background image
Penyakit Kardiovaskuler dan Penanganannya
Pencegahan dan
Penanggulangan Penyakit
Jantung Koroner di Indonesia
H.A. Adin St Bagindo DTM H
Divisi Kardiologi Bagian/UPF llmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Pembangunan kesehatan bertujuan agar setiap penduduk
mampu untuk hidup sehat sehingga dapat mewujudkan derajat
kesehatan masyarakat yang optimal.
Tinggi atau rendahnya derajat kesehatan masyarakat secara
garis besar dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan, perilaku
dan kebiasaan hidup, tersedianya upaya pelayanan dan bawaan
biologik. Yang besar pengaruhnya adalah faktor lingkungan dan
perilaku serta kebiasaan hidup masyarakat. Di Indonesia pe-
ningkatan laju pembangunan termasuk meningkatnya pula upaya
kesehatan telah menimbulkan dampak di berbagai bidang, baik
yang positif maupun yang negatif, seperti perubahan pola pe-
nyakit dan lain-lain.
Pada masa mendatang Indonesia akan beralih dari negara
agraris menjadi negara industri dengan segala konsekuensi pe-
rubahan gaya hidup dan lingkungan. Transisi demografi saat ini
sedang berlangsung, demikian pula transformasi kesehatan
lingkungan dan semua ini dikenal sebagai masalah kesehatan
baru. Angka harapan hidup yang saat ini mencapai 64 tahun
cenderung semakin meningkat, pola penyakit menjadi cam-
puran, dominasi penyakit-penyakit menular dan infeksi mulai
digeser oleh penyakit-penyakit degeneratif termasuk penyakit
jantung koroner. Untuk mengantisipasi hal tersebut dewasa ini
sedang berkembang Gerakan Kesehatan Masyarakat Baru (New
Public Health Movement)
yang lebih mengutamakan upaya
promotif dan preventif secara aktif bagi ± 85% kelompok masya-
rakat yang majoritas dinyatakan sehat tetapi sebenarnya belum
tentu sehat.
Penyakit Jantung Koroner umumnya bersifat menahun dan
banyak mengenai kelompok usia produktif. Survai Kesehatan
Rumah Tangga pada tahun 1986 menunjukkan bahwa penyakit
jantung merupakan penyebab kematian ke tiga terbesar (9,7%)
sesudah radang akut saluran nafas bagian bawah dan diare,
sedangkan pada tahun 1972 masih berada di urutan ke-11.
Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya ke-
mampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk agar dapat
mewujudkan derajat kesehatan masyarakat yang optimal sebagai
salah satu unsur kesejahteraan umum dari tujuan nasional. Untuk
mencapai tujuan ini, upaya kesehatan dilaksanakan melalui
pendekatan promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif. Upaya
kuratif untuk penyakit jantung koroner memerlukan teknologi
tinggi serta biaya mahal, yang akan sulit dipikul secara nasional;
oleh karena itu upaya preventif dan promotifnya perlu lebih
mendapatkan perhatian.
Penyakit jantung yang utama adalah Penyakit Jantung
Koroner (PJK) yang patologinya didasarkan pads proses
aterosklerosis (pengerasan dan penebalan dinding pembuluh
darah) yang dilatar belakangi oleh berbagai faktor risiko.
Yang terpenting di antara faktor risiko yang dapat dimodi-
fikasi adalah kebiasaan merokok, kelebihan kolesterol, tekanan
darah tinggi, diabetes mellitus, obesitas, kurang olahraga, dan
stres. Semua faktor risiko ini erat kaitannya dengan gaya, ke-
biasaan dan lingkungan hidup seseorang.
Hipertensi
mencapai angka kejadian 11­25% pada usia
45­54 tahun dan meningkat bersamaan dengan bertambahnya
umur. Penyakit ini sangat erat kaitannya dengan konsumsi garam
dalam makanan. Untuk memecahkan masalah yang sudah nyata
ini serta menghadapi tantangan pada waktu yang akan datang,
perlu dikenali dulu macam ragam masalahnya dan disusun pokok-
pokok pencegahan dan penanggulangan yang tepat guna.
