Peranan Rehabilitasi Medik
dalam Menurunkan
L
ama Hari Rawat (LOS)
Dr. Gerry Heryati DSRM
Unit Pelayanan Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta
PENDAHULUAN
Lama hari rawat (LOS) merupakan salah satu unsur atau
aspek asuhan dan pelayanan di rumah sakit yang dapat dinilai/
diukur. Bila seseorang dirawat di rumah sakit, maka yang diha-
rapkan tentunya ada perubahan akan derajat kesehatannya. Bila
yang diharapkan baik oleh dokter maupun oleh penderita itu
sudah tercapai maka tentunya tidak ada seorang pun yang ingin
berlama-lama di rumah sakit.
Outcome atau hasil akhir kegiatan dan tindakan dokter dan
tenaga profesi lainnya terhadap pasien, dalam arti derajat kese-
hatan dan kepuasannya, termasuk juga aspek psikologis dan
sosialnya adalah petunjuk efektif tidaknya proses kegiatan pro-
fesional di rumah sakit.
Rehabilitasi Medik adalah salah satu upaya kesehatan guna
memulihkan fungsi-fungsi tubuh kembali seperti semula se-
hingga seseorang dapat hidup produktif atau lebih produktif.
Upaya ini sudah dikenal lama dalam institusi kesehatan, tetapi
kurang diberi prioritas karena terutama di negara-negara ber-
kembang, masih banyak masalah penting lainnya yang memer-
lukan perhatian yang lebih banyak. Dengan semakin
meningkatnya keinginan untuk memperoleh mutu hidup yang
lebih baik, upaya rehabilitasi menjadi lebih penting.
Rehabilitasi medik pada masa lalu baru dilaksanakan pada
tahap terakhir untuk menanggulangi kecacatan. Pada saat ini
falsafah rehabilitasi telah berubah sehingga
memungkinkan upaya
rehabilitasi dilakukan lebih dini dan intensif, karena tujuannya
untuk mencegah terjadinya kecacatan. Dengan demikian maka
penderita penyakit yang sejak semula sudah diketahui
kemungkinan bisa menjadi cacat, sudah mempunyai sarana untuk
mencegah kecacatannya.
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21- 25 November 1993.
Menurut WHO prevalensi kecacatan di negara maju cukup
besar yaitu sebesar 10 % dan di negara berkembang kurang
lebih 7-10%. Menurut UNICEF diperkirakan 1 di antara 10
kelahiran hidup menderita kecacatan atau kelainan bawaan atau
kira-kira 285.000 orang pertambahan penderitacacat atau ke-
lainan bawaan per tahun di Indonesia. Prevalensi kecacatan di
Indonesia di masa mendatang diperkirakan cenderung mening-
kat karena meningkatnya umur harapan hidup bangsa Indonesia,
menurunnya angka kematian kasar serta angka kematian bayi
dan anak, meningkatnya status gizi, kemajuan teknologi pela-
yanan kesehatan serta bertambah baiknya standar kehidupan.
Prevalensi tersebut menjadi lebih besar pula karena terjadi per-
geseran pola penyakit dari akibat kecelakaan karena majunya
industri dan transportasi.
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk menggambarkan
keadaan penderita yang dirawat di rumah sakit untuk waktu lama
dengan kemungkinan menjadi cacat dan sejauh maim peran
rehabilitasi medik dengan sarananya dapat memulangkan pasien
secara cepat untuk efisiensi rumah sakit serta memberi kesem-
patan bagi mereka untuk berobat jalan.
FAKTA DAN HARAPAN
Rehabilitasi Medik di rumah sakit, terutama di rumah sakit
swasta sampai saat ini masih belum merupakan prioritas. Hal ini
disebabkan karena pengertian rehabilitasi medik yang masih
belum merata antara lain karcna Rehabilitasi Medik belum
secaran formal diajarkan Fakultas Kedokteran dan prinsip-prin-
sip yang menjadi dasar perencanaan program Rehabilitasi Medik
di rumah sakit masih belum dilaksanakan secara optimal, se-
hingga sampai saat ini rehabilitasi medik masih sering diiden-
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
97
tikkan dengan fisioterapi.
Di Rumah Sakit Pendidikan pelayanan rehabilitasi medik
sudah lebih memadai karena tersedianya sarana dan tenaga ahli
yang lebih lengkap. Di antaranya di Rumah Sakit Fatmawati
yang dapat memberikan pelayanan rujukan rehabilitasi medik
dan juga merupakan tempat pendidikan dan penelitian serta
pengembangan di bidang rehabilitasi medik.
