Yogyakarta. Lokakarya Pemberantasan Penyakit Cacing Tambang
dan Parasit Usus lainnya Jakarta 2 - 7 Nopember 1978: KK - 09 ;
1 - 16:
3:Arbain Jusuf, Carney WP, Agustinus, Julis Katini: Intestinal parasi-
tes in Sembalong, Lombok: Bull Hlth Stud Indones 1975 ; III (2) :
11 - 15:
4:Sofyan Masbar, Purnomo: Observasi pendahuluan terhadap kebiasa-
an penduduk dalam hubungannya dengan penularan cacing Ascaris
lumbricoides, cacing tambang dan Trichuris trichiura, di Kalimantan
Selatan: Seminar Nasional Parasitologi Ke I: Bogor, 8 - 10 Desember
1977: KKS - 4: 1- 7:
5:Is Suharijah Ismid, Bintari Rukmono, Indrijono, Runizar Roesin:
Soil pollution with Ascaris lumbricoides in Sawah Lunto and
Serpong: Lokakarya Pemberantasan Penyakit Cacing Tambang dan
Parasit Perut lainnya. Jakarta : 3 - 7 Nopember I978, I - 13:
6: World Health Organization: Control of Ascariasis - report of a WHO
Expert Committee: Approaches to control: Wld Hlth Org Tech Rep
Ser No: 379, 1967; 22 - 29:
7.BoII WJ, Samir Jassif: Comparison of pyrantel pamoate and pipera-
zine phosphate in the treatment of ascariasis: Amer J Trop Med
Hyg 1971; 20 : 584 - 588:
8:Tatsuski, Ishizaki, Muneo Yokogawa: A double-blind comparastive
study of pyrantel pamoate and piperazine phosphate a
scariasis:
Proceeing of the Twelfth SEAMEO Trop Med Seminar: Biology,
Immunology Treatment of parasite and bacterial diseases of Public
Health Importance in Southeast Asia and the Fareast, Bangkok
1974 : 27:
9:Cross JH, Clarke MD, Colle WC, et al: Parasitic infection in humans
in humas in West Kalimantan (Borneo) Indonesia: Trop Geogr Med
1976; 28 : 121 - I30:
I0: Noerhayati S, Soenarno: Prevalensi infeksi cacing yang cara pe-
nularannya melalui tanah di daerah Yogyakarta dan Surakarta:
Musyawarah Nasional II Ikatan Alumni dan Kursus Penyegar Ilmu
Kedokteran I FK UGM: 16 - 28 April 1973, Yogyakarta:
I1:Budining Wirastari, Tri Ruspandji, Sunoto, Suharjono: Penyakit
cacing pada anak: Medika I979; 5 (I) : 15 - I7:
12:Aschwin Prawira Kusumah, Boed S Singadipoera, Hendra Permadi,
Endang Sutedjo: Pemeriksaan telur cacing dalam tinja dan peng-
obatan dengan Triveran: Edisi Khusus Masal cacing usus di Indonesia
dan penyembuhannya:
13:Jo Kian Tjay, Kwo Eh Hoa: Intestinal parasites in infants and
children in Medan (North Sumatera, Indonesia): Paediatrica Indo-
nes 1968; 8 : 6 - 19:
14:Toto Hidayat, Halim Danusantoso: Pengalaman dalam pemeriksaan
dan pengobatan cacing usus pada murid-murid sekolah Hang Tuah
Cilincing Jakarta: Medika 1980; 6 (3) : 117 - 121:
15:Partono, Purnomo, A Tangkilisan: The use of mebendazole in the
treatment of poly-parasitism: Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1974; 5 : 250 - 264:
16:Pedro P, Chanco JR, Eusibio Cabe JR, M Julieta Y, Vedad BSMT:
Treatment of ascariasis ( a comparative study with piperazine and
tetramizole): The Xth Southeast Asian Regional Seminar on Tropi-
cal Medicine. Bangkok; October 26 - 30 1971; 1 - 13:
17:DavisA.Drug treatment in intestinal helminthiasis: Geneva : WHO
1973: 16 - 19, 46 - 49, 87:
I8:Djauhar Ismail, Utomo, Soegeng Yiuwono, Noerhajati S: The use of
anthelmintics in the treatment of ascariasis: Pediatrica Indones
1976; 16 : 39I - 395:
19:Byong, Seol Seo: Treatment of intestinal parasitic diseases: Medical
Progress 1979; July, 11 - 16:
20:Zaman V. Treatment of intestinal parasitic (Nematoda) infestation:
Medical Progress 1974; November, 37 - 48:
21:Tan Chong Suphajai Siddhi, Arunee Subchareon: Anthelmintics in
children: Mother Child 1979; Nov - Dec, 21 - 23.
Kombinasi Mebendazole-Tetramizole dan
Pyrantel Pamoate-Mebendazole Dosis
Tunggal pada Pengobatan Cacing Usus
Soebagyo Loehoeri, Soenarno, Sumarni
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Hingga sekarang masih dicari kombinasi anthelmintik
yang berspektrum luas yang mempunyai kemampuan penyem-
buhan yang tinggi terhadap cacing usus pada umumnya atau
nematoda usus pada khususnya:
Kenyataan infeksi nematoda usus pada penderita kebanyak-
an tidak hanya infestasi tunggal tapi juga multipel, sehingga
dengan sendirinya kita tidak bisa mengatakan pengobatan
terhadap nematoda usus berhasil hanya terhadap salah satu
macam nematoda, tetapi seharusnya juga dapat membebaskan
penderita dari semua nematoda usus yang ada:
Clarke et al (1), dalam penyelidikannya di Yogyakarta
mendapat prevalensi
Ascaris lumbricoides 84,6%, Trichuris
trichiura 90,8%
dan cacing tambang 52,1%: Sedangkan Noer-
hayati et al (2), mendapatkan
A: lumbricoides
52%,
T. tri-
chiura 60,3%
dan cacing tambang
49,3%
di mana infeksi
rangkap dua
33,2%
sedang infeksi rangkap tiga 24,5%.
