Manfaat Alat Kedokteran Canggih
dalam Pengembangan IPTEK
di Indonesia
Berbagai Upaya untuk Meningkatkan Efektivitas
Pengembangan Pemilihan dan Penggunaan
Alat Kedokteran Canggih
Karjadi Wirjoatmodjo
Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Soetomo, Surabaya
Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita
(Sumpah dokter).
1.
PENDAHULUAN
Landasan dan tujuan profesi dokter seperti yang dinyata-
kan pada salah satu butir lafal sumpah dokter tidak pernah
berubah yaitu "Saya akan senantiasa mengutamakan kesehatan
penderita ".
Dalam melaksanakan tugasnya sudah biasa dokter
menggunakan teknologi, salah satu bentuk teknologi itu adalah
alat. Pada dasawarsa akhir-akhir ini banyak dikembangkan dan
digunakan Alat Kedokteran Canggih (AKC). AKC mempunyai
beberapa ciri. Harganya biasanya mahal, adanya terbatas.
Mempunyai dampak tidak saja pada bidang kesehatan tetapi
juga pada ekonomi (biaya), sosial, etik dan hukum.
Karena ciri-ciri AKC tersebut timbul perbedaan pendapat
tentang AKC ini. Perbedaan pendapat itu meliputi berbagai bi-
dang, salah satu di antaranya adalah cara penggunaannya agar
didapat manfaat yang sebesar-besarnya dan dihindari atau di-
kurangi dampak negatipnya.
Makalah ini mencoba untuk menguraikan dan mengajukan
saran bagaimana meningkatkan efektivitas pemilihan dan peng-
gunaan AKC.
II. AKC SEBAGAI SARANA
A) Tujuan profesi dokter
Landasan dan tujuan profesi dokter pada tingkat yang umum
dinyatakan dalam salah satu butir lafal sumpah dokter: "Saya
Makalah ini disajikan pada Kongres Vl PERSI
Hospital Expo, Jakarta ,
21 25 November 1993.
akan senantiasa mengutamakan kesehatan penderita ". Untuk
itu dilakukan upaya-upaya preventif, promotif.kuratif dan re-
habilitatif. Dalam upaya itu digunakan teknologi, salah satunya
adalah AKC.
Apabila dijabarkan lebih rinci maka tujuan profesi dokter itu
adalah :
- menghilangkan atau mengurangi ancaman terhadap ke-
langsungan hidup.
- mencegah atau mengurangi kecacadan.
- mempertahankan kehidupan yang berkualitas baik (offer
years of life of good quality).
Idealnya tujuan tersebut dapat dijabarkan lebih lanjut ke
tingkat yang dapat diukur dengan objektif. Jika itu dapat dilaku-
kan maka penggunaan AKC dapat dinilai dalam arti apakah
tujuan itu dapat dicapai. Pada waktu ini ukuran yang lazim
dipakai walaupun tidak sempurna adalah angka kematian (di-
ukur dari arah lain adalah survival rate) dan angka kesakitan.
B) Manfaat dan Masalah
1) Pengertian dan jenis teknologi
Ada berbagai pengertian dan pembagian teknologi. Pada
makalah ini digunakan pengertian dan pembagian sebagai
berikut : Teknologi adalah penerapan ilmu pengetahuan atau
temuan dalam praktek sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan
masyarakat.
Bentuk teknologi dapat berupa perangkat keras (alat, sarana)
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
855
perangkat lunak (cara, teknik, metoda, prosedur) bahkan ada juga
yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware).
Di dalam bidang kesehatan, teknologi dapat berupa perang-
kat keras seperti Alat Kedokteran Canggih, obat; dapat berupa
perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah.
Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi
untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi
untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan
teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super
spesialis). Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pen-
cegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan.
Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari
bentuk teknologi.
2) Dampak AKC/Teknologi Canggih
Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat
positip atau negatip :
dampak di bidang kesehatan
dampak di bidang ekonomi
dampak di bidang sosial
dampak di bidang etika dan hukum.
Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesem-
buhan (effectiveness), penyulit/bahaya (safety), dan biaya.
Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa ke-
naikan pada anggaran/biaya kesehatan.
Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC
pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. Para dokter dapat
mengalami "ketergantungan" pada AKC. Masyarakat dapat
menuntut atau menolak adanya AKC.
Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian
atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung, penentu-
an kematian.
3) Contoh konkrit
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit
kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat le-
bih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/tekno-
logi canggih.
·
Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari
dari hari perkiraan persalinan. Dilakukan non stress test untuk
mengetahui keadaan bayinya. Hasil, tampaknya bayi mulai ke-
sulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit.
Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. Dilakukan bedah cesar,
bayi dilahirkan hidup dan sehat.
·
Seorang dewasa muda aktif bekerja, beberapa kali pingsan.
Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick
Sinus Syndrome). Dipasang alat pacu jantung internal. Hasil,
orang tersebut sembuh, sehat dan dapat bekerja produktif.
·
Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. Pada pe-
meriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan
epidural). Dilakukan
.
pembedahan otak. Hasil, orang tersebut
embuh, sehat dan hidup produktif.
·
Seorang anak umur 8 bulan, demam, kejang-kejang, muntah
dan aspirasi berat, tidak sadar. Dipasang alat napas (respirator).
Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan
otak berat dan mati batang otak. Setelah diberi penjelasan orang
tua menolak saran agar respiratornya dilepas.
Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1,5
tahun sampai respirator tersebut rusak total.
Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan ke-
luarganya, dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan
respirator.
·
Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan.
Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala.
Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang
perlu segera dioperasi. Namun karena di rumah sakit tersebut
tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf, operasi tidak dapat
segera dilakukan.
Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak
dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan.
·
Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat
memeriksa pembuluh darah koroner. Namun karena jumlah
pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung,
penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak
dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas.
·
Di rumah sakit itu banyak pasien wanita, ada dokter spesialis
radiologi, dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen
untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara
dan sekaligus melakukan pembedahan.
Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan
kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit.
·
Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal)
yang ternyata tidak banyak dipakai. Direktur Rumah Sakit ter-
sebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya
baik (optimal). Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar
membeli ESWL. Di samping itu dokter spesialis urologi yang
dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain.
Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit
tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan.
Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil
menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga
dapat menimbulkan masalah.
4) Pihak yang berkepentingan
Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. Hal-
hal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain:
media cetak/elektronik, dokter, pasien, rumah sakit, masyarakat,
investor, industri AKC dan lain-lain.
Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk
menolong pasien. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti
status simbol untuk dokter spesialis, alat bersaing untuk rumah
sakit, keuntungan untuk investor atau industri AKC.
Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya
AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara;
sebagai contoh :
Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan
6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka
kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih
kurang sama.
Jumlah alat CT Scan per 1.000.000 penduduk di Inggris
(UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA.
Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100
milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno-
8 6
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
logi canggih yang sebenarnya tidak diperlukan.
5) Kriteria pemilihan AKC/teknologi canggih
Mengingat masalah-masalah yang dapat timbul seperti di
atas maka untuk mendapat manfaat yang sebesar-besarnya dan
mengurangi masalah sehingga sekecil-kecilnya, upaya untuk
menata pemilihan dan penggunaan AKC/teknologi canggih sudah
dicoba di negara-negara maju. Misalnya WHO Wilayah Eropa
membuat kebijakan bahwa sebelum tahun 1990 semua negara
anggota sudah harus mempunyai mekanisme yang formal untuk
melakukan penilaian yang sistimatik yang berkaitan dengan
efektivitasnya, efisiensi, keamanan, penerimaan (acceptability)
dengan memperhatikan kebijakan kesehatan nasional dan ken-
dala yang ada, juga penilaian sistimatik yang berkaitan dengan
penggunaan AKC/teknologi canggih secara tepat (appropriate
use).
III. LANGKAH-LANGKAH UNTUK MENINGKATKAN
MANFAAT DAN MENGURANGI MASALAH PADA
PENGGUNAAN AKC/TEKNOLOGI CANGGIH
1) Perbandingan pengembangan AKC/teknologi canggih
dengan pengembangan obat
Langkah-langkah pengembangan obat jauh lebih sistimatik
dibandingkan dengan pengembangan AKC/teknologi canggih
mungkin karena sudah lebih lama terjadi atau karena lebih
sederhana.
Bagan sederhana proses pengembangan obat-obat adalah
sebagai berikut :
A) Tahap percobaan binatang.
1) Percobaan efektivitas
2) Percobaan keracunan jangka pendek
3) Percobaan keracunan jangka panjang
4) Percobaan teratogenicity (menimbulkan cacad)
5) Percobaan carcinogenicity (menimbulkan kanker).
B) Tahap penelitian pada manusia
1) Fase I pada orang sehat.
2) Fase II pada orang sakit tertentu
3) Fase III pada pasien umum tertentu dengan RCT (Ran-
domized Clinical Trial)
4) Fase IV penelitian pasca pemasaran, pemakaian pada pa-
sien umum secara lebih luas.
