background image
383
| JULI - AGUSTUS 2010
RINGKASAN
Semua organisme akan merespon
stres dengan mensintesis sekelompok
protein spesifi k yang disebut protein
heat shock (Hsp) atau protein stres.
Protein ini membantu di dalam peli-
patan, translokasi, dan perakitan dari
protein yang lain. Beberapa tahun
yang lalu, kejadian sakit telah diperli-
hatkan adalah akibat kesalahan meli-
pat suatu protein dan semua itu dikel-
ompokkan dengan sebutan protein
conformational disorders (PCDs).
Kata kunci : Stressor, Hsp, Sakit,
Sehat.
PENDAHULUAN
Banyak stressor, seperti panas, pedas,
luka dan infeksi, menimbulkan atau
memicu ekspresi gen spesifi k. Semua
organisme akan merespon panas (heat
shock response) dengan mensintesis
sekelompok protein spesifi k yang dis-
ebut protein heat shock atau protein
stres
1
. Tubuh mempunyai kemampuan
untuk melindungi dari dan melawan
ancaman dalam jangka pendek. Stres
mengaktivasi respons adaptif. Stres
dapat berlangsung cepat dan me-
lemah serta hilang secara kronik atau
dapat tertahan. Ketika paparan stres-
sor datang dalam bentuk apapun
maka tubuh membuat kesetimbangan
(homeostasis). Bagaimana seseorang
dapat menyesuaikan dengan stressor
merupakan alur bahasan besar
2
.
Kejadian sakit telah diperlihatkan ada-
lah akibat kesalahan melipat suatu
protein dan semua itu dikelompokkan
dengan sebutan protein conforma-
tional disorders (PCDs). Yang termasuk
dalam kelompok tersebut adalah : Al-
zheimer's disease (AD), transmissible
spongiform encephalopathies (TSEs),
serpin-defi
ciency disorders, haemo-
lytic anemia, Huntington disease (HD),
cystic fi brosis, diabetes type II, amyo-
trophic lateral sclerosis (ALS), Parkin-
son disease (PD), dialysis-related amy-
loidosis ; lebih dari 15 penyakit lain
masih sangat sedikit informasinya.
Proses keseluruhan dalam PCD adalah
kejadian perubahan bentuk sekunder
dan tersier protein normal tanpa pe-
rubahan pada bentuk primer. Peruba-
han konformasi dapat memicu suatu
penyakit yaitu dengan aktivitas toksik
atau fungsi biologis tidak normal dari
protein aktif yang telah melipat (na-
tively folded protein) tersebut. Pada
sebagian besar PCDs, protein yang
salah melipat akan mengendap dalam
amyloid-like aggregates di berbagai
organ dan merangsang kerusakan jar-
ingan serta disfungsi organ
3, 4
.
Telah dibuktikan 70-80 % pasien yang
datang ke dokter berhubungan den-
gan stres, yaitu sakit yang dipicu oleh
stressor, dan tercatat bahwa stres ber-
peran hingga 50% dari semua kesaki-
tan di Amerika Serikat
5
. Ketidak tera-
turan di negara berkembang dapat
merupakan stressor sehingga terjadi
distress, seperti pada kejadian kanker.
STRESSOR
Pengaktifan gen stres penting dalam
rangka merespon stres. Stres (biologis,
fi sik ataupun kimia) juga menginak-
tifkan atau menekan banyak gen, ter-
masuk berbagai housekeeping gene.
Protein stres, yang disandi oleh gen
stres, berperan kritis dalam biogenesis
fi siologis protein. Protein ini memban-
tu dalam pelipatan, translokasi, dan
perakitan protein lain. Sangat banyak
protein stres yang merupakan molekul
chaperone; tidak semua protein stres
adalah chaperone, dan tidak setiap
molekul chaperone adalah protein
stres
1, 7
.
Secara morfofungsi sel terdiri dari dua
bagian yaitu inti dan sitoplasma yang
berisi organela, semua dalam rangka
menunjang kinerja menjalankan tugas
dan menjaga eksistensi. Dalam sel
terjadi proses pembelajaran sehingga
dikenal istilah sel memori, misal sel B
yang sudah mengalami inisiasi oleh
epitop dari imunogen. Sel memori
tersebut mempunyai ingatan terh-
adap epitop yang pernah mengini-
siasi. Ingatan tersebut diperoleh kar-
ena terjadi proses pembelajaran pada
sel. Dengan demikian pada sel dapat
terjadi stress response sebagai hasil
proses pembelajaran.
