background image
Pengalaman Praktek
Masalah Sampel
dalam Penelitian Kedokteran
Kendala yang paling sering dijumpai dalam pelaksanaan penelitian kedokteran ialah
saat pengumpulan data atau sewaktu pengambilan sampel. Misalnya, jika penelitian
memerlukan sampel darah, target jumlah sampel sering tidak tercapai. Pasalnya, masya-
rakat pada umumnya belum mengerti akan kegunaan suatu penelitian. Meskipun sudah
diberikan penjelasan secara lugas dan gamblang, toh mereka kerap melontarkan tuduhan
kepada si peneliti, seperti "jual-beli darah", "bisnis darah" dan tudingan semacamnya
yang kurang sedap didengar.
Kalau sampel darah memang bermasalah, bagaimana halnya dengan sampel tinja?
Kenyataannya sama saja! Penelitian-penelitian baik di lapangan maupun di laboratorium
(penelitian eksperimen) yang memerlukan sampel tinja ternyata tidak semudah yang kita
bayangkan. Namun, ada resep-resep tertentu untuk mengatasinya, antara lain, dengan
pemberian insentif berupa barang keperluan sehari-hari kepada relawan. Tujuannya untuk
meningkatkan gairah paia relawan sehingga menambah motivasinya dalam berpartisipasi.
Ketika saya melakukan penelitian eksperimen di Laboratorium Parasitologi FK
Unud, Denpasar, lagi-lagi dilanda masalah sampel. Dalam hal ini, saya menggunakan
pasien pribadi untuk pengambilan sampel tinja. Harapan saya, sampel bisa
dikumpulkan dengan cepat dan praktis. Tetapi, dalam prakteknya kenyataannya lain.
Para pasien yang diminta membawa tinjanya untuk diperiksa, tak seorang pun yang
mau menepati janjinya. Mereka berkelit dengan berbagai dalih.
Karena waktu kian mendesak, sementara sampel belum didapat, saya mencoba
dengan jurus tertentu agar sampel segera diperoleh. Apa kiatnya? Pasien yang mau
membawa tinjanya untuk diperiksa dijanjikan pengobatan secara cuma-cuma alias
gratis. Dengan cara ini, jalan untuk mendapatkan sampel masih saya seret. Janji tinggal
janji. Pasien tak kunjung datang membawa tinja, padahal saya harus sudah
melaksanakan eksperimen di laboratorium. Untung sejawat saya yang juga sedang
meneliti, kelebihan sampel tinja. Terpaksa diadakan patungan modal. Bukan modal
saham untuk diperdagangkan, melainkan modal tinja buat penelitian.
Teman sejawat saya, mengatakan bahwa tinja itu diperoleh dengan cara
memberikan pengobatan gratis pada murid-murid SD melalui guru sekolah dan orang
tua murid. Ternyata teman sejawat saya, lebih piawai, punya jurus lebih ampuh dalam
usaha mendapatkan barang yang menjijikkan, tetapi berharga mahal.
Ketut Ngurah
Laboratorium Para.citologi, FK Unud, Denpasar
Nothing can be beautiful which is not true
(Ruskin)
Cermin Dunia Kedokteran No. 101, 1995 61