background image
INFORMATIKA KEDOKTERAN
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
226
PENDAHULUAN
Dalam tugasnya sehari-hari para praktisi kesehatan seringkali
dihadapkan pada berbagai masalah dan ketidakpastian.
Berbagai penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pemberian
pelayanan kesehatan seringkali belum optimal. Penelitian di
Amerika Serikat menunjukkan bahwa hanya kurang lebih se-
tengah dari indiaktor kualitas pelayanan kesehatan yang dapat
terpenuhi
(1)
. Salah satu penelitian
(2)
memperkirakan terdapat
98.000 kematian akibat kesalahan tindakan medis (medical
error). Penelitian lebih baru oleh Jayawardena dkk memperlihatkan
bahwa kesalahan peresepan terjadi pada 7,53 per 1000 perese-
pan, dan 50% di antaranya merupakan kesalahan fatal dan dapat
membahayakan pasien
(3)
. Kesalahan medis dapat terjadi mulai
dari proses diagnosis, terapi, dan rehabilitasi pasien. Kesalahan
medis dapat pula terjadi pada sistem laboratorium
(4)
.
Berbagai fakta di atas mengindikasikan belum optimalnya pelayanan
kesehatan. Sistem pendukung keputusan klinis dipergunakan
sebagai salah satu perangkat untuk mengatasi berbagai masalah
tersebut. Sistem pendukung keputusan klinis akan memberikan
informasi, penilaian, dan rekomendasi yang digunakan untuk
pengambilan keputusan pada pasien individual
(5)
.
Pokok bahasan ini akan secara lebih lengkap membahas sistem
pendukung keputusan klinis. Sistem pendukung keputusan klinis
menggunakan teknologi informasi untuk mendukung proses
klinis, diagnosis, pemeriksaan penunjang, menuju terapi dan
perawatan pasien.
PEMBAHASAN
Sistem Pendukung Keputusan Klinis
Sistem pendukung keputusan klinis (Clinical Decision Support
Systems) adalah sistem pengetahuan aktif yang menggunakan
2 atau lebih data pasien untuk kemudian memberikan saran
pelayanan yang spesifik
(5)
. Pada umumnya sistem pendukung
keputusan klinis ini dikembangkan dengan mengintegrasikan
pengetahuan medik, data pasien, dan sistem mesin untuk di-
dapatkan sebuah saran medis yang spesifik.
Sistem pendukung keputusan klinis memiliki 4 fungsi utama,
yaitu: (1) administratif, mendukung proses dokumentasi dan
koding klinis, prosedur, dan rujukan pasien, (2) mengelola
kompleksitas, menjaga agar pasien tetap ada di jalur protokol
yang benar, misalnya: protokol kemoterapi yang memerlukan
jangka waktu pelayanan yang lama, (3) pengendalian biaya,
mencegah pemeriksaan berlebihan, dan pemeriksaan ulang
yang tidak perlu, dan (4) mendukung keputusan klinis, mendu-
kung diagnosis klinis, dan proses terapi yang sesuai dengan
bukti-bukti ilmiah terkini, standar pelayanan medik yang baik,
dan mendukung best practice
(5)
.
Keuntungan penggunaan sistem pendukung keputusan klinis
Keunggulan penggunaan sistem pendukung keputusan klinis
adalah: (1) meningkatkan keamanan pasien, dengan mengu-
rangi medication error, dan kejadian efek samping yang tidak
perlu, serta mengurangi tes yang tidak perlu, (2) meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan, meningkatkan pelaksanaan
clinical pathway dan evidence-based clinical practice guideline,
dan menfasilitasi penggunaan bukti-bukti ilmiah pendukung
terbaik dalam pelayanan kepada pasien, (3) meningkatkan
efisiensi pelayanan kesehatan dengan mengurangi biaya yang
tidak perlu, mengurangi duplikasi tes, mengurangi variasi dan
pemborosan peresepan
(5)
. Kajian Bates
(6)
menunjukkan bahwa
penggunaan sistem pendukung keputusan klinis berperan
dalam menurunkan error peresepan yang melebihi dosis maksi-
mum dan mencegah munculnya efek samping yang fatal akibat
alergi obat .