Noerhayati
(3)
mendapatkan dalam penyelidikannya di
daerah Kodya Yogyakarta infeksi cacing tambang kombinasi
parasit usus lainnya rangkap dua
6,3%,
rangkap tiga
38,4%
dan
rangkap empat 25,0%; sedangkan di daerah Kasihan Bantul
rangkap dua
16,9%,
rangkap tiga
63,9%
dan rangkap empat
14%:
Data tersebut di atas menunjukkan infeksi multipel yang
cukup tinggi di mana pengobatannya diperlukan anthelmintik
yang mempunyai spektrum luas: Kita mengenal beberapa
anthelmintik berspektrum luas antara lain : pyrantel pamoate,
mebendazole di mana
masing-masing mempunyai kelebihan
dan kekurangan:
Hsieh HC et al
(4)
mengatakan bahwa pyrantel pamoate
efektif
terhadap
A: lumbncoides
dan cacing tambang: Mar-
gono S et al (5) menyatakan bahwa pyrantel pamoate efektif
terhadap
A: lumbricoides
dan cacing tambang tetapi tidak
efektive terhadap
T: trichiura:
Partono F et al
(6)
mengemukakan bahwa mebendazole
merupakan anthelmintik yang berspektrum luas dan efektif
terhadap nematoda usus pada umumnya
A. lumbricoides,
T: trichiura,
cacing tambang dan
Oxyuris vermicularis.
Hanya
memberikan gejala "erratic migration" pada
A. lumbricoides
untuk beberapa penderita:
Dalam usaha mencari obat cacing yang benar-benar efektif
terhadap semua nematoda usus yang ada, dengan mengkom-
binasikan obat anthelmintik yang ada dan berspektrum luas
kami mencoba kombinasi beberapa obat dengan dasar me-
nambah kekurangan ataupun mengurangi kerja sampingan
yang mungkin timbul dari masing-masing obat:
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan di RS UGM Bagian Penyakit Dalam
sejak bulan September
1979
s/d Juni
1980:
Penderita yang
positif dengan nematoda usus pada pemeriksaan langsung,
7 5
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
TABEL la : KELOMPOK I(Pengobatan dengan Mebendazole 300 mg + Tetramizole 75 mg)
MACAM CACING
SEBELUM PENGOBATAN
5 HARI SESUDAH
PENGOBATAN
ANGKA PENYEM
BUHAN
PENURUNAN JUMLAH
TELUR
A.lumbricoides
n = 27
6
77%
99%
telur
= 9062.I00
3090
jumlah telur = I99.980
270
rata-rata
= 7.400
I0
T.trichiura
n = 35
1 7
51 %
96%
telur
= 3010770
30270
jumlah telur = 64.650
1
980
rata-rata
= 1 850
55
N.americanus
n = 32
6
81%
98%
telur
= 3069.300
30I20
jumlah telur = 1 09.350
1.830
rata-rata
= 3.400
58
TABEL 1b : KELOMPOK II (Pengobatan dengan Pyrantel pamoate 500 mg + Mebendazole 150 mg)
MACAM CACING
SEBELUM PENGOBATAN
5 HARI SESUDAH
PENGOBATAN
ANGKA PENYEM
BUHAN
PENIJRUNAN JUMLAH
TELUR
A.lumbricoides
n = 1 5
0
100%
100%
telur
= 420I0.470
jumlah telur = 109.620
rata-rata
3.654
0
T.trichiura
n = 33
6
8I%
92%
telur
= 30960
90
120
jumlah telur = I3.860
990
rata-rata
= 420
30
N.americanus
n = 42
6
85%
95%
telur
= 1 202.460
1 20180
jumlah telur = 25.650
1 080
rata-rata
= 6I0
25
dipilih secara random untuk penelitian kemudian tinja dikirim
ke Bagian Parasitologi FK UGM untuk pemeriksaan lebih
lanjut secara kuantitatif dengan metoda Kato dan kultur
Harada Mori (modifikasi) untuk mengetahui macam cacing
tambangnya. Tiap penderita yang dipilih diberikan nomer
urut di mana penderita bernomor ganjil dimasukkan dalam
satu kelompok atau Kelompok I dan penderita bernomor
genap dimasukkan dalam satu kelompok atau Kelompok II,
sedang orang hamil dibebaskan dari penyelidikan.
Obat yang digunakan adalah kombinasi antara :
(a)
Mebendazole
300 mg dan tetramizole 75
mg,
(b)
Pyrantel pamoate 500 mg dan mebendazole
150
mg.
Penderita Kelompok I diberikan pengobatan kombinasi (a),
penderita Kelompok II diberikan pengobatan kombinasi (b) .
Semuanya diberikan dalam dosis tunggal dan hanya satu kali
pemberian. Selama dua hari berturut-turut tiap penderita
ditanya dan dicatat gejala atau kerja samping yang mungkin
timbul sesudah pengobatan dan pencatatan dimulai sehari
sesudah pengobatan. Perlu diketahui para penderita ini juga
dapat pengobatan lain yang ditujukan penyakit pokok, jadi
gejala yang ada dianggap kerja samping pengobatan bila se-
belum
pengobatan maupun sesudah selesainya pengobatan
gejala tersebut tidak ada. Pemeriksaan tinja ulang dilakukan
5 hari sesudah pengobatan dengan cara yang sama.
HASIL PENGOBATAN/PENGAMATAN
Dari 142 penderita dengan infeksi nematoda usus, masing-
masing terdiri atas 88 penderita wanita dan 54 penderita
laki-laki. Semua penderita yang terinfeksi
A.
lumbricoides
5
1,4%,
T. trichiura 64% dan cacing tambang 68,3% dimana
infeksi tunggal 38%, infeksi rangkap dua 33,8%, sedang infeksi
rangkap tiga
28,1%.
Dari penderita Kelompok I yang dapat dievaluasi sebanyak
45 penderita terdiri atas 22 penderita laki-laki dan 23 pen-
derita wanita umur berkisar
14
tahun - 72 tahun.
Dari penderita Kelompok II yang dievaluasi sebanyak 45
penderita terdiri atas
15
penderita laki-laki dan 30 penderita
wanita, sedang umur berkisar 15 tahun - 80 tahun.
Kalau kita perhatikan Tabel la maka Kelompok I di mana
pengobatan dengan mebendazole 300 mg + tetramizole 75 mg
Simposium Masalah Penyakit Parasit
76
dosis tunggal memperoleh hasil sebagai berikut ;
Angka penyembuhan (cure rate) untuk A.
lumbricoides
77%.
