I N F O R M A T I K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
50
LATAR BELAKANG MASALAH
Istilah informatika kedokteran saat ini makin populer di kalangan
masyarakat Indonesia, terutama setelah adanya kemajuan di bidang
informatika dan komunikasi. Namun definisi informatika kedokteran
sampai saat ini masih belum final. Beberapa ahli yang mendefinisi-
kan informatika kedokteran di antaranya Morris F Collen (1977),
Jack D Myers (1986), Jan H. van Bemmel (1996), Reinhold Haux
(1997), Wikipedia (2006), Handbook of Medical Informatics.
2,3,4
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil beberapa konsep
penting informatika kedokteran:
1) Informatika kedokteran merupakan pertemuan beberapa disiplin
ilmu, terutama informatika dan kedokteran, serta bidang-
bidang pendukung dua disiplin tersebut;
2) Aktifitas informatika kedokteran berhubungan dengan pe-
ngumpulan, pengiriman, pemrosesan data menjadi informasi
dan
pengetahuan;
3) Pada awal perkembangan, informatika kedokteran identik
dengan aspek teknis, seperti aplikasi komputer, teknologi
informasi dan komunikasi untuk bidang kedokteran. Dalam
perkembangan selanjutnya, bahasan dan penerapan informatika
kedokteran juga mencakup aspek kognitif dan sosial.
4) Tujuan pencapaian informatika kedokteran diarahkan untuk
meningkatkan kualitas kesehatan, penelitian dan pendidikan
kedokteran.
Dari definisi di atas maka ruang lingkup informatika kedokteran
meliputi
4
:
1) Pemrosesan sinyal biologis, yaitu pemrosesan data yang dipancar-
kan dari dalam tubuh manusia dengan algoritma tertentu.
Fokus saat ini misalnya pemrosesan data EEG (elektroen-
sefalogram),
EKG
(elektrokardiogram),
CT-scan (computerized-
tomography), USG (ultrasonography) dan MRI (magnetic
resonance
imaging).
2) Perancangan basis data medik, yaitu merancang dan mem-
bangun sistem yang memungkinkan seseorang menyimpan
informasi medik hingga orang lain dapat menariknya tanpa
perlu memahami rincian teknik representasi data.
3) Pengambilan keputusan klinik, yaitu upaya merekonstruksi
informasi kesehatan untuk memfasilitasi proses pengambilan
keputusan
klinik.
4) Pemodelan dan Simulasi, yaitu memperoleh wawasan yang
sering muncul dari kegagalan suatu model untuk mendeskrip-
sikan hubungan kuantitatif yang dibangun berdasarkan
intuisi.
5) Interaksi Manusia Komputer Kesehatan, yaitu dialog antara
komputer dengan pengguna yang menjamin tercapainya
komunikasi tanpa kehilangan informasi yang disampaikan.
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN
Sistem informatika kedokteran adalah sarana untuk penyampaian
informasi secara sistematik, pelayanan kesehatan dan penelitan
biomedik untuk akses berbagai sumber daya yang unik dan mahal,
bisa memecahkan faktor institusi dan geografis dalam sharing
hasil penelitian yang dibutuhkan serta dapat membangun kolaborasi
untuk mengakses berbagai sumber informasi yang dibutuhkan.
Permasalahan di Indonesia
Kegiatan penelitian informatika kedokteran di Indonesia
sudah mulai banyak dilakukan pada beberapa tahun terakhir.
Identifikasi Kebutuhan
Model Sistem Informatika Kedokteran
Universitas Gunadarma
Eri Prasetyo Wibowo, Setia Wirawan, Johan Harlan
Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Dengan perkembangan Informatika Kedokteran yang semakin pesat, Universitas Gunadarma yang merupakan
universitas unggulan dalam bidang teknologi informasi berkewajiban mengembangkan Pusat Studi Informatika
Kedokteran dengan memanfaatkan hibah kompetisi TIK K-1 yang didanai oleh DIKTI. Dalam makalah ini dibahas
bagaimana Universitas Gunadarma mengidentikasikan kebutuhan dalam pengembangan program model Sistem
Informatika Kedokteran. Program yang akan dilaksanakan adalah (1) Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran
untuk Desiminasi Hasil Penelitian, (2) Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran dan (3) Pengembangan Inkooperasi
Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh untuk Bidang Kebidanan.
