background image
104
CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008
Qspgjm
Tak banyak yang tahu bahwa Prof. Dr. R Sjamsuhidajat, SpB
yang termasuk angkatan keempat pendidikan dokter bedah
negeri ini merupakan perintis spesialis bedah digestif di
Indonesia.
Pria kelahiran Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau, 7
November 1931 itu masih tampak sehat dan segar ketika me-
maparkan kisah perjalanan hidupnya.
Sejak kecil Sjamsuhidajat sering berpindah-pindah mengi-
kuti tugas ayahnya yang bekerja sebagai seorang insinyur di
Departemen Pekerjaan Umum Hindia Belanda. Dari Tanjung
Pinang, Kepulauan Riau ayahnya kemudian ditugaskan ke
Lubuk Linggau untuk membangun jembatan dan saluran air
di wilayah kolonisasi (sekarang lazim disebut transmigrasi) di
daerah Tugu Mulyo. Selanjutnya, pada 1936 ayahnya ditugas-
kan ke Belitang di Sumatera Selatan yang berbatasan dengan
Lampung. Wilayah itu di masa tersebut masuk dalam wilayah
Karesidenan Palembang.
Ketika mulai duduk di bangku sekolah dasar tahun 1937, Sjam-
suhidajat tinggal bersama kakeknya di kota Solo di Jawa. Na-
mun, ketika Jepang datang menyerbu Indonesia tahun 1942,
Sjamsuhidajat diminta pulang kembali ke Sumatera Selatan
oleh ayahnya.
Baru pada tahun 1946 ayahnya ditempatkan ke Pulau Jawa,
tepatnya di Boyolali, Jawa Tengah. Waktu itu, Sjamsuhidajat
Prof. Dr. R. Sjamsuhidajat, SpB :
Mengenal Lebih Dekat Sosok
Perintis Spesialis Bedah Digestif
di Indonesia
Oleh Ari Satriyo Wibowo
sudah duduk di bangku kelas tiga SMP. Hingga pensiun tahun
1953 ayahnya bertugas di wilayah sekitar Solo saja yakni di
Boyolali, Sragen dan Karanganyar.
Ketika Clash II pecah bulan Desember tahun 1948 ia mengungsi
dari Boyolali ke daerah pedalaman dan sebagai siswa kelas dua
SMA Sjamsuhidajat ikut bergabung dalam organisasi Tentara
Pelajar (Mas TP). Pendidikan sekolah menengah atas ditem-
puhnya di HBS Semarang hingga lulus tahun 1951.
Bulan Agustus 1951, Sjamsuhidajat hijrah ke Jakarta untuk
meneruskan pendidikan tinggi di Fakultas Kedokteran pada
Perguruan Tinggi Republik Indonesia (PTRI) yang kemudian
berubah namanya menjadi Universitas Indonesia tahun itu juga.
Di zaman Jepang perguruan tinggi itu disebut Sekolah Tinggi
Ketabiban atau Ika Daigaku.
Di zaman Hindia Belanda kompleks PTRI itu merupakan pabrik
candu yang terkenal. Dulu dari arah Pasar Cikini ada kereta api
yang masuk ke kompleks pabrik itu untuk mengangkut candu
ke Stasiun Gambir dan selanjutnya membawanya ke pelabuhan
untuk diekspor ke luar negeri.
Ketika Perang Dunia II usai, perdagangan candu dilarang dan
pabrik itu pun tutup. Pada tahun 1949 kompleks itu diserahkan
kepada PTRI.
Sjamsuhidajat masuk FKUI pada Agustus 1951 dan lulus
Agustus 1959. Meski begitu sejak tahun 1958 ia sudah diminta
untuk menjadi asisten berstatus mahasiswa pada Bagian Be-
dah FKUI- RSUP. Pada waktu itu di FKUI masih menganut studi
bebas. Artinya mahasiswa bebas menentukan kapan waktu un-
tuk menempuh ujian. Dengan cara itu dimungkinkan seorang
menjadi mahasiswa abadi dan belajar dalan jangka waktu 10-20
tahun. Tetapi ketika FKUI menjalin kerjasama dengan Univer-
sitas California di AS pada tahun 1955 terjadi perubahan men-
jadi pendidikan terpimpin yang menuntut mahasiswa untuk naik
tingkat setiap tahun ajaran.
Pada waktu itu pendidikan bedah dan anestesi masih meru-
pakan pendidikan gabungan ilmu bedah. Bahkan dulu dokter
bedah harus menguasai anestesi. Tidak mengherankan pada
sekitar tahun 1954 perhimpunan profesi yang mewadahinya
masih bernama Ikatan Ahli Bedah dan Anestesi Indonesia.