Angka penurunan jumlah telur (egg reduction rate) untuk
A. lumbricoides
99%. Jadi sebelum pengobatan penderita
dengan infeksi
A. lumbricoides
sebanyak 27 penderita dan
jumlah telur 199.980/gr tinja dimana, tiap penderita dengan
jumlah telur berkisar 90 - 62.I00 dan rata-rata 7400/gr tinja;
sesudah pengobatan penderita dengan infeksi
A. lumbricoides
sebanyak 6 orang dan jumlah telur 270/gr tinja dimana tiap
penderita dengan jumlah telur berkisar 30 - 90- dan rata-rata
I0/gr tinja.
Angka penyembuhan untuk
T. trichiura
51%. Angka penurun-
an jumlah telur untuk
T. trichiura
96%. Jadi sebelum peng-
obatan penderita dengan infeksi T.
trichiura
sebanyak 35
penderita dan jumlah telur berkisar 30 - I0.770/gr tinja tiap
penderita sedang jumlah telur seluruhnya
64.650/gr dan
rata-rata I850/gr.
Sesudah pengobatan penderita dengan infeksi
T. trichiura
sebanyak 17 penderita, tiap penderita dengan jumlah telur
berkisar 30 - 270/gr, jumlah telur menjadi I980/gr tinja dan
rata-rata 55/gr tinja.
Angka penyembuhan untuk cacing tambang
(N. americanus)
81%. Angka penurunan jumlah telur untuk cacing tambang
98%. Sebelum pengobatan penderita dengan infeksi cacing
tambang sebanyak 32 penderita, jumlah telur berkisar 30 -
69.300/gr tinja sedang jumlah telur seluruhnya I09.350/
gr tinja dan rata-rata jumlah telur 3400/gr tinja.
Sesudah pengobatan penderita dengan infeksi cacing tambang
sebanyak 6 penderita, jumlah telur berkisar 30 -I20 sedang
jumlah telur yang masih ada I830 dan rata-rata telur 58/gr.
Kalau kita perhatikan Tabel 1 b atau untuk Kelompok II
di mana pengobatan dengan pyrantel pamoate 500 mg +
mebendazole I50 mg dosis tunggal memperoleh hasil sebagai
berikut :
Angka penyembuhan untuk A.
lumbricoides I00%
atau
dengan kata lain angka penurunan jumlah telur juga I00%.
Jumlah penderita 15 orang, jumlah telur berkisar 420 - I0.470
/gr tinja.
Jumlah telur seluruhnya I09.620 dan rata-rata 3654/gr tinja
sebelum pengobatan, akhirnya 5 hari sesudah pengobatan
jumlah telur 0.
Angka penyembuhan untuk
T. trichiura
8I% sedangkan angka
penurunan jumlah telur 92%. Sebelum pengobatan jumlah
penderita dengan infeksi
T. trichiura
33 penderita, jumlah
telur 30 - 960, jumlah seluruh telur I3860 dan jumlah rata-
rata telur 420/gr tinja.
Sesudah pengobatan jumlah penderita 6 penderita, jumlah
telur berkisar 90 - I20, jumlah telur seluruhnya tinggal 990
atau rata-rata 30/gr tinja.
Angka penyembuhan untuk cacing tambang
(N. americanus)
85% sedangkan angka penurunan jumlah telur 95%.
Sebelum pengobatan jumlah penderita cacing tambang 42
penderita, jumlah telur berkisar I20 - 2460/gr tinja, jumlah
seluruh telur 25650 dan rata-rata 6I0/gr tinja.
Sesudah pengobatan jumlah penderita cacing tambang men-
jadi 6 penderita, telur berkisar I20 - 180, jumlah telur yang
masih ada I080 sedang rata-rata 25/gr tinja.
Dari hasil pemeriksaan kultur modifikasi Harada Mori ter-
nyata baik dari Kelompok I maupun Kelompok II hanya di
temukan larva
N. americanus.
Kerja sampingan
Dari Kelompok I yaitu pengobatan kombinasi mebendazole
300 mg + tetramizole 75 mg memberikan gejala pusing,
nausea dan diare selama sehari pada 3 orang pentlerita dan
sembuh sendiri tanpa tindakan.
Dari Kelompok II yaitu pengobatan kombinasi pyrantel
pamoate 500 mg + mebendazole 150 mg tidak memberikan
gejala kerja sampingan.
DISKUSI
Seperti terlihat dalam Tabel 2 hasil terapi Kelompok I dengan
obat mebendazole 300 mg + tetramizole 75 mg dan evaluasi
5 hari sesudah pengobatan memperoleh angka penyembuhan
untuk
A. lubricoides, T. trichiura
dan cacing tambang masing-
masing 77%,51% dan 81%, sedangkan angka penurunan jumlah
telur masing-masing berturut-turut 99%,96% dan 98%. Hasil
terapi Kelompok II dengan obat pyrantel pamoate 500 mg +
mebendazole 150 mg dan evaluasi 5 hari sesudah pengobatan
memperoleh angka penyembuhan untuk
A. lubricoides, T. tri-
chiura
dan cacing tambang masing-masing 100%,81% dan 85%
sedangkan angka penurunan jumlah telur masing-masing
berturut-turut 100%,92% dan 95%.
TABEL 2: HASIL TERAPI KELOMPOK I KELOMPOK II
MACAM OBAT
LAMA
TERAPI
EVALUASI
TERAPI
SESUDAH
PENYEMBUHAN DALAM
PENURUNAN JUMLAH
TELUR DALAM %
%
A.I
T.t
C.T
A.I
T.t
C.T
Mebendazole 300 mg +
Tetramizole
75 mg
1 hari
5 hari
77
51
81
99
96
98
Pyrantel pamoate 500 mg + Mebendazole
150 mg
1
hari
5 hari
1 00
81
85
1 00
92
95
77
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
A.I= A. lumbricoides.
T.t = T. trichiura.
C.T = Cacing Tambang.