Stres terdiri dari tiga tahap, yaitu ac-
tivation, resistance, dan exhaustion (
konsep general adaptation syndrome
- GAS - Selye). Dengan demikian stres
mencakup ketiga keadaan tersebut,
yaitu aktivasi, resistensi (eustress) dan
ekshausi (distress). Berdasarkan kon-
sep sel memori dan konsep Selye
pada imunologi maka jelas bahwa sel
dapat melakukan proses pembelaja-
ran dan dapat mengalami stres
8
.
Psikoneuroimunologi berkonsep stress
cell adalah pandangan fundamen-
Stressor, Sakit dan Sehat
Adi Prayitno
Bagian Ilmu Penyakit Gigi dan Mulut, Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret /
Rumah Sakit Umum Daerah dr Muwardi Surakarta
OPINI
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 383
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 383
6/25/2010 9:50:32 AM
6/25/2010 9:50:32 AM
background image
384
| JULI - AGUSTUS 2010
lasi limfosit, limfosit mengalami stress
tahap 1 (aktivasi). Sinyal stres ini ke-
mudian memodulasi respons imun
melalui rambatan sinyal dari sel yang
mengalami stress, terutama stress ta-
hap 1 (aktivasi) dan berujung pada ke-
jadian perubahan psikoneuroimunolo-
gis atau imunitas. Dengan demikian
hubungan otak dengan sistem imun
terjadi melalui sel di HPA axis, yang
melibatkan hormon sitokin, dan mela-
lui sel di jalur ANS. Dengan demikian
konsep stres yang menghubungkan
otak dan sistem imun dan terjadi oleh
komunikasi antar stress cell telah ses-
uai dengan Triad GAS
7, 10
.
Tubuh mempunyai kemampuan untuk
melindungi dan melawan ancaman da-
lam jangka pendek. Stres mengaktivasi
respons adaptif. Stres dapat berlang-
sung cepat dan melemah serta hilang
secara kronik ataupun dapat tertahan.
Ketika paparan stressor datang dalam
bentuk apapun maka tubuh membuat
kesetimbangan (homeostasis). Ba-
gaimana seseorang dapat menyesuai-
kan dengan stressor merupakan alur
besar pada bahasan akibat stressor
yang diterima oleh tubuh
2
.
SAKIT
Seperti telah dipahami, penyakit ada-
lah sebuah proses dan diawali dari ke-
hadiran stressor, berkembang menjadi
ketidak mampuan, berlanjut menjadi
kerusakan dan berakhir dengan ke-
matian. Oleh karena itu penanganan
awal penting untuk keberhasilan pen-
gobatan. Distress adalah fase pertama
sakit, ditandai dengan adanya sejum-
lah stressor yang mempengaruhi dan
beradaptasi terhadap sistem kehidu-
pan dan mengakibatkan kehilangan
fungsi, baik lokal maupun keseluru-
han. Kontrol terhadap stressor biolo-
gis adalah upaya terbaik. Hal tersebut
telah dibuktikan dalam mengontrol
agen infeksi
11
.
Beberapa tahun yang lalu, kejadian
sakit telah diperlihatkan adalah aki-
bat kesalahan melipat suatu protein
dan semua itu dikelompokkan den-
gan sebutan protein conformational
disorders (PCDs). Yang termasuk
dalam kelompok tersebut adalah :
Alzheimer's disease (AD), transmis-
sible spongiform encephalopathies
(TSEs), serpin-deficiency disorders,
haemolytic anemia, Huntington dis-
ease (HD), cystic fibrosis, diabetes
type II, amyotrophic lateral sclerosis
(ALS), Parkinson disease (PD), dialy-
sis-related amyloidosis; lebih dari 15
penyakit lain termasuk kanker masih
sangat sedikit informasinya. Proses
keseluruhan PCD adalah kejadian
perubahan bentuk sekunder dan ter-
sier protein normal tanpa perubahan
bentuk primer. Perubahan konformasi
dapat memicu suatu penyakit yaitu
dengan aktivitas toksisitas atau fungsi
biologis tidak normal dari protein ak-
tif yang telah melipat (natively folded
protein) tersebut. PCD tidak terbukti
diakibatkan oleh keberadaan struktur
protein lain yang homolog dengan
