background image
5. Untuk pengobatan di klinik dengan kombinasi mebendazo-
le 300 mg + tetramizole 75 mg maupun kombinasi pyrantel
pamoate 500 mg + mebendazole I50 mg dosis tunggal
pada orang dewasa dalam jangka waktu 5 hari sesudah
pengobatan, pada pemeriksaan tinja ulangan telah diperoleh
hasil pengobatan yang efektif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami kepada Kepala Bagian Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UGM untuk semua fasilitas
yang
diberikan kepada
kami di R.S. Pugeran dan juga ucapan terima kasih kami lewat dr.
Soenazno kepada P.T. Mecosin dalam penyediaan obat kombinasi
mebendazole - tetramizole.
KEPUSTAKAAN
1.Clazke MD, Cross JH, Carney WP, et al. A parasitologixal survey in
the Yogyakarta area of Central Java., Indonesia. Southeast Asian J
Trop Med Pub Hlth 1973; 4: 195.
2.Noerhayati S, Soenarno. Prevalensi infeksi cacing yang caza pe-
nularannya melalui tanah, di daerah Yogyakarta dan Surakarta.
Kumpulan naskah Musyawarah Nasional II Ikatan Alumni dan
Kursus Penyegar Ilmu Kedokteran I- FK UGM. I973.
3.Noerhayati S. Beberapa segi infeksi cacing tambang di Yogyakarta,
Indonesia. Tesis, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, I978.
4. Hsieh HC, Chen ER. Evaluation of anthelmintic activity of pyrantel
pamoate (Combantrin) against ascaris and hookworm. Chinese J
Microb 1970; 3 : 126 - 130.
5.Margono S S, Oemiyati S, Roesin R, Hardjawidjaja, Rochida- R.
Soil transmitted helminthic infection among peopl e of different
sosio-economic levels. Bull Penelitian Kesehatan 1976 ; 4 : 57 - 63.
6.Partono F, Purnomo, Tangkilisan A. The use of mebendazole in the
treatment of polypazasitism. Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1974; 5 : 258 - 264.
7.Juwono R, Tantulaz K. Pengalaman klinis dengan mebendazole,
anthelmintik baru dengan spektrum luas. Buku naskah Kongres
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Ke II, Surabaya I973.
8.Lionel NDW, Rajapakse L, Soysa P, Aiyathurai JEJ. Mebendazole
in the treatment of intestinal helminthiasis with special reference
to whipworm infection. J Trop Med Hyg 1975; 75 - 77.
9.Chanco PP Jr, Cabe E Jr, Vidad Ma J Y. The efficacy of pyrantel
pamoate in the treatment of ascaziasis. (Comparative study with
piperazine and tetramizole). The Xth Southeast Asian Regional
Seminaz on Tropical Medicine, Bangkok, Oktober 26 - 30, I971.
10. Rim HJ, Lim K. Treatment of enterobiasis and ascariasis with
combantrin (pyrantel pamoate). Trans Royal Soc Trop Med Hyg
1973; 66 : I70 - 175.
11.Kosin.E Treatment trials of ascariasis and hookworm infection in
North Sumatra. Bull Penelitian Kesehatan 1975; III : 17 - 20.
12.Harun M, Purnomo, Paztono F. Kombinasi baru mebendazole 150
mg + pyrantel pamoate 100 mg untuk pengobatan ascaziasis dan
trichiuriasis. Masalah cacing usus di Indonesia dan pengobatannya.
1980.
13.Partono F. Pengalaman pengobatan cacing usus dengan kombinasi
150 mg mebendazole dan 34 mg pyrantel base. Simposium peng-
obatan amebiasis, helmintiasis usus dan trikomoniasis. Jakarta, 19
April 1980.
14.Alisah NA, Hazun Mahfudin, Rumsah Rasad, Rochida Rasidi, Sri S
Margono, Bintari Rukmono. A combination of pyrantel pamoate
and mebendazole in the mass treatment of soil transmitted helmin-
thic infections. Masalah cacing usus di Indonesia dan Pengobatan-
nya,1980.