TABEL 3: HASIL TERAPI KELOMPOK I DIBANDING DENGAN HASIL TERAPI PENELITI TERDAHULU (Mebendazole)
PENELITI
1
TAHUN
MACAM
PENELITIAN
OBAT
LAMA
TERAPI
EVALUASI
TERAPI
sesudah
PENYEMBUHAN DA
LAM %
PENURUNAN JUMLAH
TELUR DALAM %
A.1
T.t
C.T
A.I
T.t
C.T
Juwono R et al
1 973
Mebendazole 200 mg/
haii
3 hari
1 014 hari
1 bulan
87,5
100
82,1
89,3
79,4
85,3
91,2
100
94,9
96,6
95,3
98,4
Partono F et al
1 974
Mebendazole 100 mg,
2
x
10 0 mg
1 hari
2 hari
3 hari
6 hari
1 4 hari
98
I00
77
(1seri)
96 (2 se-
ri)
85
100
100
I00
Lionel N D W
1975
Mebendazole
2 x 100 mg/hari
34
14 hari
100
98,4
97,9
100
Soebagyo L et al
1980
Mebendazole 300 mg +
Tetramizole 75 mg
1 hari
5 hari
77
51
81
99
96
98
Chanco P
1 971
Tetramizole 50 mg
200 mg
1 hari
1 014
hari
77,63
Metode
sentri
fugal
80,82
Metode
direk
Kita bandingkan hasil pengobatan Kelompok I dan Kelompok
II .
Ditinjau dari angka penyembuhan ternyata kombinasi meben-
dazole 300 mg + tetramizole 75 mg kurang efektif dibanding
dengan kombinasi pyrantel pamoate 500 mg + mebendazole
150 mg, tetapi ditinjau dari angka penurunan jumlah telur
tidak ada perbedaan yang berarti untuk semuanya baik
A.
lum-
bricoides, T. trichiura maupun cacing tambang.
Juwono R et al (7) dengan dasar pengobatan mebendazole
200 mg/hari selama 3 hari berturut-turut, pemeriksaan tinja
ulangan dilakukan 10 - 14 hari sesudah pengobatan terakhir
dari 56 penderita mendapatkan
"
cure rate
"
untuk
A.
lumbri-
coides 87,5% dan egg reduction rate 9I,2%.
"Cure rate" untuk
T.
trichiura 82,I% dan egg reduction rate
94,9%.
"Cure rate" untuk cacing tambang 79,4% dan egg reduction
rate 95,3%.
Dan sesudah sebulan pengobatan didapatkan :
"Cure rate" untuk
A.
lumbricoides I00%
"Cure rate" untuk
T.
trichiura 89,3% dan egg reduction rate
96,6%
"Cure rate" untuk cacing tambang 85,3% dan egg reduction
rate 98,4%.
Partono F et al (6) pada pemeriksaan tinja ulangan 14 hari
sesudah pengobatan dosis tunggal 100 mg mebendazole satu
kali pemberian dan dua kali selama 2 hari memperoleh masing-
masing 98% dan I00% penyembuhan untuk
A.
lumbricoides.
Dosis 2 x 100 mg dalam 3 hari berturut-turut, antara satu seri
dan dua seri pengobatan mebendazole masing-masing mem-
peroleh 77% dan 96% penyembuhan
T.
trichiura sedang
untuk cacing tambang masing-masing 85% dan I00% penyem-
buhan.
Lionel N D W et al (8) menggunakan dosis 2 x I00 mg meben-
dazole dalam 3 - 4 hari pemberian berturut-turut dan pemerik-
saan tinja ulangan 14 hari sesudah pengobatan memperoleh
penurunan jumlah telur 98,4%, 97,9% dan 100% masing-
masing untuk cacing gelang, cacing cambuk dan cacing tambang
Chanco P (9) melakukan pengobatan ascariasis dengan tetra-
mizole dosis tunggal sesudah makan pada umur di atas I2
tahun dan dosis dewasa 3 - 4 tablet, 7 - I2 tahun 2 tablet
dan 2 - 6 tahun 1 tablet dimana tiap tablet = 50 mg. Evaluasi
dengan pemeriksaan direk dan floatasi sentrifugal dari seng
sulfat I0 - I4 hari sesudah pengobatan memperoleh penyem-
buhan 80,82% dan 77,63%.
Hasil pengobatan Kelompok I (Mebendazole 300 mg + Tetra-
mizole 75 mg) dibanding hasil pengobatan Mebendazole para
peneliti terdahulu
Lihat tabel3.
Tinjauan untuk A. lumbricoides
Hasil pengobatan kami adalah 77% penyembuhan dan 99%
penurunan jumlah telur. Dibanding Juwono R (7) dengan
dosis mebendazole 200 mg/hari, selama 3 hari memperoleh
87,5% penyembuhan dan 9I,2% penurunan jumlah telur.
Partono F et al (6) pengobatan dosis tunggal mebendazole
100 mg satu kali pemberian dan dua kali (selama 2 hari)
masing-masing memperoleh penyembuhan 98% dan I00%.
Lionel NDW (8) dosis mebendazole 2 x 100 mg/hari selama
3 - 4 hari pemberian memperoleh 98,4% penurunan jumlah
telur.
Simposium Masalah Penyakit Parasit
78
Chanco P (9) dengan dosis tunggal berkisar sebesar 50 - 200
mg tetramizole, dosis tergantung umur, memperoleh 80,82%
penyembuhan dari evaluasi pemeriksaan tinja direk dan
77,63% penyembuhan dari evaluasi floatasi sentrifugal dengan
seng sulfat.
Dengan melihat hasil-hasil tersebut terutama Juwono R et al
(7), Partono F et al (6), dan Lionel NDW et al (8) sebagai
hasil pengobatan mebendazole dan evaluasi I0 - 14 hari
sesudah pengobatan menunjukkan angka penyembuhan yang
berbeda, tetapi bila ditinjau dari angka penurunan jumlah telur
ternyata tidak menunjukkan perbedaan yang berarti yaitu
masing-masing berturut-turut 91,2%, I00% dan 98,4%.
Kalau ditinjau hasil pengobatan kami yaitu dengan mebenda-
zole 300 mg + tetramizol 75 mg dan evaluasi 5 hari sesudah
pengobatan memperoleh angka penyembuhan 77% atau di
bawah hasil yang dicapai Juwono R et al (7) Partono F et al
(6). Tetapi perlu diingat bahwa evaluasi kami 5 hari sesudah
pengobatan, sedangkan Juwono R et al (7) dan Partono F et al
(6) adalah 10 - 14 hari sesudah pengobatan. Sedangkan bila-
mana ditinjau dari angka penurunan jumlah telur, hasil peng-
obatan kami tidak kalah baik hasilnya yaitu 99%.
