HASIL PENELITIAN
Pengetahuan, Sikap dan Perilaku
Masyarakat Kodya Batam Berkaitan
dengan Penularan Malaria
Suharjo, Helper Manalu
Staf Peneliti Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Penelitian dan
Pengembangan Kesehatan, Departemen Kesehatan Rl, Jakarta
ABSTRAK
Kodya Batam merupakan kota Administratif yang kedudukannya setingkat dengan
Kabupaten Daerah Tingkat II. Pesatnya pembangunan industri dan pariwisata menye-
babkan banyak perubahan lingkungan yang cepat. Karena itu kondisi sosial dan ke-
sehatan masyarakat perlu diperhatikan, apalagi bila ditinjau dari aspek kesehatan
diketahui bahwa kasus malaria di daerah tersebut masih perlu mendapat perhatian.
Pada tahun 1992/1993 Pusat Penelitian Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Ke-
sehatan telah melakukan penelitian tentang habitat vektor serta status dan pola
penularan malaria berkaitan dengan pembangunan di Kota Batam. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui habitat vektor malaria, mengetahui keadaan dan sifat
kejadian penularan malaria berkaitan dengan masalah sosial. Dalam makalah ini
dibahas hasil penelitian tersebut dengan menyoroti aspek sosial khususnya masalah
"Host" bagaimana sikap dan perilakunya yang berkaitan dengan penularan malaria, dan
manfaatnya sebagai bahan informasi bagi upaya pemberantasan malaria.
Pengumpulan data dengan cara wawancara menggunakan pedoman kuesioner,
terhadap 180 responden (Kepala Keluarga) dan disertai observasi lingkungan di enam
desa penelitian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
tentang pemahaman terhadap penyakit malaria pada umumnya masih rendah. Sehingga
perlu diupayakan pola penyuluhan kesehatan yang tepat kepada masyarakat, melalui
berbagai media dengan melibatkan lembaga informasi dan peran aktif masyarakat.
PENDAHULUAN
Kotamadya (Kodya) Batam merupakan Kodya ke dua di
Propinsi Riau, setelah Kodya Pekanbaru yang bersifat otonom,
sedangkan Kodya Batam bersifat administratif yang kedu-
dukannya setingkat dengan Kabupaten/Kodya Daerah Tingkat
II lainnya. Dipandang dari letak geografisnya, Kodya Batam
sangat strategis sebagai jalur perdagangan dunia dan pengem-
bangan dunia wisata karena letaknya berdekatan dengan
Singapura. Untuk meningkatkan program industrialisasi maka
pada tanggal 22 November 1973 Pemerintah telah menge-
luarkan Keppres nomor 41 tahun 1973, yang menyatakan
seluruh Pulau Batam sebagai Daerah Industri. Di samping itu
Batam juga sangat strategis sebagai pengembangan dunia
wisata, maka pada tanggal 9 Maret 1983 Pemerintah juga
mengeluarkan Keppres nomor 15 tahun 1983 yang menyata-
kan Kodya Batam sebagai pintu masuk wisatawan dari luar
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 57
58
Jumlah responden mencakup 180 Kepala Keluarga (KK),
yaitu ibu rumah tangga/penanggung jawab keluarga atau ang-
gota keluarga yang dianggap mampu memberikan informasi/
keterangan dengan benar tentang malaria. Responden tersebut
dipilih secara acak sebanyak 30 KK tiap Desa/Kampung, selan-
jutnya pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan
menggunakan kuesioner terstruktur dan dilakukan observasi
lingkungan oleh Tim Peneliti/Petugas Daerah yang telah ter-
latih. Data yang berhasil dikumpulkan kemudian dianalisis se-
cara deskriptif, kualitatif dan kuantitatif.
negeri.
Sesuai dengan kondisi geografi yang sangat menguntung-
kan bagi kepentingan berbagai negara, maka Kodya Batam
memerlukan kajian dari berbagai aspek, baik sosial, budaya
maupun kesehatan. Khususnya di bidang kesehatan, sasaran
utamanya adalah upaya peningkatan derajat kesehatan baik
sehat secara fisik jasmani maupun rohani.
Menurut laporan Ditjen PPM & PLP di Kodya Batam pada
bulan November dan Desember 1987, telah terjadi out break
malaria dengan jumlah penderita 949 orang, dan yang mening-
gal 18 orang; sedangkan jumlah penduduk pada saat itu baru
mencapai 66.111 jiwa (sensus penduduk tahun 1990 - BPS).
