background image
102
CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008
Jogpsnbujlb
Lfeplufsbo
Metode
Kajian kualitatif dan kuantitatif terhadap berbagai penelitian
terdahulu tentang penggunaan teknologi informasi untuk kese-
lamatan pasien. Observasi tentang penggunaan TI (terutama
peresepan elektronik) di pusat pelayanan kesehatan. Pemba-
hasan lebih mendalam akan dilakukan pada topik keamanan
pengobatan.
Pembahasan
3.1. Konsep dasar keselamatan pasien di RS
Patient safety melibatkan sistem operasional dan proses pela-
yanan yang meminimalkan kemungkinan terjadinya adverse
event/ error dan memaksimalkan langkah-langkah penanganan
bila error telah terjadi.
(3)
Penelitian dari 994 RS memperlihat-
kan bahwa cedera akibat tindakan medik (medical injuries) me-
nyebabkan bertambahnya hari rawat inap sampai dengan 10,89
hari dan tambahan biaya perawatan sebesar $ 57.727
(4)
.
Kesalahan pengobatan dan efek samping obat terjadi pada
rata-rata 6,7% pasien yang masuk ke rumah sakit. Di antara
kesalahan tersebut, 25-50% dapat dicegah, berasal dari kesa-
lahan peresepan, dan 78% terjadi akibat kegagalan sistem
(5)
.
Berbagai upaya telah diusahakan secara terus menerus untuk
mengurangi adverse event akibat tindakan medis. Upaya un-
tuk meningkatkan patient safety adalah dengan: (1) pengem-
bangan sistem untuk identifi kasi dan pelaporan risiko, error,
atau adverse event, (2) penggunaan teknologi informasi, dan
(3) upaya perubahan kultur organisasi.
3.2. Penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan
keselamatan pasien
Penggunaan teknologi informasi diharapkan dapat meningkat-
kan patient safety. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan
efektivitas penggunaan sistem komputer untuk memperbaiki
praktek peresepan, mengurangi medication error, dan mening-
katkan kepatuhan terhadap pelaksanaan standar pelayanan
(clinical practice guideline)
(6,7,8)
.
Kajian sistematis Kawanoto, dkk
(9)
pada 70 penelitian terda-
hulu menunjukkan bahwa sistem pendukung keputusan klinis
berbasis komputer terbukti meningkatkan pelayanan klinik pada
68% studi. Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan efekti-
vitas penggunaan sistem komputer untuk memperbaiki praktek
Peresepan Elektronik Untuk Meningkatkan
Keamanan Pengobatan di Rumah Sakit
Rizaldy Pinzon
SMF Saraf RS Bethesda Yogyakarta
Abstract
Medicine and the process of health care have always put pa-
tients at risk. Medical Information technology can be designed
to improve the process and outcome of clinical decision-making.
The goal of patient safety is to reduce the risk of injury or harm
to patients caused by the structure and process of care. Medi-
cation error is a major risk for hospitalized patients. Adverse
drug events occur often in hospitals. They can be prevented to
a large extent by minimizing the human errors of prescription
writing. The CPOE system prevented and alerted physicians
and pharmacists to dosage errors and allergies. Involvement of
pharmacists in reviewing the prescription and alerting the physi-
cian has minimized prescription errors to a great degree. Previ-
ous studies showed the potential role of information technology
in preventing medication errors.
Key words: medication error-information technology-computer-
ized ordering system
Pendahuluan
Isu patient safety merupakan salah satu isu utama dalam pela-
yanan kesehatan. Para pengambil kebijakan, pemberi pela-
yanan kesehatan, dan konsumen menempatkan keamanan
sebagai prioritas pertama pelayanan. Patient safety merupa-
kan sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekedar efi siensi
pelayanan. Berbagai risiko akibat tindakan medik dapat terjadi
sebagai bagian dari pelayanan kepada pasien. Identifi kasi dan
pemecahan masalah tersebut merupakan bagian utama dari
pelaksanaan konsep patient safety
(1)
.
