P R O F I L
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
230
M
eski hanya mengantongi ijazah dokter umum, dia
memiliki kiprah besar di lingkungan BKKBN (Badan Koor-
dinasi Keluarga Berencana Nasional) Pusat khususnya
di bidang vasektomi sebagai salah satu upaya untuk
menurunkan angka kematian ibu. Apalagi, sejak 2003
vaksektomi masuk dalam Program Nasional BKKBN
bersama tubektomi, IUD dan susuk.
Dialah dr. Asri yang sehari-hari menempati Klinik Profa-
milia di lantai dasar gedung PKMI (Perkumpulan Kontra-
sepsi Mantap Indonesia) di kawasan Kramat Sentiong,
Jakarta Pusat.
Lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Taruma-
negara tahun 1981, dr. Asri mengawali karir sebagai
dokter umum di bagian pengurusan SIM Polda Metro
Jaya. Sebagai pegawai negeri sipil di sana, suami dari
Retno Gayati itu kemudian belajar tentang demografi,
pemasangan spiral (IUD) dan belajar berbagai alat KB.
Disinilah kesadarannya muncul bahwa bila program KB
tidak dijalankan dengan sungguh-sungguh maka suatu
ketika akan terjadi ledakan penduduk di Indonesia. Itu
akan membuat kemiskinan makin merebak dan cita-
cita menjadi negara sejahtera akan susah terwujud.
Demi mewujudkan gagasannya, pria kelahiran Padang,
15 Februari 1949 itu mula-mula meminta izin atasannya
untuk mendatangi asrama-asrama Polri milik Polda Metro-
Jaya untuk memberikan pelayanan KB. Karena berada
di lingkungan asrama maka pasien ibu-ibu yang dilayani-
nya pun banyak.
Kemudian pada tahun 1989, ia mengikuti pelatihan di PKMI
Pusat dan mendapat pelatihan vasektomi tanpa pisau
dari dr. Abijat asal Thailand. Setahun kemudian ketika
gedung PKMI Pusat di Jl. Kramat Sentiong diresmikan pada
1990 untuk pengembangan kontrasepsi mantap tubek-
tomi dan vasektomi, Ketua PKMI Prof. Dr. Abdul Bari
Saefuddin, SpOG (K) memintanya untuk bergabung dan
dr. Asri pun tidak keberatan untuk menjadi provider KB.
PKMI kemudian mengirim surat permohonan ijin ke
BKKBN Pusat, Puskes ABRI, Mabes Polri dan selanjut-
nya Polda Metro Jaya.
dr. Asri : Dokter Umum,
Ahli Vasektomi dan
Kesadaran Pentingnya KB
Oleh Ari Satriyo Wibowo
Ijin akhirnya keluar dengan catatan dr. Asri tetap bekerja di
Polda Metro Jaya selama satu hari dan sisanya di PKMI.
Di PKMI dr. Asri melakukan pendidikan, penyuluhan,
pelatihan kepada tenaga medis dan bidan serta mela-
kukan kunjungan rutin ke berbagai pelosok Indonesia
dari Aceh Nangrodarusalam hingga ke Papua. Disamping
itu, dr. Asri masih dipercaya menjadi konsultan vasektomi
di BKKBN, Unicef, klinik Raden Saleh dan sebagainya.
Vasektomi
Vasektomi sudah dikenal kurang lebih 100 tahun yang
lalu. Vasektomi sebagai cara kontrasepsi, pertama kali
dilakukan para ahli di India pada tahun 1954. Pada tahun
1974, Prof. Dr. Li Shun Qiang dari Cina mengambangkan
tehnik bedah minor tanpa menggunakan pisau bedah
untuk melakukan vasektomi yang disebut No Scalpel
Vasectomy/vasektomi tanpa pisau dengan hasil pebe-
dahan yang halus dan kerusakan jaringan yang sangat
minimal. Sejak tahun 1986 hingga sekarang tehnik ini
digunakan di seluruh dunia termasuk di Indonesia.