Pengobatan Mebendazole dan
Diethylcarbamazine (DEC) terhadap Cacing
Usus di Kalimantan Selatan
Harjani A Marwoto , PB
Mc Greevy
, D T Dennis
,
Sutanti Ritiwayanto , Sofjan M
Pusat Penelitian Bio Medis, Badan Penelitian dan Peng-
embangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Naval
Medical Research Unit-2, Jakarta Detachment
PENDAHULUAN
Sejak tahun I977 sampai saat ini sedang dilakukan peneliti-
an longitudinal di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Penelitian ini meliputi penelitian demografi, klinis, parasit
usus dan darah, imunologi, pengobatan zoonosis dan entomo-
logi,
yang
dilakukan secara intensif oleh team dari Badan
Litbang Kesehatan, Namru-2 dan P3M daerah.
Daerah tempat penelitian di atas dilakukan terletak di
tengah-tengah kebun karet yang telah ada sejak tahun 30-an.
Penduduknya terdiri dari transmigran dari Jawa dan penduduk
asli Banjar.
Umumnya mereka adalah dari golongan sosioekonomi rendah
dengan higiene-sanitasi lingkungan jelek. Mereka pada umum-
nya tidak mempunyai jamban, membuang kotoran di kebun-
kebun di belakang rumah, di samping rumah, di tengah kebun
karet dsb. sehingga infeksi cacing usus sangat umum diketemu-
kan di daerah tsb.
Filariasis juga banyak diketemukan, dengan prevalensi 35% -
40%, dan penyebabnya ialah sub-periodic
B. malayi.
Salah satu segi yang diteliti ialah pengobatan filariasis
dengan menggunakan DEC (diethyl carbamazine). Karena di
daerah ini cacing usus juga sangat umum diketemukan, maka
selain DEC juga diberikan pengobatan untuk cacing usus
(mebendazole).
Oleh karena itu dipandang perlu untuk melakukan penelitian
mengenai pengaruh pemberian DEC dan mebendazole ter-
hadap cacing usus.
BAHAN DAN CARA KERJA
Untuk penelitian ini dipilih 4 buah desa dengan populasi
± 200 orang perdesa. Ke-4 buah desa tsb. ialah Pengiuran
(desa I), Tanah lntan II (desa II), Tanah Intan I(desa III) dan
Sungai Baru (desa IV).
Pemeriksaan cacing usus dilakukan dengan menggunakan
cara modifikasi Kato Katz. Kemudian jumlah telur per gram
tinja dihitung (EPG = eggs per gram).
Pemeriksaan ini dilakukan sebelum dan sesudah pengobatan
dilakukan.
Pengobatan masal dilakukan sbb :
DEC diberikan dangan dosis 5 mg/kg BB/hari selama I0 hari
berturut-turut. Sedangkan mebendazole diberikan 2X dengan
selang waktu 3 bulan (Mebendazole I dan Mebendazole II).
Dosis yang dipakai ialah I00 mg 2X sehari selama 4 hari.
Desa I diobati dengan mebendazole saja, desa II dengan DEC
saja, desa III dengan DEC dan mebendazole, dan desa IV
tidak diobati selama penelitian dilakukan (sebagai desa pem-
banding).
Simposium Masalah Penyakit Parasit
8 2
background image
HASIL
Tabel 1 menunjukkan prevalensi dan EPG di daerah pe-
nelitian sebelum pengobatan dilakukan.
Dari Tabel 2 terlihat bahwa I bulan sesudah pengobatan
dengan Mebendazole I, prevalensi A.
lumbricoides, T. trichiura
dan cacing tambang masing-masing turun dengan nyata dari
90% - 18% (penurunan 80%), dari 86% - I4% (penurunan 84%)
dan dari 84-4% (penurunan 95%). Begitu juga dengan EPG,
masing-masing turun dari I2875 -- 4I4 (penurunan 97%),
dari 924 -- 57 (penurunan 94%) dan dari 739 -II (penurunan
98%).
Tiga bulan setelah pengobatan Mebendazole I, hanya prevalen-
si
A. lumbricoides
saja yang turun dari 18% - 3%, sedangkan
prevalensi
T. trichiura
dan cacing tambang masing-masing naik
sedikit dari I4% - I7% dan dari 4% - 7%, meskipun EPG -nya
juga turun untuk ke-3 macam cacing usus tersebut.