Patient safety didefi nisikan sebagai Bebas dari cedera aksi-
dental atau menghindari cedera pasien akibat tindakan pela-
yanan
(1)
. Salah satu bentuk risiko akibat tindakan pelayanan
kesehatan di RS adalah kesalahan pengobatan (medication
error), yang dapat berupa kesalahan identifi kasi pasien, salah
nama obat, salah dosis, salah cara pemberian, dan salah aturan
pakai
(2)
.
Di Indonesia, program keselamatan pasien dicanangkan pada
tahun 2005, dan terus berkembang menjadi isu utama dalam
pelayanan medis di Indonesia. Artikel ini bertujuan untuk meng-
kaji peran teknologi informasi untuk meningkatkan keamanan
pengobatan pasien di RS.
background image
CDK 161 / vol. 35 no. 2 Mar-Apr 2008
103
peresepan, meningkatkan kepatuhan terhadap standar pelaya-
nan medik, dan mengurangi risiko kesalahan pengobatan
(10)
.
Komite Agency for Healthcare Research and Quality
(11)
meng-
kaji bukti ilmiah berbagai intervensi untuk meningkatkan patient
safety. Sebagai contoh: pengurangan risiko efek samping obat
dapat dilakukan dengan strategi sbb: (1) penggunaan sistem kom-
puterisasi dan sistem pendukung keputusan klinis, (2) melibatkan
farmasis klinik, (3) protokol standar untuk obat-obat berisiko tinggi,
(4) sistem distribusi obat unit-dosis, dan (5) penggunaan Automa-
ted Medication Dispensing Devices
(12)
.
3.3. Teknologi informasi untuk keselamatan pengobatan
Penelitian Jayawardena, dkk
(13)
menemukan bahwa terjadi 7,53
kesalahan per 1000 peresepan. Kesalahan dosis umum dijum-
pai. Kesalahan lain yang umum dijumpai adalah kesalahan pem-
berian obat akibat tulisan tidak terbaca. Penelitian menemukan
bahwa teknologi informasi dengan sistem peresepan berbasis
komputer secara signifi kan menurunkan kesalahan pengobatan.
Kajian Waliser, dkk
(14)
menunjukkan bahwa kesalahan pengo-
batan yang umum dijumpai adalah salah nama obat, salah do-
sis, dan salah interval pemberian. Penelitian memperlihatkan
bahwa kesalahan pengobatan umum dijumpai pada pasien di
ICU, pasien tua, dan pasien dengan penurunan kesadaran di
RS
(15)
.
Kesalahan pengobatan umum terjadi karena tulisan yang tidak
jelas, salah menginterpretasikan resep, obat yang namanya
mirip, kesalahan dosis, kesalahan aturan pakai, dan kesalahan
identifi kasi pasien
(15)
. Teknologi informasi memiliki peran besar
untuk bisa mengatasi hal tersebut.
Gambar 1. Contoh tulisan resep. Peresepan demikian memiliki risiko
besar untuk salah baca (termasuk salah obat, salah dosis, dan salah
aturan pakai).
Gambar 1 memperlihatkan bagaimana sebuah tulisan resep
dapat disalahtafsirkan. Pada gambar di atas, tulisan resep dapat
disalahartikan sebagai Coumadin (obat antikoagulan) atau Avan-
dia (obat anti diabetes). Pada gambar di bawah Tequin (antibio-
tika) dapat diartikan sebagai Tegretol (obat anti epilepsi).
Gambar 2. Bila terintegrasi dengan rekam medik elektronik, dapat
berfungsi sebagai "alert system"
Perbaikan sistem merupakan solusi untuk mencegah kesalahan
pengobatan di masa datang, dan bukan menyalahkan individu.
Teknologi informasi di bidang obat berpotensi besar untuk men-
gurangi risiko kesalahan pengobatan
(16)
. Kajian Subramanian,
dkk
(17)
memperlihatkan bahwa Computerized Physician Order
Entry (CPOE) dapat sangat bermanfaat untuk menurunkan
risiko medication error. Biaya yang cukup besar merupakan
penghalang utama pengembangan CPOE secara luas.
