ABSTRAK
ASAM VALPROAT UNTUK
INFEKSI HIV
Asam valproat diketahui juga
mempunyai aktivitas inhibisi enzim
histone deacetylase 1 (HDAC 1)
enzim yang menekan ekspresi gen
virus. Efek inhibisi enzim ini akan
mengeluarkan virus dari sel T sehingga
dengan demikian lebih rentan terhadap
efek terapi antiretrovirus.
Teori ini dicoba dibuktikan
melalui pemberian 500-750 mg. asam
valproat/hari selama 3 bulan pada 4
pasien HIV positif yang sedang
menjalani HAART.
Di akhir terapi, ternyata infeksi
HIV dalam sel CD4+ turun bermakna
pada 3 pasien; rata-rata 75% (68% -
>84%). Data ini memberikan harapan
akan manfaat tambahan obat dengan
mekanisme yang berbeda sebagai
ajuvan terapi infeksi HIV.
Lancet 2005;366:549-55
brw
PENGOBATAN UNTUK HIV
POSITIF
Mengingat ketaatan berobat juga
tergantung dari kesederhanaan protokol
dan toleransi obat, beberapa kombinasi
obat diteliti manfaatnya atas kasus-
kasus HIV positif.
Sejumlah 517 pasien HIV positif
baru yang belum pernah diobati, diberi
regimen tenovofir disoproxil fumarate
(DF) + emtricitabine + efavirenz 1
kali/hari (kelompok 1) atau/
dibandingkan dengan zidovudine-
lamivudine 2 kali/hari + efavirenz 1
kali/hari (kelompok 2).
Setelah 48 minggu, kelompok 1
lebih banyak yang mencapai target <
400 copies HIV RNA/ml. dibanding-
kan di kelompok 2 (84% vs. 73%;
95%CI for diff. 2-17%, p=0.002), dan
pada kenaikan jumlah CD4 (190
sel/mm3 vs. 158 sel/mm3; 95%CI for
diff. 9 - 55; p=0.002).
Efek samping yang mengharuskan
penghentian terapi lebih banyak
dijumpai di kelompok 2 (9% vs. 4%,
p=0.02)
Kombinasi tenovofir DF + em-
tricitabine + efavirenz lebih unggul
dibandingkan dengan kombinasi zido-
vudine + lamivudine + evafirenz.
N.Engl.J.Med 2006;354:251-60
brw
PENYAKIT SETELAH PERJA-
LANAN WISATA
Perjalanan wisata, terutama ke
negara-negara berkembang berisiko
terkena penyakit-penyakit tertentu.
Data dari 17353 pelancong (travellers)
yang sakit sepulangnya dari perjalanan
menunjukkan bahwa gejala demam
sistemik tanpa penyebab jelas lebih
sering dijumpai di kalangan yang
pulang dari Afrika Subsahara dan Asia
Tenggara, diare akut di kalangan yang
pulang dari Asia Selatan - Tengah,
masalah kulit di kalangan yang pulang
dari Karibia atau Amerika Tengah
/Selatan.
Malaria merupakan penyebab
demam tersering, kecuali pada yang
pulang dari daerah Karibia atau
Amerika Tengah/Selatan di daerah
tersebut penyebab terseringnya dengue.
Mereka yang pulang dari Afrika
Subsahara terutama mengidap infeksi
riketsia, tick-borne spotted fever.
Pelancong dari semua daerah,
kecuali Asia Tenggara menderita diare
akibat parasit lebih sering daripada
diare bakterial.
N.Engl.J.Med.2006;354:119-30
brw
BENAZEPRIL DAN FUNGSI
GINJAL
Setelah masa run-in selama 8
minggu, 104 pasien dengan kadar
kreatinin serum 1.5 3.0 mg/dl
mendapat 20 mg. benazepril/hari (grup
1), sedangkan 224 pasien lainnya
dengan kadar kreatinin serum 3.1-5.0
mg/dl (grup 2) secara acak menerima
20 mg. benazepril/hari atau plasebo.
Mereka di follow-up sampai 3,4 tahun.
Sejumlah 22/102 (22%) pasien grup 1
menyelesaikan studi, dibandingkan
dengan 44/108 (48%) di grup 2 yang
mendapat benazepril dan 65/107 (60%)
di grup 2 yang mendapat plasebo.
Dibandingkan plasebo, benazepril
dikaitkan dengan reduksi 43% risiko
naiknya kadar kreatinin serum dua kali
lipat, penyakit ginjal tahap akhir atau
kematian di grup 2.
Terapi benazepril juga dikaitkan
dengan 55% reduksi proteinuri dan
23% reduksi penurunan fungsi ginjal.
Efek samping di semua kelompok tidak
berbeda bermakna.
N.Engl.J.Med. 2006;354:131-40
brw
TERAPI KARSINOMA OVARIUM
Sejumlah 429 pasien karsinoma
ovarium stage III atau karsinoma
peritoneal primer yang massa
residualnya 1 cm. mendapat 135
paclitaxel/m2 permukaan tubuh selama
24 jam diikuti dengan cisplatin iv. 75
mg/m2 pada hari ke dua (grup iv) atau
100 mg. cisplatin intraperitoneal + 60
mg paclitaxel/m2 intraperitoneal pada
hari ke 8 (grup ip). Terapi diberikan 6
kali dengan selang waktu 3 minggu.
Di akhir terapi 415 pasien dapat
dievaluasi. Nyeri tk.3 dan 4, rasa lelah
dan efek toksik metabolik, gastro-
intestinal, hematologik, neurologik
lebih banyak dijumpai di kelompok ip.
(p 0.001). Hanya 42% di kalangan ip
yang menyelesaikan terapi.
Rata-rata (median) progression-
free survival di kalangan iv 49.7 bulan
dan di kalangan ip 65.6 bulan (p=0.03
logrank test)
Mutu kehidupan lebih jelek di
kalangan ip sebelum siklus 4 dan 3-6
minggu setelah terapi, tetapi tidak lagi
setelah 1 tahun.
N.Engl.J.Med 2006; 354:34-43
brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 151, 2006 63