background image
Sistim Pelayanan Gizi
di
Rumah Sakit
Gunarti Yahya
UPM Gizi Rumah Sakit Islam, Jakarta
PENGANTAR
Rumah sakit, selain memberikan pelayanan medis, ber-
upaya memberikan pelayanan hotel pada klien. Atau dengan
kata lain, kualitas pelayanan hotel suatu rumah sakit merupakan
pertimbangan utama dari klien untuk memilih rumah sakit ter-
sebut. Ini merupakan salah satu faktor yang memicu persaingan
antar rumah sakit di kota-kota besar, terutama rumah sakit yang
dikelola oleh pihak swasta.
Namun dapatkah pelayanan gizi -- sebagai bagian integral
dari pelayanan kesehatan rumah sakit -- mengikuti pola penye-
lenggaraan makanan seperti di hotel ?. Yang jelas pelayanan gizi
rumah sakit mempunyai tujuan yang berbeda dengan pelayanan
hotel. Rumah sakit senantiasa bertujuan menyediakan makanan
bermutu yaitu makanan yang memenuhi kebutuhan gizi tanpa
mengurangi cita rasa yang enak sehingga dapat mempercepat
penyembuhan pasien. Jika untuk memenuhi makanan yang ber-
citarasa tinggi harus mengesampingkan nilai-nilai gizi dan per-
aturan diit, maka hal ini harus dipertimbangkan dan dikaji ulang.
Cara terbaik yang ditempuh adalah memadukan ilmu diit
dan seni kuliner (ilmu tentang masakan). Tapi karena keter-
batasan sumber daya manusia dan dana, hal ini sering dirasakan
menjadi faktor penghambat bagi pencapaian mutu pelayanan gizi
yang baik.
Hal lain yang menjadi perhatian adalah pelayanan gizi di
ruang rawat pasien yang menuntut kerja profesional seorang atau
sekelompok ahli gizi. Kerja profesional bagi seorang ahli gizi
berarti melaksanakan pelayanan gizi bagi pasien sesuai dengan
kaidah-kaidahnya. Mulai dari perencanaan diit hingga evaluasi
perkembangan pasien selama dalam perawatan.
Makalah ini disajikan pada Kongres VI PERSI Hospital Expo, Jakarta,
21-- 25
November 1993.
Profesionalisme ahli gizi bisa dinilai jika ada pengakuan dan
penghargaan terhadap eksistensi seorang ahli gizi sebagai salah
satu anggota Tim Kesehatan. Kerapkali terjadi anggota tim lain
(dokter, perawat, apoteker, dan lain-lain) kurang menyadari pen-
tingnya data pelayanan gizi terpadu, sehingga mengakibatkan
kurangnya penghargaan akan peran seorang ahli gizi dalam
proses penyembuhan pasien. Ahli gizi masih sering dianggap
sebagai anggota pelengkap tim kesehatan saja; tidak mempunyai
peranan yang berarti.
Dalam mengetengahkan hal-hal di atas, penulis berusaha
memberikan sedikit sumbang saran yang diserap berdasarkan
pengalaman mengikuti Hospital Administration Training di
Australia (program OTO - BAPPENAS dan Dep Kes RI), dan
beberapa catatan ketika menyusun dan mengevaluasi Action of
Plan di Rumah Sakit Islam Jakarta pada tahun 1992.
STANDARISASI RESEP
Langkah awal dari penyelenggaraan makanan adalah pe-
rencanaan menu. Menu adalah kumpulan beberapa macam
hidangan atau masakan yang disajikan untuk seseorang atau
kelompok orang untuk setiap kali makan. Menu tersebut disajikan
sebagai hidangan pagi, siang atau malam. Perencanaan menu
adalah kegiatan yang sangat penting yang merupakan penentu
keberhasilan penyelenggaraan makanan (Critical Focal Point).
Faktor utama dalam penyusunan menu ini adalah melaku-
kan standarisasi resep. Fungsi standar resep adalah :
·
Mendapatkan makanan yang berkualitas baik dalam jumlah/
porsi makanan yang banyak.
·
Mengetahui kandungan gizi tiap porsi masakan.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
91
background image
·
Mengetahui unit-cost tiap porsi masakan.
·
Memperoleh hasil masakan yang konsisten pada tiap
pemasak.
·
Mempermudah proses penyusunan menu.
·
Mempermudah proses pengolahan masakan.