Bukti ilmiah penggunaan sistem pendukung keputusan klinis
Sistem pendukung keputusan klinis saat ini digunakan secara
luas dalam berbagai pengelolaan penyakit. Beberapa penelitian
mengevaluasi hasilguna penerapannya. Beberapa penelitian
terdahulu menunjukkan efektivitas penggunaan sistem komputer
untuk memperbaiki praktek peresepan
(7)
, mengurangi medica-
tion error
(3,8,9)
, dan meningkatkan kepatuhan terhadap pelaksa-
naan standar pelayanan (clinical practice guideline)
(10)
.
Sistem Pendukung
Keputusan Klinis dan Perbaikan
Kualitas Pelayanan Kesehatan
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta
ABSTRAK
Hatching adalah proses keluarnya embrio dari zona pelucida. Proses tersebut merupakan kunci utama pada pertumbu-
han embrio. Setelah melalui proses hatching embrio akan berimplantasi pada endometrium dan tumbuh menjadi fetus.
Bila proses hatching pada embrio tahap blastosit ini gagal maka implantasi dan kehamilan tidak akan terjadi dan embrio
akan mengalami degenerasi atau mati. Assisted hatching adalah mekanisme buatan yang dilakukan untuk membantu
proses hatching. Mekanisme buatan tersebut merupakan upaya untuk meningkatkan keberhasilan terjadinya implantasi
dan kehamilan. Assisted hatching dapat dilakukan dengan metode zona thinning (penipisan zona), zona drilling
(pengeboran zona), dan zona slithing (penyayatan zona). Beberapa reagen dan perlengkapan yang digunakan dalam
assisted hatching antara lain asam tyrode, laser, pronase, dan PZD (partial zona dissecting). Perlu diperhatikan bahwa
sekalipun melalui penerapan assisted hatching persentase implantasi dan kehamilan dapat meningkat, prosedur ini juga
dapat menyebabkan terjadinya embrio kembar monozygot atau degenerasi pada embrio.
Kata kunci : assisted hatching, asam tyrode, laser, pronase, and partial zona dissecting (PZD)
T I N J A U A N P U S T A K A
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
203
PENDAHULUAN
Memiliki keturunan merupakan salah satu ciri mahluk hidup.
Untuk dapat memiliki keturunan diperlukan sel gamet (ovum dan
sperma) serta seperangkat alat reproduksi yang memprasaranai
proses pembentukan, pematangan sel gamet, proses fertilisasi,
hingga terjadinya kehamilan sampai akhirnya fetus dilahirkan.
Pada organ yang terlibat dan proses yang berjalan seringkali
terjadi hambatan atau permasalahan. Salah satu permasalahan
yang menyebabkan seseorang sulit atau tidak bisa memiliki
keturunan secara alami adalah tidak terjadinya fertilisasi antara
sel telur dan sperma. Untuk mengatasi masalah tersebut maka
berkembanglah teknologi reproduksi berbantu (assisted repro-
duction technology) yang bertujuan untuk menghasilkan zigot
dari fertilisasi antara sel telur dan sel sperma secara in vitro.
Zigot yang dihasilkan kemudian dikultur dan ditransfer kembali
ke dalam uterus pada saat embrio berumur 3 hari
[1]
.
Embrio tersebut diharapkan akan berkembang dan tumbuh,
mencapai tahap blastosit, mengalami hatching, berimplantasi,
terjadi kehamilan dan diakhiri dengan adanya kelahiran. Namun
dari jumlah embrio yang ditransfer, jumlah embrio yang berim-
plantasi masih rendah dan tingkat kehamilan yang terjadi lebih
rendah dari tingkat implantasi. Rendahnya implantasi tersebut
disebabkan karena embrio yang ditransfer gagal dalam proses
hatching (tidak dapat keluar dari zona pelucidanya)
[2]
. Maka
muncul suatu gagasan untuk membantu proses hatching dengan
tujuan untuk meningkatkan jumlah embrio yang berimplantasi
dan kehamilan yang terjadi.