Sesudah pengobatan dengan Mebendazole II diharapkan pre-
valensi dan EPG akan lebih turun lagi, tetapi ternyata hanya
pada
T. trichiura
hal tsb. terjadi. Sedangkan prevalensi dan
EPG dari
A. lumbricoides
justru naik lagi. Begitu juga pada
cacing tambang prevalensi dan EPG sedikit naik.
Pengaruh DEC pada
A. lumbricoides,
T. trichiura
dan
cacing tambang terlihat dalam Tabel 3. Satu bulan sesudah
pengobatan, prevalensi dan EPG dari
T. trichiura
dan cacing
tambang saja yang terlihat turun dari 4I% - 34% dan dari
Tabel 1 : Prevalensi dan EPG dari A. lumbricoides, T. trichiura dan
Cacing tambang didaerah penelitian sebelum pengobatan.
PARASIT
DESA 1
DESA II
DESA III
DESA IV
A.lumbricoides
90
67
76
85
(14.274)
(I7.856)
(21.397)
(23.525)
T. trichiura
86
41
43
79
( I.070)
(780)
(325)
(634)
Cacing tambang
84
63
42
83
(877)
(1.00I)
(443)
(561)
* Prevalensi,dalam %
EPG = eggs per gram feces.
Tabel 2 : Prevalensi dan EPG cacing usus desa Pengiuran sebelum
dan sesudah pengobatan Mebendazole I dan II.
PARASIT
sebelum
pengobat-
an.
1 bulan
sesudah
pengobat-
an I
3 bulan
sesudah
pengobat-
an I
3 bulan
sesudah
pengoba-
tan I
I
A.Iumbricoides
90
18
3
17
(
12.875)
(4
14)
(228)
(252)
T. trichiura.
86
14
17
3
(924)
(57)
(17)
(3)
Cacing tambang
84
4
7
6
(739)
(11)
(10)
(
18)
Prevalensi, dalam %
EPG = eggs per gram feces.
63% - 49% dan EPG turun dari 780 - 250 dan dari 1.001--
700. Penurunan prevalensi dan EPG dari
A. lumbricoides
baru terlihat turun 6 bulan sesudah pengobatan, yaitu preva-
lensi turun dari 67% - 51% dan EPG turun dari I7.856 - 769I.
Pada saat ini prevalensi dan EPG dari
T. trichiura
turun lagi
menjadi 24% dan EPG menjadi 124. Sedangkan pada cacing
tambang prevalensinya sudah naik lagi menjadi 7I% meskipun
EPG nya turun menjadi 336.
Tabel 4 menunjukkan perbandingan prevalensi dan EPG
cacing usus didaerah yang diobati dengan mebendazole saja
(desa I) dan di daerah yang diobati dengan mebendazole +
DEC (desa III).
Ternyata bahwa penurunan prevalensi dan EPG di desa III
lebih besar dibandingkan dengan penurunan di desa I, kecuali
pada cacing tambang. Hal ini juga terlihat 6 bulan sesudah
pengobatan.
Satu bulan sesudah pengobatan, di desa I prevalensi
A. lum-
bricoides, T. trichiura
dan cacing tambang turun masing-
masing dari 90% - 18% (penurunan 80%), dari 86% - I4%
(penurunan 84%) dan dari 84% - 4% (penurunan 95%). Sedang-
kan di desa III penurunan prevalensi tsb. berturut-turut
ialah dari 76% - 6% (92%), dari 43% - 3% (93%) dan dari
42% - 13% (69%).
Enam bulan sesudah pengobatan prevalensi di desa I berturut-
turut ialah 17% (penurunan 8I%), 3% (penurunan 97%) dan
6% (penurunan 93%), sedangkan di desa III prevalensi masing-
masing ialah 6% (penurunan 92%), I% (penurunan 98%) dan
7% (penurunan 83%).
DISKUSI
Pengobatan masal dengan menggunakan mebendazole un-
tuk cacing usus memberikan hasil yang bagus, hal ini terlihat
dari penurunan prevalensi maupun EPG satu bulan
sesudah
pengobatan Mebendazole I, yaitu penurunan prevalensi A.
lumbricoides, T. trichiura
dan cacing tambang masing-masing
sebesar 80%, 84% dan 95%. Sedangkan penurunanEPGuntuk
ketiga macam cacing tsb. ialah 97%, 94%, dan 98%.