PROSEDUR PERENCANAAN MENU
Tahap Persiapan
a) Penyebaran kuesioner mengenai menu yang sudah dilak-
sanakan (Kuesioner Pra Menu Baru). Titik berat dari kuesioner
ini adalah mendapatkan data masakan apa yang menjadi masak-
an favorit atau kesukaan pasien.
b) Bentuk Tim Penyusun Menu yang terdiri dari unsur staf
UPM Gizi, unsur ahli gizi, dan unsur Unit Pengolahan Makanan.
c) Pengumpulan data yang diperlukan :
-- Peraturan pemberian makanan sesuai dengan kelas pera-
watan.
-- Standar diit (Hasil Revisi RSIJ).
-- Siklus menu yang digunakan (7, 10 hari atau 2 minggu).
(menentukan banyaknya resep masakan yang harus disediakan).
-- Pola menu standar yaitu menu baku yang disusun sesuai
siklus menu, biasanya digunakan untuk kelas II -- III.
-- Pola menu pilihan adalah pilihan menu yang ditawarkan
pada pasien terutama kelas I sampai VIP.
-- Buku-buku resep, majalah dan sebagainya.
d)
Membuat standar resep
Resep harus dibuat dalam jumlah banyak yaitu jumlah yang
diperkirakan mewakili jumlah porsi masakan yang dise-
lenggarakan di rumah sakit.
Cara yang dipergunakan :
·
Dari setiap resep yang dipilih, diteliti serta disusun bahan
dasar dan bumbu dalam jumlah minimal 50 porsi. Disusun pula
cara pengolahan yang praktis dan mudah. Resep ini ditulis dalam
Form Standar Resep (Lampiran 1).
·
Bahan dasar dan bumbu jugaditulis dalam Form Kandungan
Gizi Masakan (Lampiran 2). Perhitungan kandungan gizi harus
disesuaikan dengan revisi standar diit.
Berdasarkan pengalaman pembuatan standar resep di RSIJ
dan meneliti buku-buku resep masakan diit, diperoleh kesepakat-
an contoh untuk lauk hewani sebesar 180 Kalori (makanan biasa)
dan 150 Kalori (makanan diit).
Hal ini menimbulkan konsekuensi, jumlah bahan dasar dan
bumbu harus disesuaikan.
·
Resep diuji coba cita rasa masakan dan dinilai oleh para
panelis minimal 5 orang dengan menggunakan Form Penilaian
Resep Masakan (Lampiran 3).
·
Berdasarkan penilaian maka resep diperbaiki atau jika
tidak memenuhi syarat sama sekali maka resep tersebut tidak
dipergunakan lagi.
Tahap Pelaksanaan
a) Membuat master menu dengan penentuan masakan ber-
dasarkan warna, komposisi, bentuk dan variasi.
b) Uji coba menu hidangan dengan menggunakan Form
Penilaian Menu Masakan oleh para panelis yang terdiri dari
92
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
Lampiran 1.
Standar resep makanan
no.
Nama Masakan
Jumlah
:
Warna
:
Konsistensi
:
Rasa
:
Nama Bahan
Berat
Urt
Harga
Prosedur
Makanan
Pengolahan
Keterangan :
Lampiran 2
Kandungan zat gizi masakan
..................
Jumlah : 50 porsi
Nama Bahan
Makanan
Berat
(Gr)
Urt
Kalori
(Kai)
Protein
(Gr)
Lemak
(Gr)
H. Arang
(Gr)
Jumlah
Rata-rata per porsi
Lampiran 3
Form penilaian standar resep
Nama Masakan
:
Tanggal
:
-- Pilihan penilaian yang tepat menurut anda, nilai terbaik adalah 4. Berikan
tanda silang pada pilihan anda.
-- Isilah titik-titik di bawah ini untuk menyempurnakan resep :
1. Rasa masakan
1
2
3
4
2. Aroma/bau masakan
1
2
3
4
3. Konsistensi masakan
1
2
3
4
4. Tekstur masakan
1
2
3
4
5. Komentar :......................................................................................................
...................................................
background image
perawat, dokter dan direksi.
c) Menu diperbaiki dan menu siap untuk digunakan.
Tahap Evaluasi
Penyebaran kuesioner mengenai menu yang akan dilaksa-
nakan (Questionaire Post Menu Baru), fokusnya adalah men-
dapatkan data tentang daya terima pasien terhadap makanan
yang disajikan. Penyebaran kuesioner ini juga merupakan salah
satu cara pengawasan mutu makanan secara periodik.