Hatching
Zona pelucida terbentuk pada awal folikel antral, dihasilkan dari
interaksi antara oosit dan sel-sel granulosa. Zona pelucida terdiri
dari 3 lapis glikoprotein yang membungkus oosit, yaitu ZP1, ZP2,
dan ZP3
[3,4]
. Zona tersebut berfungsi untuk melindungi dan
menjaga sel telur. Pada saat fertilisasi zona pelucida melindungi
dan membatasi jumlah sperma yang masuk ke dalam sel telur
sehingga hanya 1 sperma saja yang dapat membuahi sel telur
[5]
.
Setelah terjadi pembuahan (fertilisasi), sel telur akan menjadi
zigot dan mengalami pembelahan membentuk blastomer-
blastomer. Pada fase ini zona pelucida berfungsi sebagai pem-
batas untuk menjaga kesatuan embrio saat embrio belum me-
ngalami kompaksi (pre-compacted). Blastomer-blastomer ter-
sebut dilindungi agar tidak menyebar, tetap saling berdekatan
dan berinteraksi satu sama lain sampai terbentuk ikatan yang
kompleks
[2,6]
. Setelah mengalami kompaksi maka sel-sel bagian
paling luar akan mensekresikan suatu cairan. Dominasi cairan
tersebut mendesak sel-sel di bagian dalam sampai terkumpul di
satu sisi. Ruang yang terisi cairan tersebut dinamakan blasto-
coel, sel-sel bagian tepi dinamakan sel-sel trophectoderm dan
sel-sel di bagian tengah disebut inner cell mass. Embrio dengan
struktur seperti tersebut di atas dinamakan blastosit
[1, 5]
.
Pada tahap blastosit embrio akan mengalami pertambahan
ukuran dan volume sehingga mendesak zona pelucida. Keluarnya
embrio dari zona pelucida yang melapisinya disebut dengan
hatching (Gambar 1).
Assisted Hatching
Dini Budhiarko, Caroline Tan Sardjono, Ferry Sandra
Stem Cell and Cancer Institute, Kalbe Pharmaceutical Company, Indonesia
background image
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
202
hidup setelah 2 tahun sebesar 51,5 % dan setelah 5 tahun
sebesar 45 %. Penulis lain
14
, menemukan hasil 40 % setelah 5
tahun pengamatan. Secara kumulatif ternyata stadium penyakit,
pembedahan optimal serta jenis histopatologi saling mempe-
ngaruhi sehingga menghasilkan kelangsungan hidup yang lebih
rendah dibandingkan hasil masing-masing variabel tersebut.
Analisis multivariat beberapa variabel yang mempengaruhi
kelangsungan hidup pasien kanker ovarium dan besarnya
peluang risiko berdasarkan Cox regression (tabel 1) menunjuk-
kan bahwa hanya faktor stadium penyakit dan optimalisasi
tindakan pembedahan yang berpengaruh bermakna terhadap
kesintasan kumulatif secara bersama-sama (p=0,000 dan 0,05).
Variabel lainnya tidak berpengaruh (p=>0,05). Jenis histopa-
tologi secara tunggal memberi pengaruh positif pada kelang-
sungan hidup kanker ovarium; tetapi secara kumulatif tidak
berpengaruh. Stadium penyakit adalah variabel yang sangat
berpengaruh; makin tinggi stadiumnya, makin buruk kelang-
sungan hidupnya. Peluang risiko untuk stadium II dan III
sebesar 45,69 kali, dan stadium IV 151,73 kali; perbedaan yang
sangat bermakna (p=0,00 dan p=0,00). Stadium awal (I) sangat
menentukan kelangsungan hidup pasien kanker ovarium.
KESIMPULAN
Dari analisis kelangsungan hidup setiap variabel, hanya stadium
penyakit, optimalisasi pembedahan dan jenis histopatologi yang
mempengaruhi serta meningkatkan survival kanker ovarium ini
secara bermakna.
Pada analisis kumulatif semua variabel, didapat kelangsungan
hidup pada 2 tahun sebesar 51,5 % dan setelah 5 tahun 45 %.
Pada analis multivariat, hanya stadium penyakit dan optimalisasi
pembedahan yang mempengaruhi kelangsungan hidup secara
bermakna. Ditemukan pula stadium lanjut memperburuk survival.
Risiko stadium IV 151,7 kali risiko pada stadium I.