Kata Kunci : Informatika kedokteran, USG, Teknologi Informasi, Portal
I N F O R M A T I K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
Hal ini diikuti dengan terbentuknya wadah atau asosiasi kelompok
bidang keilmuan informatika kedokteran. Namun, pertukaran
hasil penelitian bidang informatika kedokteran antar perguruan
tinggi maupun individu sivitas akademika belum berjalan baik.
Beberapa masalah mendasar di Indonesia dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
1) Belum tersedia tempat untuk menyimpan hasil penelitian.
2) Belum tersedia portal untuk menyampaikan hasil penelitian
informatika
kedokteran.
3) Budaya untuk saling bertukar (sharing) hasil penelitian belum
berkembang
baik.
4) Belum ada pembelajaran jarak jauh dalam pemanfaatan peralatan
kedokteran.
Layanan Jaringan INHERENT
INHERENT (Indonesian Higher Education Network) adalah sebuah
jaringan komunikasi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perguruan
Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Pada dasarnya INHERENT dibangun oleh Dikti untuk menghubung-
kan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Gambar 1. Backbone INHERENT
[7]
Ada 4 kegiatan awal yang telah dilaksanakan yaitu :
1) Pembangunan Backbone untuk 32 perguruan tinggi yang
menjadi simpul utama di seluruh Indonesia, (gb.1)
2) PHK INHERENT K-1 untuk sembilan perguruan tinggi besar;
kesembilan perguruan tinggi tersebut diharapkan menyiapkan
content yang dapat digunakan dalam INHERENT
3) PHK INHERENT K-2 untuk perguruan tinggi-perguruan tinggi
lain yang lebih diarahkan untuk persiapan infrastruktur masing-
masing.
4) INHERENT K-3 pengembangan backbone INHERENT; perguruan
tinggi yang bukan merupakan simpul lokal dapat mengajukan
proposal kegiatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi
(ICT, Information and Communication Technology) sehingga
perguruan tinggi tersebut berkesempatan menjadi sub-simpul
INHERENT melalui perguruan tinggi yang menjadi simpul lokal
di
daerahnya.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMATIKA KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
1) Memberi akses terbuka terhadap hasil penelitian dari institusi
pendidikan atau lembaga yang terkait.
2) Memberi tempat diskusi atau forum untuk membicarakan
hasil-hasil penelitian dan pembelajaran informatika kedokteran.
3) Menyimpan dan memelihara aset digital dari institusi lainnya,
dengan memanfaatkan Repository UG yang sudah selesai
dibangun.
Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran untuk
Diseminasi Hasil Penelitian
Sistem ini direncanakan sebagai sebuah portal khusus tentang
bidang yang terkait pada informatika kedokteran untuk diskusi,
diseminasi materi kuliah, praktik, laboratorium, dan penelitian.
Sistem ini tentunya terkait untuk memperkaya konten INHERENT
khususnya hasil-hasil penelitian informatika kedokteran serta
meningkatkan budaya saling kerjasama antar perguruan tinggi
dan mengoptimalkan pemanfaatan sarana INHERENT dengan
penggunaan bandwidth secara optimal.
Rancangan Sistem
Aplikasi yang akan dikembangkan adalah aplikasi berbasis web
yang dapat diakses oleh semua orang yang terhubung pada
jaringan INHERENT. Saat ini (Pusat Studi Informatika Kedokteran)
PSIK Universitas Gunadarma telah memiliki sebuah Website (gb. 2)
namun saat ini informasi yang disampaikan baru seputar informasi
lembaga dan kegiatan seminar atau konferensi yang diadakan.
Gambar 2. Website Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma
Aplikasi ini akan dikembangkan tidak hanya berupa penyampaian
informasi kegiatan namun juga dapat dijadikan sarana untuk
bertukar informasi hasil penelitian, bahan belajar termasuk sharing
data dan forum diskusi. Arsitektur sistem PSIK dapat dilihat pada
gambar 3.