PENYESUAIAN STANDAR DIIT RSIJ
Sebagai pedoman dalam standarisasi diit dan penyusunan
menu maka standar diit harus dengan mudah dapat diaplikasikan
dalam bentuk hidangan/makanan. Selama ini standar diit RSIJ
selalu berpedoman pada Buku Penuntun Diit yang dikeluarkan
oleh PERSAGI dan RSCM; pada Buku Penuntun Diit tersebut,
perincian makanan masih dalam keadaan bahan makanan
(mentah). Berdasarkan pengalaman dari pembuatan standar
resep rata-rata kandungan kalori :
-
Lauk hewani : 180 - 225 Kalori
-
Lauk nabati :
90 - 140 Kalori
Seperti yang telah diketahui bahwa kandungan kalori dalam
bahan makanan mentah yaitu lauk hewani : 95 Kalori dan lauk
nabati : 80 Kalori. Maka dicoba untuk melakukan penyesuaian
standar diit dengan menggunakan pedoman Buku Penuntu
Diit.
Pembentukan tim kerja dalam melakukan revisi ini sangat
penting karena cukup banyak macam standar diit yang harus
disesuaikan. Pada awal penghitungan standar diit, sulit dicapai
kebutuhan gizi sesuai dengan Pedoman; jika kalori dan lemak
sudah mencapai target maka protein jauh di bawah target. Untuk
itu harus ada kesepakatan bahwa pembuatan standar resep harus
mengikuti ketentuan dari standar diit yaitu :
-
Lauk hewani :
150 Kalori
-
Lauk nabati :
100 Kalori
-
Sayur
: 75 Kalori
-
Puding
: 140 Kalori
Pala kesempatan ini RSIJ baru mampu melaksanakan 3 macam
standar diit yaitu :
-
Diit lambung III dan Diit Lambung IV (Lampiran 4)
-
Diit Hati III dan Diit Hati IV (Lampiran 5)
-
Diit Diabetes Mellitus I - VIII (Lampiran 6)
PROFESIONALISME AHLI GIZI
Sebagian besar rumah sakit di Indonesia belum mempunyai
catatan mengenai pelayanan gizi dalam rekam medis pasien.
Hingga saat ini penulis belum menemukan data penelitian ten-
tang hal ini, tetapi penyebabnya mungkin bisa dicermati sebagai
berikut :
1) Profesi ahli gizi kurang diakui di banyak rumah sakit.
2) Koordinasi dengan tim kesehatan belum lancar; ini dise-
babkan belum adanya prosedut kerja yang telah disepakti oleh
tim kesehatan lain dan dibakukan dalam prosedur tertulis.
Untuk memperoleh informasi tentang data apa yang diper-
lukan oleh tim kesehatan itu maka semestinya diadakan pemba-
Lampiran 4
Standar diit lambung III
Waktu Hidangan
Berat
(Gr)
Kalori
(Kai)
Protein
(Gr)
Lemak
(Gr)
H. Arang
(Gr)
Pagi
Tim
150
108
2
0,2
23,7
L. hewani
0,5 porsi
100
5
7
--
Susu
1 gelas
130
7
7
9
Gula pasir
20
72,8
--
--
18,8
10.00
Ekstra
l porsi
140
1
3
32
Siang
Tim
200
175
4
--
40
L. hewani
1 porsi
150
10,5
6
1,4
L. nabati
1 porsi
100
7
7
8
Sayur
1 porsi
75
4
3
5
Buah
1 porsi
40
0,5
16.00
Ekstra
1 porsi
140
1
--
32
Gula pasir
20
72,8
--
--
18,8
Malam Tim
200
175
4
0,2
40
L. hewani
1 porsi
150
10,5
6
1.4
Sayur
1 porsi
75
4
3
5
Buah
1 porsi
40
0,5
--
--
21.00
Roti
40
87,5
2
--
20
Margarine
5
36
--
4
--
Gula pasir
10
36,4
--
--
9,4
Jumlah
1904
63,5
66
272,5
Standar Diit Lambung IV
Waktu
Hidangan
Berat
(gr)
Kalori
(kal)
Protein
(gr)
Lemak
(gr)
H. Arang
(gr)
Pagi
Nasi
100
175
4
--
40
L. Hewani
.
0.5 porsi
100
5
7
--
Susu
1 gelas
130
7
7
9
Gula Pasir
20
72.4.