KEPUSTAKAAN
Rumowicz CD. Ovarian Cancer. Mediguide to Oncology. Vol 7.1987.
Berek JS. Ephitelial Ovarian Cancer. In : Berek JS, Hacker FN. Practical
Gynecologic Oncology.2
nd
ed. Baltimore Maryland : Williams and Wilkins.
1994.
Morran CP, Cutis JP, Townsend DE. Tumours Of Ovary : Neoplasms derived
from Coelonic Epithelium. Synopsis of Gynecologic Oncology. 4th ed.
Churchill Livingstone, New York.1993.
Fairas ­ Eisner RP, Berek JS. Gynecologic Cancer. In : Casciato DA, Lowitz
BB, eds. Manual of Clinical Oncology. 4
th
ed. Philadelphia : JB Lippincott
Co., 2000.
Barber HRK. Ovarian Cancer. Diagnosis and Surgical Management In :
Barber HRK. Gynecologic Cancer. London : Churchill Livingstone, Inc.1984
: 119-26
Susan E, Mackey WT. Ovarian Screening. J. Clin. Oncol. 1995;13 (March):783-93
1.
2.
3.
4.
5.
6.
Danzinger K. Screening Producers for Ovarian Cancer.www.cancersafe.com/
test/test.asp.
Blackledge G, Chan KK. Management of Ovarian Cancer. Butterworth Co.
Publ. Ltd.1986, 1-13
Chi DS, Hoskins WJ. Primary Surgical Management of Advanced Ephitelial
Ovarian Cancer. In : Rubin SC, Sutton GP. Ovarian Cancer. 2
nd
.ed.
Lippincott Williams and Wilkins, Philadelphia,2001
Young RS. Initial Therapy for Early Ovarian Carcinoma. Cancer 1987 ; 60 :
2092-9.
Stier EA, Barabas RR, Curtis JP. Laparotomy to Complete Staging of
Presumed Early Ovarian Cancer. Obstetr. Gynecol. 1996;87(5): 737-9
Benedet JL, Hacker NF, Ngan HYS. Cancer of the Ovary. Staging Classifi-
cations and Clinical Practice Guidlines of Gynecologic Cancer by FIGO
Committee on Gynecologic Oncologic and IGCS Guidelines Commitee.
2
nd
ed. Nov.2003
Allan AD, Williams AO. Ovarian Cancer. In : Sciarra JJ, Steege JF, Depp R,
eds. Gynecology and Obstetrics. Vol 1. Philadelphia : Lippincot-Raven
Publ.1997
Laila N, Syamsuddin S. Kanker Ovarium. Sub Divisi Onkologi Bagian
Obstetri dan Ginekologi FKUI, Jakarta 1991.
Charles D, Sarah K. Reported Ovarian Cancer Screening Among of
Population Based Sample in Washington State. The American College of
Obstetric and Gynecology Vol 96 : 1, July 2000
Look KJ. Epidemiology, Etiology and Screening of Ovarian Cancer. In :
Rubin SC, Sutton GP. Ovarian Cancer. 2nd.ed. Lippincott Williams and
Wilkins, Philadelphia, 2001
Boyd J. Molecular Genetics of Hereditary Ovarian Cancer. In : Rubin SC,
Sutton GP. Ovarian Cancer. 2nd.ed. Lippincott Williams and Wilkins.
Philadelphia, 2001
Ozols RF, Rubin SC, Dembo AJ, Robby SJ. Ephitelial Ovarian Cancer. In :
Hoskin WJ, Perez CA, Young RC, Principles and Practice of Gynecology
Oncology. JB Lippincott Co, Philadelphia 1992
Jones HW, Jones GS. Epithelial Tumor of the Ovary. In : Jones HW III,
Colston AW, Burnett LS. Novak's Textbook of Gynecology 11th ed. Baltimore :
Williams and Wilkins, 1988 : 543
Cure H. Dose Intensity in the Treatment of Advanced Epithelial Ovarian
Cancer. In : Gershenson DM, Mc Guire WR, Gose M, Quinn MA, Thomas
G.Eds : Gynecologic Cancer Controversies in Management. Elsevier,
Churchill, Livingstone, Philadelphia. 2004
Olt GJ, Cain J. Quality of Life Issues in Ovarian Cancer. In : Rubin SC,
Sutton GF. Ovarian Cancer. 2nd ed. Lippincott Williams and Wilkins,
Philadelphia.2001
Carter J. Primary Surgery for Ovarian Cancer. In : Gershenson DM, Mc
Guire WR, Gose M, Quinn MA, Thomas G. eds. Gynecologic Cancer
Controversies in Management. Elsevier, Churchill, Livingstone, Philadelphia,
2004
Gadducci A, Sartori E,Landoni F. Relationship between Time Interval from
Primary Surgery to start of Taxane-plus Platinum Based Chemotherapy
and Clinical Outcome of Patient with Advanced Epithelial Ovarium Cancer.