51
I N F O R M A T I K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
50
LATAR BELAKANG MASALAH
Istilah informatika kedokteran saat ini makin populer di kalangan
masyarakat Indonesia, terutama setelah adanya kemajuan di bidang
informatika dan komunikasi. Namun definisi informatika kedokteran
sampai saat ini masih belum final. Beberapa ahli yang mendefinisi-
kan informatika kedokteran di antaranya Morris F Collen (1977),
Jack D Myers (1986), Jan H. van Bemmel (1996), Reinhold Haux
(1997), Wikipedia (2006), Handbook of Medical Informatics.
2,3,4
Dari definisi-definisi tersebut dapat diambil beberapa konsep
penting informatika kedokteran:
1) Informatika kedokteran merupakan pertemuan beberapa disiplin
ilmu, terutama informatika dan kedokteran, serta bidang-
bidang pendukung dua disiplin tersebut;
2) Aktifitas informatika kedokteran berhubungan dengan pe-
ngumpulan, pengiriman, pemrosesan data menjadi informasi
dan
pengetahuan;
3) Pada awal perkembangan, informatika kedokteran identik
dengan aspek teknis, seperti aplikasi komputer, teknologi
informasi dan komunikasi untuk bidang kedokteran. Dalam
perkembangan selanjutnya, bahasan dan penerapan informatika
kedokteran juga mencakup aspek kognitif dan sosial.
4) Tujuan pencapaian informatika kedokteran diarahkan untuk
meningkatkan kualitas kesehatan, penelitian dan pendidikan
kedokteran.
Dari definisi di atas maka ruang lingkup informatika kedokteran
meliputi
4
:
1) Pemrosesan sinyal biologis, yaitu pemrosesan data yang dipancar-
kan dari dalam tubuh manusia dengan algoritma tertentu.
Fokus saat ini misalnya pemrosesan data EEG (elektroen-
sefalogram),
EKG
(elektrokardiogram),
CT-scan (computerized-
tomography), USG (ultrasonography) dan MRI (magnetic
resonance
imaging).
2) Perancangan basis data medik, yaitu merancang dan mem-
bangun sistem yang memungkinkan seseorang menyimpan
informasi medik hingga orang lain dapat menariknya tanpa
perlu memahami rincian teknik representasi data.
3) Pengambilan keputusan klinik, yaitu upaya merekonstruksi
informasi kesehatan untuk memfasilitasi proses pengambilan
keputusan
klinik.
4) Pemodelan dan Simulasi, yaitu memperoleh wawasan yang
sering muncul dari kegagalan suatu model untuk mendeskrip-
sikan hubungan kuantitatif yang dibangun berdasarkan
intuisi.
5) Interaksi Manusia Komputer Kesehatan, yaitu dialog antara
komputer dengan pengguna yang menjamin tercapainya
komunikasi tanpa kehilangan informasi yang disampaikan.
IDENTIFIKASI KEBUTUHAN
Sistem informatika kedokteran adalah sarana untuk penyampaian
informasi secara sistematik, pelayanan kesehatan dan penelitan
biomedik untuk akses berbagai sumber daya yang unik dan mahal,
bisa memecahkan faktor institusi dan geografis dalam sharing
hasil penelitian yang dibutuhkan serta dapat membangun kolaborasi
untuk mengakses berbagai sumber informasi yang dibutuhkan.
Permasalahan di Indonesia
Kegiatan penelitian informatika kedokteran di Indonesia
sudah mulai banyak dilakukan pada beberapa tahun terakhir.
Identifikasi Kebutuhan
Model Sistem Informatika Kedokteran
Universitas Gunadarma
Eri Prasetyo Wibowo, Setia Wirawan, Johan Harlan
Universitas Gunadarma, Jakarta, Indonesia
ABSTRAK
Dengan perkembangan Informatika Kedokteran yang semakin pesat, Universitas Gunadarma yang merupakan
universitas unggulan dalam bidang teknologi informasi berkewajiban mengembangkan Pusat Studi Informatika
Kedokteran dengan memanfaatkan hibah kompetisi TIK K-1 yang didanai oleh DIKTI. Dalam makalah ini dibahas
bagaimana Universitas Gunadarma mengidentikasikan kebutuhan dalam pengembangan program model Sistem
Informatika Kedokteran. Program yang akan dilaksanakan adalah (1) Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran
untuk Desiminasi Hasil Penelitian, (2) Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran dan (3) Pengembangan Inkooperasi
Hasil Pemeriksaan USG ke dalam Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh untuk Bidang Kebidanan.