Meskipun demikian, rujukan yang dilakukan sering terlam-
bat, sehingga yang dirujuk ke Rehabilitasi Medik adalah kasus-
kasus yang sudah mempunyai kecacatan yang menetap. Kurang
lebih 70% pasien yang dirawat di Unit Pelayanan Rehabilitasi
Medik Rumah Sakit Fatmawati, merupakan pasien rujukan dari
rumah sakit lain dengan kompikasi akibat perawatan yang lama
(dekubitus, kontraktur, deconditioning syndrome ) (100%) Untuk
kasus-kasus ringan memang cukup diberikan rehabilitasi seder-
hana misalnya dengan fisioterapi saja, tetapi untuk kasus-kasus
yang sejak awal sudah diperkirakan akan menimbulkan keca-
catan (misalnya spinal cord injury, stroke, muscular dystrophy
dan lain-lain), maka tidak cukup dilakukan rehabilitasi seder-
hana.
PRINSIP DAN CARA KERJA
Nickel(1) mengemukakan bahwa terdapat dua prinsip yang
menjadi dasar perencanaan program rehabilitasi medik. Per-
tama, memperkecil sebanyak-banyaknya cacat sisa (sequelae)
yang ditinggalkan baik oleh trauma maupun penyakit. Kedua,
komplikasi yang dapat dicegah (preventable) harus dicegah.
Bila komplikasi itu terjadi, harus ditindak secara agresif.
Apabila dasar-dasar ini dilaksanakan, maka berarti pe-
laksanaan teknik rehabilitasi medik yang baik telah dijalankan
untuk memperoleh efek yang maksimal dalam menurunkan
LOS. Diharapkan rehabilitasi medik dapat diintegrasikan sejak
dini dalam proses kuratif, sehingga perhatian terhadap keadaan
patologi dan perhatian terhadap keadaan fungsi dapat dilaksanakan
secara simultan dengan demikian akibat-akibat buruk yang
disebabkan oleh immobilisasi lama dapat dicegah.
Lebih jelas lagi dikemukakan bahwa Rehabilitasi Medik
merupakan program pengobatan yang dirancang untuk mem-
perkecil konsekuensi cacat yang tetap atau ketidakmampuan
yang berkepanjangan. Rehabilitasi medik berada pada tempat
yang berbeda dengan pengobatan medik yang lazim (Standard
medical care ) . Perbedaan ini terletak pada beberapa hal yaitu
mulai dari orientasi masalah : pengobatan secara medik ber-
orientasi pada penyakit, dengan asumsi bahwa fungsi akan
kembali dengan sendirinya. Peran dokter juga berbeda; pada
pengobatan medis dokter berperan sebagai pelaksana terapi yang
aktif mulai dari pemeriksaan awal, menentukan pemeriksaan
lanjutan, membuat diagnosis dan memberikan terapi. Dalam
rehabilitasi medik, dokter lebih berperan sebagai koordinator
dan fasilitator program dengan tidak melepaskan fungsinya
sebagai dokter sesuai dengan pengetahuan medisnya.
Dalam pengobatan medis, peran pasien lebih pasif sedangkan
dalam rehabilitasi pasien harus berperan aktif. Pada rehabilitasi
medik komprehensif diperlukan suatu program multidisipiner
dan perlu kerja sama yang baik antara dokter/dokter rehabilitasi
medik, dengan allied health profesionals yang terkait (fisiote-
rapis, terapis okupasi, terapis wicara, psikolog, pekerja sosial
medik, ortotisprostetis dan perawat rehabilitasi medik).
Dalam pengobatan medis tidak terdapat tim secara formal
sedangkan dalam rehabilitasi medikpekerjaan selalu dilaksanakan
oleh tim secara bersama-sama. Tujuan pengobatan juga berbeda,
pada pengobatan secara medis, tujuan terapi adalah mengobati
penyakitnya, sedangkan pada rehabilitasi medik, tujuan terapi
adalah untuk mengatasi ketidakmampuan yang diakibatkan oleh
penyakit.
Pada prinsipnya peran rehabilitasi medik di ruang -ruang
perawatan suatu rumah sakit merupakan suatu "total care".
Dengan penguasaan dan pelaksanaan rehabilitasi medik yang
baik, komplikasi yang mudah timbul pada perawatan, khususnya
pada penderita yang memerlukan imobillisasi lama, dapat
dihindari. Teknik perawatan penderita juga perlu diperhatikan.
Di Unit Pelayanan Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Fat-
mawati rehabilitasi medik dilaksanakan secara terpadu selama
24 jam. Perawatan dilaksanakan oleh perawat rehabilitasi medik
dengan pengawasan seorang perawat rehabilitasi medik senior.
(Medical Rehabilitation Nurse). Adanya pembina rawat reha-
bilitasi medik tersebut perlu untuk rumah sakit besar untuk efek-
tifitas rumah sakit sehingga dapat decegah komplikasi akibat
rawaat baring yang lama dan LOS dapat diturunkan.