Kalau ditinjau dari pengobatan tetramizole saja dengan hasil
yang dicapai Chanco PPJr. et al (9), pengobatan kami tidak
ada perbedaan nyata dari evaluasi penyembuhan.
Dari data yang kami dapat ternyata hasil pengobatan kami
tidak ada perbedaan yang berarti ditinjau dari penurunan
jumlah telur untuk A. lumbricoides dari kelompok I dibanding
Juwono R et al (7), Partono F et al (6) maupun Lionel NDW
et al (8).
Tinjauan untuk T. trichiura.
Dari Kelompok I penyembuhan 5I% sedang penurunan jumlah
telur 96%.
Dibanding Juwono R et al (7) penyembuhan 82,I% dan
penurunan jumlah telur 94,9%, Partono F et al (6) penyem-
buhan pada satu seri dan dua seri pengobatan masing-masing
77% dan 96% sedangkan Lionel NDW et al (8) penurunan
jumlah telur 97,9%. Dengan melihat hasil-hasil tersebut di atas
sebagai hasil pengobatan mebendazole dosis 2 x 100 mg/hari
selama tiga hari berturut-turut dengan evaluasi I0 - I4 hari
sesudah pengobatan, di banding dengan hasil pengobatan kami
kombinasi mebendazole 300 mg + tetramizole 75 mg dan
evaluasi 5 hari sesudah pengobatan, memberikan penyembuh-
an 5I% atau lebih rendah dari Juwono R et al (7) maupun
Partono F et al (6), tetapi ditinjau dari penurunan jumlah
telur 96% menunjukkan tidak ada perbedaan yang berarti.
Jadi ditinjau dari penurunan jumlah telur hasil pengobatan
kami tidak ada perbedaan yang berarti hasil Kelompok I
dibanding Juwono R et al (7), Partono R et al (6) maupun
Lionel NDW et al (8).
Tinjauan untuk cacing tambang
Dari kelompok I untuk N. americanus penyembuhan 81% dan
penurunan jumlah telur 98%. Dibanding Juwono R et al (7)
penyembuhan 79,4% dan penurunan jumlah telur 95,3%
Partono F et al (6) penyembuhan 85% dan 100% masing-
masing pengobatan satu seri dan dua seri sedangkan Lionel
NDW et al (8) penurunan jumlah telur 100%. Dari ketiga
peneliti tersebut data yang diperolehnya berdasar hasil peng-
obatan mebendazole 2 x I00
mg/hari, 3 hari berturutan dan
TABEL 4 : HASIL TERAPI KELOMPOK II DIBANDING DENGAN HASIL TERAPI PENELITI TERDAHULU (Pyrantel pamoate)
PENELITI
TAHUN
PENELITI
MACAM OBAT
LAMA
I
TERAPI
EVALUASI
TERAPI
SESUDAH
PENYEMBUHAN DALAM
PENURUNAN
TELUR DALAM %
JUMLAH
%
A.1
T.t
C.T
A.I
T.t
C.T
HSIEH H C et al
1970
Pyrantel pamoate
1 0 mg/Kg.BB
1 hari
4 minggu
96
83
RIM H J et al
1972
Pyrantel pamoate
8,5
I0mg/Kg.BB
1 hari
1824
hari
100
4,8
86,7
KOSIN E
1975
Pyrantel pamoate
15 mg/ Kg.BB
I hari
3 minggu
90,1
69,5
95,5
92
SRI MARGONO
et al
1976
Pyrantel pamoate
1 0 mg/Kg.BB
1 hari
1 bulan
81,8
87,9
88,1
(6,210,
4)
(22,5
70)
94,6
95,8
96,4
(22,4
49,6)
(72,9
91)
NOERHAYATI S
1978
Pyrantel pamoate
10 mg/Kg.BB
hari
1 bulan
90,2
3,7
57,5
95,2
55,2
81,6
SOEBAGYO
1980
Pyrantel pamoate
500 mg + Mebendazo-
le 150 mg
1 hari
5 hari
100
81
85
100
92
9S
79
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
evaluasi
I 0 -
14
hari sesudah pengobatan. Sedang dari kelom-
pok I pengobatan dengan kombinasi mebendazole 300 mg +
tetramizole 75 mg dosis tunggal dan evaluasi
5
hari sesudah
pengobatan diperoleh penyembuhan
81%
dan penurunan
jumlah telur
98%
atau menunjukkan tidak ada perbedaan
yang berarti.
Jadi dari data hasil pengobatan kami tidak ada perbedaan
yang berarti ditinjau baik dari derajat penyembuhan maupun
jumlah penurunan telur untuk cacing tambang dari Kelompok
I dibanding Juwono R et al (7), Partono F et al
(6)
dan Lionel
NDW et al (8).
Hasil pengobatan Kelompok II yaitu kombinasi Pyrantel
pamoate 500 mg + Mebendazole 150 mg dibanding dengan
hasil peneliti terdahulu.
Lihat tabel 4.
Hsieh HC et al
(4)
menggunakan dosis tunggal pyrantel pa-
moate I0 mg/Kg BB dengan pemeriksaan tinja ulangan
4
minggu sesudah pengobatan yang dilakukan 3 hari berturut-
turut diperoleh penyembuhan
96%
dan
83%
masing-masing
untuk A.
lumbricoides
dan cacing tambang di mana untuk
N. americanus 71%
dan
Ancylostoma duodenale 9I%.
Rim HJ et al (I0) menggunakan dosis tunggal pyrantel pa-
moate
8,5 - I0
mg/Kg BB dengan pemeriksaan tinja ulangan
18 - 24
hari sesudah pengobatan diperoleh penyembuhan
I00%
4,8
% dan
86,7%
masing-masing untuk
A. lumbricoides,
T. trichiura
dan cacing tambang.
Kosin E (1I) menggunakan
15
mg/KBB dosis tunggal dengan
pemeriksaan tinja ulangan
3
minggu sesudah pengobatan
diperoleh penyembuhan untuk
A. lumbricoides
dan cacing
tambang masing-masing
90,I%
dan
69,5%
sedangkan penurunan
jumlah telur masing-masing
95,5%
dan
92%.