Sementara dari Kantor Departemen Kesehatan setempat
melaporkan bahwa, pada tahun 1990 penyakit malaria klinis
merupakan urutan penyakit kedua dengan jumlah penderita
selama satu tahun sebanyak 4.099 orang. Berdasarkan data ter-
sebut maka penyakit malaria perlu mendapat perhatian Peme-
rintah, yaitu dengan mencari pola/alternatif pemberantasannya
melalui berbagai disiplin ilmu dan diantaranya melalui pen-
dekatan ilmu sosial. sehingga diharapkan kesehatan penduduk
dan wisatawan benar-benar dapat tercapai.
Seperti halnya penyakit lain pada umumnya, malaria
sangat dipengaruhi oleh banyak faktor. Terdapat tiga faktor uta-
ma yang saling mempengaruhi, jika digambarkan maka dia-
gramnya sebagai berikut :
Dalam upaya pemberantasan malaria yang perlu diperhati-
kan adalah cara memutuskan mata rantai siklus kehidupan
nyamuk malaria. Makalah ini membahas aspek sosial dari hasil
penelitian habitat vektor serta status dan pola penularan malaria
berkaitan dengan pembangunan di Kodya Batam Propinsi Riau,
khususnya menyoroti masalah host bagaimana sikap dan peri-
laku masyarakat, yang berkaitan dengan pola penularan
penyakit malaria. Makalah ini diharapkan bermanfaat sebagai
bahan masukan (informasi) dalam rangka menuntaskan malaria,
khususnya di Kodya Batam dan di daerah endemis malaria di
Indonesia.
METODOLOGI
Penelitian dilakukan pada tahun 1993 di enam wilayah
Desa/ Kampung di Kodya Batam, yaitu : Pandan Wangi (Desa
Sei Bedug), Teluk Mata Ikan (Desa Nongsa), Batu Besar (Desa
Nongsa), Temiang/Tanjung Riau, Sekupang dan Telaga
Punggur (Desa Kabil).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pengetahuan
Sebagian besar responden (80,6%) dari ke enam desa
penelitian mengetahui secara benar bahwa penyakit malaria
ditandai antara lain badan penderita terasa demam menggigil
atau panas dingin; (Tabel 1). Kemudian terdapat 75,6% res-
ponden yang mengetahui sebagai penyebab penyakit malaria
adalah dari nyamuk malaria, sisanya menyebutkan penyebab-
nya sebagai kutukan Tuhan, karena air kotor, keracunan
makanan dan lain-lain (Tabel 2). Akan tetapi dari mereka
yang menyebutkan nyamuk malaria sebagai penyebabnya,
hanya sekitar 41,7% yang mengetahui dengan benar tanda-
tanda nyamuk penular malaria yaitu kalau hinggap badannya
menungging (Tabel 3).
Pengetahuan responden tentang cara mencegah penyakit
malaria, terbanyak adalah upaya masyarakat dengan mem-
bersihkan lingkungan, sekitar 46,7%, memakai obat nyamuk
semprot 23,3%, minum obat/pil anti malaria 11,1 %, minum
jamu/minuman tradisional 9,4%, pakai kelambu 3,9%, dan
sekitar 5,6% reponden yang menjawab tidak tahu (Tabel 4).
Menurut jawaban responden yang dikumpulkan, mereka
mengetahui bahwa tempat berkembangbiaknya nyamuk mala-
ria yaitu pada genangan air kotor, rawa-rawa, sawah dan pada
got saluran air sebanyak 59,4%, sedangkan jawaban yang
lainnya menyebutkan pada penampungan air bersih seperti
tempayan, bak mandi dan pot bunga sebanyak 20,6% (Tabel
5). Dari jawaban mereka yang terakhir ini terkesan mencampur
adukkan, menyamakannya dengan kehidupan/perilaku nyamuk
Aedes aegypti atau nyamuk demam berdarah dengue (DBD).
Demikian juga dengan tanda-tanda nyamuk penular penyakit
malaria sebagian responden menyebutkan sama seperti tanda-
tanda nyamuk demam berdarah, yaitu warnanya lain (belang-
belang hitam putih) 21,6% (Tabel 3), sehingga pengetahuan-
nya tersebut dinilai kurang benar.