Result of Multicenter Retrospective Italian Study. J Clin Oncol. 2005;
23:751-758.
Moore DH. Primary Surgical Management of Early Epithelial Ovarian
Carcinoma. In : Rubin SC, Sutton GP. Ovarian Cancer. 2nd.ed. Lippincott
Williams and Wilkins. Philadelphia. 2001
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
23.
24.
INFORMATIKA KEDOKTERAN
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
227
Namun beberapa penelitian lain menunjukkan pula bahwa
penggunaan sistem pendukung keputusan klinis tidak berman-
faat dalam memperbaiki kualitas pelayanan. Salah satu di antara-
nya adalah penelitian penggunaan sistem pendukung keputu-
san klinis dalam pengelolaan hipertensi di pusat pelayanan
primer
(11)
. Dilakukan uji klaster acak dan kontrol pada 27 dokter
umum, dengan 614 pasien hipertensi. Hasil penelitian menun-
jukkan bahwa tidak ada penurunan risiko absolut secara ber-
makna akibat pemakaian computer based clinical decision
support system tersebut.
Contoh lain adalah penelitian penggunaan sistem pendukung
keputusan klinis dalam pengelolaan penyakit jantung di pusat
pelayanan primer
(12)
. Penelitian ini menggunakan rancangan uji
acak dengan kontrol pada dokter umum dan farmasis, dengan
subyek 706 pasien gagal jantung dan penyakit jantung iskemik
rawat jalan. Intervensi yang diberikan adalah evidence based
cardiac care suggestion yang telah disepakati oleh panel dokter
jantung dan penyakit dalam setempat. Subyek penelitian diikuti
selama 1 tahun, tercatat data 3.419 kunjungan. Hasil penelitian
menunjukkan tidak ada perbedaan bermakna dalam hal kualitas
hidup, ketaatan pada regimen terapi, utilisasi pelayanan kese-
hatan, biaya, dan kepuasan terhadap pelayanan. Para dokter
melihat guideline tersebut sebagai alat bantu yang bermanfaat,
namun membatasi praktek mereka, dan tidak banyak mem-
bantu dalam pengambilan keputusan yang bersifat individual.
Kontroversi efektivitas penggunaan sistem pendukung keputu-
san klinis dalam pelayanan kesehatan dicoba untuk dijawab
dengan sebuah kajian sistematis terkini terhadap berbagai uji
klinik terdahulu oleh Kawanoto, dkk
(13)
. Kajian sistematis dilaku-
kan pada 70 penelitian terdahulu. Sistem pendukung keputusan
klinis terbukti meningkatkan pelayanan klinik pada 68% studi.
Analisis regresi multipel menunjukkan 4 ciri yang signifikan untuk
sebuah sistem agar dapat meningkatkan mutu pelayanan yaitu:
(1) sebagai bagian yang otomatis dalam alur kerja klinisi (p<
0,00001), (2) sistem memberikan rekomendasi tertentu dan bukan
hanya assessment (p=0,0187), (3) sistem ada di tempat dan pada
saat pengambilan keputusan diperlukan (p=0,0263), dan (4)
sistem yang berbasis komputer (p=0,0294). Pada 32 uji klinik
dengan yang memiliki keempat ciri tersebut, 94% di antaranya
menunjukkan adanya perbaikan mutu praktek klinik.
