ABSTRAK
PROGNOSIS EPILEPSI
Sebuah artikel di Medicine Digest
yang membahas epilepsi, menyatakan
bahwa 50 70% kejang akan berulang
setelah seseorang mengalami kejang
untuk pertama kalinya, sedangkan 20
40% pasien epilepsi akan relaps bila
obatnya dihentikan, meskipun peng-
obatan antiepilepsi dapat menghasilkan
remisi pada 60 100% pasien.
Faktor-faktor yang memperburuk
prognosis antara lain tipe kejang par-
siil atau multipel, epilepsi simtomatik,
retardasi mental, lamanya penyakit dan
adanya defisit neurologik seperti hemi-
paresis.
Epilepsi jenispetit-mal,Rolandikdan
juvenilke myoclonic mempunyai prog-
nosis lebih baik, sedangkan sindrom
West, sindrom Lennox-Gastaut dan
epilepsi fokal simtomatik mempunyai
prognosis buruk.
Med. Digest 1993 (Feb); 11(2): 49
Brw
MIGRAINE-STROKE
Diagnosis migraine-stroke hanya
dibuat bila gejala infark serebri muncul
di tengah serangan migren yang khas,
karena bukan tidak mungkin seorang
penderita migren terserang stroke pada
suatu saat.
Migraine-stroke dijumpai pada 5
25% stroke pada usia muda; sebuah pe-
nelitian menunjukkan bahwa penyakit
ini ditemukan pada 20% pasien stroke
berusia 16 30 tahun dan pada 12%
pasien stroke berusia 31 45 tahun.
Infark ini did uga akibat dari vasokon-
striksi yang dialami pada saat serangan
migren yang berkepanjangan, dan tidak
dikaitkan dengan penyakit jantung atau
pembuluh darah lain.
Neurol. Clin.1992; 10(1): 118
Brw
LAMOTRIGIN OBAT ANTI-
EPILEPSI BARU
Lamotrigin merupakan obat anti-
epilepsi baru yang bekerja melalui
mekanisme hambatan atas pelepasan
neurotransmiter eksitatorik.
Obat ini terutama dicoba sebagai obat
tambahan pada kejang parsial yang re-
sisten; penambahan obat ini dilaporkan
dapat mengurangi kejang antara 17
59%; 1367% pasien merasakan pengu-
rangan frekuensi kejang lebih dari 50%.
Dosis yang digunakan berkisar an-
tara 25 mg. perhari sampai 400 mg.
perhari; sedangkan anak sebesar 0,20,5
mg/kg.bb/hari sampai maksimum 15mg/
kg.bb/hari.
Efek samping yang dilaporkan me-
liputi dizziness, ataksia dan gejala su-
sunan saraf lainnya; rash diderita oleh
± 10% pasien dan dapat cukup berat se-
hingga memerlukan penghentian peng-
obatan pada 1% pasien.
Kombinasinya dengan obat anti-
epilepsi lain inemerlukan penyesuaian
dosis.
Adanya obat ini memberikan alter-
natif baru pada pengobatan epilepsi, ter-
utama pada kasus-kasus yang resisten
terhadap obat-obat yang telah ada.
Drugs 1993; 46(1): 15276
Brw
DIAZEPAM ORAL SEBAGAI PRO-
FILAKSIS KEJANG DEMAM
Untuk mengurangi penggunaan feno-
barbital sebagai profilaksis kejang
demam, sekelompok peneliti di AS
telah mencoba efektivitas diazepam
untuk maksud yang sama. Percobaan
dilakukan secara acak, buta ganda atas
406 anak dengan usia rata-rata 24 bulan
yang menderita sedikitnya satu kali
kejang demam; anak-anak tersebut me-
nerima 0,33 mg/kg.bb diazepam atau
plasebo per oral setiap 8 jam selama
demam.