Pada tiap fase itu apabila terdapat hasil-hasil/gejala-
gejala yang merugikan, penelitian dapat dihentikan atau obat
dapat ditarik dari pasaran. Proses yang sistimatik semacam itu
pada AKC/teknologi canggih belum ada.
2) Pengukuran hasil (outcome assessment) pada AKC/
teknologi canggih
Sebagaimana diuraikan di atas tujuan umum dari penggunaan
AKC/teknologi canggih adalah :
a) mengurangi atau meniadakan ancaman terhadap kelang-
sungan hidup (remove the threat of death).
b) mengurangi kecacadan (reduce disability).
c) memperpanjang hidup dengan kualitas yang baik (offeryear
of life of good quality):
Harapan yang ada adalah tercapainya ketiga tujuan ter-
sebut. Namun yang dapat diukur adalah yang pertama dengan
menghitung angka kelangsungan hidup (survival rate) atau
angka kematian (death rate); padahal apa artinya hidup apabila
cacad atau kualitasnya tidak baik.
Kesulitan yang dihadapi antara lain :
merumuskan tolok ukur yang objektif dan mudah dinilai.
sukar melakukan randomized clinical trial seperti pada obat.
sedikitnya data yang ada untuk dianalisis.
Upaya untuk pengukuran hasil ada namun belum cukup dan
belum sistimatik. Contoh dari upaya semacam itu adalah The
European Coronary Surgery Group (19791982) yang berusaha
menilai hasil jangka pendek dan jangka panjang operasi.
Dapat disimpulkan ada beberapa pola hasil untuk golongan
pasien tertentu. Contoh pada bypass koroner (CABS) dinyatakan
bahwa pada kelompok pasien tertentu (selected group of pa-
tients) peluangnya 90% untuk perbaikan dalam latihan tanpa
nyeri (pain-free exercise).
Pada CTscan dinyatakan hanya pada kelompok pasien yang
terbatas ada kemungkinan manfaat dalam arti perbaikan hasil
(there are only limited group of patients likely to benefit in terms
of improved outcome).
Pada penggunaan AKC/teknologi canggih ada pola 4 tahap
yang mirip dengan daur hidup satu produk (product life cycle)
yaitu tahap-tahap permulaan, pertumbuhan, kejenuhan, kemu-
dian penurunan.
Masalah umum pada penggunaan AKC/teknologi canggih
adalah menemukan indikasi yang tepat dalam arti kondisi pasien
yang tepat untuk AKC/teknologi canggih tersebut dalam kata
lain bagaimana menggunakan AKC/teknologi canggih secara
rasional.
3) Pengalaman dan pemikiran upaya penataan
Dari uraian di atas jelas bahwa agar didapat manfaat yang
sebesar-besarnya dan masalah yang sekecil-kecilnya AKC dan
teknologicanggih perlu ditata. Namun tampaknya cara penataan
yang efektif dan efisien belum ditemukan.
a) Pendekatan pengaturan
Di bawah ini diberi contoh apa yang telah dilakukan di
Amerika. Upaya-upaya ini berbentuk pembuatan undang-un-
dang, peraturan-peraturan atau badan-badan yang bertujuan
untuk menata AKC/teknologi canggih :
1972 -- Office of Technology Assesment dari Kongres Amerika.
1974 -- Professional Standards Review Organization (PSRO)
--Utilization Review Committees (URC)
--Certificate of Need Law
-- Health Planning and Resource Development Act
1975
Health Care Program dari NIH (National Institute of Health)
1976 -- The Medical Devices Law
-- Bureau of Quality Assurance
--Bureau of Health Insurance
1978 -- National Center for Health Care Technology.
Peraturan dan badan-badan tersebut tampaknya masih be-
lum memberikan hasil yang memuaskan.
b) Pendekatan kesepakatan
NIH mengadakan Consensus Development Program; hasil
yang pertama tahun 1977. Program ini masih berjalan walaupun
ada yang meragukan keberhasilannya; program ini bahkan meluas
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
87
perangkat lunak (cara, teknik, metoda, prosedur) bahkan ada juga
yang memasukkan jenis ketenagaan (brain ware).
Di dalam bidang kesehatan, teknologi dapat berupa perang-
kat keras seperti Alat Kedokteran Canggih, obat; dapat berupa
perangkat lunak seperti prosedur medik atau prosedur bedah.
Pembagian lain dalam teknologi kesehatan adalah teknologi
untuk primary care (biasa digunakan dokter umum) teknologi
untuk secondary care (biasa dipakai para dokter spesialis) dan
teknologi untuk tertiary care (biasa dipakai para dokter super
spesialis). Demikian juga dapat dibedakan teknologi untuk pen-
cegahan dan teknologi untuk pengobatan/penyembuhan.