18.8
10.00
Ekstra
1 porsi
140
1
3
32
Siang
Nasi
150
262.5
6
--
60
L. Hewani
1 porsi
150
10.5
14
1.4
L. Nabati
1 porsi
100
7
7
8
Sayur
1 porsi
75
4
3
9
Buah
1 porsi
40
0.5
--
10
16.00
Ekstra
1 porsi
140
1
3
32
Malam
Nasi
150
262.5
6
--
60
L. Hewani
1 porsi
150
10.5
14
1.4
L. Nabati
1 porsi
100
7
7
8
Sayur
1 porsi
75
4
3
9
Buah
1 porsi
40
0.5
--
10
Jumlah
2084.8
74
68
310
hasan yang luas dan mendalam antar anggota tim terkait. Catatan
pelayanan gizi menjadi salah satu data pada rekam medis pasien
yang turut dipertimbangkan dan diperhatikan oleh dokter maupun
perawat. Hal ini membutuhkan dukungan kuat dari pimpinan
rumah sakit agar dapat menerapkan kebijakan tersebut, karena
catatan pelayanan gizi dapat menunjang program Quality Assu-
rance untuk meraih pelayanan kesehatan yang bermutu.
Namun mampukah ahli gizi dalam melaksanakan layanan
gizi dapat mewujudkan profesionalismenya ?
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994
93
background image
Lampiran 5
Standar Diit Hati III
Waktu
Hidangan
Berat
(gr)
Kalori
(kal)
Protein
(gr)
Lemak
(gr)
H. Arang
(gr)
Pagi
Nasi
100
175
4
-
40
L. Hewani
0.5 porsi
100
5
17
-
Gula Pasir
20
72.8
-
-
18.8
10.00
Ekstra
1 porsi
140
2
3
32
Gula Pasir
20
72.8
-
-
18.8
Siang
Nasi
200
350
8
-
80
L. Hewani
1 porsi
150
10.5
14
1.4
L. Nabati
1 porsi
100
7
7
8
Sayur
1 porsi
75
4
3
9
Buah
1 porsi
40
0.5
-
10
16.00
Ekstra
1 porsi
140
1
3
32
Sirup
30
63.9
-
-
16.5
Malam
Nasi
150
262.5
6
-
60
L. Hewani
1 porsi
150
10.5
14
l.4
Sayur
I porsi
75
4
3
9
Buah
1 porsi
40
0.5
-
10
Jumlah
2007
62.5
54
346.9
Standar Diit Hati IV
Waktu
Hidangan
Berat
(gr)
Kalori
(kal )
Protein
(gr
.
)
Lemak
(gr)
H. Arang
(gr)
Pagi
Nasi
100
175
4
-
40
L. Hewani
0.5 porsi
100
5
7
1.4
Susu Skim
1 gelas
145
7
7
9
10.00
Ekstra
1 porsi
140
1
3
32
Gula Pasir
20
72.8
-
-
18.8
Siang
Nasi
250
438
10
-
100
L. Hewani
1 porsi
150
10.5
14
1.4
L. Nabati
1 porsi
100
7
7
8
Sayur
1 porsi
75
4
3
9
Buah
1 porsi
40
0.5
-
10
16.00
Ekstra
1 porsi
140
1
3
32
Malam
Nasi
250
438
10
-
100
L. Hewani
1 porsi
150
10.5
14
l.4
L. Nabati
1 porsi
100
7
7
8
Sayur
1 porsi
75
4
3
9
Buah
1 porsi
40
0.5
-
10
21.00
Susu Skim
1 gelas
145
7
7
9
Jumlah
2522.8
89.30
68
390
Usaha awal yang dilakukan adalah mencoba menggali
beberapa instrujmen pencatatan dan pelaporan kegiatan pela-
yanan gizi. Tentu saja harus sesuai dengan kapasitas/jumlah
tenaga dan kemampuan ahli gizi yang ada. Penulis mencoba
menyajikan hasil modifikasi dari RS di Adelaide, Australia dan
RS Cipto Mangunkusumo. Beberapa instrumen yang berhasil
disusun yaitu :
a) Form Gizi dan Catatan Perkembangan (Lapiran 7)
Form ini sebagai alat dokumentasi ahli gizi dan alat komu-
nikasi dengan tim kesehatan lain. Dengan form ini seorang ahli
gizi dapat mencatat perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pela-
yanan gizi.
b) Form Hidangan Sehari (Lampiran 8)
Form ini sebagai alat dokumentasi ahli gizi dan alat komu-
nikasi dengan petugas di Unit Pengolahan Makanan.