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
199
Survival stadium I (garis biru) sampai masa 5 tahun adalah 95,2 %
- sangat baik; pada stadium II dan III (garis merah) sebesar 20,9 %.
Pada Stadium IV (garis hijau) survival setelah 5 bulan hanya 17,2 %.
Perbedaan ini sangat bermakna. (p=0,000; CI 95 %).
Gambar 4. Kesintasan berdasar hasil histopatologi
Pada kelompok epithelial setelah 1 tahun survivalnya 81 % dan
untuk 5 tahun 53,6 % (Gb.4); lebih baik dari jenis non-epithel
yang hanya 56 % untuk 1 tahun dan 30 % untuk 5 tahun. Perbe-
daan ini bermakna.(p=0,03;CI 95 %).
Gambar 5. Kesintasan berdasar pada pembedahan optimal
Operasi optimal menghasilkan survival hidup 1 tahun 86,3 %
dan setelah 5 tahun 60,9 % (Gb. 5). Pada kelompok non optimal
survival 1 tahun hanya 63,7 % dan setelah 5 tahun 36,4 %.
Perbedaan ini bermakna. (p=0,04; CI 95 %).
Gambar 6. Kesintasan berdasar pemberian sitostatika
Survival hidup pada kelompok sitostatika optimal setelah 1 tahun
sebesar 85,5 % dan setelah 5 tahun 55,6 % (Gb. 6). Hasil ini
lebih baik dari non optimal sebesar 61,1 % pada masa 1 tahun
dan hanya 37,5 % pada 5 tahun. Akan tetapi perbedaan ini tidak
bermakna.(p=0,06;CI 95 %).
Gambar 7.Kesintasan kumulatif seluruh variabel
Analisis kesintasan kumulatif dengan metode Kaplan-Meier pada
seluruh variabel, menghasilkan peluang hidup pasien kanker
ovarium dengan variabel yang saling mempengaruhi ini, setelah
965 hari (2,64 tahun) sebesar 51,5 % dan setelah 5 tahun tingkat
survivalnya sebesar 45 %.
Analisis multivariat dengan Cox Regression
Analisis multivariat yang mempengaruhi kelangsungan hidup
kanker ovarium dan besarnya peluang risiko berdasar cox
regression dapat dilihat pada tabel 1 :
Tabel 1. Analisis multivariat kesintasan kumulatif (cox regression)
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
198
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan pende-
katan analitik pada kasus kanker ovarium yang di kelola di Divisi
Onkologi Departemen Obstetri dan Ginekologi RSUPN Cipto
Mangunkusumo Jakarta. Diambil semua kasus yang dikelola
pada tahun 1990, dan ditelusuri sampai 5 tahun kemudian;
selanjutnya dilihat kelangsungan hidup/kesintasannya.
Data disusun berdasarkan variabel umur, paritas, stadium penyakit,
jenis histopatologik, bentuk penanganan serta kelangsungan
hidupnya. Data dianalisis untuk survival time menggunakan
Kaplan-Meier survival curve dan Logrank test. Selanjutnya
dianalisis secara multivariate kesintasan kumulatif rasio risiko
berdasar Cox regression.
Batasan :
Kanker ovarium : berdasarkan hasil / gambaran histopatologi.
Pembedahan : optimal : bila dilakukan HTSOB + omentektomi +
pengangkatan KGB.
Tidak optimal : tidak seperti di atas.
Sitostatika : Berdasar pada panduan Divisi Onkologi Departemen
Obstetri dan Ginekologi FKUI / RSUPN Cipto Mangunkusumo.
Optimal : pemberian sitostatika 6 seri
Tidak optimal : < 6 seri.
Hidup : setelah 5 tahun masih hidup, tanpa memperhitungkan residif /
tidak.
Variabel : kelangsungan hidup, umur, paritas, jenis histopatologi,
jenis operasi, jenis sitostatika.