Kajian sistematis yang lebih baru oleh Chaudhry, dkk
(14)
mem-
perlihatkan bahwa teknologi informasi medis (termasuk sistem
pendukung keputusan klinis) memiliki peran cukup besar untuk
meningkatkan kepatuhan terhadap standar pelayanan medik,
mampu memantau penggunaan obat, dan mengurangi risiko
kesalahan pengobatan. Kajian Blumenthal dan Glaser
(15)
menyatakan
bahwa ada harapan besar akan perbaikan kualitas pelayanan
kesehatan akibat penggunaan teknologi informasi kesehatan.
Pada bidang pelayanan obat di rumahsakit, kajian Rommers
dkk
(16)
memperlihatkan bahwa bukti ilmiah yang ada mendu-
kung penggunaan sistem pemesanan dan peresepan obat yang
terkomputerisasi untuk mengurangi kesalahan peresepan.
Hambatan penggunaan teknologi informasi dalam praktek klinik
Bates dan Gawande
(6)
mengidentifikasi 3 faktor penghambat
utama dalam penerapan teknologi informasi pada praktek klinik
sehari-hari, yaitu: (1) hambatan finansial, pengembangan sistem
pendukung keputusan klinis memerlukan biaya tersendiri, dan
perlu biaya tambahan untuk mengevaluasi secara berkala hasil
guna sistem tersebut, (2) belum adanya standar, belum ada
standar data apa saja yang direkomendasikan oleh organisasi
profesi tertentu untuk dimasukkan dalam sistem pendukung
keputusan klinis. Saat ini sistem yang ada masih sangat berva-
riasi, (3) hambatan kultural, penggunaan teknologi informasi
belum dipandang sebagai suatu hal yang penting bagi para
dokter dan manajer kesehatan. Penelitian Haberman, dkk
(17)
menunjukkan bahwa ketaatan pengisian status rekam medis
yang terkomputerisasi juga masih rendah.
Pada situasi di negara berkembang seperti Indonesia, menurut
pandangan penulis hambatan lain adalah penguasaan teknologi
informasi oleh para praktisi pelayanan kesehatan.
Kesimpulan
Sistem pendukung keputusan klinis (Clinical Decision Support
Systems) adalah sistem pengetahuan aktif yang menggunakan
2 atau lebih data pasien untuk kemudian memberikan saran
pelayanan yang spesifik. Penggunaannya telah meluas dalam
beberapa tahun terakhir ini. Bukti-bukti ilmiah yang ada masih
sangat bervariasi, namun mendukung peningkatan mutu pela-
yanan klinik. Hal ini terutama teramati untuk kasus keamanan
tindakan terapi dan mencegah kesalahan pengobatan.
background image
INFORMATIKA KEDOKTERAN
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
228
KEPUSTAKAAN
McGlynn EA, Asch SM, Adams J, Keesey J, Hicks J, DeCristofaro A et al.
The quality of health care delivered to adults in the United States. N Engl J
Med. 2003, 348: 2635-45.
Agency for Healthcare Policy and Research. Patient Fact Sheet: Tips to Help
Prevent Medical Errors. AHRQ 00-P038. US. Department of Health and
Human Services, Washington, DC. February 15, 2000.
Jayawardena S, Eisdorfer J, Indulkar S, Prescription Errors and the Impact of
Computerized Prescription Order Entry System in a Community-based
Hospital, Am J Ther. 2007;14(4): 336-40
Plebani M. Errors in Laboratory Medicine and Patient Safety: The Road
Ahead, Clin Chem Lab Med. 2007; 45(6): 700-7
Hunt DL, Haynes RB, Hanna SE, Smith K. Effects of computer-based clinical
decision support systems on physician performance and patient outcomes:
a systematic review. JAMA 1998; 280: 1339-46.
Bates DW, Gawande AA, Improving Patient Safety with Information Technology,
N Engl J Med. 2003; 348: 2526-2534
Walton RT, Harvey E, Dovey S, Freemantle N. Computerised advice on drug
dosage to improve prescribing practice. Cochrane Database Syst Rev;
2001, 1: CD002894.
Bates DW, Teich JM, Lee J, Seger D, Kuperman GJ, Ma'Luf N, et al. The
impact of computerized physician order entry on medication error prevention.
J Am Med Inform Assoc. 1999; 6: 313-21
Kaushal R, Shojania KG, Bates DW. Effects of computerized physician order
entry and clinical decision support systems on medication safety: a system-
atic review. Arch Intern Med. 2003;163: 1409-16.