Lampiran 6
Diit Diabetes Mellitus I - VIII
Waktu
Bahan
Makanan
11.00 13.00 15.00 17.00 19.00 21.00 23.00 25.00
Pagi
Nasi Putih
0.5
1
1
1
1 1
l.5
2
Hewani
Nabati
1 ps
-
1 ps
-
1 ps
-
1 ps
-
1 ps
-
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
Susu
-
-
-
-
-
-
1
1
10.00
Buah
1
1 1
1
1
1
1
1
Siang
Nasi Putih
0.75 1
1
1
1.5
2
2
2
Hewani
1
1 1
1
1
1
1
1
Nabati
-
-
1
1
1 1
1
1
Sayur A
-
-
-
0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps
Sayur B
Buah
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
16.00
Buah
1
1 1
1
1 1
1
1
Snack Berat -
-
-
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
Malam
Nasi Putih
0.75 1
1
1
1.5
1.5
l.5
2
Hewani
Nabati
1 ps
-
1 ps
-
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
1 ps
Sayur A
-
0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps 0.5 ps
Sayur B
Buah
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
1 ps
1
Kalori
1070 1325 1525 1740 1940 2102.5 2320 2495
Keterangan :
-
1
porsi
[auk
hewani
= 150
kalori
-
1
porsi lauk nabati
= 100
kalori
-
1
porsi sayur
B
=
75
kalori
-
0.5
porsi sayur
B
=
40
kalori
Form digunakan jika pasien mengalami kesulitan
menerima
makanan diit sesuai dengan standar di UPM Gizi; ahli gizi akan
mengatur kembali standar makanan secara individu.
Form dibuat dalam rangkap 4 yaitu :
-
Untuk petugas di unit distribusi makanan
-
Untuk pengawas dinas pag/sore/malam
-
Untukpetugas selektif menu bagi pasien kelas I - VIP
-
Arsip/dokumentasi ahli gizi
c) Form Catatan Makanan (Lampiran 9)
Digunakan jika intake makanan pasien kurang sehingga
mempengaruhi penurunan berat badan secara bermakna; meru-
pakan dokumentasi ahli gizi untuk monitor intake makanan
pasien dan nilai gizinya selama tiga hari berturut-turut.
Dalam pelaksanaannya perlu disusun prosedur
auu
petunjuk pelaksanaannya, agar setiap ahli gizi mempunyai persepsi
yang sama delam dokumentasi data.
Fungsi ketiga bentuk form ini juga sebagai alat pengawasan
dan akreditasi ahli gizi dalam meningkatkan profesionalismenya.
Akreditasi ahli gizi berupa kedisiplinan dan kemampuan ahli gizi
dalam pelayanan gizi pada pasien. Sebagai contoh, dapat di-
ketahui berapa banyak kunjungan ahli gizi ke pasien dan materi
diit apa saja yang telah diberikan pada pasien.
Dengan instrumen-instrumen yang sederhana ini dapat
diketahui cakupan pelayanan gizi pada pasien.
KESIMPULAN
Dua hal yang menjadi tuntutan publik rumah sakit pada ahli
gizi yaitu :
94
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus
No. 91, 1994
background image
Lampiran 7
Rumah Sakit Islam Jakarta UPM Gizi
Pav
No. Reg
: /
/
/
Nama
:
Pendidikan : TS/SD/SMP/SLA/PT
Pekerjaan
:
Dokter :
No:
Sex
Umur
Tgl:
Med
: UP
Th
Ref :
/
/
B. Badan
kg
Kebutuhan :
T. Badan :
cm
BBP
:
kg
Kalori
kal
Aktivitas
:
Protein
gr
Diag. Awal :
Lemak
:
gr
H. Arang
:
gr
Natrium
Riwayat Py. :
Pengobatan :
Kalium
Calsium
Fe
Hasil Lab. Darah :
Frekwensi Makanan :
Pemeriksaan
Nilai Normal
Nasi Kentang Roti
Mie Cereal Biskuit Umbi
Albumin
:
gr/dl
3.2 -
4.5
Tot Prot
:
gr/dl
2.5 -
5.0
Daging Cumi Udang Ikan
Natrium
:
meq/l
136.0 - 145.0
Jantung Lidah Bakso Ati
Kalium
:
meg/l
3.5 -
5.0
Sosis Corned Telur Ayam
Calcium
:
meq/l
9.0 - 11.0
