ABSTRAK
MANFAAT STATIN
Telah dilakukan meta analisis atas
14 percobaan acak dengan total 90 056
orang yang bertujuan untuk menilai
efikasi dan keamanan statin dalam
menurunkan kadar kholesterol darah.
Selama rata-rata 5 tahun, 14 348 orang
terkena penyakit vaskuler utama seperti
penyakit koroner dan stroke, dan 5103
menderita kanker. Kadar kholesterol
rata-rata pada 1 tahun berkisar 0.35
1.77 mmol/l (rata-rata 1.09).
Terjadi penurunan mortalitas
akibat semua sebab sebesar 12% per
mmol/l penurunan kadar LDL
kholesterol (RR 0.88, 95%CI 0.84-
0.91, p < 0.0001). Ini menggambarkan
penurunan 19% kematian akibat
koroner (0.81; 0.76-0.85, p < 0.0001),
tetapi penurunan tidak bermakna atas
kematian vaskular non koroner (0.93,
0.83 1.03, p=0.2).
Terdapat penurunan kejadian
infark miokard atau kematian akibat
koroner (0.77, 0.74-0.80, p < 0.0001),
kebutuhan revaskularisasi koroner
(0.76, 0.73-0.80, p < 0.0001), stroke
fatal/non fatal (0.83, 0.78-0.88, p <
0.0001) dan jika dikombinasi
menghasilkan penurunan 21% (p <
0.0001); penurunan ini bermakna jika
dibandingkan dengan hasil penurunan
kadar LDL.
Manfaat ini bermakna di tahun
pertama, dan makin berarti dari tahun
ke tahun.
Secara keseluruhan penurunan
kira-kira 1/5 per mmol/l LDL
kholesterol menghasilkan pengurangan
48 (95%CI 39-57) orang penderita
penyakit vaskuler utama per 1000
orang yang mempunyai riwayat
penyakit jantung koroner; diban-
dingkan dengan 25 (19-31) per 1000
orang tanpa penyakit tersebut.
Tidak terlihat bukti bahwa statin
meningkatkan kejadian kanker (1.00,
0.95-1.06, p=0.9)
Lancet 2005;366:1267-78
brw
REVAKSINASI BCG TIDAK
BERMANFAAT
Suatu penelitian untuk menilai
manfaat revaksinasi BCG dilakukan di
767 sekolah di Brazil 386 sekolah
(176 846 anak) di revaksinasi, diban-
dingkan dengan 365 sekolah (171 293
anak) yang tidak. Sejumlah 42 053 di
kelompok revaksinasi dan 47 006 anak
di kelompok kontrol absen saat
dikunjungi sehingga tidak diikut-
sertakan dalam penelitian ini; 31 163
dan 27 146 anak dari masing-masing
kelompok juga dikeluarkan karena
tidak mempunyai BCG scar, mempu-
nyai dua/lebih scar atau meragukan.
Angka kejadian kasar tuberkulosis
di kelompok revaksinasi 29.3 per 100
000 person-years, dibandingkan de-
ngan 302 per 100 000 person-years
(crude rate ratio 0.97; 95%CI 0.76-
1.28). Efikasi revaksinasi BCG hanya
9% (-16% - +29%).
Lancet 2005;366:1290-95
brw
TERAPI MENINGITIS MENI-
NGOKOK
Penelitian dilakukan di 9 fasilitas
kesehatan di Niger, Afrika pada tahun
2003. Pasien diduga menderita
meningitis meningokok yang berusia
lebih dari 2 bulan secara acak
mendapat seftriakson (100 mg/kg.bb,
maksimum 4 g. im. satu kali) atau
khloramfenikol (100 mg/kg.bb,
maksimum 3 g. im. satu kali).
Pemberian ke dua (seftriakson 75
mg/kg.bb atau khloramfenikol 100
mg./kg.bb) dilakukan 24-48 jam
sesudahnya jika klinis tidak membaik
Skala Koma Glasgow <11 pada 24 jam
atau < 13 pada 48 jam, kesadaran tidak
membaik, kejang berulang/ menetap
atau suhu aksila > 38.5° C tanpa tanda
infeksi lain.
Dari 510 penderita, 247 mendapat
seftriakson, 256 mendapat khloram-
fenikol; 7 tidak dapat di follow up.
Kegagalan pengobatan setelah 72 jam
dengan analisis intention-to-treat
sebesar 9% (22 pasien) untuk kedua
kelompok. (risk diff. 0.3%, 90%CI
3.8 sd. 4.5). Case fatality rates dan
clinical failure rates sama di kedua
kelompok (14 6% di kelompok
seftriakson vs. 12 5% di kelompok
khloramfenikol). Tidak ada efek
samping serius yang dilaporkan. Hasil
yang serupa didapatkan pada analisis
kelompok meningitis yang disebabkan
N.meningitidis.
Mereka menyimpulkan bahwa
seftriakson dosis tunggal dapat menja-
di alternatif pengobatan meningitis
meningokok epidemik.
Lancet 2005;366:308-313
brw
CEDERA PADA EPILEPSI
Sejumlah 274 anak dan dewasa di
Rochester, AS yang didiagnosis
epilepsi antara tahun 1975-1984 di-
amati selama total 2714 person-years.
Selama masa itu data retrospektif
mencatat 62 kejadian kecelakaan
terkait serangan (seizure-related
injuries) pada 39 orang (16%). Risiko
kumulatif cedera sebesar 6.8% pada 2
tahun, 12.7% pada 5 tahun, 14.6% pada
10 tahun dan 26.1% pada 20 tahun
setelah diagnosis. Kejadian tersering
adalah cedera kepala ringan, kemudian
laserasi dan memar ringan/sedang di
bagian tubuh lain. Cedera bermakna
(major injuries) terjadi pada 51%
kasus, cedera multipel pada 34% kasus.
39% kasus cedera harus absen dari
sekolah/kerja, 8% memerlukan rawat
inap. Kebanyakan cedera terjadi di
rumah, setelah serangan tonik klonik
umum.
Frekuensi serangan merupakan
satu-satunya faktor yang bermakna (p<
0.05); sedangkan risiko cedera (RR) di
kalangan yang mempunyai riwayat
kejang tonik klonik umum atau drop
attacks ialah 2.9 (95%CI 0.97-8.64)
Neurology 2004;63:1565-70
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006 63