background image
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
134
P
olusi udara saat ini sudah dikaitkan dengan penya-
kit saluran pernapasan dan penyakit kardiovasku-
lar. Baru-baru ini para peneliti mengatakan bahwa
udara kotor yang dihirup juga dapat menyebabkan ra-
dang usus buntu. Studi baru yang diterbitkan dalam Ca-
nadian Medical Association Journal edisi 5 Oktober 2009
menemukan bahwa kasus radang usus buntu naik ketika
kualitas udara lebih kotor.
Dr Gilaad G. Kaplan, penulis senior studi dan asisten pro-
fesor kedokteran divisi gastroenterologi di University of
Calgary di Alberta mengatakan bahwa hal ini membuat kita
berpikir bahwa penyebab radang usus buntu mungkin bisa
dikaitkan dengan polusi udara. Polusi udara merupakan
faktor risiko yang dapat dimodi kasi; sehingga jika temuan
ini dikon rmasi dan kita mampu membuat undang-undang
untuk mengendalian polusi udara lebih baik, udara lebih
bersih, maka mungkin kita bisa mencegah lebih banyak ka-
sus usus buntu. Ahli lain mengingatkan bahwa dalam pene-
litian ini, dampaknya belum begitu jelas.
Dr F. Paul Buckley III, asisten profesor bedah di Texas A &
M Health Science Center College of Medicine dan seorang
ahli bedah di Scott & White Healthcare Round Rock, Texas
mengatakan bahwa hal ini provokatif, tapi ada perbedaan
besar antara menghubungkan sejumlah faktor dengan pe-
nyakit dan membuktikan bahwa faktor-faktor ini bisa me-
nyebabkan penyakit; dan penelitian ini gagal menunjukkan
sebab-akibat. Buckey meragukan penurunan polusi akan
mengurangi insiden usus buntu.
Kasus radang usus buntu naik secara signi kan pada akhir
abad ke-19 dan awal abad ke-20, ketika industrialisasi me-
megang kendali. Kasus menurun di tengah dan kemudian
bagian terakhir abad 20, pada saat undang-undang udara
bersih diberlakukan. Sementara itu, menurut penulis studi,
negara-negara industrialisasi baru mengalami kenaikan
tingkat polusi.
Sebuah teori yang berlaku adalah bahwa usus buntu terjadi
ketika pembukaan ke usus buntu yang seperti sebuah kan-
tong di usus besar, terhalang. Secara spesi k, beberapa ahli
percaya bahwa asupan serat yang lebih rendah di kalangan
warga negara-negara industri mengakibatkan tersumbat-
nya apendiks oleh tinja.
Tapi itu tidak menjelaskan insiden penurunan usus buntu di
paruh kedua abad ke-20, kata Kaplan. Polusi udara sudah
terhubung dengan berbagai kondisi kesehatan, terutama
penyakit pernapasan dan penyakit jantung, termasuk se-
rangan jantung dan stroke.
Kaplan dan rekan-rekannya mengamati lebih dari 5.000
orang dewasa yang dirawat di rumah sakit di Calgary deng-
an usus buntu antara 1 April 1999 sampai akhir tahun 2006.
Data ini direferensi silang dengan analisis polutan udara
pada minggu sebelum masuk rumah sakit.
Mereka menemukan individu-individu dengan radang usus
buntu lebih cenderung datang dalam minggu dengan kon-
sentrasi polusi udara yang lebih tinggi, khususnya ozon dan
nitrogen dioksida.
Lebih banyak kasus usus buntu terjadi selama bulan paling
hangat di Kanada (April hingga September, ketika orang-
orang lebih cenderung di luar rumah), dan laki-laki tampak
lebih dipengaruhi oleh polusi udara daripada wanita. Tidak
jelas mengapa ada perbedaan gender ini, kata para pene-
liti.
Kaplan berteori bahwa peradangan mungkin menjelaskan
kaitan, jika terbukti ada, antara kualitas udara dan radang
usus buntu. "Ini masih spekulatif, tapi mungkin polusi uda-
ra yang memicu peradangan usus buntu," katanya. "Ma-
sih beberapa langkah lagi sebelum kita dapat membuat
pernya taan itu. Kita perlu mengkon rmasi dan mengulang
penemuan-penemuan ini. " Kaplan dan rekan-rekan penulis
merencanakan studi di berbagai kota di Kanada.
Tahun lalu, oleh majalah Forbes Calgary dinilai sebagai kota
terbersih dunia dan Baku, Azerbaijan, sebagai yang paling
kotor. (
NFA)
Polusi Udara Penyebab Usus Buntu
IMAGE BANK
BERITA TERKINI
CDK Maret April DR.indd 134
CDK Maret April DR.indd 134
2/23/2010 4:16:22 AM
2/23/2010 4:16:22 AM