Kata Kunci : Informatika kedokteran, USG, Teknologi Informasi, Portal
I N F O R M A T I K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
Hal ini diikuti dengan terbentuknya wadah atau asosiasi kelompok
bidang keilmuan informatika kedokteran. Namun, pertukaran
hasil penelitian bidang informatika kedokteran antar perguruan
tinggi maupun individu sivitas akademika belum berjalan baik.
Beberapa masalah mendasar di Indonesia dapat diidentifikasi
sebagai berikut:
1) Belum tersedia tempat untuk menyimpan hasil penelitian.
2) Belum tersedia portal untuk menyampaikan hasil penelitian
informatika
kedokteran.
3) Budaya untuk saling bertukar (sharing) hasil penelitian belum
berkembang
baik.
4) Belum ada pembelajaran jarak jauh dalam pemanfaatan peralatan
kedokteran.
Layanan Jaringan INHERENT
INHERENT (Indonesian Higher Education Network) adalah sebuah
jaringan komunikasi yang digagas oleh Direktorat Jenderal Perguruan
Tinggi (Dikti) Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia.
Pada dasarnya INHERENT dibangun oleh Dikti untuk menghubung-
kan seluruh perguruan tinggi di Indonesia.
Gambar 1. Backbone INHERENT
[7]
Ada 4 kegiatan awal yang telah dilaksanakan yaitu :
1) Pembangunan Backbone untuk 32 perguruan tinggi yang
menjadi simpul utama di seluruh Indonesia, (gb.1)
2) PHK INHERENT K-1 untuk sembilan perguruan tinggi besar;
kesembilan perguruan tinggi tersebut diharapkan menyiapkan
content yang dapat digunakan dalam INHERENT
3) PHK INHERENT K-2 untuk perguruan tinggi-perguruan tinggi
lain yang lebih diarahkan untuk persiapan infrastruktur masing-
masing.
4) INHERENT K-3 pengembangan backbone INHERENT; perguruan
tinggi yang bukan merupakan simpul lokal dapat mengajukan
proposal kegiatan berbasis teknologi informasi dan komunikasi
(ICT, Information and Communication Technology) sehingga
perguruan tinggi tersebut berkesempatan menjadi sub-simpul
INHERENT melalui perguruan tinggi yang menjadi simpul lokal
di
daerahnya.
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMATIKA KEDOKTERAN
UNIVERSITAS GUNADARMA
1) Memberi akses terbuka terhadap hasil penelitian dari institusi
pendidikan atau lembaga yang terkait.
2) Memberi tempat diskusi atau forum untuk membicarakan
hasil-hasil penelitian dan pembelajaran informatika kedokteran.
3) Menyimpan dan memelihara aset digital dari institusi lainnya,
dengan memanfaatkan Repository UG yang sudah selesai
dibangun.
Pengembangan Sistem Informatika Kedokteran untuk
Diseminasi Hasil Penelitian
Sistem ini direncanakan sebagai sebuah portal khusus tentang
bidang yang terkait pada informatika kedokteran untuk diskusi,
diseminasi materi kuliah, praktik, laboratorium, dan penelitian.
Sistem ini tentunya terkait untuk memperkaya konten INHERENT
khususnya hasil-hasil penelitian informatika kedokteran serta
meningkatkan budaya saling kerjasama antar perguruan tinggi
dan mengoptimalkan pemanfaatan sarana INHERENT dengan
penggunaan bandwidth secara optimal.
Rancangan Sistem
Aplikasi yang akan dikembangkan adalah aplikasi berbasis web
yang dapat diakses oleh semua orang yang terhubung pada
jaringan INHERENT. Saat ini (Pusat Studi Informatika Kedokteran)
PSIK Universitas Gunadarma telah memiliki sebuah Website (gb. 2)
namun saat ini informasi yang disampaikan baru seputar informasi
lembaga dan kegiatan seminar atau konferensi yang diadakan.