Balas EA, Weingarten S, Barb CT, Blumenthal D, Boren SA, Brown GD.
Improving preventive care by prompting physicians. Arch Intern Med
2000;160: 301-8
Montgomery A, Fajey T, Evaluation of computer based clinical decision
support system and risk chart for management of hypertension in primary
care: randomised controlled trial. BMJ 2000; 5:10-14
Tierney WM, Overhage JM, Murray MD et al. Effects of computerized
guidelines for managing heart disease in primary care. J Gen Intern Med.
2003 (Dec);18(12):967-76
Kawamoto K, Haullian CA, dkk, Improving clinical practice using clinical
decision support systems: a systematic review of trials to identify features
critical to success. BMJ 2005; 330:765
Chaudhry B, Wang J, Wu S, Maglione M, dkk. Systematic Review: Impact
of Health Information Technology on Quality, Efficiency, and Costs of
Medical Care. Ann Intern Med. 2006;144:742-752
Blumenthal D, Glaser JP, Information Technology Comes to Medicine. N
Engl J Med. 2007; 356;24: 2527-34
Rommers MK, Teepe Twiss M, Guchelaar HJ, Preventing adverse drug
events in hospital practice: an overview. Pharmacoepidemiol Drug Saf.
2007 Jul 3
Haberman S, Rotas M, Perlman K, Feldman JG. Variations in compliance
with documentation using computerized obstetric records. Obstet Gynecol.
110(1); 141(5)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
H A S I L P E N E L I T I A N
CDK 163/vol.35 no.4/Juli - Agustus 2008
201
Tabel 1 memperlihatkan hanya faktor stadium penyakit dan
optimalnya operasi yang berpengaruh bermakna terhadap kesin-
tasan kumulatif (p=0,00 dan p=0,05) secara bersama-sama.
Faktor lainnya: umur, paritas, jenis histopatologi, sitostatika tidak
berpengaruh (p0,05). Didapatkan pula bahwa stadium sangat ber-
pengaruh dan menentukan kelangsungan hidup. Dibanding
stadium I, stadium lainnya mempunyai hazard ratio 45,69 dan
151,73. Pada kelompok variabel lainnya tidak menunjukkan
perbedaan nyata. (hazard ratio <1)
DISKUSI
Kanker ovarium adalah salah satu keganasan organ kandungan
yang sangat mematikan. Usaha menurunkan tingkat kematian
melalui usaha diagnosis penyakit lebih awal, tindakan operasi
dan pemberian sitostatika lebih optimal telah banyak dilakukan.
Keberhasilannya perlu dievaluasi melalui tingkat kelangsungan
hidup 5 tahun setelah dikelola. Penatalaksanaan lengkap kanker
ovarium meliputi pembedahan, pemberian sitostatika dan atau
radiasi. Penelitian ini memaparkan beberapa karakteristik bio-
logis antara lain umur, termuda 13 tahun dan tertua 90 tahun.
Terbanyak kelompok umur > 40 tahun (43,8 %). Peningkatan
usia harapan hidup seorang wanita memperbesar risiko men-
derita kanker ovarium. Beberapa penulis menyatakan bahwa
kanker ovarium dapat ditemukan di semua kelompok umur.
15,16,17
Diperkirakan > 50 % kasus kanker ovarium terjadi pada umur 65
tahun atau lebih.
18
Kelompok nullipara / tidak mempunyai anak sebesar 45,2 %.
Tingginya kasus nullipara pada penelitian ini menyokong pen-
dapat bahwa seringnya ovulasi mempunyai kecenderungan
menderita kanker ovarium.
19,20
.
Pada saat dikelola, penyakit telah berada pada stadium lanjut
(III + IV sebesar 63,01 %). Hal ini memperkuat pendapat bahwa
kanker ovarium terdiagnosis setelah berada pada stadium
lanjut.