Sebenarnya hanya terdapat sekitar 37,2% responden yang
mengetahui secara benar, bahwa nyamuk malaria itu biasa
menggigit orang pada malam hari. Selebihnya menyebutkan
salah, yaitu pada waktu pagi hari, siang hari atau sembarang
waktu (Tabel 6). Menurut jawaban responden, cara terbanyak
mencegah timbulnya penyakit malaria adalah dengan cara
kerja bakti membersihkan lingkungan.
SIKAP
Sebagian besar jawaban responden (97,8%) menyatakan
setuju terhadap upaya penyemprotan rumah untuk memberantas
malaria yang dilakukan oleh Petugas Kesehatan. Demikian pula
tentang pengambilan darah penduduk yang diambil melalui
ujung jari tangan untuk sampel pemeriksaan laboratorium. Dari
pernyataan mereka dapat diketahui bahwa ternyata semua
menyadari dan mendukung setiap upaya pemberantasan malaria
yang dilakukan oleh Pemerintah.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
Tabel 1. Pengetahuan responden mengenai tanda-tanda penderita sakit malaria di lokasi penelitian tahun 1993.
Desa
I II III
IV V VI
I - VI
No.
Tanda-tanda
penderita sakit
malaria
%
%
%
%
%
% Jml %
1.
Muka
pucat
2 6,7 1 3,3 2 6;7 2 6,7 1 3,3 3
I 10,0 11 6,1
2. Nafsu
makan
kurang
2 6,7 1 3,3 - - 3 10,0 1 3,3 2 6,7 9 5,0
3. Demam
meng-
gigil/Panas dingin
19 63,3 25 83,3 27 90,0 24 80,0 28 93,3 22 73.3 145 80,6
4.
Badan
lemas
5
16,7
- - - - - - - - l 3,3 6
3,3
5.
Kepala
terasa
2 6,6 1 3,4 1 3,3 1 3,3 - - 1 3,3 6 3,3
6. Tulang2
terasa
sakit
- - 2 6,7 - - - - - - 1
3,4 3
1,7
Jumlah
30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 180 100
Keterangan :
Lokasi Penelitian Kodya Batam :
1.
Desa Pandan Wangi
III. Desa Batu Besar
V.
Desa Sekupang
11. Desa Teluk Mata Ikan
IV. Desa Sei Temian
VI. Desa Telaga Punggur
Tabel 2. Pengetahuan responden mengenai penyebab sakit malaria di lokasi penelitian tahun 1993.
Desa
I II III IV V VI
I - VI
No.
Penyebab sakit
malaria
%
%
%
%
%
% Jml %
1. Nyamuk
malaria 26 86,7 16 53,3 24 80,0 26 83,3 26 86,7 19 63,3 136 76,6
2.
Keracunan
- - - - - - 1
3,3 - - 2
6,7 3
1,7
makanan
3.
Gangguan
syaraf - - - - - - - - - - 2
6,7
2
1,1
4.
Kutukan
Tuhan - - - - - - - - - - 1
3,3 1
0,6
5.
Udara/cuaca
buruk
- - - - - - 1
3,3 - - - - 1
0,6
6.
Karena
air
kotor 2 6,7
3
7 23,3 2 6,7 1 3,4 2 6,7
10,0 17 9,4
7.
Lingkungan
kotor 2 6,6 7 23,4 4
2
13,3
6,7 2 6,6 3 10,0 20 11,1
Jumlah
30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 180 100
Keterangan :
Lokasi Penelitian Kodya Batam :
1. Desa Pandan Wangi
III. Desa Batu Besar
V. Desa Sekupang
11. Desa Teluk Mata Ikan
IV. Desa Sei Temian
VI. Desa Telaga Punggur
Tabel 3. Pengetahuan responden mengenai tanda-tanda nyamuk penular penyakit malaria di lokasi penelitian tahun 1993.
Desa
I 11 III IV V VI
I - VI
No.
Tanda-tanda
nyamuk penular
penyakit
malaria
%
%
%
%
% %
Jml
%
12
1.