Gambar 2. Website Pusat Studi Informatika Kedokteran Universitas Gunadarma
Aplikasi ini akan dikembangkan tidak hanya berupa penyampaian
informasi kegiatan namun juga dapat dijadikan sarana untuk
bertukar informasi hasil penelitian, bahan belajar termasuk sharing
data dan forum diskusi. Arsitektur sistem PSIK dapat dilihat pada
gambar 3.
51
I N F O R M A T I K A
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
52
Gambar 3. Arsitektur Sistem PSIK
Pengkayaan Konten Informatika Kedokteran
Portal sistem informatika kedokteran yang telah terbentuk tentunya
memerlukan konten yang bisa disimpan di dalam portal tersebut
dan bisa diakses secara terbuka, sehingga pengkayaan konten
informatika kedokteran harus mempunyai sistem yang dinamis,
user friendly, dan mudah diperbaharui.
Rancangan Sistem Engine Pengkayaan Konten
Kegunaaan sistem ini adalah sebagai engine untuk mengatur mana-
jemen konten yang berupa hasil penelitian, artikel populer, materi
kuliah atau semua kegiatan yang berkaitan dengan materi pem-
belajaran informatika kedokteran. Metode yang digunakan dalam
pengkayaan konten adalah dengan mendapatkan hasil penelitian atau
materi pembelajaran yang berkaitan dengan informatika kedokteran.
Konten materi pembelajaran mencakup :
· Bioinformatika
· Informatika Pencitraan Medik
· Informatika Keperawatan
· Informatika Klinis
· Informatika Kesehatan masyarakat
Untuk merancang pembuatan setiap materi pembelajaran akan
ditunjuk dosen di lingkungan Universitas Gunadarma yang mem-
punyai kompetensi di bidang-bidang tersebut; tidak menutup
kemungkinan dosen di luar institusi berperan serta memperkaya
konten informatika kedokteran. Topik topik tersebut akan disimpan
dalam engine sistem pembelajaran informatika kedokteran. (gambar 4).
Gambar 4. Engine Pengayaan Konten Pembelajaran
Pengembangan Inkooperasi Hasil Pemeriksaan USG ke dalam
Rekam Medik Elektronik dan Pembelajaran Jarak Jauh
untuk Bidang Kebidanan
Sistem ini direncanakan dengan mengacu pada artikel TeleNursing
dan Telemedicine
(5,6)
dan kemampuan Universitas Gunadarma
dalam bidang teknologi informasi dan komunikasi serta adanya
program studi D3 kebidanan; tentunya ditunjang oleh bandwidth
backbone INHERENT yang sangat memadai.
Rancangan Sistem
Sistem ini digunakan untuk menyimpan data rekam medik secara
digital dan aplikasi pembelajaran jarak jauh untuk bidang kebidanan.
Sistem ini menyediakan layanan pembelajaran jarak jauh secara
real time baik dalam model kuliah ataupun pemakaian peralatan
kedokteran (USG). (gambar 5).
Gambar 5. Sistem Pembelajaran Jarak Jauh Real Time
PENUTUP
Sesuai definisi informatika kedokteran yang merupakan per-
paduan ilmu medik dengan teknologi informasi dan ruang lingkup
bidang tersebut, serta dengan melihat kekuatan dan potensi
Universitas Gunadarma di bidang teknologi informasi, maka
selayaknya Universitas Gunadarma dapat mengembangkan dan
melaksanakan program TIK K-1 DIKTI.
DAFTAR PUSTAKA
1. Dwi Astuti Aprijani, M. Abdushomad Elfaizi. Bioinformatika: Perkembangan,
disiplin ilmu dan penerapannya di Indonesia. download from Internet, 2007.
2. Anis Fuad. Memahami difusi teknologi informasi kesehatan. http://anisfuad.
wordpress.com/ 2006/01/, January 2006.