21,22
Secara histopatologi terbanyak adalah jenis epithelial
yaitu 70,4 %. Kasus yang menjalani pembedahan optimal hanya
32,9 % dan yang menerima sitostatika secara optimal sebagai
ajuvan, sebanyak 38,4 %. Young
10
mengemukakan bahwa pem-
bedahan yang adekuat akan menyokong dan memperpanjang
kelangsungan hidup penderita kanker ovarium. Barber
5
me-
nyatakan pula bahwa residu tumor setelah pembedahan sangat
penting untuk prognosis penyakit serta tingkat keberhasilan
sitostatika. Dikatakan bahwa residu < 2 cm akan memberi efek
maksimal. Penulis lain, Gadducci dkk
23
menyatakan bahwa
residu tumor <1 cm akan sangat memperbaiki respons sitosta-
tika dan kelangsungan hidup.
Kasus yang bertahan hidup sampai 5 tahun pada umumnya
masih pada stadium I (95,2 %). Jumlah kasus yang tetap hidup
sampai 5 tahun sebanyak 40 orang (54,8 %).
Pada analisis untuk kelangsungan hidup dengan menggunakan
kurva Kaplan-Meier dan Logrank untuk kelompok umur (gb.1),
didapatkan 20-40 tahun mempunyai survival yang lebih baik.
Hal ini mungkin dipengaruhi oleh immunitas seluler yang baik
pada masa reproduksi. Tetapi perbedaannya tidak bermakna
(p=0,34;CI 95 %).
Pada variabel paritas, tampaknya non-nulliparitas mempunyai
survival yang lebih baik. Kelangsungan hidup kelompok non-
nulliparitas pada 1 tahun pertama mencapai 83 % dan setelah 5
tahun sebesar 51%; walaupun dibanding nulliparitas ternyata
tidak bermakna.(p=0,21;CI 95 %).
Survival 5 tahun pada setiap kelompok stadium ternyata sangat
berbeda bermakna (Gb 3). Kelangsungan hidup 5 tahun stadium I
sebesar 95,2 %. Survival yang terburuk pada stadium IV - hanya
17,2 % pada 5 bulan. Hasil ini lebih rendah dari laporan Ozols dkk
14
yaitu sebesar 20 % setelah 6 bulan.
Setelah 1 tahun tidak ditemukan lagi kasus stadium IV. Pada
stadium II+III tingkat kelangsungan hidup setelah 1 tahun
sebesar 70,7 % dan pada 5 tahun hanya 20,9 %. Stadium
penyakit sangat menentukan kelangsungan hidup 5 tahun. Hasil
dari ketiga kelompok menunjukkan perbedaan sangat ber-
makna (p=0,000; CI 95 %).
Pada variabel histopatologi (gb. 4) tampak bahwa kelompok
epithelial lebih baik survivalnya. Setelah 1 tahun kelangsungan
hidupnya 81 %, dan setelah 5 tahun 53,6 % dibanding dengan
56 % dan 30 % pada kelompok non-epithelial. Perbedaan ini
bermakna (p=0,03;CI 95 %).
Saat pembedahan yang optimal memberi survival yang lebih
baik (Gb.5). Carter dkk
22
menyatakan untuk memperbaiki survival,
residu tumor harus < 1cm. Setelah 1 tahun kelangsungan hidupnya
86,3 % dibanding 63,7 % pada kelompok tidak optimal. Demikian
juga setelah 5 tahun kelangsungan hidup kelompok pembeda-
han optimal sebesar 60,9 % dibanding 36,4 %. Perbedaannya
cukup bermakna (p=0,04). Hasil ini menunjukkan bahwa optima-
lisasi tindakan pembedahan sangat mempengaruhi tingkat ke-
langsungan hidup kanker ovarium. Moore DH dkk.
24
menyatakan
pembedahan harus disertai ajuvan sitostatika agar kelangsungan
hidup 5 tahun mencapai >90 % pada stadium awal.
Demikian pula pemberian sitostatika optimal memberi hasil yang
lebih baik yaitu 85,5 % dibanding 61,1 % untuk kelangsungan
hidup 1 tahun dan 55,6 % dibanding 37,5 % setelah 5 tahun
(Gb.6). Walaupun perbedaan ini tidak cukup bermakna (p= 0,06).
Analisis kesintasan/survival dengan metode Kaplan-Meier untuk
seluruh variabel secara bersama-sama dihubungkan dengan
kejadian (event) kematian, menunjukkan bahwa kelangsungan