Hinggap badan -
nya menungging
12 40,0 11 36,7 13 43,3
40,0 16 60,0 12 40,0 75 41,7
2. Badannya
rata
dengan tempat
permukaan
6
20,0
12
3
10,0
- - - - 3
10,0
- -
6,7
3. Badannya
lebih
kecil
2 6,7 1 3,3 3 10,0 2 6,7 - - 3 10,0 11 6,1
4. Badannya
lebih
besar
2 6,7 1 3,3 6 20,0 2 6,7 2 6,7 3 10,0 16 8,9
5. Warnanya
lain
(belang2 hitam
putih)
6 20,0 6 20,0 6 20,0 7 23,3 8 26,7 6 20,0 39 21,6
6.
Tidak
tahu
2 6,6 8 26,7 2 6,7 7 23,3 2 6,6 6 20,0 27 16,0
Jumlah
30 100
100
30 100 30 100 30 100 30 100 30
180 100
Keterangan :
Lokasi Penelitian Kodya Batam :
1. Desa Pandan Wangi
III. Desa Batu Besar
V.
Desa Sekupang
11. Desa Teluk Mata Ikan
IV. Desa Sei Temian
VI. Desa Telaga Punggur
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 59
PERILAKU
Penularan malaria dipengaruhi pula oleh adat kebiasaan
(budaya) dan perilaku masyarakat sekitarnya dan didukung pula
oleh kondisi lingkungan setempat. Hal ini dapat tercermin dari
mobilitas wisatawan yang datang dari manca negara dan
menginap di Kodya Batam yang diperkirakan selama satu tahun
saja mencapai 614.294 orang (Biro Pusat Statistik - 1990).
(2)
Kemudian dari hasil penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan
penduduk bepergian menginap ke luar Kodya Batam adalah 1
kali sampai 4 kali sebulan sebanyak 8,9%, lebih dari 4 kali
sebulan 5,0% dan 1 kali sebulan ke atas 25%. Tetapi juga
terdapat sekitar 33,3% responden mengaku tidak pernah
bepergian menginap ke luar Kodya Batam atau ke desa lain.
Tempat yang dituju menginap di luar Kodya Batam adalah:
Tabel 4. Pengetahuan responden mengenai cara mencegah penyakit malaria di lokasi penelitian tahun 1993.
Desa
I II III IV V VI
I - VI
No.
Cara mencegah
penyakit malaria
%
%
%
%
%
% Jml %
1.
Pakai
kelambu
2 6,7 - - 1 3,3 1 3,3 2 6,7 1 3,3 7 3,9
2. Minum obat/ pil
anti malaria
4 13,3 4 13,3 1 3,3 5 16,7 4 13,3 2 6,7 20 11,1
3. Dengan
obat
nyamuk semprot/
bakar
4 13,3 9 30,0 14 46,7 3 10,0 6 20,0 6 20,0 42 23,3
4. Minum
jamu
tradisional
2 6,7 3 10,0 1 3,4 3 10,0 4 13,4 4 13,3 17 9,4
5. Bersihkan
lingk.
buruk
14 46,7 13 43,4 13 43,3 17 66,7 13 43,3 14 46,7 84 46,7
6.
Tidak
tahu
4 48,7 1 3,3 - 6,7 1 3,3 1 3,3 3 10,0 10 6,6
Jumlah
30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 180 100
Keterangan :
Lokasi Penelitian Kodya Batam :
1. Desa Pandan Wangi
III. Desa Batu Besar
V.
Desa Sekupang
11. Desa Teluk Mata Ikan
IV. Desa Sei Temian
VI. Desa Telaga Punggur
Tabel 5. Pengetahuan responden mengenai tempat berkembangbiaknya nyamuk malaria di lokasi penelitian tahun 1993.
Desa
I II III IV V VI
I - VI
No.
Tempat berkem-
bangbiaknya
nyamuk malaria
%
%
%a
%
%
% Jml %
1.
Genangan air kotor;
rawa-rawa, sawah, got
saluran air
24 80,0 12
20
56,7 17
107
40,0
66,7
17 66,7 17
56,7
69,4
2. Penampungan
air
bersih tem-payan, bak
mandi, pot bunga
2 6,7 7
6 20,0
9 30,0 5 16,7 8 26,7 37 20,6
23,3
3. Semak-semak/
hutan 1 3,3 3 10,0
3 10,0
2 6,7 3
2 6,7 14
10,0
7,8
4.