3. Handbook of Medical Informatics. download from Internet, August 2008.
4. Johan Harlan. Informatika Kesehatan. Penerbit Gunadarma, 2006.
5. Nur Martono. Telenursing (pelayanan asuhan keperawatan jarak jauh) alternatif
asuhan keperawatan Indonesia menjelang Indonesia Sehat 2010. http://nurmartono.
blogspot.com/ 2006/07/, July 2006.
6. Handayani Tjandrasa. Teknologi informasi dalam aplikasi telemedika. download
from Internet, 2007.
7. Team PHK-TIK UG. Universitas Gunadarma dalam jaringan antar perguruan tinggi
se-Indonesia. Desember. e-mail: (eri,setia,harlan johan)@staff.gunadarma.ac.id 2006.
O P I N I
CDK 167/vol.36 no.1/Januari - Februari 2009
53
M
asyarakat telah mengenal stroke sebagai penyakit yang potensial
berbahaya dan berisiko menyebabkan kecacatan; tetapi yang mungkin
belum disadari sepenuhnya adalah bahwa stroke sebetulnya bisa di-
cegah dengan penanganan faktor risiko yang baik. Peningkatan usia
harapan hidup akan memperbesar populasi lanjut usia sehingga harus
diantisipasi adanya peningkatan kejadian stroke di masa mendatang.
Hipertensi merupakan faktor risiko utama yang sering tanpa gejala;
masyarakat dianjurkan untuk mengukur dan memantau tekanan
darahnya secara berkala, apalagi sekarang sudah tersedia alat pengukur
tekanan darah yang dapat dibeli di mana-mana.; mengendalikan tekanan
darah dapat menurunkan risiko stroke sampai sepertiganya
(1)
Faktor
risiko lain yang juga penting ialah diabetes mellitus yang seharusnya
bisa dikontrol .
Survai atas 2065 pasien stroke di 28 rumahsakit di seluruh Indonesia
(Oktober 1996 - Maret 1997)
(2)
menunjukkan bahwa 73,9% menderita
hipertensi; 33.5% tidak diobati dan 8.9% bahkan baru terdiagnosis
saat dirawat. Sedangkan diabetes mellitus ditemukan pada 17.3%
pasien. Kematian akibat stroke merupakan 5.4% dari semua kematian
di rumahsakit.
(3)
Masalah lain yang juga penting ialah menyadarkan masyarakat agar
waspada terhadap gejala awal stroke yang sering dapat diamati,
sehingga dapat sedini mungkin dirujuk ke fasilitas kesehatan terdekat;
karena meskipun studi yang mutakhir menunjukkan bahwa rtPA masih
berguna jika diberikan sampai 6 jam setelah serangan
(4)
, manfaat ini
tidak banyak membantu jika pasien baru tiba di rumahsakit rata-rata
48,5 jam setelah serangan.
(2)
Jika seseorang wajahnya lumpuh sesisi ,atau menderita kelemahan
lengan/anggota gerak, atau mengeluh bicaranya terganggu/pelo,
probabilitas disebabkan oleh stroke sebesar 72%.
(5)
Kampanye deteksi
dini gejala stroke perlu dilakukan terus menerus di kalangan masyara-
kat luas, antara lain penyebarluasan tanda dini melalui poster seperti
yang telah dilakukan di AS (gambar), melalui siaran radio dan/atau televisi,
dapat dengan cara bekerja sama dengan salah satu rumahsakit. Juga
penting untuk memberi pemahaman bahwa stroke dapat dicegah se-
maksimal mungkin melalui pengendalian faktor risiko seperti hipertensi,
diabetes mellitus, hiperkholesterolemi dan penyakit metabolik lain.
Upaya peningkatan kewaspadaan di kalangan masyarakat harus
diimbangi dengan kesiapan personil rumahsakit yang andal dan
fasilitas diagnostik yang memadai karena pemberian obat yang spesifik
seperti rtPA memerlukan kepastian jenis strokenya, di samping fasilitas
pemantauan ketat di rumahsakit
(6)
. Ketersediaan obat tersebut di
Indonesia masih belum merata, di samping adanya hambatan peng-
gunaannya mengingat masalah ketepatan diagnostik dan rentang
waktunya. Masalah transportasi ambulan juga perlu diperbaiki; di
samping masalah kepadatan lalu lintas yang berada di luar jangkauan
bidang kesehatan. Perlu dipikirkan apakah hal-hal ini dapat diatasi
dengan metode tele medicine meskipun harus diakui bahwa metode
ini padat teknologi dan tidak murah
(7)
.