Selama 1,9 tahun masa pemantauan,
analisis intention-to-treat menunjukkan
bahwa diazepam menurunkan risiko
kejang demam sebesar 44% (relative
risk 0,56; 95%CI : 0,38 - 0,81, p =
0,002) sedangkan analisis yang hanya
dilakukan atas anak yang menderita
kejang selama penelitian (7 anak dari
kelompok diazepam dan 29 anak dari
kelompok plasebo) menunjukkan pe-
nurunan risiko sebesar 82% (relative
risk : 0,18; 95%CI : 0,09 - 0,37, p <
0,001).
Efek samping yang diamati meliputi
ataksia, letargi atau iritabilitas yang di-
jumpai pada 39% anak yang menerima
diazepam sedikitnya satu kali; efek
samping ini menghilang bila dosis dia-
zepam diturunkan.
Diazepam oral yang diberikan di saat
demam agaknya merupakan alternatif
yang aman untuk pencegahan kejang
demam.
N. Engl. J. Med. 1993; 329: 7984
Hk
HEPARIN UNTUK PROFILAKSIS
ASMA
Inhalasi heparin mungkin dapat men-
cegah serangan asma.
Percobaan yang membandingkan
inhalasi 1000 U heparin dengan 20 mg.
sodium kromolin dan plasebo path 12
orang dengan riwayat exercise-induced
asthma menunjukkan bahwa heparin
juga dapat mencegah serangan asma.
Efek ini diduga melalui mekanisme
modulasi atas mediator-release, bukan
melalui efek terhadap otot polos.
N. Engl. J. Med. 1993; 329: 905
Hk
ABSTRAK
VITAMIN UNTUK PROTEKSI
KANKER
Untuk menguji hipotesis yang me-
nyatakan bahwa vitamin dapat melin-
dungi seseorang terhadap kanker,
peneliti di Boston, AS mempelajari pola
diet dari 89.494 wanita berusia 3459
tahun pada tahun 1980; mereka meng-
analisis asupan vitamin C, E dan A, baik
dari makanan maupun suplementasi
lainnya pada awal studi dan pada tahun
1984. Kejadian kanker dibandingkan
antarakelompok dengan quintile asupan
tertinggi dengan kelompok quintile
asupan terendah.
Selama masa penelitian selama 8 ta-
hun, kanker payudara didiagnosis pada
1439 wanita, dan perhitungan statistik
menunjukkan risiko kelompok quintile
asupan vitamin E tertinggi dibanding-
kan dengan risiko kelompok quintile
asupan vitamin C terendah adalah se-
besar 1,03 (95%CI: 0,83 1,19); untuk
vitamin E adalah sebesar 0,99 (95%CI:
0,83 1,19), sedangkan untuk vitamin
A adalah sebesar 0,84 (95%CI: 0,71
0.98). Di antara kelompok asupan vita-
min A terendah, suplementasi vitamin A
dihubungkan dengan penurunan risiko
(p = 0,03).
Mereka menyimpulkan bahwa suple-
mentasi vitamin C dan vitamin E tidak
melindungi wanita terhadap kanker
payudara, sedangkan suplementasi vita-
min A hanya bermanfaat pada kelom-
pok yang asupan vitamin A nya me-
mang rendah.
N Engl J Med. 1993; 329: 234-40
Hk
MANFAAT ULTRASONOGRAFI
PADA KEHAMILAN
Suatu meta-analisis atas 4 penelitian
yang melibatkan 15.935 kehamilan
telah dilakukan untuk menilai manfaat
ultrasonografi pada kehamilan. Dari
sejumlah kehamilan tersebut, 7992
menjalani ultrasonografi rutin dan 7943
hanya secara selektif.
Ternyata rasio kelahiran hidup tidak
berbeda bermakna antara kedua ke-
lompok tersebut (odds ratio : 0,99;
95%aCl: 0,88 1,12) meskipun kemati-
an perinatal lebih rendah di kelompok
ultrasonografi rutin (odds ratio : 0,64;
95%CI: 0,43 0,97); morbiditas (Apgar
score kurang dari 7 pada 1 menit) juga
tidal( berbeda bermaknba (odds ratio :
1,05; 95%CI: 0,93 1,19).
