CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
206
Definisi :
Gagal jantung adalah suatu sindrom klinis yang ditandai :
1. Gejala gagal jantung : sesak nafas / lelah bila aktifitas ; pada
yang berat, juga saat istirahat.
2. Tanda retensi cairan seperti kongesti paru atau bengkak
pergelangan
kaki.
3. Bukti objektif kelainan struktur atau fungsi jantung saat
istirahat.
Berdasarkan presentasinya Gagal Jantung dibagi atas:
1. Gagal Jantung Akut
2. Gagal Jantung Menahun
3. Acute on Chronic Heart Failure
Gagal Jantung Akut didefinisikan sebagai :
timbul gejala sesak nafas secara cepat ( < 24 jam ) akibat kelainan
fungsi jantung, gangguan fungsi sistolik atau diastolik atau
irama jantung, atau kelebihan beban awal (preload), beban akhir
( afterload ) atau kontraktilitas dan keadaan ini dapat mengancam
jiwa bila tidak ditangani dengan tepat (ESC 2005 ).
Gagal Jantung Menahun didefinisikan sebagai :
sindrom ( kumpulan gejala ) klinis kompleks akibat kelainan struktural
atau fungsional yang mengganggu kemampuan pompa jantung
atau mengganggu pengisian jantung (ACC/AHA 2005).
Pasien Gagal Jantung Akut dapat datang dengan berbagai
kondisi klinis:
1. Acute Decompensated Heart Failure :
a. Baru pertama kali ( de novo )
b. Dekompensasi dari Gagal Jantung Menahun ( acute on chronic )
Kedua keadaan ini masih lebih ringan dan tidak termasuk syok
kardiogenik, edema paru, atau krisis hipertensi.
2. Hypertensive Acute Heart Failure :
Gejala dan tanda gagal jantung disertai tekanan darah tinggi
dan fungsi ventrikel yang masih baik; gambaran roentgen
dada sesuai dengan edema paru akut.
3. Edema paru ( diverifikasi dengan foto roentgen dada ) :
Sesak nafas hebat, dengan ronki basah kasar di hampir
semua lapangan paru, ortopnu, desaturasi O
2
< 90 %
sebelum dapat terapi O
2
.
4. Renjatan Kardiogenik :
Bukti adanya hipoperfusi jaringan walaupun sudah dikoreksi
preload. Tekanan darah sistolik < 90 mmHg, produksi urin
0,5 ml/kg bb/ jam, dengan laju nadi > 60 x/ menit (tak ada
blok jantung ) dengan atau tanpa kongesti organ / paru. Low
output
syndrome merupakan keadaan pre shock.
5. High output failure :
Dicirikan dengan curah jantung tinggi dengan laju nadi cepat
(dapat disebabkan aritmia, tirotoksikosis, anemia, iatrogenik
dsb). Akral hangat, kongesti paru, kadang kadang tekanan
darah rendah seperti pada syok septik.
6. Gagal jantung kanan :
Dengan gejala curah jantung rendah, peningkatan tekanan
vena jugularis, pembesaran hati dan hipotensi.
Karena tidak semua pasien terlihat volume overload pada saat
awal datang atau pada pemeriksaan selanjutnya, maka istilah
Heart Failure lebih cocok dipakai daripada istilah lama CHF
( congestive heart failure ). Disebut Gagal jantung jika ada
keluhan sesak; disfungsi ventrikel mungkin terjadi tanpa keluhan
sesak. Tak selalu ada hubungan antara beratnya sesak dengan
beratnya disfungsi jantung. Selain itu gagal jantung adalah penya-
kit kronik progresif karena mekanisme apoptosis yang dipengaruhi
oleh hiperreaktifitas neurohormon, lalu menyebabkan remodeling.
Algoritma diagnostik gagal jantung :
Algoritma diagnosis GJA (Dikutip dari Fonarow et al.Clin Cardiol 2004;27
(suppl V) V1-V9)
Perkembangan Terbaru
Tatalaksana Gagal Jantung
Bambang Budi Siswanto
Pusat Jantung Nasional Harapan Kita, Departemen Kardiologi & Kedokteran Vaskular FKUI,
Perhimpunan Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia
P R A K T I S
P R A K T I S
Curiga Ga gal Jantu ng Ak ut
Segera Nilai Tanda dan Gejala
Penyakit Jantung ?