Klub-klub stroke yang sampai saat ini kegiatannya lebih banyak pada
aspek rehabilitasi hendaknya lebih diberdayakan untuk memberi
pemahaman yang lebih baik mengenai pencegahan stroke melalui
cara hidup sehat, tidak/berhenti merokok, berat badan ideal dan me-
nangani faktor risiko sebaik-baiknya. Di sini pula peran serta masyara-
kat dapat diaktifkan meskipun tetap memerlukan pembinaan. Upaya
pencegahan terhadap penyakit-penyakit kronis penyakit jantung,
stroke, diabetes dan kanker jika dijalankan dengan konsisten dapat
mencegah 36 juta kematian prematur di seluruh dunia; separuhnya di
kalangan usia di bawah 70 tahun ; kira-kira seperenamnya (6 juta)
berasal dari pencegahan kematian akibat stroke
(8)
. Bahkan jika dihitung
secara ekonomi biaya, masih tetap menguntungkan; penurunan 2%
kematian akibat penyakit kronis bisa menghemat sekitar US$ 8 milyar atau
10% dari potensi penurunan pendapatan nasional dalam kurun waktu10
tahun. Penggunaan multidrug untuk mencegah penyakit jantung, stroke
dan diabetes di kalangan risiko tinggi dapat menghindari 17.9 juta kematian.
Upaya-upaya ini memang tidak akan segera terlihat hasilnya dalam waktu
dekat, dan seperti halnya dengan upaya pencegahan lainnya, memerlukan
kesinambungan. Berpulang pada kita semua, apakah cukup bersungguh-
sungguh berupaya mencegah penyakit yang menimbulkan kecacatan dan
(mungkin) kematian ini sekaligus dapat menghemat biaya kesehatan.
Daftar Pustaka
1. Adams HP,delZoppo GJ, vKummer R. Management of Stroke. 2
nd
ed. 2002.
2. Misbach J, Wendra A. Clinical pattern of hospitalized stroke in 28 hospitals in Indonesia.Med.J.Indon. 2000;9(1):29-34
3. Data Survey Kesehatan Nasional, Departemen Kesehatan RI, 2006
4. Wardlaw JM, Murray V, Sandercock PAG. Thrombolysis for acute ischemic stroke: an update of the Cochrane thrombolysis
meta-analysis. Abstracts. Internat.J.Stroke 2008;3 suppl.1:50
5. Gabrielli A,Idris AH, Layon AJ. Ch.14. Prehospital Care of the Patient with Neurologic Injury. Dalam: Layon AJ, Gabrielli A,
Friedman WA. Textbook of Neurointensive Care. Saunders, 2004. pp.450-1
6. Guidelines for the Early Management of Adults with Ischemic Stroke. Stroke 2007;38:1655-1711
7. Ilyan T, Sakasasmita S. Aplikasi Telemedicine bagi Pendidikan Kedokteran di Pedesaan. Cermin Dunia Kedokt.2008;35(5):271-78
8. Bonita BR. Costs of stroke prevention in the context of the chronic disease goal: what are the savings? Abstracts. Internat.J.Stroke
2008;3
suppl.1:77
Setiap orang pasti sudah pernah mengenal istilah
stroke - penyakit gangguan peredaran darah otak -
yang merupakan penyebab kecacatan utama dan
penyebab kematian penting - di samping kanker dan
serangan jantung. Bahkan mungkin di antara sejawat
sudah ada yang merasakannya sebagai pengalaman
di kalangan keluarga sendiri.
MENGELOLA
STROKE
DENGAN
LEBIH BAIK
Budi Riyanto Wreksoatmodjo
Dokter Spesialis Saraf, Jakarta
Ket.Gambar:
Poster yang digunakan
untuk kampanye deteksi
dini stroke di AS.
(Sumbangan drg.Wasis Sumartono)