Dari uraian di atas jelas bahwa AKC adalah salah satu dari
bentuk teknologi.
2) Dampak AKC/Teknologi Canggih
Penggunaan AKC mempunyai dampak yang luas yang dapat
positip atau negatip :
dampak di bidang kesehatan
dampak di bidang ekonomi
dampak di bidang sosial
dampak di bidang etika dan hukum.
Dampak di bidang kesehatan dapat berupa manfaat/kesem-
buhan (effectiveness), penyulit/bahaya (safety), dan biaya.
Dampak di bidang ekonomi secara makro dapat berupa ke-
naikan pada anggaran/biaya kesehatan.
Dampak di bidang sosial adalah antara lain pengaruh AKC
pada perilaku dokter dan perilaku masyarakat. Para dokter dapat
mengalami "ketergantungan" pada AKC. Masyarakat dapat
menuntut atau menolak adanya AKC.
Dampak di bidang hukum dan etika berupa ketidak pastian
atau ketidak siapan seperti pada masalah bayi tabung, penentu-
an kematian.
3) Contoh konkrit
Di bawah ini akan dikemukakan beberapa contoh konkrit
kasus-kasus individual dalam bidang kesehatan untuk dapat le-
bih memahami manfaat dan masalah penggunaan AKC/tekno-
logi canggih.
·
Seorang ibu hamil pertama mengalami keterlambatan 3 hari
dari hari perkiraan persalinan. Dilakukan non stress test untuk
mengetahui keadaan bayinya. Hasil, tampaknya bayi mulai ke-
sulitan untuk mendapat oksigen ditandai dengan nadi 180/menit.
Uri (placenta) mulai mundur fungsinya. Dilakukan bedah cesar,
bayi dilahirkan hidup dan sehat.
·
Seorang dewasa muda aktif bekerja, beberapa kali pingsan.
Pada pemeriksaan didapat gangguan pada pacu jantungnya (Sick
Sinus Syndrome). Dipasang alat pacu jantung internal. Hasil,
orang tersebut sembuh, sehat dan dapat bekerja produktif.
·
Seorang dewasa muda jatuh dari sepeda motor. Pada pe-
meriksaan dengan CT Scan didapat perdarahan otak (perdarahan
epidural). Dilakukan
.
pembedahan otak. Hasil, orang tersebut
sembuh, sehat dan hidup produktif.
·
Seorang anak umur 8 bulan, demam, kejang-kejang, muntah
dan aspirasi berat, tidak sadar. Dipasang alat napas (respirator).
Pada pemeriksaan lebih lanjut ternyata sudah terjadi kerusakan
otak berat dan mati batang otak. Setelah diberi penjelasan orang
tua menolak saran agar respiratornya dilepas.
Pernapasan buatan dilakukan terus sampai lebih kurang 1,5
tahun sampai respirator tersebut rusak total.
Hasilnya penderita berkepanjangan bagi pasien dan ke-
luarganya, dan kerugian bagi pasien lain yang membutuhkan
respirator.
·
Di suatu Rumah Sakit dipasang CT Scan.
Pada suatu hari ada kecelakaan dengan ruda paksa kepala.
Pada pemeriksaan CT Scan terdapat perdarahan kepala yang
perlu segera dioperasi. Namun karena di rumah sakit tersebut
tidak ada staf dokter spesialis bedah saraf, operasi tidak dapat
segera dilakukan.
Kesimpulan: adanya AKC saja tidak cukup apabila tidak
dilengkapi dengan tim kesehatan yang diperlukan.
·
Di satu rumah sakit dibeli alat rontgen angiograf yang dapat
memeriksa pembuluh darah koroner. Namun karena jumlah
pasien sedikit dan belum ada dokter spesialis bedah jantung,
penggunaan alat tersebut sangat sedikit dan pasien-pasien tak
dapat diberi terapi/tindakan sampai tuntas.
·
Di rumah sakit itu banyak pasien wanita, ada dokter spesialis
radiologi, dokter spesialis bedah umum yang dengan alat rontgen
untuk mamografi dapat menemukan tahap dini kanker payudara
dan sekaligus melakukan pembedahan.
Kesimpulan: pengadaan AKC harusnya disesuaikan dengan
kebutuhan pasien dan kemampuan rumah sakit.
·
Di satu rumah sakit ada alat ESWL (pemecah batu ginjal)
yang ternyata tidak banyak dipakai. Direktur Rumah Sakit ter-
sebut menceritakan bahwa mula-mula ESWL itu pemakaiannya
baik (optimal). Tetapi kemudian banyak rumah sakit sekitar
membeli ESWL. Di samping itu dokter spesialis urologi yang
dulu memakai ESWL itu pindah ke rumah sakit lain.