MASALAH
Pola umum pencegahan dan penanggulangan masalah Pe-
nyakit Jantung Koroner harus bertitik tolak dari analisis faktor-
faktor yang mempengaruhi, di antaranya :
72
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
background image
1.
Masalah Kependudukan
Saat ini sedang terjadi perubahan struktur kependudukan,
angka kematian sudah menurun mendekati keadaan di negara-
negara maju, angka kelahiran telah berhasil diturunkan secara
konsisten mengarah ke keadaan negara maju.
Dengan menurunnya angka kematian, umur harapan hidup
meningkat, telah mencapai 64 tahun saat ini. Kemajuan di bidang
kesehatan mengakibatkan proporsi dan jumlah penduduk yang
mencapai usia tua akan meningkat; pada tahun 2000 nanti
diperkirakan akan terdapat kurang lebih 16 juta penduduk usia
lanjut, dan golongan usia ini banyak mempunyai penyakit dege-
neratif atau menahun, termasuk penyakit jantung koroner.
Dengan keberhasilan program KB proporsi penduduk usia
anak di bawah 15 tahun akan menurun dan penduduk usia kerja
produktif akan meningkat sejalan dengan kemajuan pembangun-
an industri yang diikuti pula dengan arus urbanisasi yang
meningkat; maka proporsi penduduk yang tinggal di perkotaan
akan meningkat pula mencapai 40% pada tahun 2000. Penduduk
perkotaan ini cenderung mengikuti pola hidup negara maju yang
rentan terhadap penyakit jantung koroner.
2.
Masalah Penyakit
Keberhasilan pembangunan, modernisasi pada umumnya
dan keberhasilan pemberantasan penyakit menular pada
khususnya menyebabkan timbulnya perubahan pola penyakit.
Dalam jangka waktu hampir 10 tahun terakhir penyakit-
penyakit kardiovaskular menempati urutan ke tiga sebagai pe-
nyebab kematian, sedangkan pada tahun 1972 adalah 1,11%
(urutan ke-11). Proporsi kekerapan penyakit jantung juga
meningkatkan dari 5,2% menjadi 6,3% pads SKRT 1986 (urutan
ke-8). Secara singkat angka-angka beberapa penyakit kardio-
vaskular (dikutip dari Simposium Penyakit Kardiovaskular ba-
dan Litbangkes 1981) adalah sebagai berikut :
a)
Angka kematian rata-rata penyakit jantung koroner untuk
golongan umur 40-45 tahun adalah 4 per 1000/tahun, golongan
umur 55-64 tahun 10 per 1000/tahun dan untuk golongan 65
tahun ke atas sebesar 20/1000. SKRT 1986 menunjukkan bahwa
penyakit jantung menempati urutan ke tiga (9,9%) pada go-
longan usia 15-54 tahun, urutan pertama (24,1%) pad golongan
usia di atas 45 tahun.
Pengalaman di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita me-
nunjukkan bahwa Penyakit Jantung Koroner (PJK) semakin
banyak mengenai golongan usia yang lebih muda. Di perusa-
haan-perusahaan perminyakan PJK juga dilaporkan semakin
meningkat.
b)
Angka kejadian hipertensi dalam masyarakat berdasarkan
berbagai survai berkisar antara 5-15% dan hanya 25% dari
penderita di perkotaan yang mendapat pengobatan. Pada go-
longan umur 45-54 tahun angka kejadiannya sebesar 11-25%
dan meningkat dengan pertambahan umur.