Tiga bulan sesudah pengobatan dengan Mebendazole II, preva-
lensi
A. lumbricoides
naik, begitu juga EPG-nya. Kenaikan
prevalensi tsb. ternyata karena adanya beberapa orang pen-
duduk yang telah menjadi negatif sesudah pengobatan Me-
bendazole I, tetapi kemudian menjadi positif lagi karena
terjadi reinfeksi.
Hanya
T. trichiura
yang sesudah pengobatan dengan Meben-
dazole II prevalensi maupun EPG turun seperti yang diharap-
kan.
Sedangkan pada cacing tambang prevalensi hampir tidak ber-
ubah, dan EPG sedikit naik. Ternyata beberapa orang dari
penduduk yang positif tsb. ada beberapa yang hanya menerima
satu kali pengobatan saja.
Pengaruh DEC pada
A. lumbricoides
tidak terlihat 1 bulan
sesudah pengobatan, melainkan baru terlihat dengan nyata
6 bulan sesudahnya. Hal ini menunjukkan seolah-olah penga-
ruh DEC tsb. pada cacing dewasa hanya sedikit, dan mungkin
pengaruhnya terutama pada larvanya sehingga menghambat
terjadinya reinfeksi.
( Catatan : 0,5<
p 1
bin < 0,75 dan 0,0
1<
p 6
bin < 0,025,
sedangkan untuk daerah pembanding p> 0,99 ).
83
Cermin Du nia Kedokteran Nomor Khusus 1980
background image
Menurut F Hawking (4) pengaruh DEC dapat dibagi 2 yaitu
pengaruh pada meuromuscular system karena adanya pipera-
zine -ring pada molekul DEC tsb, dan pengaruh pada selubung
larva/microfilaria.
Pengaruh pertama mengakibatkan cacing dewasa tidak dapat
mempertahankan diri didalam rongga usus, akibatnya keluar
bersama tinja. Atau kalau pada larva/microfilaria, larva akan
tidak dapat bergerak dengan bebas sehingga mudah terperang-
kap dalam organ-organ tertentu dan kemudian akan dihan-
curkan oleh organ tsb.
Sedangkan pengaruh kedua menyebabkan selubung larva rusak
sehingga larva cacing akan "exposed" pada antibody, sehingga
akan terbentuk antigenantibody complex yang akan
"
meng-
undang
"
phagocyte dan kemudian antigen tersebut akan di-
hancurkan.
Keterangan dari F. Hawking diduga yang menjadi latar bela-
kang dari pengaruh DEC pada
A.
lumbricoides diatas, dimana
DEC menghambat terjadinya reinfeksi sehingga 6 bulan
kemudian hanya tinggal cacing
yang "tua" disamping jumlah
cacing dewasa didalam tubuh yang sudah berkurang, dan
menyebabkan
produksi
telor
juga
berkurang/menurun.
Pada
T. trichiura
dan cacing tambang penurunan prevalensi
dan EPG sudah terlihat I bulan sesudah pengobatan.
( Catatan : untuk T. trichiura 0,25<p
1 bln
< 0,5 dan cacing
tambang 0,1<
p 1 bln<
0,25 sedangkan P control > 0,25 ).
Hal tsb. mungkin disebabkan oleh karena kedua macam
cacing diatas hidupnya menempel pada dinding usus/mengisap
darah hospes, sehingga dapat langsung terkena DEC yang
telah diserap oleh badan.
Seperti telah diketahui (3) bahwa DEC langsung diserap,
sebagian dimetabolisasi dan sebagian langsung
dikeluarkan
bersama urin dsb.
Enam bulan sesudah pengobatan prevalensi dan EPG
T. tric-
hiura
masih turun sedangkan pada cacing tambang meskipun
prevalensi sedikit naik, EPG juga turun.
Dari hasil diatas seolah-olah pengaruh DEC tsb. berlangsung
lama, atau dengan lain perkataan bahwa DEC atau metabolites
dari DEC tsb. ada di dalam badan selama beberapa bulan,
mengingat bahwa stadium larva dari cacing-cacing di atas
hanya ± 1 - 2 minggu (4).