Sri Margono dkk
(5)
menggunakan pengobatan 10 mg/Kg BB
pyrantel pamoate dosis tunggal dengan pemeriksaan tinja
ulangan satu bulan sesudah pengobatan diperoleh hasil pe-
nyembuhan pada tiga golongan penduduk masing-masing
8I,8%, 87,9%
dan
88,1%
untuk
A. lumbricoides
sedang
penurunan jumlah telur masing-masing
94,6%, 95,8%
dan
96,4%.
Sedang untuk
T. trichiura
dan cacing tambang angka penyem-
buhannya masing-masing berkisar
(6,2 - I0,4%)
dan
(22,5 -
70%)
dan penurunan jumlah telur masing-masing berkisar
(22,4 - 49,6%)
dan
(72,9 - 9I%).
Noerhayati
(3)
menggunakan 10 mg/Kg BB pyrantel pamoate
dosis tunggal, pada pemeriksaan tinja ulangan satu bulan
sesudah pengobatan diperoleh penyembuhan
90,2%, 3,7%
dan
57,5%
masing-masing untuk
A. lumbricoides, T. trichiura
dan cacing tambang. Sedangkan penurunan jumlah telur
masing-masing
95,2%, 55,2%
dan
8I,6%.
Tinjauan untuk A. lumbricoides.
Hsieh HC et al (4), Rim HJ et al (10), Kosin E (II), Sri Mar-
gono et al
(5)
dan Noerhayati
(3)
menggunakan pyrantel
pamoate dosis tunggal
8,5 - 15
mg/Kg BB masing-masing
diperoleh penyembuhan
96%, 90,1%; (8I,8 -88,I%)
dan
90,2%.
Sedangkan penurunan jumlah telur Kosin E (II),
Sri Margono et al
(5)
dan Noerhayati
(3)
masing-masing
95,5%,
(94,6% - 96,4%)
dan
95,2%.
Dari Kelompok II kami peroleh baik angka penyembuhan
maupun penurunan jumlah telur 100% dengan catatan evaluasi
pemeriksaan tinja ulangan
5
hari sesudah pengobatan kombi-
nasi pyrantel pamoate
500
mg + mebendazole
I50
mg, dan
hasil pengobatan ini memang logis lebih baik karena selain
pyrantel pamoate
500
mg masih ditambah mebendazole
I50
mg.
Tinjauan untuk T. trichiura.
Rim HJ et al (10), Sri Margono et al
(5)
dan Noerhayati
(3)
penyembuhan masing-masing
4,6%, 6,2% - I0,4%
dan
3,7%.
Sedangkan penurunan jumlah telur
22,4 - 49,6%
dinyatakan
oleh Sri Margono et al
(5)
dan
55,2
oleh Noerhayati (3).
TABEL
5 :
HASIL TERAPI KELOMPOK II DIBANDING DENGAN HASIL TERAPI PENELITI TERDAHULU
(Pyrantel pamoate Mebendazole)
PENELITI
TAHUN
PENELITI
MACAM OBAT
LAMA
TERAPI
EVALUASI
TERAPI
SESUDAH
PENYEMBUHAN DALAM
PENURUNAN JUMLAH
%
TELUR DALAM %
A.1
T.t
C.T
A.1
T.t
C.T
HARUN M et al
I980
Pyrantel pamoate
100 mg + Meben-
dazole 150 mg
3 hari
100
92
100
PARTONO F
1980
Pyrantel pamoate
34 mg + Meben-
dazole 150 mg
3 hari 10 hari
100
85
83
100
ALISAH NA et al
1980
Pyrantel pamoate
100 mg + Meben-
dazole 150 mg
3 hari 3 minggu
95
75
97
94,1
SOEBAGYO L et al
1980
Pyrantel pamoate
500 mg + Meben-
dazole 150 mg
1 hari
5 hari
100
81
85
100
92
95
Simposium Masalah Penyakit Parasit
80
Pada Kelompok II dengan pengobatan pyrantel pamoate
500 mg + mebendazole 150 mg, evaluasi pemeriksaan tinja
ulangan 5 hari sesudah pengobatan diperoleh penyembuhan
8I% dan penurunan jumlah telur 92% untuk
T. trichiura.
Hasil pengobatan ini untuk
T. trichiura
jadi jauh lebih baik,
baik ditinjau dari angka penyembuhannya maupun dari
penurunan jumlah telur.
Tinjauan untuk cacing tambang.
Hsieh HC et al (4), Rim HJ et al (10), Kosin (11) Sri Margono
et al (5) dan Noerhayati (3) angka penyembuhan masing-
masing 83%, 86,7%, 69,5%, 22,5% - 70%, dan 57,5%. Kosin E
(I1), Sri Margono et al dan Noerhayati (3) angka penurunan
jumlah telur masing-masing 92%, 72,9% - 91% dan 8I%.
Pada Kelompok II memperoleh angka penyembuhan dan
penurunan jumlah telur masing-masing 85% dan 95% sebagai
hasil pengobatan pyrantel pamoate 500 mg + mebendazole
I50 mg dosis tunggal, sehingga dengan sendirinya pada peng-
obatan ini hasilnya lebih baik ditinjau baik dari angka pe-
nyembuhannya maupun angka penurunan jumlah telur cacing
tambang.
Hasil pengobatan Kelompok II yaitu dengan Pyrantel pamoate
500 mg + Mebendazole 150 dibanding hasil pengobatan
peneliti terdahulu.
Lihat Tabel S
Harun M et al (I2) dosis tunggal pyrantel pamoate I00 mg +
mebendazole 150 mg 3 hari berturut-turut diperoleh pe-
nyembuhan I00% dan 92% masing-masing untuk
A. lumbri-
coides
dan
T. trichiura.
Partono F(I3) dosis tunggal pyrantel pamoate 34 mg base +
mebendazole I50 mg selama tiga hari berturutan diperoleh
angka penyembuhan 100%, 85% dan 83% masing-masing
untuk
A. lumbricoides, T. trichiura
dan
N. americanus.
Aliasah NA et al (14) memberikan pengobatan tiga seri,
masing-masing seri berinterval empat bulan. Pengobatan seri I
dan seri II masing-masing diberikan dosis tunggal satu tablet
Trivexan yang isinya pyrantel pamoate I00 mg + mebendazole
I50 mg. Sedangkan seri III pengobatan dosis tunggal satu
tablet Trivaxan/hari diberikan 3 hari berturut-turut dan
pemeriksaan tinja ulangan 3 minggu sesudah pengobatan.
