D
iperkirakan ada 170 juta orang terinfeksi HCV di seluruh
dunia. Pengobatan infeksi HCV saat ini dapat menyebabkan
efek samping dan tidak selalu berhasil. Oleh karena itu, diperlu-
kan pemahaman yang lebih baik mengenai faktor yang terkait
dengan respon terapi HCV.
Para peneliti mengamati dukungan gen manusia terhadap pe-
ngobatan HCV. Sampel penelitian itu melibatkan 1.137 orang
yang terinfeksi HCV genotipe-1 (jenis HCV yang paling sulit
diobati). Pasien dilibatkan dalam penelitian IDEAL, uji coba
klinis yang meneliti keamanan dan efektivitas terapi pegilasi
interferon untuk infeksi HCV.
Para peneliti menemukan bahwa gen tertentu dikaitkan secara
erat dengan tanggapan virologi selama pengobatan. Hubungan
itu paling jelas pada orang keturunan Eropa, pasien yang
memiliki gen itu memiliki peningkatan bermakna respon pada
pengobatan anti HCV dibandingkan pasien yang tidak memiliki
gen itu (rasio odds [OR], 7,3; CI:95%; 5,1-10,4). Gen itu juga
meningkatkan kesempatan keberhasilan pengobatan pada warga
AS keturunan Afrika dan Hispanik, tetapi dengan tingkat yang
lebih rendah dibandingkan pada warga kulit putih.
Lebih lanjut, para peneliti menemukan bahwa gen itu lebih
dikaitkan dengan respon pengobatan warga AS keturunan Eropa
dibandingkan viral load HCV pada awal atau fibrosis hati,
prediktor umum terhadap tanggapan pengobatan HCV. Namun,
pada warga AS keturunan Eropa dan Hispanik, kedua faktor
risiko yang umum tersebut merupakan panduan yang lebih baik
terhadap tanggapan pengobatan dibandingkan keberadaan gen.
Para peneliti berpendapat bahwa penemuan tentang gen itu
dapat menjelaskan tanggapan terhadap terapi HCV yang lebih baik
pada pasien berkulit putih dibandingkan warga AS keturunan
Afrika.
Beberapa obat anti HCV sedang dikembangkan. Obat itu ter-
masuk PI, dan para peneliti mencatat bahwa penelitian diperlukan
untuk mengamati apakah gen juga mempengaruhi tanggapan
terhadap obat golongan ini. Para peneliti juga berpendapat
bahwa penelitian harus dilakukan untuk menentukan apakah
gen berperan pada keberhasilan terapi pada pasien terinfeksi
HCV genotipe lain.
Selain dikaitkan dengan pemberantasan HCV secara alami dan
juga tanggapan pada pengobatan, ada kesan "mungkin gen
terlibat dalam pengendalian HCV secara alami." Penelitian itu
melibatkan orang yang hanya terinfeksi HCV, sehingga tetap
perlu diamati apakah gen dapat memperkirakan tanggapan
terhadap pengobatan pada pasien koinfeksi HIV/HCV.
(NFA)
Sumber : Ge D et al. Genetic variation in IL28B predicts hepatitis C treatment-induced
viral clearance. Nature (online edition), 2009.
Respon Pengobatan Hepatitis C
Respon Pengobatan Hepatitis C
dapat Diperkirakan dengan Tes Genetika
dapat Diperkirakan dengan Tes Genetika
Respon Pengobatan Hepatitis C
dapat Diperkirakan dengan Tes Genetika
Para peneliti menemukan gen yang dapat memperkirakan respon pengobatan
hepatitis C dengan interferon pegilasi dan ribavirin. Hal itu dilaporkan para peneliti
dalam jurnal Nature edisi online. Menurut para peneliti, pengetahuan tentang
genotipe induk pada pasien dengan virus hepatitis C (HCV) di masa mendatang
mungkin akan menjadi unsur penting untuk memutuskan kapan mulai pengobatan.
BERITA TERKINI
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
CDK 174/vol.37 no.1/Januari - Februari 2010
58
57
BERITA TERKINI
D
ata penelitian yang pernah dilakukan memperlihatkan
adanya hubungan antara obat-obat golongan statin dengan
penurunan kejadian nefropati karena zat kontras pada pasien-
pasien yang menjalani PCI. Data lain juga menunjukkan bahwa
statin dapat memperbaiki outcome pasca tindakan PCI.
Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui efek proteksi
statin terhadap fungsi ginjal pasien yang menjalani tindakan
PCI. Sejumlah 228 pasien dengan SKA yang menjalani PCI
selektif secara acak dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelom-
pok S20 yang diterapi dengan simvastatin 20 mg (n=115) dan
kelompok S80, yang diterapi dengan simvastatin 80 mg
(n=113).