Tabel 3
Prevalensi dan EPG dari A. lumbricoides, T. trichiura dan cacing tambang di Tanah Intan II dan Sungai Baru sebelum dan se-
sudah pengobatan dengan DEC
PREVALENSI (EPG)
Tanah Intan II (diobati DEC)
Sungai Baru (tidak diobati)
PARASIT
Sebelum
pengobatan
1 bulan sesudah
pengobatan
6 bulan sesudah
pengobatan
Sebelum
pengobatan
1 bulan sesudah
pengobatan
6 bulan sesudah
pengobatan
A.lumbricoides
67
63
51
85
86
67
(17.856)
(I8.500)
(7.69I )
(23.525)
(24.022)
(23.450)
T. trichiura
4
1
34
24
79
81
67
(780)
(250)
(
124)
(634)
(1.I35)
(762)
Cacing
63
49
71
84
76
77
tambang
(
1.001)
(700)
(336)
(561)
(706)
( 1.507)
Tabel 4
Prevalensi dan EPG dari Cacing usus didesa Pengiuran (diobati mebendazole saja) dan didesa Tanah Intan I (diobati meben -
dazole + DEC).
PREVALENSI (EPG)
DESA PENGIURAN
DESA TANAH INTAN I
PARASIT
Sebelum
pengobatan
1 bulan sesudah
pengobatan
6 bulan sesudah
pengobatan
Sebelum
pengobatan
1 bulan sesudah
pengobatan
6 bulan sesudah
pengobatan
A. lumbricoides
90
1 8
17
76
6
6
(1 2.875)
(414)
(252)
(16.241)
(3.319)
(203)
T. trichiura
86
14
3
43
3
1
(924)
(57)
(3)
(141)
(3)
(2)
Cacing
84
4
6
42
13
7
tambang
(739)
(11)
(18)
(1 87)
(28)
(11)
Simposium Masalah Penyakit Parasit
84
background image
Penurunan prevalensi
A.
lumbricoides, T. trichiura dan cacing
tambang didesa I, I bulan sesudah pengobatan ialah 80%, 84%
dan 95%.
Sedangkan didesa III adalah 92%, 93% dan 69%.
Ternyata hasil ini mendukung adanya pengaruh
DEC pada
A.
lumbricoides dan
T.
trichiura.
Hal ini juga terlihat 6 bulan sesudah pengobatan.
KESIMPULAN
Pengobatan cacing usus dengan menggunakan mebendazole
memberikan hasil yang bagus.
Tetapi pemberian mebendazole ke II, 3 bulan sesudah
Mebendazole I tidak memberikan hasil seperti yang diharap-
kan karena adanya reinfeksi terutama pada
A.
lumbricoides
dan mungkin pada cacing tambang.
Untuk daerah dengan keadaan lingkungan seperti daerah
penelitian diatas, mungkin pemberian mebendazole-ulang
dapat diundurkan, sehingga cacing yang masih dalam
stadiun larva ("hasil" reinfeksi) sudah menjadi dewasa
pada saat mebendazole II diberikan. Dengan demikian
frekwensi pemberian mebendazole pertahun dapat diku-
rangi tanpa menurunkan efektifitas pengobatan masal tsb.
Dari hasil penelitian diatas ternyata bahwa DEC mem-
punyai pengaruh terhadap
A.
lumbricoides, T. trichiura dan
cacing tambang.
UCAPAN TERIMA KASIH
Kami mengucapkan terima kasih kepada Dr. Iskak Koiman yang
telah memberi kesempatan kepada kami sehingga penelitian ini dapat
terlaksana. Juga kepada Dr. Fauzi Darwis dengan staff yang telah --
membantu kami dalam melakukan penelitian ini.
Dan tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada semua tehnisi
dari Puslit Biomedis dan Namru-2 Jakarta.
KEPUSTAKAAN
I.Alisah SN Abidin : Kemajuan dalam pengobatan cacing yang ditular-
kan malalui tanah. Simposium masalah cacing usus di Indonesia dan
pengobatannya, April 1980.
2.Craig Faust s. Clinical Parasitology. 8ed. Taiwan, 1971; 273 ­ 338.
3.Goodman LL, Gilman A. The pharmacological basis of therapeutics,
2nd ed. I955, hal 1145.
4.Hawking F. DEC and new compounds for the treatment of filariasis.
Advances in phazmacology, 1979, vol. I6 hal 130 (I979).