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa ultrasonografi tidak bermanfaat
dalam hal memperbaiki angka kelahiran
hidup ataupun mengurangi morbiditas
perinatal; cara pemeriksaan ini hanya
berguna untuk mendeteksi adanya
kemungkinan malformasi janin.
BMJ 1993; 307: 137
Brw
TETRAPLEGI AKIBAT HIPO-
GLIKEMI
Para dokter di Spanyol telah menu-
liskan pengalamannya menjumpai kasus
tetraplegi akibat hipoglikemi. Keadaan
tersebut dialami oleh pria diabetik ber-
usia 71 tahun yang menggunakan
glibenklamid 5 mg/hari selama 3 tahun.
Pria tersebut dibawa ke unit gawat
darurat dalam keadaan lumpuh keempat
ekstremitas; sebelumnya didahului de-
ngan rasa lesu dan banyak berkeringat.
Kesadaran pasien tetap baik. Pe-
meriksan laboratorik menunjukkan
kadar gula darah sebesar 29 mg/dl., dan
pemberian 10 ml. glukosa 33% meng-
has ilkan perbaikan hanya dalam 3 menit
dan seluruh defisit neurologik hilang
sama sekali.
Stroke 1993; 24(1): 143
Brw
RISIKO ULTRASONOGRAFI
Selama tahun 1979 1981, peneliti-
an dilakukan atas 2428 kelahiran yang
tercatat di 60 klinik di Norwegia; dari
sejumlahkelahiran tersebut,2161(89%)
kelahiran dapat dianalisis.
Penelitian ini ingin mendapatkan data
atas pengaruh pemeriksaan ultra-
sonografi terhadap perkembangan otak
yang diukur melalui handedness dari
anak-anak yang dilahirkan; anak-anak
tersebut diperiksa lagi pada saat berusia
8 9 tahun. Ternyata analisis statistik
menunjukkan bahwa anak-anak yang
kidal lebih suing di jumpai di kelompok
yang ibunya menjalani pemeriksaan
ultrasonografi pada saat kehamilannya
(odds ratio: 1,32; 95%CI: 1,021,71).
Belum jelas apakah pemeriksaan
ultrasonografi mempengaruhi perkem-
bangan otak, tetapi yang jelas tidak ter-
dapat kaitan antara pemeriksaan terse-
but dengan gangguan perkembangan
nurologis anak.
BMJ 1993; 307: 159-64
Brw
RISIKO RADIOTERAPI
Selama ini radioterapi dianggap po-
tensial dapat mengubah sifat genetik
sel; para peneliti di Ontario, Canada
ingin mengetahui pengaruh radioterapi
terhadap anak-anak dari orang-orang
yang pernah menjalani radioterapi.
Untuk itu, selama April 1979 De-
sember 1986 diteliti para orangtua yang
anaknya menderita anomali kongenital
pada tahun pertama (45.200 ibu dan
41.158 ayah), dibandingkan dengan para
orangtua yang anaknya normal (45.200
ibu dan 41.158 ayah). Di antara para ibu,
didapatkan 54 kasus radioterapi di ke-
lompok kasus dan 52 kasus radioterapi
di kelompok kontrol; sedangkan di ka-
langan ayah, terdapat 61 kasus di kelom-
pok kasus dan 65 kasus di kelompok
kontrol.
Analisis statistik menunjukkan per-
bedaan yang tidak bermakna; risiko
anomali kongenital di kalangan anak-
anak yang orangtuanya menjalani ra-
dioterapi tidak lebih tinggi dibandingkan
dengan risiko di kalangan populasi nor-
mal.
BMJ 1993; 307: 1648
Brw