surabaya dari tahun 1964 - 1967 telah
ditanggulangi 213 orang penderita penyakti dekompresi. De-
ngan pertumbuhan ekonomi yang tinggi Indonesia pasti akan
membangun dermaga, dok, bendungan atau waduk dan se-
bagainya yang menggunakan konstruksi caisson.
4) Pembinaan kesehatan para penyelam Indonesia yang lebih
baik, baik penyelam alam (Aru dsb) dan profesional (swasta,
BUMN, ABRI), terutama untuk keselamatan kerja.
Terapi penyakit Minis
Terapi oksigenasi hiperbarik (OHB), di mana penderita
bernafas oksigen murni (100%) di dalam RUBT, mempunyai
efek sebagai berikut :
1) Memperbaiki dan menormalkan kembali jaringan yang
hipoksia dan anoksia
2) Vasokonstriksi arteria
3) Meningkatkan viabilitas sel/jaringan yang iskhemik
4) Menimbulkan neovaskularisasi dan proliferasi kapiler
5) Meningkatkan kemampuan lekosit untuk membunuh kuman
6) Bersifat bakteriostatik terhadap kuman aerob
7) Bersifat bakterisid terhadap kuman anaerob
Maka terapi OHB diindikasikan terhadap penyakit-penyakit
klinis yang memperoleh manfaat dari 7 efek tersebut. Indikasi
terapi OHB dikatagorikan berbeda-beda, misalnya : Amerika
Serikat (Undersea and Hyperbaric Medical Society) :
1) Currently accepted
2) Experimental
Jepang (Japanese Society for Hyperbaric Medicine) :
1) Emergency
2) Non-emergency
Cina (Chinese Society for Hyperbaric Medicine) :
1) Utama
2) Ajunktif
3) Riset
Majalah Annales de Medicine Hyperbare, nomor 1, tahun
1988 :
1) Merupakan treatment of choice :
a) Keracunan gas CO
b) Emboli udara
c) Keracunan sianida akut
d) Penyakit dekompresi
e) Anemia akibat kehilangan darah banyak
f)
Skin grafts
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
101
1. Uji dan pemeriksaan kesehatan penyelam = 825 orang
2. Terapi penyakit penyelaman
= 33 orang
3. Terapi penyakit klinis
= 185 orang +
Jumlah
=1043 orang
Rumkital Dr Mintohardjo dengan kapasitas 360 tempat tidur,
melakukan dukungan kesehatan matra laut sejak tahun 1990
hingga September 1993 :
1990
1991
1992
1993
g) Gas gangrene
h) Infeksi aerobik dan anerobik dengan jaringan nekrosis
2) Merupakan adjunctive therapy :
a) Radionekrosis tulang dan jaringan lunak
b) Penyembuhan fraktur
c) Bone grafts
d) Acute thermal burn
e) Infeksi bakteroides
f)
Crush injury
g) Acute cerebral oedema
h) Traumatic head spinbal cord injury
i)
Obstruksi intestin
j)
Osteomyelitis
k) Acute Peripheral Traumatic Ischemia
l)
Chronic stroke
m) Chronic skin ulcers
n) Decubitus ulcres
o) Gastric ulcer
p) Trophic skin ulcer
q) Diabetic skin ulcer
r) Multiple sclerosis
3) Penderita memperoleh manfaat dengan OHB sebagai long
term therapy :
a) Diabetic ulcers
b) Skin ulcers (arterial insufficency)
c) Decubitus ulcers (bed sores)
d) Non Union fracture
e) Soft tissue healing
f) Post stroke
g) Neurological insufficiencies
h) Angina
Terapi OHB dalam klinik bukan merupakan terapi tunggal
(single treatment), karena obat-obatan atau tindakan lain masih
perlu dilaksanakan. Jadi status terapi OHB dapat disingkat men-
jadi:
1) Terapi utama
2) Terapi tambahan
3) Terapi alternatif
Di Indonesia kini ada 4 RSML yang cukup memadai, karena
memiliki RUBT dan personil khusus, yaitu :
1) Rumkital Dr Midiato, Tanjungpinang
2) Rumkital Dr Mintohardjo, Jakarta
3) Rumkital Dr Ramelan, Surabaya
4) Rumkital Dr Gandi, Ambon
Pertamina juga memiliki 4 RUBT yang terutama digunakan
untuk terapi penyakit dekompresi para penyelam.
Rumkital Dr Mintohardjo, yang berdiri sejak 1 Agustus
1957, baru mempunyai RUBT setelah 20 tahun yaitu tahun 1977.
Dukungan kesehatan matra laut yang dilaksanakan dari 1977
hingga 1989 adalah :
Urikkes penyelam
207
154
333
130
Terapi
2
16
9
8
Terapi penyakit klinik
56
70
149
95
Cianci pada Kongres Kesehatan
Hiperbarik ke XII di
Baltimore, tahun 1987 melaporkan keuntungan terapi OHB
terhadap penyakit klinis :
1) Menurunkan biaya pengobatan sampai 40%
2) Mengurangi kecacatan hingga minimal
3) Mengurangi penderitaan pasien
4) Waktu perawatan di RS menjadi lebih singkat
KESIMPULAN
Rumah Sakit Matra Laut mempunyai peran penting bagi
pembangunan nasional Indonesia berupa dukungan kesehatan
kelautan antara lain :
1) Keselamatan kerja penyelam dan pekerja caisson yang
membantu pembangunan transportasi (kereta api bawah tanah,
dermaga), industri minyak, pariwisata, pertanian dan pengen-
dalian banjir (waduk), Hankam dan sebagainya.
2) Terapi penyakit klinis yang Iuas.
KEPUSTAKAAN
1. Buku Pedoman Standar Rumah Sakit ABRI tingkat II Departemen Hankam/
Puskes ABRI, 1980.
2. Fred Bove. New studies on decompression illness. Skin Diver, Oktober 1993.
3. Jimmy How. Medical support in compressed air work. Seminar Kesehatan
Hiperbarik, Jakarta, 1987.
4. Otto Maulana. Prosedur terapi hiperbarik dan penggunaannya dalam klinik.
Simposium Kesehatan bawah Air dan Terapi Hiperbarik Tanjungpinang,
1989.
5. Cox RAF Offshore Medical Care : Offshore Medicine.
Berlin,
Heidelberg,
New York, Springer Verlag, 1982, 53-78.
6. SKEP KASAL Nomor : Skep/921/l/1989 Tanggal 29 November 1989
tentang Penyelenggaraan Kesehatan TNl-AL Bidang Keseahtan Keangkatan
Lautan (Pers. 004.001).
7. US Navy Diving Manual, Navy Departement, Washington DC, 1982.
102
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
1)
2)
3)