Penggunaan Latrin Kering di Masyarakat
dalam Usaha Pencegahan lnfeksi Cacing
Usus
Tonny Sadjimin , Soesanto Tjokrosonto
Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran UGM,
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM.
Tanpa melupakan kemajuan ilmu kedokteran yang pesat
dalam beberapa dasawarsa ini, penyakit parasit masih me-
nyebabkan penderitaan lebih dari ratusan juta manusia,
kematian yang tinggi dan penekanan terhadap keadaan eko-
nomi dari masyarakat di negara sedang berkembang.
Keadaan ini banyak disebabkan oleh kemampuan yang
minimal dalam mengontrol penyakit. Yang dihadapi bukan
saja agent dan host yang sudah ada, tetapi juga oleh karena
adanya pembangunan yang dibuat oleh manusia itu sendiri.
Malaria dan schistosomiasis merupakan contoh dari masa-
lah kesehatan masyarakat yang besar di bumi ini, yang ekologi-
nya banyak dibantu oleh pengadaan irigasi dan_waduk. Infes-
tasi dari parasit saluran pencernaan merupakan masalah di ne-
gara sedang berkembang yang sudah berabad mencekam kese-
jahteraan umat. Sifat epidemiologi dari masing-masing parasit
sudah dikenal secara mendalam, latihan-latihan dan pendidik-
an mengenai parasit sudah secara luas dilaksanakan.
Berbagai macam usaha dalam mempengaruhi ekologi cacing
usus sudah diselidiki serta didiskusikan dan dilaksanakan. Te-
tapi masalahnya masih di sana saja. Suatu pemutusan siklus
epidemiologi dari penyakit menular jelas merupakan langkah
yang ampuh dalam mengatasinya. Misalnya pemberian imuni-
sasi terhadap manusia yang masih rentan terhadap suatu pe-
nyakit secara pasti menurunkan angka kesakitan dan kematian
dari manusia (I). Tindakan Snow dalam membantu menghen-
tikan wabah cholera pada tahun 1955 merupakan uraian pasti
mengenai metoda pengontrolan ( 2).
Pencegahan terhadap timbulnya investasi parasit usus
hanyalah mencegah jangan sampai ada kontak langsung mau-
pun tidak langsung antara faeces dan mulut atau tempayak
dan kulit. Pencegahan terhadap infeksi cacing dengan transmi-
si melalui tanah sampai kini masih memberikan hasil yang
lebih kecil dibandingkan lain macam tindakan pencegahan.
Untuk menjadikan masalah cacing usus ini tidak berarti,
negara-negara
yang
sudah maju melaksanakan pemecahan
masalah dengan berbagai macam tindakan yang dilaksanakan
serentak : pengobatan, sanitasi, lingkungan yang baik, per-
undangan kesehatan, pendidikan kesehatan yang meluas dan
peningkatan nilai kehidupan.
Ada tiga tindakan ntama yang dapat diketengahkan dalam
mengatasi masalah cacing perut (3) :
1. Pendidikan masyarakat mengenai kesehatan
2. Pembuangan faeces manusia secara sehat
3. Pengobatan massal
Usaha peningkatan kesehatan masyarakat akan berhasil opti-
mal kalau usaha tersebut sudah merupakan kegiatan yang
diinginkan oleh masyarakat. Pendidikan kesehatan bertujuan
untuk mencapai hal tersebut, dengan memberikan pengertian
kepada masyarakat bahwa higiene dan kebiasaan hidup yang
mendasar dan penting dapat mengatasi atau bahkan meng-
hilangkan beberapa penyakit yang merugikan.
Pendidikan yang terus menerus dan mengarah merupakan
tindakan dasar yang selalu harus diperhatikan (4).
Ehlers dan Steel (5) menyebutkan beberapa kriteria dalam
pengelolaan faeces manusia :
1. Tanah permukaan jangan sampai terkontaminasi
2. Air tanah jangan sampai terkontaminasi oleh karena
dapat mempengaruhi air sumur dan/mata air.
3. Air permukaan jangan terkontaminasi
4. Faeces jangan sampai dicapai oleh vektor, lalat atau
binatang lain, sehingga dapat dilanjutkan kepada ma-
nusia.
5. Jangan sampai faeces segar diproses dengan tangan
secara langsung.
8 5
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980