Hasil pengobatan seri ke III penyembuhan 95% dan 75%
masing-masing untuk
A. lumbricoides
dan
T. trichiura
sedang
penurunan jumlah telur masing-masing 97% dan 94,1%.
Tinjauan untuk A. lumbricoides.
Angka penyembuhan untuk
A. lumbricoides
baik yang diper-
oleh Harun M et al (I2) maupun Partono F et al (13) 100%
sedangkan Alisah NA (I4) memperoleh 95%. Angka penurun-
an jumlah telur masing-masing 100%, 100% dan 97%.
Dibanding dengan hasil pengobatan kami pada kelompok II
penyembuhan maupun penurunan jumlah telur adalah I00%
untuk
A. lumbricoides,
jadi sama dengan peneliti terdahulu.
Tinjauan untuk T. trichiura.
Angka penyembuhan untuk
T. trichiura
diperoleh Harun M et
al (I2), Partono F et al (I3) dan Alisah NA (I4) masing-
masing 92%, 85%, dan 75%. Sedang angka penurunan jumlah
telur yang diperoleh Alisah NA et al (14) 94,I%.
Dibanding hasil pengobatan kami pada Kelompok II angka
penyembuhan untuk
T. trichiura
8I% dan penurunan jumlah
telur 92%. Di sini ternyata lebih rendah dibanding Harun.
M et al (
12) maupun Partono F et al (13), tetapi hampir sama
dengan Alisah NA et al (I4).
Tinjauan untuk cacing tambang.
Angka penyembuhan untuk cacing tambang
(N. americanus)
diperoleh Partono F (13) 83%, sedangkan dari hasil pengobat-
an kami pada Kelompok II penyembuhan untuk
N. americanus
85% dengan kata lain sama.
Tinjauan evaluasi dilakukan dari beberapa hari sampai bebera-
pa minggu hingga satu bulan sesudah pengobatan.
Kalau kita perhatikan baik pada tabel 3, tabel 4 maupun
tabel 5
evaluasi sesudah pengobatan oleh para penyelidik
terdahulu ternyata paling dini adalah 10 hari, kemudian 14
hari dan I8 hari, 3 minggu, 24 hari dan akhirnya satu bulan,
sedangkan apa yang kami lakukan adalah 5 hari sesudah
pengobatan.
Hal ini kami berpendapat sangat penting terutama di klinik
di mana penderita yang tidak mampu biasanya ingin secepat-
nya pulang atas permintaan sendiri karena alasan biaya dan
dari evaluasi kami kombinasi mebendazole 300 mg + tetrami-
zole 75 mg maupun kombinasi antara pyrantel pamoate 500
mg + mebendazole 150 mg dosis tunggal hanya dalam waktu
5 hari sesudah pengobatan evaluasi pengobatan dapat dilaku-
kan dan hasilnya ternyata hampir sama baiknya dengan eva-
luasi dari I0 hari sampai satu bulan sesudah pengobatan dari
para penyelidik terdahulu.
KESIMPULAN
1. Dari hasil pengobatan kami, dosis tunggal kombinasi
mebendazole 300 mg + tetramizole 75
mg dibandingkan
pyrantel pamoate 500 mg + mebendazole 150 mg ditinjau
dari penurunan jumlah telur mempunyai kemampuan sama
efektifnya baik terhadap
A.
lumbricoides,
T. trichiura
maupun cacing tambang. Hanya kombinasi mebendazole
300 mg + tetramizole 75 mg memberikan kerja sampingan
pada 3 penderita dari 45 penderita yang diobati.
2. Dosis tunggal kombinasi mebendazole 300 mg + tetrami-
zole 75 mg dibanding dosis mebendazole 200 mg/hari
selama 3 hari berturut-turut ditinjau dari penurunan jumlah
telur mempunyai kemampuan yang sama efektifnya baik
terhadap
A.
lumbricoides,
T. trichiura,
bahkan untuk
cacing tambang tidak hanya penurunan jumlah telur tapi
juga penyembuhannya.
3. Dosis tunggal kombinasi pyrantel pamoate 500 mg +
mebendazole 150 mg dibanding dosis tunggal pyrantel
pamoate 8,5 - 15 mg/Kg BB ditinjau dari penyembuhan
maupun penurunan jumlah telur ternyata kombinasi pyran-
tel pamoate 500 mg + mebendazole I50 mg pada orang
dewasa mempunyai kemampuan yang lebih efektif untuk
A. lumbricoides, T. trichiura
dan cacing tambang.
4. Dosis tunggal kombinasi pyrantel pamoate 500 mg + me-
bendazole I50 mg pada orang dewasa dibanding dosis
tunggal kombinasi pyrantel pamoate 100 mg + mebenda-
zole I50 mg/hari, pengobatan 3 hari berturut-turut, ditinjau
baik penyembuhan maupun penurunan jumlah telur mem-
punyai kemampuan yang sama efektifnya untuk
A. lum-
bricoides
dan cacing tambang.
81
Cennin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
5. Untuk pengobatan di klinik dengan kombinasi mebendazo-
le 300 mg + tetramizole 75 mg maupun kombinasi pyrantel
pamoate 500 mg + mebendazole I50 mg dosis tunggal
pada orang dewasa dalam jangka waktu 5 hari sesudah
pengobatan, pada pemeriksaan tinja ulangan telah diperoleh
hasil pengobatan yang efektif.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih kami kepada Kepala Bagian Penyakit Dalam
Fakultas Kedokteran UGM untuk semua fasilitas
yang
diberikan kepada
kami di R.S. Pugeran dan juga ucapan terima kasih kami lewat dr.
Soenazno kepada P.T. Mecosin dalam penyediaan obat kombinasi
mebendazole - tetramizole.
KEPUSTAKAAN
1.Clazke MD, Cross JH, Carney WP, et al. A parasitologixal survey in
the Yogyakarta area of Central Java., Indonesia. Southeast Asian J
Trop Med Pub Hlth 1973; 4: 195.