Ureum
:
mg/l
20.0 - 40.0
Kacang Ijo Tempe Tahu
Creatinin
:
mg/dl
0.6 -
l. 2
Oncom Kacang Merah
SGOT
:
mg/dl
0 - 20.0
SGPT
:
mg/dl
0 - 22.0
Sayur Ijo dan Wortel Labu
Gula Darah
Sayur Kacang-kacangan
- Puasa
:
mg/dl
70.0 - 110.0
Buah segar Buah Kaleng
- J. 11.00
:
mg/di 120
- J. 16.00
:
mg/dl 120
Juice Buah
Riwayat Gizi
Soft Drink Susu Coklat
Burger Pizza Fried Chicken
Cara memasak
Panggang / Goreng / Rebus
Makanan Alergi/Tidak Disukai
Keterangan :
Tgl
BB
(kg)
Diit
Catatan Perkembangan
Paraf
Ahli Gizi
Form O1B/0623
Lampiran 8
Rumah Sakit Islam Jakarta UPM Gizi
Nama
:
No. Reg
:
Paviliun :
Tan ggal
Diit
:
Hidangan Sehari
Makan Pagi
Banyak
Ekstra
Banyak
Gr
Urt
Jam 10.00
Gr
Urt
Makan Siang
Banyak
Ekstra
Banyak
Gr
Urt
Jam 16.00
Gr
Urt
Makan Malam
Banyak
Ekstra
Banyak
Gr
Urt
Jam 21.00
Gr
Urt
Keterangan
Form 02/0693
Lampiran 9
Rumah Sakit Islam Jakarta UPM Gizi
Nama
:
Paviliun
Diit
Catatan Makanan Pasien
Tgl Waktu
Hp
H
N
SY
Bh Susu Pdg Srp Snack
Porsi
Ke-4
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
Pagi
Siang
Malam
Keterangan :
Form 03/0693
1) Kemampuan menyusun perencanaan menu
Kemampuan untuk perencanaan menu membutuhkan
ketrampilan seni kuliner. Namun karena keterbatasan waktu
dan dana untuk mendalami bidang ini, maka cara sederhana
No. Reg
Tanggal :
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 9 1, 1994
95
background image
adalah melaksanakan standarisasi resep sebelum melaksanakan
penyusunan menu.
2) Kemampuan mewujudkan profesionalisme di bidang pe-
layanan gizi di ruang rawat pasien; mungkin dengan cara meng-
kaji ulang instrumen-instrumen yang mendukung pelaksanaan
pelayanan gizi pasien dan kesepakatan berdasarkan referensi
terbaru untuk penatalaksanaan diit terbaru. Semua harus terdo-
kumentasikan untuk monitoring dan evaluasi langkah-langkah
pelayanan gizi yang terekam dalam program Quality Assurance
rumah sakit. Secara makro, diharapkan ada komitmen kuat dari
para pimpinan rumah sakit untuk menempatkan ahli gizi dalam
posisi yang (hampir) sama pentingnya dengan dokter atau pe-
rawat. Paling tidak, mempertimbangkan dan memberikan du-
kungan akan pentingnya profesionalisme ahli gizi. Begitu pula
sikap tindak yang sama lahir dari kalangan dokter dan perawat
terhadap seorang ahli gizi dan menganggap ahli gizi sebagai
mitra kerjanya.
KEPUSTAKAAN
1. Akmal N. Pencatatan dan Pelaporan di Instalasi Gizi RS. Penataran Pengelola
Gizi RS Depkes RI. Bogor, 8 s/d 14 Nopember 1989
.
2. Depkes RI. Dit Jen Pelayanan Medik, Buku Pedoman Pelayanan Gizi Rumah
Sakit. Jakarta 1991
.
3. Prakoso MI. Manajemen Penyelenggaraan Makanan di Rumah Sakit. Dalam
Semiloka Peningkatan Pelayanan Rumah Sakit Manajemen Laundry, Linen
dan Dapur. Jakarta, 11 s/d 14 Desember 1991
.
4. Royal Adelaide Hospital. Dept. Nutrition Food Service. Clinical Dietetics
Policy and Procedure Manual. Australia
.
5. Soenardi, Tuti. Profesionalisme Pelayanan Makanan Melalui Seni Kuliner
.
Kongres PERSAGI. Semarang, 17 s/d 19 Nopember 1992.
6. Yahya, Gunarti. Laporan Implementasi Plan Of Action. Peningkatan Pela-
yanan Gizi. RS Islam Jakarta. 23 Januari 1993.
96
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 91, 1994