protein yang berimplikasi pada PCD
tersebut, tetapi terbukti bahwa pada
protein tersebut terdapat perbedaan
konformasi yang stabil. Struktur kon-
formasi yang salah melipat terlihat
pada PCDs. Contohnya pada struktur
tal tentang pokok persoalan dalam
psikoneuroimunologi yang didasari
oleh pemahaman sel yang menga-
lami stress. Agar tidak menimbulkan
salah persepsi perihal pemberlakuan
paradigma tersebut, perlu dipahami
hubungan otak dengan sistem imun
melalui hypothalamo-pituitary-adrenal
(HPA) axis dan autonomic nervous sys-
tem (ANS)
8,10
. Stressor ditangkap oleh
sel PVN dan sel di locus cereleus nora-
drenergic center di hipotalamus, ked-
ua sel tersebut mengalami aktivasi atau
stress tahap 1 sehingga mensekresi
CRH dan APV. Kedua molekul men-
girim sinyal ke sel di hipotalamus se-
hingga mensekresi POMC, terutama
ACTH, sel di hipotalamus mengalami
stres tahap 1 (aktivasi). Kemudian
ACTH ditangkap oleh sel di korteks
adrenal, mengeluarkan glukokortikoid
dan sel di medula adrenal mengeluar-
kan epinefrin (EPI) ­ nor epinefrin (NE);
sel di korteks dan medula adrenal
mengalami stres tahap 1 (aktivasi) dan
sudah dipahami bahwa limfosit mem-
punyai reseptor untuk glukokortikoid,
EPI dan NE sehingga dapat memodu-
Catatan : Agent tersebut menyebabkan stress tidak hanya pada sel eukaryote (sel manusia, mencit dan
tikus), tetapi juga pada sel prokaryote (seperti bakteri).
Tabel 1. Daftar stressor sel
9
.
No.
Tipe Stressor
Deskripsi
1.
Fisik
Panas (termasuk demam); kedinginan; beberapa tipe penyinaran
(termasuk sinar ultraviolet dan gelombang magnet)
2.
Oksigen
Oxygen-derived free radical (reactive oxygen species), hidrogen
peroksida, pergeseran dari anaerobiosis ke aerobiosis (seperti
reperfusion), hipoksia-anoksia (iskemi)
3.
pH
Alkalosis, asidosis, pergeseran pH
4.
Biologis
Infeksi, inflamasi, demam
5.
Psikologis
Emosi, konflik emosional, ketidakseimbangan hormonal
(hypothalamus-pituitary-adrenal axis dan sistim saraf otonom)
6.
Osmotik
Perubahan konsentrasi garam, gula dan osmolit lainnya
(hyperosmotic atau hypo-osmotic shock)
7. Nutrisi
Starvation, termasuk komponen multi nutrisi (karbon, glukosa,
nitrogen, fosfat, nitrat)
8.
Antibiotik
Puromycin, tetracycline, nalidixic acid
9.
Alkohol
Etanol, metanol, butanol, propanol, oktanol
10.
Metal
Cadmium, copper, chromium, zinc, tin, aluminum, mercury,
lead, nickel
11.
Mekanik
Compression, shearing, stretching
12.
Lainnya
Desiccation, bensin dan derivatnya, fenol dan derivatnya,
teratogen, karsinogen, mutagen, arsen, arsenat, analog asam
amino, nikotin, anestetikum, insektisida, peptida
OPINI
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 384
6/23/2010 8:36:17 AM
background image
385
| JULI - AGUSTUS 2010
Beta-Sheets yang merupakan salah
satu kemungkinan kejadian kesalahan,
terjadi repetisi struktur sekunder pro-
tein yang melipat, dapat membentuk
alternating peptide pleated strands
dan berikatan dengan ikatan hidro-
gen antara grup NH dan CO peptida
tersebut. Alpha-helices ikatan hidro-
gen akan melakukan ikatan dengan
strand kelompok lain, pada lembaran
ini ikatan hidrogen terjadi antar strand.
Strand yang kedua dapat berasal dari
regio yang berbeda dari protein yang
sama atau dari molekul yang berbeda,
formasi lembaran ini selalu tersta-
bilkan oleh protein oligomerization
atau agregasi. Pada sebagian besar
PCDs, protein yang salah melipat akan
mengendap sebagai amyloid-like ag-
gregates dalam berbagai organ dan
merangsang kerusakan jaringan serta
disfungsi organ
3, 4
.