Paritas : 1. nullipara dan 2. non-nullipara.
Histopatologi : 1. epithel 2. non-epithel.
Tujuan penelitian :
1. Untuk mengetahui tingkat kelangsungan hidup 5 tahun
kanker ovarium yang telah dikelola.
2. Untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi tingkat
kelangsungan hidup pasien kanker ovarium.
HASIL
Dari 536 kasus baru kanker ginekologik, didapatkan 73 (13,61%)
kanker ovarium.
Karakteristik biologik dan klinis :
Usia : terbanyak > 40 tahun (32 kasus - 43,8 %).
Umur < 20 tahun ada 8 kasus (11,0%).
Rentang umur 13-90 tahun.
Paritas : Po 33 kasus (45,2%).
Stadium : I : 21 kasus (28,8 %); II : 6 kasus (8,2%); III : 36 kasus
(49,3%) dan IV : 10 kasus (13,7%)
Jenis Histopatologi : epithel 50 kasus (70,4%) ; non epithel 21
kasus (29,5%).
Pengobatan :
- Operasi : optimal : 24 kasus (32,9%) tidak optimal : 49 kasus (67,1%)
- Sitostatika : optimal : 28 kasus (38,4%); tidak optimal : 45 kasus
(61,6%).
Hidup : 24 kasus (32,9 %) masih hidup setelah 5 tahun; umumnya kasus
stadium I. Kematian 33 kasus (45,2%). Kelompok paksa pulang 16
kasus( 21,9%); umumnya telah pada kondisi buruk.
Gambar 1. Kesintasan berdasar umur
Berdasar metode Kaplan-Meier, ternyata kelompok umur 20-40
tahun mempunyai survival terbaik; survival setelah 1 tahun 77,4
% dan pada masa 5 tahun 55,9 %. Terburuk pada kelompok
umur < 20 tahun; survival setelah 1 tahun 50 %. Pada uji statistik
perbedaan ini tidak bermakna.(p=0,34; CI 95 %) (Gb.1).
Gambar 2. Kesintasan berdasar paritas
Kelompok non-nullipara lebih baik survivalnya (Gb. 2). Survival
setelah 1 tahun sebesar 83 % dibanding nullipara sebesar 62,2
%, dan survival 5 tahun 51 % dibanding 38,5 %. Akan tetapi
perbedaan tersebut tidak bermakna. (p=0,21;CI 95 %).
Gambar 3. Kesintasan berdasar stadium
P R O F I L
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
231
Vasektomi secara harfiah berarti menghambat jalur
transportasi sel benih. Saluran benih ada dua buah sesuai
dengan jumlah buah zakar dan terdapat di dalam kantung
buah zakar (skrotum). Agar saluran benih dapat diham-
bat maka kantung buah zakar harus dibuka melalui
suatu operasi kecil dengan pembiusan lokal.
Jadi vasektomi adalah pemotongan sebagian (0.5 cm
1 cm) saluran benih sehingga terdapat jarak diantara
ujung saluran benih bagian sisi testis dan saluran benih
bagian sisi lainnya yang masih tersisa dan pada masing-
masing kedua ujung saluran yang tersisa tersebut di-
lakukan pengikatan sehingga saluran menjadi buntu/
tersumbat.
Akibat dari pemotongan dan pengikatan saluran benih
ini, maka sel benih yang diproduksi pada buah zakar
tidak bisa keluar dan terbendung pada saluran benih
bagian sisi testis yang diikat.
Pria yang menjalani vasektomi tetap mempunyai gairah
birahi dan sifat kejantanan. Batang zakar tetap bisa
tegang (ereksi) pada saat birahi. Cairan mani tetap
memancar (ejakulasi) pada saat sanggama, tetapi
cairan mani tersebut tidak mengandung sel benih
sehingga hubungan senggama suami istri yang dilku-
kan oleh laki-laki yang menjalani vasektomi tidak
menyebabkan kehamilan pada istrinya. Efek inilah yang
dimanfaatkan sebagai cara kontrasepsi mantap pria.