Sjamsuhidajat akhirnya lulus sebagai dokter spesialis bedah
tahun 1963. Ia kemudian mengabdi sebagai dokter Spesialis
Bedah pada Rumah Sakit Lapangan Angkatan Darat, Trikora,
1962-1963. Selama empat bulan pada tahun 1963, ia menjadi
dokter spesialis bedah di Rumah Sakit Umum Jayapura dan
Rumah Sakit Umum Biak.
Tahun 1967 pendidikan bedah dan anestesi sudah resmi ber-
pisah. Tahun itu pula diselenggarakan kongres pertama Ikatan
Ahli Bedah Indonesia (IKABI) di Semarang. Sementara dokter
ahli anestesi memiliki perhimpunan sendiri bernama Ikatan Ahli
Anestesi Indonesia (IAAI).
Pendidikan bedah yang resmi dalam arti sudah diakui universi-
tas terjadi tahun 1978. Sebelumnya pendidikan bedah dilakukan
di rumah sakit sebagai salah satu kebutuhan pelayanan. Pada
1978/1979 Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI menge-
luarkan ketentuan yang mewajibkan pendidikan dokter spesia-
lis itu dilakukan atas nama universitas atau fakultas kedokteran.
Dalam hal itu Fakultas Kedokteran di tiap universitas harus men-
jadi penanggung jawab utama pendidikan kedokteran.
background image
CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008
105
Pada tahun 1979 atas prakarsa Menteri P&K Daoed Jusuf
telah menetapkan strata pendidikan di Indonesia tiga strata
yakni S1 (sarjana), S2 (magister) dan S3 (doktor). Sebelum-
nya, seseorang yang lulus Sarjana Kedokteran (Drs Med atau
Sked) dan belum menjadi dokter umum diperbolehkan langsung
menempuh ujian doktor.
Menurut Sjamsuhidajat, sesungguhnya perubahan S1, S2, S3
merupakan suatu strategi bukan suatu tujuan. Demikian pe-
satnya ilmu pengetahuan untuk bisa menguasai seluruh ilmu
apabila hanya dibagi dua strata terlalu berat dan waktu pendi-
dikannya menjadi lama sehingga kemudian diputuskan dibagi
menjadi tiga. "Jadi keputusan itu diambil bukan sebagai tujuan
akhir. Jika seseorang ingin menguasai satu bidang secara ke-
seluruhan maka dia harus mengambil dalam tiga strata," Sjam-
suhidajat menambahkan.
Saat ini jenjang setelah S3 sudah dikembangkan di beberapa
negara. Misalnya, di Inggris dan Australia setelah PhD seorang
yang bergelar PhD dan mampu terus mengembangkan ilmu
yang dikuasainya melalui penelitian-penelitian lanjutan, maka
ia dapat mengajukan permintaan untuk dinilai mendapatkan
"gelar" yang lebih tinggi, yaitu gelar Doctor of Science (DSc).
Namun, karena tidak semua negara mampu menyelenggara-
kannya maka itu diserahkan pada masing-masing negara.
Perkembangan Pendidikan Bedah di Indonesia
Sejarah bagian bedah di FKUI dimulai pada 1958 dengan guru
besar bernama Prof. Margono Soekarjo. Saat itu hanya dikenal
Bedah Umum, Bedah Urologi (saluran kencing) dengan guru
besar Prof. Utama, Bedah Orthopaedi (tulang) yang dirintis
dr. Soebiakto Wirjokusumo dan Bedah Plastik dengan guru
besar Prof. Moenadjat Wiratmadja. Belakangan muncul spe-
sialisasi baru yakni Bedah Anak yang dirintis Dr. Adang Zainal
Kosim sepulang dari menempuh pendidikan di Kanada. Keem-
pat spesialisasi bedah tersebut lazim disebut sebagai spesiali-
sasi bidang bedah (spesialis 1).
"Dulu pendidikan bedah dilakukan di rumah sakit bukan di
fakultas," ujar pria yang dikaruniai dua anak itu. Kondisi itu
berubah tahun 1978 ketika bagian bedah menjadi tanggung
jawab penuh fakultas kedokteran dan bukan lagi rumah sakit.
Dalam perkembangan ilmu kedokteran selanjutnya dikenal
spesialisasi yang lebih kompleks yakni meliputi Head & Neck
(kepala dan leher), thoraks (rongga dada dan paru-paru) serta
jantung. Ketiga spesialisasi tersebut lazim disebut spesialis 2
karena mensyaratkan peserta untuk menempuh spesialis be-
dah umum (spesialis 1 ) terlebih dahulu.
Spesialisasi Bedah Digastif baru terbentuk pada tahun 1979.
