382
| JULI - AGUSTUS 2010
PENDAHULUAN
Dalam banyak kasus, dengan perto-
longan pertama yang adekuat, ced-
era medula spinalis tidak mematikan.
Meskipun demikian pasien banyak
menjadi cacat permanen, kecacatan
harus ditekan seminimal mungkin
atau pasien diusahakan berakhir da-
lam kondisi yang "fungsional", artinya
masih dapat menjalankan fungsi fi si-
ologisnya seoptimal mungkin (contoh
: bisa berjalan walaupun pincang atau
perlu alat bantu).
Sesuai dengan fi siologi sistem saraf
yang tidak dapat bertahan lama da-
lam keadaan iskemi, sering diperlu-
kan tindakan pembedahan segera.
Tindakan yang sering diperlukan ada-
lah dekompresi, sekaligus dilakukan
stabilisasi. Di samping itu pada luka
terbuka juga perlu segera dilakukan
debridement.
DIAGNOSIS
Diagnosis cedera medula spinalis
harus meliputi level cedera dan total /
tidak nya cedera tersebut. Kedua data
ini sangat berguna untuk menentukan
rencana operasi.
Level cedera dapat ditentukan dari
pemeriksaan klinis dan didukung oleh
temuan radiologis.
Cedera medula spinalis dianggap
tidak total bila masih ditemukan :
1. Adanya fungsi motorik atau sen-
sorik sampai 3 level di bawah lesi
2. Adanya fungsi proprioseptik di ek-
stremitas inferior
3. Sacral sparing (refl eks sakral), sep-
erti fungsi sensorik sekitar anus,
kontraksi sfi ngter anal dan gera-
kan ibujari kaki yang disadari.
Pada cedera total tindakan bedah
hanya untuk memperbaiki stabilitas
susunan tulang belakang.
STABILITAS
Secara sederhana, defi nisi stabili-
tas susunan tulang belakang adalah
kemampuan tulang belakang untuk
mempertahankan posisinya terhadap
tekanan/beban fi siologis tanpa men-
gakibatkan iritasi atau cedera terhadap
medula spinalis.
Pada pasien yang dicurigai mengala-
mi cedera tulang belakang, kemung-
kinan ketidakstabilan tulang belakang
perlu diperhatikan pada pemindahan
pasien agar tidak menimbulkan be-
ban/deformitas yang berlebihan ter-
hadap tulang belakang yang berisiko
mencederai medula spinalis.
KOMPRESI MEDULA SPINALIS
Tulang belakang yang sangat kuat
berfungsi melindungi medula spinalis
dari trauma langsung. Namun pada
trauma hebat, dan kekuatan benturan
tidak mampu ditahan maka tulang jus-
tru menekan medula spinalis. Tekanan
ini dapat berasal dari depan, samping
atau belakang.
Tekanan akibat tulang yang patah
atau ketidakstabilan susunan tulang
belakang ini bisa hanya menimbulkan
cedera (kontusio) sampai kompresi
menetap medula spinalis.
Sesuai arah cedera, medula spinalis
dapat mengalami cedera dan men-
imbulkan gejala dengan sindrom-sin-
drom berikut ini :
1. anterior cord syndrome, dengan
gejala :
a. para / tetraplegia
b. dissociated sensory loss : gang-
gan rasa nyeri dan raba namun
sensasi kinestesi tetap ada
2. central cord syndrome, dengan
gejala :
a. kelemahan anggota gerak
atas lebih berat dari anggota
gerak bawah
b. gangguan sensorik bervariasi
di bawah level lesi
c. gejala
mielopati
3. posterior cord syndrome, den-
gan gejala : nyeri dan parestesi,
jarang ada gangguan motorik
4. Brown-Sequard syndrome :
gangguan medula spinalis satu
sisi, dengan gejala :
a. gangguan motorik pada sisi lesi
b. gangguan sensasi nyeri dan
temperatur pada kontralateral
lesi
Tindakan terapi pada kondisi kom-
presi ini juga disesuaikan dengan arah
trauma. Operasi bisa dilakukan dari
arah anterior maupun posterior. Yang
paling penting diperhatikan adalah
masalah waktu : medula spinalis harus
secepatnya dibebaskan dari tekanan.
Pada saat yang bersamaan harus pula
dilakukan tindakan stabilisasi karena
biasanya tindakan dekompresi akan
mengganggu stabilitas.
Pada cedera servikal, bila tindakan sta-
bilisasi defi nitif belum mungkin, traksi
leher dapat merupakan pertolongan
pertama untuk dekompresi medula
spinalis.
PENUTUP
Dalam penanganan cedera medula
spinalis, selain terapi medikamentosa,
tindakan pembedahan harus dilaksan-
akan se-segera mungkin untuk mene-
kan kecacadan.
Tindakan pembedahan dapat berupa
dekompresi, sekaligus stabilisasi.
DAFTAR PUSTAKA
1. Guidelines for the management of acute cer-
vical spine and spinal cord injuries, Neurosur-
gery 50(3) Suppl.: March 2002
2. Greenberg MS, Handbook of Neurosurgery,
Fifth Ed., Thieme, New York, 2001.
Manajemen Pembedahan pada Cedera Medula Spinalis
Eka J Wahjoepramono
Team Bedah Saraf, RS Siloam Lippo Karawaci, Tangerang, Indonesia
PRAKTIS
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 382
(323-402)_CDK ed_178 ok DR.indd 382
6/25/2010 9:50:32 AM
6/25/2010 9:50:32 AM