3. Masalah Perilaku dan Peran Serta Masyarakat
Penyakit Jantung Koroner sangat erat kaitannya dengan
perilaku dan kebiasaan masyarakat. Modernisasi telah me-
nyebabkan lapisan tertentu masyarakat menempuh gaya hidup
dengan ciri-ciri
sedentary living,
pola makan yang berlebihan
lemak,
refined carbohydrates,
kebiasaan merokok yang kuat
serta kesibukan sehari-hari yang ketat, terikat waktu dan terburu-
buru sehingga memacu terjadinya penyakit jantung koroner lebih
dini. Pola hidup yang tegang dan konsumsi garam juga memacu
terjadinya hipertensi.
Khusus tentang merokok, penelitian di RS Jantung Harapan
Kita menemukan bahwa pada pria penderita serangan jantung
mendadak faktor risiko utamanya adalah merokok, yaitu 66-70%.
Data dari berbagai penelitian di Indonesia menunjukkan variasi
persentase perokok pada pria antara 40-98% dan pada wanita
antara 2-10%. Kebiasaan merokok pada kelompok remaja di
Jakarta adalah 49% pada pelajar pria dan 8,8% pada pelajar
wanita. Kebiasaan merokok pada petugas kesehatan juga cukup
tinggi. Sebagian terbesar masyarakat yang tidak merokok tidak
berani menegur orang didekatnya.
Yang menggembirakan, dalam dasawarsa 1980, peran serta
masyarakat yang dipelopori oleh Yayasan Jantung Indonesia
semakin meningkat. Upaya promotif, preventif dan rehabilitatif
diwujudkan melalui Klub Jantung Sehat dan kelompok Panutan
Tidak Merokok. Dalam tahun 1991 Departemen Kesehatan juga
telah
mewajibkan pencantuman peringatan bahaya merokok
pada kemasan rokok dan di fasilitas-fasilitas Departemen Ke-
sehatan.
Disadari bahwa perubahan gaya hidup bukan suatu hal yang
mudah dilakukan karena banyak hambatan dan kendalanya.
Khususnya dalam hal merokok, pemerintah sendiri masih mem-
punyai kepentingan karena pemasukan yang sangat besar dari
pajak dan cukai tembakau. Sebaliknya dari segi makanan dan
ketenangan hidup, masih banyak pola makanan etnik dan ke-
biasaan hidup di Indonesia yang cukup sehat ditinjau dari penya-
kit jantung.
4.
Masalah Pendidikan
Meskipun jumlah penduduk yang mampu membaca dan
menulis sudah jauh meningkat, namun informasi yang benar
mengenai penyakit jantung masih sangat terbatas diketahui
masyarakat, khususnya mengenai faktor-faktor risikonya.
Pendidikan formal dan pendidikan keluarga yang merupa-
kan wahana untuk mempersiapkan generasi penerus yang dapat
diandalkan dari segi kecerdasan dan fisik saat ini cenderung
dipengaruhi pula oleh perubahan-perubahan gaya hidup yang
diperoleh akibat globalisasi informasi melalui media massa.
Pendidikan olah raga di sekolah-sekolah kurang menekankan
praktek fisik untuk menjadikan ini suatu kebiasaan hidup sejak
dini.
Hal ini terkait pula dengan kurikulum pendidikan secara
keseluruhan dan sangat terbatasnya sarana untuk berlatih olah-
raga dengan baik. Kelangkaan bibit-bibit dengan keadaan fisik
yang baik juga sangat dirasakan dalam rekrutmen calon-calon
Akademi Angkatan Bersenjata.
Penurunan kondisi fisik pada sebagian anak-anak dan re-
maja akan lebih diperburuk lagi dengan penurunan kualitas gizi
akibat kebiasaan menikmati makanan layanan cepat dan men-
coba mencari jatidiri dengan meniru orang Barat dalam ke-
biasaan merokok dan minum alkohol.
Kemampuan tenaga kesehatan untuk menangani penyakit
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80,
1992
73
background image
jantung koroner secara khusus masih kurang memadai.
5.