2.Noerhayati S, Soenarno. Prevalensi infeksi cacing yang caza pe-
nularannya melalui tanah, di daerah Yogyakarta dan Surakarta.
Kumpulan naskah Musyawarah Nasional II Ikatan Alumni dan
Kursus Penyegar Ilmu Kedokteran I- FK UGM. I973.
3.Noerhayati S. Beberapa segi infeksi cacing tambang di Yogyakarta,
Indonesia. Tesis, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta, I978.
4. Hsieh HC, Chen ER. Evaluation of anthelmintic activity of pyrantel
pamoate (Combantrin) against ascaris and hookworm. Chinese J
Microb 1970; 3 : 126 - 130.
5.Margono S S, Oemiyati S, Roesin R, Hardjawidjaja, Rochida- R.
Soil transmitted helminthic infection among peopl e of different
sosio-economic levels. Bull Penelitian Kesehatan 1976 ; 4 : 57 - 63.
6.Partono F, Purnomo, Tangkilisan A. The use of mebendazole in the
treatment of polypazasitism. Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1974; 5 : 258 - 264.
7.Juwono R, Tantulaz K. Pengalaman klinis dengan mebendazole,
anthelmintik baru dengan spektrum luas. Buku naskah Kongres
Persatuan Ahli Penyakit Dalam Ke II, Surabaya I973.
8.Lionel NDW, Rajapakse L, Soysa P, Aiyathurai JEJ. Mebendazole
in the treatment of intestinal helminthiasis with special reference
to whipworm infection. J Trop Med Hyg 1975; 75 - 77.
9.Chanco PP Jr, Cabe E Jr, Vidad Ma J Y. The efficacy of pyrantel
pamoate in the treatment of ascaziasis. (Comparative study with
piperazine and tetramizole). The Xth Southeast Asian Regional
Seminaz on Tropical Medicine, Bangkok, Oktober 26 - 30, I971.
10. Rim HJ, Lim K. Treatment of enterobiasis and ascariasis with
combantrin (pyrantel pamoate). Trans Royal Soc Trop Med Hyg
1973; 66 : I70 - 175.
11.Kosin.E Treatment trials of ascariasis and hookworm infection in
North Sumatra. Bull Penelitian Kesehatan 1975; III : 17 - 20.
12.Harun M, Purnomo, Paztono F. Kombinasi baru mebendazole 150
mg + pyrantel pamoate 100 mg untuk pengobatan ascaziasis dan
trichiuriasis. Masalah cacing usus di Indonesia dan pengobatannya.
1980.
13.Partono F. Pengalaman pengobatan cacing usus dengan kombinasi
150 mg mebendazole dan 34 mg pyrantel base. Simposium peng-
obatan amebiasis, helmintiasis usus dan trikomoniasis. Jakarta, 19
April 1980.
14.Alisah NA, Hazun Mahfudin, Rumsah Rasad, Rochida Rasidi, Sri S
Margono, Bintari Rukmono. A combination of pyrantel pamoate
and mebendazole in the mass treatment of soil transmitted helmin-
thic infections. Masalah cacing usus di Indonesia dan Pengobatan-
nya,1980.
Pengobatan Mebendazole dan
Diethylcarbamazine (DEC) terhadap Cacing
Usus di Kalimantan Selatan
Harjani A Marwoto , PB
Mc Greevy
, D T Dennis
,
Sutanti Ritiwayanto , Sofjan M
Pusat Penelitian Bio Medis, Badan Penelitian dan Peng-
embangan Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Naval
Medical Research Unit-2, Jakarta Detachment
PENDAHULUAN
Sejak tahun I977 sampai saat ini sedang dilakukan peneliti-
an longitudinal di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Penelitian ini meliputi penelitian demografi, klinis, parasit
usus dan darah, imunologi, pengobatan zoonosis dan entomo-
logi,
yang
dilakukan secara intensif oleh team dari Badan
Litbang Kesehatan, Namru-2 dan P3M daerah.
Daerah tempat penelitian di atas dilakukan terletak di
tengah-tengah kebun karet yang telah ada sejak tahun 30-an.
Penduduknya terdiri dari transmigran dari Jawa dan penduduk
asli Banjar.
Umumnya mereka adalah dari golongan sosioekonomi rendah
dengan higiene-sanitasi lingkungan jelek. Mereka pada umum-
nya tidak mempunyai jamban, membuang kotoran di kebun-
kebun di belakang rumah, di samping rumah, di tengah kebun
karet dsb. sehingga infeksi cacing usus sangat umum diketemu-
kan di daerah tsb.
Filariasis juga banyak diketemukan, dengan prevalensi 35% -
40%, dan penyebabnya ialah sub-periodic
B. malayi.
Salah satu segi yang diteliti ialah pengobatan filariasis
dengan menggunakan DEC (diethyl carbamazine). Karena di
daerah ini cacing usus juga sangat umum diketemukan, maka
selain DEC juga diberikan pengobatan untuk cacing usus
(mebendazole).
Oleh karena itu dipandang perlu untuk melakukan penelitian
mengenai pengaruh pemberian DEC dan mebendazole ter-
hadap cacing usus.
BAHAN DAN CARA KERJA
Untuk penelitian ini dipilih 4 buah desa dengan populasi
± 200 orang perdesa. Ke-4 buah desa tsb. ialah Pengiuran
(desa I), Tanah lntan II (desa II), Tanah Intan I(desa III) dan
Sungai Baru (desa IV).
Pemeriksaan cacing usus dilakukan dengan menggunakan
cara modifikasi Kato Katz. Kemudian jumlah telur per gram
tinja dihitung (EPG = eggs per gram).
Pemeriksaan ini dilakukan sebelum dan sesudah pengobatan
dilakukan.
Pengobatan masal dilakukan sbb :
DEC diberikan dangan dosis 5 mg/kg BB/hari selama I0 hari
berturut-turut. Sedangkan mebendazole diberikan 2X dengan
selang waktu 3 bulan (Mebendazole I dan Mebendazole II).
Dosis yang dipakai ialah I00 mg 2X sehari selama 4 hari.
Desa I diobati dengan mebendazole saja, desa II dengan DEC
saja, desa III dengan DEC dan mebendazole, dan desa IV
tidak diobati selama penelitian dilakukan (sebagai desa pem-
banding).
Simposium Masalah Penyakit Parasit
8 2