background image
133
CDK 175 / vol.37 no. 2 / Maret - April 2010
I
munisasi merupakan hak anak paling dasar, terutama
di Indonesia dengan berbagai macam bakteri dan virus
yang siap menyerang buah hati kita. Imunisasi merang-
sang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi
spesi k sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan
mikroorganisme tersebut. Karena itu, imunisasi pun rutin
bagi anak Indonesia. Demikian juga konsumsi obat penu-
run panas untuk mencegah atau mengatasi demam yang
muncul sebagai kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI).
Pemberian parasetamol sebagai pencegah demam me-
mang sering dilakukan oleh orangtua maupun dokter un-
tuk mengurangi kekhawatiran orangtua terhadap timbulnya
demam setelah imunisasi. Center for Disease Control and
Prevention (CDC) pun menyebutkan bahwa hal ini berman-
faat terutama untuk anak yang berisiko tinggi kejang yang
dicetuskan oleh demam tinggi.
Sebuah penelitian pada 459 bayi di Republik Ceko dan
dimuat dalam Lancet edisi 17 Oktober 2009, menunjukkan
bahwa pemberian parasetamol pada 24 jam pertama se-
telah imunisasi memang efektif mencegah demam tinggi
pada anak. Hanya 42% anak dalam grup parasetamol yang
mengalami demam > 38°C setelah imunisasi, dibandingkan
dengan 66% pada grup yang tidak mendapatkan obat.
Namun, dari penelitian tersebut juga ditemukan hubungan
antara pemberian parasetamol dengan kadar antibodi
spesi k dalam darah beberapa vaksin, seperti HiB, DPT,
Hepatitis B, polio, dan pneumokokus. Anak yang diberi
parasetamol memiliki kadar antibodi yang lebih rendah di-
bandingkan dengan pada grup yang tidak mendapat obat.
Kadar tersebut tetap rendah secara signi kan pada grup ini
walaupun telah diberi vaksinasi booster sewaktu anak beru-
sia 12 ­ 15 bulan.
Berdasarkan 10 penelitian lain mengenai pemberian vak-
sin, ditemukan juga bukti-bukti pendukung bahwa peng-
gunaan parasetamol untuk mencegah demam sebagai KIPI
dapat menekan respon sistem imun. Namun, hal ini tidak
berlaku jika pemberian obat tersebut untuk mengatasi de-
mam yang memang sudah timbul.
Memang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai
relevansi klinis penemuan ini, ujar Profesor Roman Prymula,
ketua penelitian ini. Namun, ia menambahkan bahwa ber-
dasarkan hasil penelitian ini, "pemberian parasetamol se-
bagai pengobatan pro laksis (pencegahan) setelah imu-
nisasi sebaiknya tidak direkomendasikan lagi."
Dengan hasil penelitian ini, orangtua maupun dokter di
Indonesia hendaknya berpikir lebih seksama dalam mem-
berikan parasetamol untuk mencegah demam sebagai KIPI
pada anak. Sebaiknya obat tersebut hanya diberikan jika
memang sudah muncul gejala demam. Orangtua pun ti-
dak perlu khawatir karena demam merupakan tanda bahwa
sistem kekebalan tubuh bekerja dengan baik dan secara
tidak langsung menunjukkan bahwa imunisasi yang dilaku-
kan juga efektif sehingga merupakan reaksi yang wajar.
(NFA)
Pasca Imunisasi
Tidak Perlu Parasetamol
IMAGE BANK
BERITA TERKINI
CDK Maret April DR.indd 133
CDK Maret April DR.indd 133
2/23/2010 4:16:17 AM
2/23/2010 4:16:17 AM