Masalah Lingkungan
Lingkungan hidup masyarakat Indonesia tidak terlepas dari
kondisi sosial, ekonomi dan budaya bangsa Indonesia yang ber-
ada dalam masa transisi dari masyarakat agraris, tradisional dan
berbelakang menuju masyarakat industri, modern dan maju. Di
satu pihak lingkungan hidup mencerminkan keterbelakangan
dengan kepadatan penduduk yang berlebihan, sanitasi lingkungan
yang tidak memadai dan sarana kesehatan yang belum men-
cukupi; di lain pihak tercermin budaya hidup barat, pencemaran
industri dan urbanisasi dengan
urban slumnya
terutama di kota-
kota besar. Kondisi geografis Indonesia berupa kepulauan me-
rupakan tantangan dan hambatan untuk pelayanan yang me-
madai, meskipun perkembangan bidang telekomunikasi dan
informasi telah menyebabkan globalisasi informasi termasuk
yang membantu perubahan gaya hidup ke arah yang negatif.
6.
Masalah Upaya Pelayanan
Upaya pelayanan khusus PJK yang terprogram secara na-
sional belum ada. Kegiatan pelayanan yang ada saat ini umum-
nya belum mencakup bidang promotif, preventif, kuratif dan
rehabilitasi secara menyeluruh. Dalam bidang penyakit jantung
pelayanan masih berorientasi kuratif. Pelayanan spesialistik
dengan dukungan sarana yang memadai hanya terdapat di Ru-
mah Sakit Jantung Harapan Kita, pada Rumah Sakit tipe A
(RSCM dan Rumah Sakit Dr. Soetomo) dan beberapa Rumah
Sakit kelas B. Di sebagian terbesar Rumah Sakit kelas B dan C
pelayanan untuk penyakit jantung koroner pada umumnya belum
diselenggarakan secara memadai.
Ilmu pengetahuan dan teknologi kardiovaskular adalah bi-
dang yang sangat banyak mendapat perhatian di negara-negara
maju. Banyak konsep-konsep mutakhir dalam bidang diagnostik
dan pengobatan telah diajukan namun pada umumnya belum ada
teknologi yang secara mendasar dapat menanggulangi penyakit
jantung yang sudah manifes secara tuntas.
Pengobatan untuk hipertensi sudah semakin mudah, namun
masih tetap mahal. Beberapa konsep untuk mengurangi mortali-
tas pada PJK seperti trombolisis, pembedahan pintas koroner dan
PTCA telah luas dipergunakan namun semua ini belum secara
berarti memperpanjang harapan hidup.
Diagnostik penyakit jantung koroner secara invasif (kate-
terisasi jantung) saat ini baru dapat dilakukan secara rutin di
beberapa rumah sakit di Jakarta, dan Surabaya, dan secara
terbatas di Semarang dan Padang. Bedah Jantung secara teratur
baru dapat dilakukan di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, dan
dalam volume lebih kecil di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangun-
kusumo, Jakarta, Rumah Sakit Dr. Soetomo Surabaya dan Ru-
mah Sakit Gatot Subroto, dan secara terbatas di dua Rumah Sakit
Swasta lain. Tindakan invasif (angioplasti dan vulvuloplasti
balon) juga baru dapat dilakukan pada rumah sakit tertentu. Jelas
ini tidak memadai dibandingkan kebutuhan/masalah yang sudah
dikemukakan sehingga daftar tunggu penderita sangat panjang,
bahkan banyak yang berobat ke luar negeri.
Unit koroner intensif pada umumnya sudah terdapat pada
Rumah sakit kelas B dan beberapa Rumah Sakit Swasta. Biaya
74
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
pembedahan dan perawatan di ruang intensif, termasuk biaya
rujukan, masih sangat tinggi. Sebagai contoh biaya operasi
jantung koroner di RS Jantung Harapan Kita rata-rata 15 juta
rupiah per pasien.
7.