Sel menghasilkan protein di dalam
ribosomes dan untuk berfungsi maka
rantai polipeptida linier ini harus me-
lipat ke dalam struktur 3-dimensi
yang benar. Sekitar dua puluh pe-
nyakit antara lain penyakit Alzheimer,
diabetes mellitus tipe II, penyakit
Creutzfeldt-Jakob (CJD) dan penyakit
"sapi gila" (BSE) saat ini telah diketa-
hui disebabkan oleh protein yang salah
melipat (misfolding). Dalam semua ka-
sus, pelipatan protein sel yang normal
semakin mengumpul dan mengalami
perubahan struktural ke suatu struk-
tur beta-sheet-rich yang abnormal.
Kebanyakan penyakit akibat protein
yang salah melipat terjadi spontan
pada fase kehidupan, misal ketuaan.
Faktor keturunan juga berkontribusi,
aggregation-prone protein mempu-
nyai urutan asam amino yang berbeda
pada populasi. Mutasi dapat mendor-
ong ke arah awal serangan penyakit
salah melipat protein. Sebagai con-
toh, "Flemish Mutation" dalam pep-
tid beta-amiloid dapat mendorong ke
arah awal penyakit Alzheimer, "Japa-
nese Mutation" yang membentuk islet
amyloid polypeptide (IAPP) yang da-
pat mendorong ke arah awal diabe-
tes mellitus tipe II, dan mutasi pada
prion protein (Prp) dapat mendorong
ke arah CJD serta penyakit keturunan
lain. Kejadian kesalahan melipat suatu
protein tergantung pada peristiwa pe-
rubahan konformasi yang dapat dipicu
oleh oligomerisasi protein. Titik awal
kejadian PCDs (Protein Conformation-
al Disorders) adalah kesalahan proses
pelipatan protein dari konformasi na-
tive (nascent polypeptides) ke active
(active polypeptides) yang merupakan
struktur campuran dari helical dan ran-
dom, dan kemudian terjadi agregasi
dari protein yang sama serta men-
jadikan konformasi bentuk
D-pleated
sheet. Saat ini sudah jelas, bahwa
kesalahan melipat memicu agregasi
protein tersebut atau lebih jauh terjadi
oligomerisasi dan memicu perubahan
konformasi. Protein harus memben-
tuk struktur tiga dimensi yang spesifik
agar berfungsi efektif dan optimal di
dalam sel. Struktur akhir (bentuk tiga
dimensi) ini merupakan suatu proses
panjang dan dinamis, yang dikenal
sebagai proses pelipatan protein,
serta diperankan oleh banyak faktor,
termasuk sekuen asam amino primer
dan protein lain yang mempengaruhi
secara spesifik pada alur dan lingkun-
gan pelipatan. Gangguan pada salah
satu elemen dapat menjadikan suatu
protein tidak normal dengan struk-
tur pelipatan yang salah (misfolding).
Protein yang salah melipat dipercaya
sebagai pokok kejadian keadaan pa-
tologis berbagai penyakit pada ma-
nusia termasuk Alzheimer's disease,
Parkinson's disease, dan cystic fibrosis,
serta kanker
12
.
Telah dibuktikan bahwa 70-80 %
pasien yang datang ke dokter ada-
lah berhubungan dengan stres, yaitu
sakit yang dipicu oleh stressor, dan
tercatat bahwa stres berperan hingga
50% dari semua kesakitan di Amerika
Serikat
12
. Ketidak teraturan di negara
berkembang dapat merupakan stres-
sor sehingga terjadi distress, seperti
pada kejadian kanker. Kanker rongga
mulut di negara berkembang tercatat
di urutan ke 3, sedang di negara maju
tercatat di urutan ke 10, dan di dunia
ada pada urutan ke 6 dari seluruh ke-
jadian kanker
6
.
Table 2. Densitometer reading data of Hsp40 and Hsp70 concentration in BOSC and OSCC which realized
HPV infection from Blottdot test
13
.
No.
Hsp40 (area)
Hsp70 (area)
Benign
Mean
688,31000
529,82000
SE
242,71000
181,10000
Coefficient Discriminant
0,00200
Mean (Anova)
1,05960
SD
0,77042
SE
0,25681
Malignant
Mean
1354,59000
1346,32000
SE
242,71000
181,10000
Sig. Wilks L
p=0,070
p=0,006
Coefficient Discriminant
0,005
Mean (Anova)
6,73160
SD
3,32393
SE
1,10798
Differences
F (Anova)
24,87000
Sig.