EKG/NT-Pro B NP/Rontgen
Evaluasi fungsi jantung dengan
ekokardiografi/pencitraan lain
GAGAL JANTUNG, nilai
dengan ekokardiografi
Te ntukan profil hemodinam ik
Abnormal
Abnormal
Pikirkan diagnosis lain
Pemeriksaan khusus pada Kasus Sulit
(monitoring hemodinam ik/PAC, cor angio)
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
205
B E R I T A T E R K I N I
A
ndrzej Ciszewski dkk. dari Institute of Cardiology, Alpejska,
Warsawa, Polandia, meneliti apakah pemberian vaksinasi
dapat menurunkan kejadian CAD. Hasilnya dipublikasikan
dalam European Heart Journal 2008. Penelitian FLUCAD
merupakan penelitian acak, tersamar ganda dan kontrol
plasebo, melibatkan 658 pasien CAD yang telah mendapat-
kan terapi intensif. 325 pasien menerima vaksin influenza
dan 333 pasien menerima plasebo. Median follow up
adalah 298 hari. Primary endpoint penelitian ini adalah
kematian karena kardiovaskular dalam 12 bulan. Secondary
endpoint penelitian ini ada dua: Major Adverse Cardiac
Event (MACE), yang merupakan gabungan kematian
karena kardiovaskular, infark miokard akut, revaskularisasi
koroner (PCI atau bypass); dan kejadian iskemik koroner,
yang merupakan gabungan dari MACE atau rawat inap
karena iskemia miokard.
Hasil penelitian memperlihatkan :
· Angka kejadian kematian kardiovaskular pada kedua
kelompok tidak berbeda bermakna antara kedua kelompok
(0.63% vs 0.76%, p=0,95).
· Angka kejadian koroner mayor (major adverse cardiac
event, MACE) yang terjadi pada kelompok yang diberi
vaksin lebih sedikit dibandingkan dengan kelompok yang
diberi plasebo (3.00% vs 5.87%, p=0,13).
· Angka kejadian koroner iskemik pada kelompok yang
diberi vaksin lebih rendah daripada kelompok plasebo
(6.02% vs 9.97%, p=0,047).
· Pasien yang mendapat terapi vaksin, lebih jarang
mengalami influenza-like illness dibandingkan dengan
kelompok plasebo (8.1% vs 12.9%).
Walaupun penelitian FLUCAD tidak mencapai primary
endpoint dan secondary endpoint pertamanya, penelitian
ini mencapai secondary endpoint ke dua: angka kejadian
koroner iskemik pada kelompok yang diberi vaksin lebih
rendah daripada kelompok plasebo.
Bagaimana vaksin influenza dapat memberikan manfaat pada
pasien dengan CAD belum diketahui pasti. Para ahli juga ber-
harap bahwa temuan ini bukan saja berguna untuk mengurangi
angka kejadian influenza, namun juga dapat memblokade
komponen imun dan peradangan pada arterosklerosis dan
karena itu di kemudian hari sangatlah mungkin untuk mem-
buat vaksin baru yang khusus mencegah arterosklerosis.
Para ahli menganjurkan penelitian lanjutan yang besar,
tersamar ganda dan multisenter untuk memberikan gambaran
yang lebih jelas mengenai hubungan antara vaksinasi influenza
dengan penurunan kejadian CAD
Simpulan:
Walaupun tidak terjadi penurunan kejadian kematian dan
MACE yang bermakna pada pasien CAD yang diberi vaksinasi
influenza dalam penelitian FLUCAD ini, vaksinasi influenza
pada pasien CAD menurunkan angka kejadian iskemi koroner
serta memperbaiki perjalanan penyakit pasien CAD. (YYA)
Referensi :
Ciszewski A, Bilinska ZT, Brydak LB, Kepka C, Kruk M, Romanowska M et al.
Influenza vaccination in secondary prevention from coronary ischaemic events
in coronary artery disease: FLUCAD study. European Heart J. 2008; 29: 13508.
Gurfinkel EP, de la Fuente RL, Mendiz O, Mautner B. for the FLUVACS Study
Group. Influenza Vaccine Pilot Study in Acute Coronary Syndromes and
Planned Percutaneous Coronary Interventions. The FLU Vaccination Acute
Coronary Syndromes (FLUVACS) Study. Circulation 2002; 105: 2143-7.
Madjid M, Miller CC, Zarubaev VV, Marinich IG, Kiselev OI, Lobzin YV et al.
Influenza epidemics and acute respiratory disease activity are associated with a
surge in autopsy-confirmed coronary heart disease death: results from 8 years
autopsies in 34 892 subjects. Eur Heart J 2007;28: 120510.
1.
2.
3.
Sejak tahun 1900-an, setelah kejadian pandemi influenza di Eropa dan Amerika Serikat,
sudah diperkirakan adanya hubungan antara kejadian kardiovaskular dengan influenza.
Analisis retrospektif dan penelitian-penelitian epidemiologi yang melibatkan populasi
dalam jumlah besar, serta penelitian-penelitian lainnya memperlihatkan bahwa vaksinasi
influenza dapat menurunkan angka kejadian kematian dan menurunkan kejadian iskemia
pada pasien dengan CAD (Coronary Artery Disease, Penyakit Arteri Koroner).
FLUCAD:
Vaksin Influenza menurunkan
kejadian Penyakit Arteri Koroner