Masalah Ketenagaan
Penanggulangan penyakit jantung memerlukan tenaga-te-
naga yang trampil. Di samping terbatasnya tenaga, penyebaran-
nya juga tidak merata. Jumlah dokter spesialis penyakit jantung
dan pembuluh darah, yang saat ini 150 orang, masih sangat se-
dikit dibandingkan besarnya kebutuhan. Jumlah tenaga dokter
spesialis bedah jantung yang aktif baru 8 orang di Jakarta dan
Surabaya; dari mereka ini beserta tenaga pendukungnya dapat
disusu 2-3 tim bedah jantung. Pendidikan dokter spesialis
jantung, dokter bedah jantung dan ahli anestesi jantung masih
sangat sedikit keluarannya; hal ini antara lain karena belum ada
pola dan program penempatan tenaga yang resmi.
Tenaga perawat yang terlatih dalam bidang penyakit jantung
juga masih langka dan pendidikan khusus untuk itu baru ada
secara terbatas di RS Jantung Harapan Kita dan RS Dr. Cipto
Mangunkusumo Jakarta.
Tenaga ahli epidemiologi dan peneliti profesional bidang
kardiovaskular belum ada, demikian juga tenaga ahli yang
mengkhususkan dalam bidang preventif promotif seperti
pendidik kesehatan, ahli kedokteran olahraga, dan lain-lain.
Dengan keadaan yang ada sekarang dan kecenderungan
peningkatan kebutuhannya jelaslah bahwa pengadaan tenaga
tidak akan memadai.
8.
Masalah Pembiayaan
Pembiayaan yang diperlukan untuk pelayanan penyakit
jantung sangat mahal, khususnya bila dilihat dari segi pelayanan
kuratif dan rehabilitatif. Hal ini disebabkan karena ongkos peng-
adaan dan pemeliharaan teknologi yang canggih itu memang
mahal. Biaya pemeriksaan invasif (kateterisasi jantung) berkisar
antara 1-2 juta rupiah perpasien, diagnostik non invasif dengan
ekokardiografi antara 50 ribu sampai 125 ribu rupiah. Ongkos
operasi jantung koroner rata-rata 15 juta rupiah per pasien (di
Amerika Serikat US$ 40.000 dan di Australia Aus $ 25.000).
Pembiayaan ini tidak akan mampu dipikul oleh pemerintah
maupun masyarakat saja. Di RS Jantung Harapan Kita tidak
sampai 10% dari pasien yang sudah menjalani kateterisasi jan-
tung dan mempunyai indikasi operasi yang akhirnya bisa di-
operasi.
Masalah yang terbesar akhirnya adalah biaya.
POKOK-POKOK PENCEGAHAN DAN PENANGGU-
LANGAN MASALAH PENYAKIT JANTUNG KORONER
1.
Pencegahan Primer dan Upaya Promotif
a)
Tujuan :
Pencegahan primer dan upaya promotif bertujuan untuk
mencegah terjadinya proses patologis yang mendasari penyakit
jantung koroner. Pencegahan primer pada penyakit jantung
koroner terutama untuk :
1.
mencegah timbulnya aterosklerosis, dengan cara mem-
berantas faktor-faktor risiko.
background image
2.
mencegah timbulnya hipertensi dengan membatasi kon-
sumsi garam.
b)
Kegiatan-kegiatan yang perlu dijalankan untuk pencegahan
primer, antara lain adalah :
1.
Melakukan pendidikan dan penyuluhan kepada masyarakat
luas mengenai faktor-faktor risiko penyakit jantung koroner.
2.
Meningkatkan pembinaan pola hidup sehat, termasuk di
dalamnya kebersihan perorangan dan lingkungan, tidak me-
rokok, memeriksakan tekanan darah secara teratur, makanan
seimbang, menjaga berat badan ideal, mengendalikan sires dan
olahraga teratur.
3.
Meningkatkan upaya memperbaiki lingkugan hidup.
2.