3
8
3,3 2 6,6 6
3
Tidak
tahu
10,0
3,3 1
16,6
10,0 22 12,2
Jumlah
30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 30 100 180 100
Keterangan :
Lokasi Penelitian Kodya Batam :
1. Desa Pandan Wangi
III. Desa Batu Besar
V.
Desa Sekupang
11. Desa Teluk Mata Ikan
IV. Desa Sei Temian
VI. Desa Telaga Punggur
Tabel 6. Pengetahuan responden mengenai kebiasaan nyamuk malaria menggigit orang di lokasi penelitian tahun 1993.
Desa
I II III
IV V VI
I - VI
No.
Kebiasan nyamuk
malaria menggigit
orang
%
%
%
%
%
% Jml %
1.
Malam
hari
12 40,0 14 46,7
30,0
13 43,3 9 30,0 9
14 46,7 67 37,2
2.
6 20,0
Siang
hari
11 36,7 8 26,7 7 23,3 7 23,3 7 23,3
47 26,1
3.
Pagi
hari
4 13,3 6 16,7
3 10,0 3 10,0 1 3,3 24 13,3
3 10,0
4.
Sore
hari
3 10,0 1 3,3
6,7 6 20,0 6 20,0 6 16,7 23 12,8
2
5.
Sembarang
waktu - - 2 6,6
16,7 6
5
16,7 6 16,7 4 13,3 19 10,6
Jumlah
30 100 30 100 30 100 30 100
100 30 100 180 100
30
Keterangan :
Lokasi Penelitian Kodya Batam :
1. Desa Pandan Wangi
III. Desa Batu Besar
V.
Desa Sekupang
11. Desa Teluk Mata Ikan
IV. Desa Sei Temian
VI. Desa Telaga Punggur
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
60
Jakarta 3,3%, Sumatera (Padang, Riau, Pekanbaru, Dumai)
25,8%, Jawa Tengah 3,3%, Malaysia/Singapura 7,5%, Pulau
Sumbu 6,6%, Tanjung Balai Karimun 3,3%. Desa lain di
Kodya Batam antara lain Tanjung Uban 9,2%, Batam Besar
5,5%, Sei Baloi 6,6%, Duri Angkang 3,3%. Rata-rata lama
mereka menginap di tempat yang dituju selama 3 hari. Selama
bepergian di tempat menginap, waktu tidur malam hari mereka
yang mengaku menggunakan kelambu sekitar 14,9%, memakai
obat nyamuk 53,7% dan yang tidak memakai sarana apapun
sebanyak 31,4%. Kemudian terdapat 72 KK yang biasa
kedatangan tamu menginap. Jumlah tamu yang menginap rata-
rata sebanyak 2,7% orang/bulan per KK. Sebaliknya terdapat
sebanyak 108 (60%) rumah KK mengaku tidak pernah keda-
tangan tamu menginap. Tamu yang menginap tersebut berasal
dari luar Kodya Batam yaitu : Sumatera (Riau, Tanjung Pinang)
33,3%, Malaysia/Singapura 11,1%, Makasar (Selayar) 9,7%,
Jakarta 8,3%, Sumbawa4,2%, Kalimantan 2,8%, Jawa Timur
2,8% dan Bandung 1,4%. Sedangkan yang berasal dari desa
lain di Kodya Batam adalah: Batam Center 4,2%, Tanjung
Balai 2,8%, Sungai Panas 2,8%, Pelita 1,4%, Sekupang 1,4%,
Duri Angkang 1,4%, Kabil 1,4%, Tanjung Uban 1,4% dan
Bangkong 1,4%. Hal-hal tersebut di atas menunjukkan, bahwa
mobilitas penduduk dan kebiasaan pergi menginap dari dan
keluar Pulau Batam merupakan salah satu faktor penularan
penyakit malaria.
Hasil pengamatan (observasi) menunjukkan bahwa sebagi-
an besar rumah penduduk (73,3%) dilengkapi dengan lubang
angin (ventilasi) narnun sebagian besar tidak dipasang kawat
kasa. Hanya sekitar 17,8% saja rumah responden yang ven-
tilasinya dipasang kawat kasa. Selanjutnya kondisi lantai dan
dinding rumah yang terbuat dari papan yang kurang rapat,
sehingga memungkinkan celah-celahnya dapat dimasuki nya-
muk (75,6%). Kondisi bangunan rumah tersebut memungkin-
kan nyamuk malaria pada malam hari masuk ke dalam rumah
dan menggigit manusia yang sedang tidur. Sedangkan keadaan
kebersihan di sekitar rumah terlihat masih belum sehat (kotor),
dari hasil pengamatan lingkungan sekitar rumah responden juga
menunjukkan sekitar 40,0% terdapat genangan air secara terus
menerus (rawa-rawa, empang), meskipun tidak musim hujan.