Cara kerja rehabilitasi medik adalah secara tim. Sebelum
penderita mendapat pelayanan rehabilitasi medik, penderita harus
diperiksa oleh dokter. Apakah dokter tersebut seorang spesialis
rehabilitasi medik atau bukan, tergantung dari situasi dan kondisi
setempat, yang penting dokter tersebut mengerti mengenai prisip
rehabilitasi medik. Dokter akan menentukan apakah penderita
ini merupakan kandidat rehabilitasi yang tepat. Pengetahuan
tentang pasien apa yang merupakan kandidat rehabilitaadsi medik
juga diperlukan oleh semua dokter karena tidak semua proses
reha
bilitasi komprehensif relevan dan efektif untuk setiap pasien.
Dokter sebagai team leader akan memeriksa dan menentukan
masalah yang ada pada penderita, kemudian masalah ini akan
dievaluasi lebih lanjut oleh allied health profesionals yang
terkait (Perawat/Fisioterapis/Terapis okupasi /Terapis wicaral
psikolog/ortotis-prostetis/petugas sosial medik). Pemilihan al-
lied health profesionals yang terkait dalam menangani masalah
juga memerlukan pengetahuan akan rehabilitasi medik yang
memadai. Hal ini untuk mencegah over utilization sarana
rumah sakit.
Setelah evaluasi, maka ditentukan goal /target/tujuan re-
habilitasi. Goal ini ada tiga, yaitu goal pasien sendiri, goal dokter
dan goal terapis. Goal ini disusun secara rinci menurut prioritas.
Setelah itu baru ditentukan program rehabilitasi yang akan dilak-
sanakan. Kesepakatan ini dibicarakan dalam suatu team meeting
yang dilakukan secara teratur baik formal maupun non formal.
Untuk quality control, maka dokter akan melakukan reas-
sessment/pemeriksaan kembali, apakah goal yang telah disepakati
telah tercapai, bila perlu ditingkatkan lagi. Adakalanya goal
tidak tercapai, mungkin karena goal yang ditentukan kurang
tepat, atau kondisi pasien berubah atau kesalahan pemilihan
program, maka perlu dilakukan evaluasi ulang untuk menen-
98
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
tukan program yang baru.
Di Amerika pelayanan rehabilitasi medik sudah Iebih maju.
Demi meningkatkan hasil akhir, menurunkan cost dan me-
nurunkan LOS, beberapa rumah sakit telah menggunakan criti-
cal
pathways untuk program rehabilitasi medik. Dengan critical
pathways ini semua rencana dari mulai penderita dirawat sampai
discharge plan telah ditentukan sejak awal. Dari penelitian di
Amerika ternyata rehabilitasi medik akan lebih efektif untuk
efisiensi rumah sakit apabiladiintegrasikan dengan proses kuratif
sejak awal, dengan demikian perhatian terhadap kedaan patologi
dan fungsi dapat dilakukan secara simultan dan akibat-akibat
buruk yang disebabkan karena imobilisasi lama dapat dicegah,
sehingga LOS dapat diturunkan.
PENUTUP
Dengan melaksanakan prisip-prinsip rehabilitasi medik di
ruang perawatan rumah sakit maka kita akan dapat meningkatkan
efisiensi rumah sakit di antaranya dengan menurunkan lama hari
rawat (LOS). Untuk ini diperlukan pengetahuan tentang re-
habilitasi medik yang memadai agar rehabilitasi medik dapat
sedini mungkin dilaksanakan sejak penderita masuk rumah sakit.
KEPUSTAKAAN
1.
Halstead LS. Philosophy of Rehabilitation Medicine. In: Medical
Rehabilitation, Raven Press, New York, I985,p I -5
.
2. Halstead L.S., Grabois M. Rehabilitation Specialists.In : Medical Rehabilita-
tion, New York, Raven Press: 1985, p7- I I
3. Delisa JA et al. Rehabilitation Medicine: Past, Present, and Future. In :
Rehabilitation Medicine : principles and practice, Philadelphia: J.B. Lippin-
cott, 1988; p3 - 23
.
4. Curie DM, Marburger RA. Writing Therapy Referrals and Treatment Plans
and Interdisciplinary Team. In: Rehabilition Medicine : Principles and
practice, Philadelphia: JB Lippincott, 1988; p.I45-157
.
5. Critical pathway: Road maps to improve outcomes, reduce length-of stay
.
In : Hospital Rehab (October) 1993; z (I )
.
6. Jacobalis HS. Program menjaga mutu (QA) Rumah Sakit. Kursus Quality
Assurance Rumah Sakit, Pasca Kongres Persi 1990
.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
9 9