Pencegahan sekunder dan tersier
a)
Tujuan :
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mencegah timbulnya
serangan ulang atau progresifitas penyakit. Pencegahan tersier
bertujuan untuk mencegah kematian atau cacad.
b)
Kegiatan-kegiatan yang perlu dijalankan :
1.
Pada penyakit jantung koroner :
-
Penggunaan aspirin dan meneruskan penanggulangan faktor
risiko.
­
Menyebarluaskan informasi tentang tanda-tanda serangan
jantung.
­
Memperbanyak orang yang mampu melakukan Bantuan
Hidup
Dasar (Resusitasi).
2.
Pada hipertensi :
­
Penggunaan obat-obatan dan meneruskan penanggulangan
faktor risiko.
3.
Rehabilitasi
a)
Rehabilitasi bertujuan untuk mengembalikan penderita se-
jauh mungkin ke tingkat kualitas hidup yang setinggi-tingginya
yang dapat dicapai.
b)
Rehabilitasi mencakup rehabilitasi fisik/medik, dan psiko-
sosial yang mencakup kemampuan untuk bekerja dan melakukan
kegiatan sosial lainnya.
PENUTUP
Mengingat besar dan luasnya masalah penyakit jantung ini
di Indonesia, maka berhasilnya seluruh upaya pencegahan dan
penanggulangannya sangat ditentukan oleh keikutsertaan seluruh
unsur-unsur terkait, baik jajaran organisasi Departemen Kese-
hatan, lintas sektoral, organisasi-organisasi masyarakat dan badan-
badan internasional.
Upaya pencegahan dan promotif yang berdaya guna yang
dilaksanakan sejak dini, akan dapat mencegah timbulnya pe-
nyakit jantung koroner yang lebih berat dan luas di kalangan
bangsa Indonesia pada waktu mendatang. Dengan demikian
dapat dikurangi penderitaan yang berkelanjutan dan dapat di-
hemat biaya pembangunan nasional.
KEPUSTAKAAN
Materi SeminarNasional Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Kardio-
vaskuler (CVD), WHO-Depkes RI Cisarua ­ Bogor 27 April s/d 1 Mei 1992
sebagai berikut :
1.
Adhyatma. Sambutan Menteri Kesehatan RI pada Pembukaan Seminar
Nasional Pencegahan
dan Penanggulangan Penyakit Kardiovaskuler Ci-
sarua ­ Bogor, 27 April 1992.
2.
Broto
Wasisto.
Kebijaksanaan Pembangunan Jangka Panjang Bidang
Kesehatan dan Implikasinya untuk Pengembangan Progra m Kardio-
vaskuler.
3.
Boedhi Dannojo, R. Setianto B, Sutedjo, Kusmana D, Andradi, Supari F,
Salam R. A Study of baseline risk factors for Coronary Heart Disease :
Results of Population Screening in A Developing Country.
4.
Gani A. Peranan Swasta dalam Pembiayaan Kesehatan.
5. Gyarfas I. Cardiovascular Diseases in Developing and Industrialized
Countries: WHO's CVD Programme.
6.
Hanafiah A. Perkembangan Iptek Kardiovaskuler dan Kecenderungan
Kebutuhan untuk Indonesia.
7.
Kalangie MS. Penyakit Kardiovaskuler, suatu konsekwensi negatif dari
perubahan sosio budaya yang tidak tere ncana.
8.
Rai MK. Pembiayaan Kesehatan di Indonesia dalam berbagai perubahan
kebijaksanaan ekonomi dan moneter.
9.
Rilantono LI. Penyakit Kardiovaskuler dan Kecenderungannya di Indo-
nesia.
10.
Soema S. Pembiayaan Kesehatan melalui Asuransi Kesehatan Penyakit
Kardiovaskular.
11.
Soedarmo SP. Transisi demografi dan Transisi epidemiologi dan dam-
paknya terhadap Penyakit Kardiovaskular.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
75