1. Terapi Testosteron Gel Sebagai Tambahan Pada Pria
Hipogonadisme yang Mengalami Disfungsi Ereksi yang
Tidak Respons dengan Pengobatan Sildenafil Tunggal
(1)
Tujuan penelitian membandingkan efikasi testosterone gel
dibandingkan dengan plasebo sebagai terapi tambahan
sildenafil pada pria hipogonadisme dengan disfungsi ereksi
yang tidak respons terhadap pengobatan sildenafil tunggal.
Penelitian ini merupakan penelitian randomisasi tersamar ganda
dengan kontrol plasebo atas 75 pria hipogonadisme (usia
18 80 tahun dengan serum total testosteron pagi hari 400
ng/dL atau kurang). Pada pria ini sudah dikonfirmasi tidak ada
respons monoterapi menggunakan sildenafil tunggal. Subyek
diberi testosteron gel 1% dosis harian atau 5 g plasebo sebagai
tambahan terapi sildenafil 10 mg selama periode 12 minggu.
Subyek penelitian kemudian dinilai terhadap fungsi seksual
berdasarkan International Index of Erectile Function (IIEF),
kualitas hidup, dan kadar testosterone serum pada minggu
ke-4, 8, dan 12.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kelompok testos-
teron, terapi testosteron menghasilkan perbaikan yang
bermakna dalam fungsi ereksi dibandingkan dengan plasebo.
Kemaknaan secara statistik dicapai pada minggu ke-4 (4,4 vs
2,1 p = 0,029). Perbaikan juga terjadi pada fungsi orgasme,
kepuasan secara keseluruhan, skor IIEF total, dan prosentase
responden IIEF. Testostero gel juga secara bermakna dapat
meningkatkan kadar testosteron bebas dan testosteron total
(p < atau = 0,004).
Kesimpulan penelitian yaitu bahwa testosteron gel yang
diberikan bersamaan dengan sildenafil dapat bermanfaat
untuk memperbaiki fungsi ereksi pada pria hipogonadisme
dengan disfungsi ereksi yang tidak responsif menggunakan
sildenafil tunggal.
2. Testosteron Gel Transdermal : Farmakokinetik, Efektivitas
Dosis dan Tempat Aplikasi pada Pria Hipogonadisme
(2)
Sebanyak 18 laki-laki yang berusia 24 69 tahun dengan
hipogonadisme primer dan sekunder, dan 16 subyek secara
lengkap mengikuti studi klinis acak, pengobatan regimen
sebanyak 6 kali serta studi silang (three way matrix type cross-
over), untuk menentukan regimen dosis yang efektif me-
melihara kadar serum Testosteron pada pria hipogonadisme
ke dalam batas normal 3 11,4 ąg/L.
Testosteron gel 1 % dan Testosteron gel 2 % diberikan secara
transdermal 1 2 kali pada tubuh ditempat yang berbeda
untuk menentukan dosis yang optimal, tempat aplikasi serta
profil farmakokinetik dan efek tolerabilitas pada pria hipo-
gonadisme
Sebagai hasil studi klinis, ditemukan secara umum bahwa
regimen dosis yang lebih tinggi memproduksi kadar serum
Testosteron yang lebih tinggi. Penggunaan dosis 3 gram pada
Testosteron 2% secara baik dapat memelihara kadar serum
Testosteron kedalam batas normal. Konsentrasi rata-rata
Testosteron ( C
avg
) adalah 6,25 ąg/L dan semua pria tersebut
mempunyai kadar rerata > 3 ąg/L. Adapun Konsentrasi
minimum (C
min
) adalah 3,83 ąg/L. dan setengah dari seluruh
subyek pasien tersebut memiliki C
min
> 3 ąg/L. Pengobatan
ini juga dapat umumnya dapat ditoleransi dengan baik dan
meningkatkan serum Testosteron dalam waktu 24 jam.
Sebagai kesimpulan dari penelitian ini, penggunaan dosis 3
gram Testosteron gel 2% yang diberikan pada kulit setiap
hari dapat meningkatkan kadar Testosteron pada pria hipo-
gonadisme primer dan sekunder ke dalam batas normal,
serta pemberian dosis dapat disesuaikan dengan melihat
kadar konsentrasi Testosteron pria tersebut dalam mencapai
batas normal yang diinginkan.
(IWA)
Daftar Pustaka:
1. Shabsigh R, Kaufman JM, Steidle C, et al. Randomized Study of Testosterone Gel as
Adjunctive Therapy to Sildenafil in Hypogonadal Men with Erectile Dysfunction who
do not respond to Sildenafil Alone. J Urol 2004;172(2):658-63.
2. Meikle AW, Mathias D, Hoffman AR. Transdermal testosterone gel: Pharmacokinetics,
efficacy of dosing and application site in hypogonadal men. BJU International 2004;
93:
789-95.
Uji Klinik
Uji Klinik
Testoteron Gel
Testoteron Gel
Uji Klinik
Testosteron Gel
B E R I T A T E R K I N I
CDK 172/vol.36 no.6/September - Oktober 2009
442