3.4. Hambatan penggunaan teknologi informasi dalam
praktek klinik
Bates dan Gawande
(6)
mengidentifi kasi 3 faktor pengham-
bat utama dalam penerapan teknologi informasi pada praktek
klinik sehari-hari, yaitu: (1) hambatan fi nansial - pengembangan
sistem pendukung keputusan klinis memerlukan biaya tersen-
diri, (2) belum adanya standar - sistem yang ada masih sangat
bervariasi, (3) hambatan kultural - penggunaan teknologi infor-
masi belum dipandang penting bagi para dokter dan manajer
kesehatan. Pada situasi di negara berkembang seperti Indone-
sia, menurut pandangan penulis hambatan lain adalah tingkat
penguasaan teknologi informasi oleh para praktisi pelayan ke-
sehatan.
Resep sukses suatu teknologi informasi untuk dapat mening-
katkan mutu layanan kesehatan adalah dukungan kultural dan
kesiapan semua pihak dalam organisasi pelayanan kesehatan
untuk berubah
(6)
Simpulan
Pelayanan klinik akan selalu menempatkan pasien-pasien
dalam risiko akibat tindakan medik. Teknologi informasi berpe-
ran untuk meningkatkan kewaspadaan, mengelola kompleksitas
masalah klinis, dan meningkatkan kepatuhan dalam program
pengobatan.
Kepustakaan
1. Zorab JSM. Patient Safety is More Important than Effi ciency. BMJ 2002;
324:365
2. Bates DW, Cullen DC et al. Incidence of Adverse Drug Events and Potential
Adverse Drug Events. JAMA 1995; 274: 29-34
3. Batles JB, Lilford RJ. Organizing Patient Safety Research to Identify Risks and
Hazards. Qual Saf Health Care 2003;12
4. Zhan C, Miller MR. Excess Length of Stay, Charges, and Mortality Attributable
to Medical Injuries during Hospitalization. JAMA 2003;290:1868-1874
5. Aiken LH, Clarke SP dkk. Hospital Nurse Staffi ng and Patient Mortality, Nurse
Burnout, and Job Dissatisfaction. JAMA 2002;228(16): 1987-1993
6. Bates DW, Gawande AA. Improving Patient Safety with Information Technol-
ogy, N Engl J Med. 2003;348: 2536-44
7. Kaushal R, Shojania KG, Bates DW. Effects of computerized physician order
entry and clinical decision support systems on medication safety: a systematic
review. Arch Intern Med. 2003;163: 1409-16.
8. Walton RT, Harvey E, Dovey S, Freemantle N. Computerised advice on drug dos-
age to improve prescribing practice. Cochrane Database Syst Rev 2001, 1
9. Kawamoto K, Haullian CA, dkk. Improving clinical practice using clinical deci-
sion support systems: a systematic review of trials to identify features critical
to success. BMJ 2005; 330:765
10. Wilson T, Pringle M. Promoting Patient Safety in Primary Care. BMJ 2001;
323:583-584
11. AHRQ. Making Health Care Safer: A Critical Analysis of Patient Safety Prac-
tices, Evidence Report/Technology Assessment. 2001, Number 43
12. Bates DW, Teich JM, Lee J, Seger D, Kuperman GJ, Ma'Luf N, et al. The
impact of computerized physician order entry on medication error prevention.
J Am Med Inform Assoc. 1999; 6: 313-21
13. Jayawardena S, Eisdorfer J, Pal AA, Indulkar J. Prescription Errors and the
Impact of Computerized Prescription Order Entry System in a Community-
based Hospital. Am J Ther. 14(4): 336-40
14. Walliser G, Grossberg R, Read MD, Look-alike medications: a formula for
possible morbidity and mortality in the long-term care facility. J Am Med Dir
Assoc. 2007;8(8):541-2
15. Hurstey FM, Wallis N, Miller J, Inappropriate Prescribing in Older ED Popula-
tion. Am J Emerg Med. 2007; 25(7); 804-7
16. Burker PJ. Preventing Medication Errors. N Engl J Med. 2007;357: 624-625
17. Subramanian S, Hoover S, Gilman B, Computerized Physician Order Entry
with Clinical Decision Support in Long-Term Care Facilities: Costs and Ben-
efi ts to Stakeholders. J Am Geriatr Soc 2007; 55(9); 1451-7