,00000
OPINI
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 385
6/23/2010 8:36:19 AM
background image
387
| JULI - AGUSTUS 2010
OPINI
Penulis mendapatkan hubungan yang
signifi kan antara ekspresi hsp40 dan 70
dengan kejadian kanker sel skuamous
rongga mulut (KSSRM) (Tabel 2). Aki-
bat ekspresi berlebihan protein hsp40
dan hsp70 tersebut, banyak terjadi ke-
salahan melipat protein sel, sehingga
tidak berfungsi normal terutama pro-
tein yang berperan pada jalur apopto-
sis dan proliferasi sel.
SEHAT
Hubungan antara stressor dengan
regulasi sistem imun sangat menarik,
baik bagi klinisi maupun ilmuwan,
dalam bahasan psychoneuroimmu-
nology (PNI). PNI menggabungkan
hubungan antara sistem saraf pusat,
sistem hormon dan sistem imun dan
berbagai akibat yang berhubungan
dengan kesehatan seseorang. Axis
hypothalamic (HPA) dan sympathetic-
adrenal medullary (SAM) merupakan
dua alur pokok menuju fungsi keke-
balan tubuh
5,
7
.
Sel terpelihara oleh satu satuan leng-
kap protein yang berfungsi secara
kompeten baik dalam situasi normal,
luka atau stres, dengan berbagai me-
kanisme, termasuk sistem protein
yang disebut molekul chaperones.
Fungsi khas suatu chaperone adalah
membantu rantai polipeptida yang
baru ditranslasi untuk mencapai pe-
nyesuaian fungsional sebagai protein
baru dan kemudian membantu pen-
empatan protein baru tersebut di da-
lam sel tempat protein tersebut ber-
fungsi. Peran chaperones akan terus
meningkat, antara lain pada proses
penuaan dan keadaan sakit. Tinjauan
ini juga menguraikan secara singkat
keterlibatan chaperone yang cacat da-
lam satu kesatuan kejadian beberapa
penyakit
9
.
Karena chaperone ada di mana-mana,
keadaan cacat dan defi siensi chaper-
one akan mempengaruhi berbagai
jaringan dan akan berhubungan den-
gan bergagai bidang ilmu seperti
Ilmu Penyakit Dalam, Ilmu Penyakit
Mata, Ilmu Penyakit Saraf, Imunologi,
Endokrinologi, Ilmu Kesehatan Anak,
dan Gerontologi
9
.
DAFTAR PUSTAKA
1. John Ellis R. The Chaperonins, Induction of
chaperonins synthesis in response to stress.
Academic Press. San Diego-New York-Boston-
London-Sydney-Tokyo-Toronto. 1996.
2.
McEwen B, Krahn D. The Response to Stress.
interMDnet Corp 2007
3. Fink
AL.
Chaperone ­ Mediated Protein Fold-
ing. Physiol Rev 1999;79:425-449.
4. Claudio Soto. Protein misfolding and disease;
protein refolding and therapy. Gunnar von
Heijne (ed.) Federation of European Biochem-
ical Societies. Elsevier B.V. Minireview, 2001
5. Young CR, Welsh CJ. Stress Health and Dis-
ease. Cell Science 26 Oktober 2005..
6. Peters ES. The Epidemiology of Oral Cancer :
Power Point Presentation, 2002.
7. Macario AJL, Lange M, Ahring BK, Conway de
Macario E. Stress genes and proteins in the ar-
chaea. Microbiol. Mol. Biol. Rev. 1999;64:923-
967.
8. Suhartono Taat Putra. Psikoneuroimunologi.
Graha Masyarakat Ilmiah Kedokteran (GRA-
MIK) Fakultas Kedokteran UNAIR ­ RSU dr Su-
tomo. Surabaya. 2005.
9. Macario AJL, de Macario EC. Sick Chaper-
ones, Cellular Stress, and Disease. NEJM 2005.
;353:1489-1501.
10. Ader R, Felten DL, Cohen N. Psychoneuroim-
munology. 3
rd
. ed. vol 12, Academic Press
USA. 2001.
11. Wilken T. The United Stress Concept. Trust
Mark, 2002..
12. Protein Folding & Disease Reata Pharma-
ceuticals Inc. 2008.
13. Adi Prayitno, Mandojo Rukmo, Ambar Mu-
digdo, JB Dalono, Elyana Asnar, Retno Puji
Rahayu, Joko Agus Purwanto, Ni Nyoman Tri
Puspaningsih, Kuntoro, Harjanto JM, Suhar-
tono Taat Putra. The role of heat shock protein
in pathogenesis of oral squamous cell carci-
noma (OSCC). Indon. J. Dentistry. 2009; 16(2):
PI-154.
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 387
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 387
6/25/2010 9:50:33 AM
6/25/2010 9:50:33 AM