Sel benih yang terbendung pada saluran yang diikat
akan mati setelah kurang lebih 100 hari. Sebaliknya
fungsi buah zakar (testis) dalam memproduksi sel benih
dan fungsi-fungsi lainnya tetap berjalan.
Tenaga Vasektomi Tidak Berkembang
Hingga kini jumlah tenaga medis yang mampu melaku-
kan operasi vasektomi masih terbatas. Sejak tahun
1994, menurut dr. Asri, sudah banyak dokter umum,
dokter spesialis dan calon dokter yang dilatihnya untuk
melakukan operasi vasektomi tanpa pisau.
Kreativitas dr. Asri dalam melatih pantas dipuji. Demi
memberikan gambaran operasi seperti keadaan yang
sebenarnya, ia menciptakan model sendiri. Skrotum dan
testis dibuat dari balon (tanpa udara) dan kelerang.
Saluran benih diciptakannya dari pentil ban sepeda.
Setelah peserta melakukan percobaan vasektomi maka
model itu pun rusak dan langsung dibuang.
Namun, meski berbagai pelatihan dilakukan dr. Asri dalam
kenyataannya kader tenaga vasektomi tidak kunjung
bertambah. Mengapa? Gagalkah dr. Asri dalam mem-
berikan pelatihan? Ternyata, hal itu lebih kepada sistem
yang ada di Indonesia yang mewajibkan segala masalah
komplikasi harus dirujuk ke dokter spesialis.
Sayangnya, bagi dokter spesialis, operasi vasektomi
dianggap terlalu sederhana untuk ditekuni. Sementara,
para dokter umum yang hendak mempraktikkan selalu
diliputi "rasa ketakutan dan rasa tidak percaya diri" karena
koleganya para dokter spesialis selalu berujar, "nanti
kalau terjadi komplikasi, akhirnya kami-kami juga yang
menangani."
Hal yang sama dituturkan dr. Ari pula. "Sekalipun vasek-
tomi tergolong minor surgery (yang hanya membutuhkan
waktu sekitar 10 menitan), bila belum lancar, bisa menim-
bulkan perdarahan dan infeksi," ujar pria yang dikaruniai
dua anak itu.
Alhasil, khusus masalah vasektomi dr. Asri masih menjadi
andalan banyak pihak. Meski mengaku tidak memiliki
catatan akurat tentang pasien yang ditanganinya, sejak
tahun 1990 hingga sekarang ia sudah menangani sekitar
5.000 pasien. Bahkan, sejak tahun 2005 setelah vasek-
tomi masuk dalam program Nasional BKKBN jumlah pasien
yang ditanganinya bisa mencapai 1.000 orang per tahun.
Apakah pasien yang telah divasektomi dapat dipulihkan
kembali? Operasi rekanalisasi, menurut dr. Asri sampai
saat ini tingkat keberhasilannya mencapai 99 %. "Namun,
tingkat keberhasilan untuk menghamili (fertility rate) hanya
50%," ujar pria yang menjabat sebagai Ketua Bidang
Pelatihan dan Pengembangan Kontrasepsi Mantap Pria
di PKMI itu.`
Meskipun banyak melayani peserta (akseptor KB) yang
kurang mampu, dr Asri tetap berkarya dalam tindakan
dan aktif dalam penyuluhan keluarga berencana. Ini
semua karena beliau tidak menganggap penghargaan
finansial sebagai yang utama. Cita-citanya untuk melihat
Indonesia yang lebih sejahtera ada dibalik semua itu.
Melalui pelaksanaan Program KB yang terarah maka
kualitas hidup masyarakat dapat ditingkatkan, kematian
ibu hamil dapat dicegah dan bagi pria yang istrinya sudah
memasuki usia risiko kehamilan maka vasektomi meru-
pakan bukti cinta suami kepada keluarganya.
Sebelum Vasektomi
Sesudah Vasektomi