Kesimpulan: apabila pengadaan AKC antar rumah sakit
tidak ditata investasi AKC itu dapat merugikan.
Contoh-contoh konkrit di atas yang diambil dari keadaan riil
menunjukkan bahwa AKC dapat membawa manfaat tetapi juga
dapat menimbulkan masalah.
4) Pihak yang berkepentingan
Banyak pihak berkepentingan untuk pengadaan AKC. Hal-
hal yang dapat mempengaruhi pengadaan AKC itu antara lain:
media cetak/elektronik, dokter, pasien, rumah sakit, masyarakat,
investor, industri AKC dan lain-lain.
Motivasi pengadaan AKC dapat positip semata-mata untuk
menolong pasien. Tetapi motivasi dapat juga negatip seperti
status simbol untuk dokter spesialis, alat bersaing untuk rumah
sakit, keuntungan untuk investor atau industri AKC.
Hasil dari kekuatan tersebut di atas menyebabkan adanya
AKC dan penggunaannya dapat berbeda antara berbagai negara;
sebagai contoh :
Bypass pembuluh koroner (CABG) di Amerika dilakukan
6 x lebih sering dari pada di Inggris (UK) walaupun angka
kejadian penyakit jantung koroner di kedua negara itu lebih
kurang sama.
Jumlah alat CT Scan per 1.000.000 penduduk di Inggris
(UK) hanya 1/6 dari jumlah di USA.
Diperkirakan bahwa di Amerika dikeluarkan biaya 100
milyar dolar US per tahun untuk penggunaan AKC atau tekno-
8 6
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 90, 1994
pemeriksaan sebagai
gold standard
dikembangkan teknologi
yang lebih murah dan lebih sederhana.
2) Pengembangan ketrampilan klinis
Jika AKC digunakan sebagai "substitusi" pemeriksaan
klinik yang kan terjadi adalah ketergantungan pada AKC.
Jika AKC digunakan sebagai alat verifikasi untuk mengecek
keluhan dan gejala klinis maka untuk penyakit-penyakit terten-
tu dapat dirumuskan diagnosis klinik yang mempunyai
positive
predictive value
yang tinggi.
e) Perkembangan pada masa yang akan datang
Dari segi metoda model yang diuraikan pada butir III/3g
dapat secara bertahap dikembangkan.
Hal lain yang perlu diupayakan adalah agar komunikasi
terbuka antara profesi dokter dengan berbagai pihak di masya-
rakat lebih diperluas. Ini perlu mengingat AKC/teknologi
canggih sering mempunyai dampak di luar kesehatan seperti
bidang sosial, ekonomi, hukum dan etik.
Dengan demikian akan terjadi keserasian dan kesepakatan
antara kelompok profesi dokter dengan kelompok-kelompok
lain dan masyarakat.
V. RINGKASAN DAN PENUTUP
1) AKC/teknologi kedokteran canggih (TKC) dapat mempu-
nyai dampak yang luas di luar bidang kesehatan seperti bidang
sosial, ekonomi, hukum dan etika.
2) Selain membawa manfaat AKC/TKC dapat juga menim-
bulkan masalah.
3) Perlu dipelajari penataan AKC/TKC dari negara-negara
lain dan diterapkan metoda-metoda yang ternyata berhasil se-
bagai contoh program pengembangan konsensus.
4) Perlu dikembangkan jaringan informasi tentang AKC/TKC
5) Penggunaan AKC/TKC perlu diarahkan untuk pengem-
bangan AKC/TKC di Indonesia.
6) Komunikasi yang terbuka dengan masyarakat perlu lebih
dikembangkan sehingga akan terjadi kesamaan persepsi yang
memudahkan timbulnya kesepakatan dan dicegah timbulnya
konflik-konflik yang merugikan.
KEPUSTAKAAN
1. Karjadi Wirjoatmodjo, Tantangan pada dunia kedokteran pada era pem-
bangunan jangka panjang II. Anestesiologi sebagai contoh pengkajian. Pi-
dato pengukuhan 1991.
2. Jennett B. High Technology Medicine : benefits and burdens. Oxford, New
York : Oxford Medical Publ. 1988.
3. Research Policies For Health For Al1. WHO Regional Office For Europe,
1988.
4. Priority Research For Health For A11. WHO Regional Office For Europe,
1988.
5. Berger Son. What your doctor did not learn in medical school. New York:
Avon, 1988.
Cermin Dunia Kedokteran , Edisi Khusus No. 90, 1994
89