Pemeriksaan kreatinin serum dilakukan pada saat pasien dirawat,
pada hari dilakukannya PCI, serta 24 dan 48 jam setelah PCI.
Perhitungan bersihan kreatinin dilakukan dengan mengguna-
kan formula Cockcroft-Gault. Hs-CRP (high-sensitive C-reactive
protein), P-selectin, dan intercellular adhesion molecule-1 juga
diukur sebelum dan sesudah PCI dilakukan. Nefropati karena
zat kontras didefinisikan sebagai peningkatan kreatinin serum
sebesar > 0.5 mg/dL atau >25% dari garis dasar (baseline).
Hasil pemeriksaan memperlihatkan bahwa kreatinin serum
meningkat secara bermakna setelah prosedur PCI, dengan
kadar tertinggi 24 jam setelah PCI dilakukan. Pada kelompok
S80, kadar kreatinin serum menurun mencapai garis dasar
setelah 48 jam; penurunan mencapai garis dasar tidak terjadi
pada kelompok S20. Kadar kreatinin serum lebih rendah pada
kelompok S80 (p<0,001) dibandingkan pada kelompok S20
(p<0,05), 24 dan 48 jam setelah PCI.
Bersihan kreatinin menurun secara bermakna setelah PCI dengan
kadar terendah 24 jam setelah PCI dan setelah itu meningkat
kembali. Pada kelompok S80, kadar bersihan kreatinin mencapai
garis dasar setelah 48 jam. Hal ini tidak terjadi pada kelompok S20.
Bersihan kreatinin pada kelompok S80 lebih besar dibandingkan
dengan kelompok S20 pada jam ke 24 dan 48. Walau setelah
PCI terjadi peningkatan kadar hs-CRP (high-sensitive C-reactive
protein), P-selectin, dan intercellular adhesion molecule-1 secara
bermakna, kadarnya lebih rendah pada kelompok S80 dibanding-
kan dengan kelompok S20 (p<0,001).
Para ahli penelitian ini menyimpulkan bahwa terapi simvastatin
80mg sebelum tindakan PCI dapat mengurangi terjadinya
nefropati karena zat kontras, dibandingkan dengan simvastatin
20 mg. Efek menguntungkan simvastatin ini berhubungan
dengan penurunan kadar hsCRP, P-selectin, dan intercellular
adhesion molecule-1.
(YYA)
Simpulan:
· Pemberian terapi simvastatin sebelum PCI dapat menurunkan
kejadian nefropati karena zat kontras.
· Manfaat simvastatin ini berhubungan dengan penurunan
kadar
hsCRP, P-selectin,dan intercellular adhesion molecule-1.
(YYA)
Referensi :
1. Kelly AM, Dwamena B, Cronin B, Bernstein SJ, Carlos RC. Meta-analysis: Effectiveness of Drugs for
Preventing Contrast-Induced Nephropathy. Ann Intern Med. 2008; 148:284-94.
2. Wong GTC, Irwin MG. Contrast-induced nephropathy. Br.J.Anaesthesia 2007; 99 (4): 47483.
3. Xinwei J, Xianghua F, Jing Z, Xinshun G, Ling X, Weize F, et al. Comparison of usefulness of simvastatin
20 mg versus 80 mg in preventing contrast-induced nephropathy in patients with acute coronary
syndrome undergoing percutaneous coronary intervention. Am J Cardiol. 2009; 104(4): 519-24.
Nefropati karena zat kontras (contrast-induced nephropathy) merupakan penyebab ke-3 gagal ginjal akut
pada pasien-pasien rawat inap di Amerika Serikat. Pada pasien-pasien dengan gangguan ginjal atau pada
pasien yang memiliki beberapa faktor risiko tertentu, seperti diabetes dan gagal jantung kongestif, risiko
nefropati karena zat kontras adalah 25%. Nefropati karena zat kontras meningkatkan risiko gagal ginjal dan
meningkatkan kemungkinan perlunya tindakan hemodialisis, rawat inap berkepanjangan, peningkatan
biaya kesehatan, penurunan fungsi ginjal yang tak terbalikkan (irreversible) dan bahkan kematian. Selain itu,
nefropati karena zat kontras mengurangi outcome PCI (percutaneous coronary intervention) pada pasien-
pasien dengan SKA (Sindrom Koroner Akut).
Simvastatin Menurunkan
Simvastatin Menurunkan
Kejadian Nefropati Karena Zat Kontras
Kejadian Nefropati Karena Zat Kontras
Simvastatin Menurunkan
Kejadian Nefropati Karena Zat Kontras