Kemudian saluran air limbahnya juga belum ditata dengan
baik, sehingga airnya tidak mengalir dan menimbulkan genang-
an (54,4%). Dari hasil pengamatan juga ditemukan 31,1% dari
saluran limbah rumah tangga tersebut mengandung larva. Dari
kondisi rumah/tempat-tempat tersebut di atas nyamuk malaria
mudah berkembang biak dan berpotensi penularan dari pen-
derita yang satu ke penderita yang lain.
Aspirasi, saran dari para responden untuk mencegah pe-
nyakit malaria di Desa/Kampungnya, 44,4% mengusulkan
penyemprotan oleh Petugas Kesehatan pada rumah penduduk
dengan obat nyamuk/insektisida yang tidak menimbulkan
bekas/noda pada dinding rumah seperti obat DDT yang pernah
digunakan, sedikitnya satu bulan sekali. Di samping itu terdapat
KESIMPULAN
Dari pembahasan hasil penelitian di Kodya Batam Propinsi
Riau tahun anggaran 1992/1993, maka berdasarkan hasil wa-
wancara dengan masyarakat di enam desa lokasi penelitian
dapat disimpulkan masalah sosial yang berkaitan dengan pe-
nyakit malaria adalah sebagai berikut :
1. Pembangunan di Kodya Batam sebagai daerah industri,
perdagangan dan tempat tujuan wisatawan dari manca
negara menunjukkan perkembangan sangat cepat, sehingga
terjadi perubahan lingkungan yang dapat menimbulkan
dampak penting, diantaranya penularan penyakit malaria.
2. Mengenai perilaku sehat (pengetahuan, sikap dan perilaku)
masyarakat di ke enam desa penelitian umumnya masih
rendah, khususnya yang menyangkut penyakit malaria.
3. Diperlukan pola/alternatif penyuluhan kesehatan yang
tepat baik dari segi waktu maupun metodenya kepada
masyarakat, khususnya tentang masalah penyakit malaria
yaitu melalui berbagai media dengan melibatkan lembaga
informasi dan peranserta aktif masyarakat secara berke-
sinambungan. Kemudian masyarakat menghendaki agar
dilakukan penyemprotan rumah secara teratur dengan obat
(insektisida) yang tidak menimbulkan noda seperti DDT.
41,1 % responden menyarankan agar diadakan penyuluhan ke-
sehatan lingkungan yang kontinu, teratur dan terarah.
UCAPAN TERIMA KASIH
KEPUSTAKAAN
1. Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan
Lingkunan Pemukiman, 1990. Penanganan Penyakit Malaria di Daerah
Otorita Batam dan Daerah Wisata di Kabupaten Dati II Riau Kepulauan,
Jakarta.
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kodya Batam beserta staf dan karyawannya yang telah memberikan kemu-
dahan dan.fasilitas, sehingga penelitian dapat terlaksana tepat pada waktunya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Sdr. Tatang Hidayat, B.Sc, dkk
yang telah berkenan membantu dalam hal pengumpulan data. Ucapan terima
kasih disampaikan pula kepada Bapak Drs. M. Soekirno dan Bapak Kusnindar,
SKM yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan makalah ini. Semoga
Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melimpahkan taufik dan hidayah kepadanya.
Amien.
2.
Kodya Batam Dalam Angka, tahun 1990, Biro Pusat Statistik, Jakarta.
3.
Kantor Departemen Kesehatan Kodya Batam. Buku Laporan Kunjungan
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, di Pulau Batam, tanggal 25-26
April 1991, halaman 11.
4. WHO. World malaria situation in 1992. Weekly, Epidemiol. Record.
1994; 69-309-14.
5.
Soekirno M, dkk. Laporan Akhir Penelitian Habitat Vektor Serta Status
dan Pola Penularan Malaria Berkaitan Dengan Pembangunan di Kodya
Batam, Propinsi Riau. Puslit Ekologi Kesehatan, Badan Litbang Kesehat-
an, Jakarta; 1993.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 61