Pada waktu itu dr. R. Sjamsuhidajat mengikuti sebuah kongres
bedah internasional yang diselenggarakan di Bali. Di acara
itu banyak pembicara yang membahas masalah perut, limpa,
usus besar, empedu dan alat pencernaan lainnya. Dengan jeli
dr. Sjamsuhidajat melihat peluang baru di dunia bedah. Maka
dikumpulkannya para sejawat pada tahun itu juga. Mereka ke-
mudian mendeklarasikan wadah baru berupa spesialis bedah
digastif dengan nama Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Di-
gestif Indonesia (1979). Spesialis Bedah Digestif selanjutnya di-
golongkan sebagai bagian dari Spesialis 2 yang mensyaratkan
peserta harus menguasai bedah umum terlebih dahulu.
Dengan berkembangnya ilmu kedokteran khususnya dalam
riset sel punca (stem cell) maka layanannya sudah termasuk
dalam layanan tersier. Artinya, layanan itu tidak bisa dilayani
oleh satu displin ilmu kedokteran saja melainkan multidisiplin.
"Disana harus ada ahli imunologi, ahli darah. Lalu bila ke myo-
kard harus ada ahli jantung, kalau ke pankreas harus ada ahli
penyakit endokrin. Jadi tidak bisa ditangani hanya seorang ahli
penyakit dalam saja," papar Sjamsuhidajat.
Rumah sakit yang melayaninya juga harus Rumah Sakit tipe A
atau tipe B lanjut dengan nama pelayanan seperti pelayanan
luka bakar, pelayanan tumbuh kembang dan pelayanan rege-
neratif.
Sedangkan pelayanan primer merupakan pelayanan di Puskes-
mas seperti vaksinasi, batuk pilek, muntah berak dan sebagai-
nya. Pelayanan primer umumnya menangani penyakit ringan
yang ada di masyarakat. "Vaknisasi itu tujuannya memberikan
kekebalan tubuh kepada semua anak," tutur Sjamsuhidajat.
Sementara itu, pelayanan sekunder adalah pelayanan yang
didasarkan disiplin ilmu kedokteran tertentu. Misalnya, pela-
yanan sekunder di Rumah Sakit Tipe C yang ada di tingkat Ka-
bupaten bisa dilakukan oleh satu disiplin ilmu saja. Misalnya,
radang akut usus buntu bisa dilakukan oleh dokter bedah. "Par-
tus atau operasi caesar bisa dilakukan dokter spesialis obgin
secara monodisiplin," katanya.
Pada tiap rumah Sakit tipe C diperlukan paling tidak 4 orang
dokter spesialis yakni spesialis anak, spesialis bedah, spesialis
penyakit dalam dan spesialis obstetri dan ginekologi.
Adapun pelayanan yang lebih tinggi disebut pelayanan kwar-
terner. Misalnya, operasi jarak jauh antarnegara dengan me-
manfaatkan teknologi robot dan teknologi satelit. Namun, apa-
bila terjadi kesalahan operasi maka permasalahan menjadi
semakin pelik dan rumit karena menyangkut masalah etika
dan hukum antar negara.
Prof. Dr. Sjamsuhidajat SpB diangkat menjadi Guru Besar Ilmu
Bedah FKUI pada tahun 1987. Sejak 12 tahun lalu ia menjadi
anggota Majelis Kehormatan Etik Kedokteran, Pengurus Besar
Ikatan Dokter Indonesia. Ketua Komite Medik RS Kanker `Dhar-
mais' mulai tahun 1993 sampai tahun 2001. Anggota Komite
Medik RS MMC, RS Medistra, RS Setia Mitra sejak 5-7 tahun
sampai sekarang. Ketua Sub-Komite Etik, Komite Medik RS
MMC selama 7 tahun sampai sekarang.
Sejak tahun 1992, menjadi Ketua Komisi Etik Penelitian FKUI-
RSCM. Sebelumnya, sudah menjadi anggota Komisi ini bebe-
rapa tahun lamanya. Anggota Kelompok Kerja Uji Klinik (CTWG)
dan turut menerjemahkan buku kecil ICH-GCP menjadi Buku
Cara Uji Klinik yang Baik (CUKB), yang diprakarsai oleh Badan
Pengawas Obat dan Makanan. Beberapa kali memberikan ce-
ramah pada kursus CUKB di Jakarta dan kota lain.
Beberapa jabatan dan keanggotaan yang pernah diembannya
antara lain Ketua Kolegium Ilmu Bedah Indonesia (1975-1992),
Ketua Kolegium Ilmu Bedah Digestif Indonesia (1992 sampai
sekarang), anggota Pendiri Asian Surgical Association (1976),
Presiden Asian Surgical Association (1979-1981) serta Anggota
Collegium Intemationale Chirurgiae Digestivae, Societe lnterna-
tionale de Chirurgie, International College of Surgeons.
Prof. Dr. Samsjuhidajat, SpB memasuki masa pensiun tahun
2001. Pada tahun 2006 ia diminta oleh Dekan FKUI untuk men-
jadi Ketua Departemen Pendidikan Kedokteran FKUI. ***