background image
lnfeksi Cacing Usus pada Anak Balita dan
Pengobatannya di Desa Berta, Susukan
Banjamegara
Moetrarsi F , Noerhayati S , Sri Sumarni , Soenarno ,
Elias Winoto
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM, Puskesmas
Klampok Kabupaten Banjarnegara
PENDAHULUAN
Infeksi cacing usus terutama yang tergolong dalam soil trans-
mitted helminths, masih merupakan penyakit rakyat dengan
prevalensi yang cukup tinggi di daerah tropik di negara-negara
yang sedang berkembang, terutama pada masyarakat dengan
sosial ekonomi rendah di pedesaan. Didapatkan pada semua
golongan umur dan jenis kelamin.
Telah banyak dilaporkan oleh para peneliti, prevalensi cacing
usus pada anak cukup tinggi berturut-turut untuk infeksi
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, dan cacing tambang
antara lain :
Clarke et al pada anak balita di Yogyakarta : 79,6%, 74,0%,
29,6% (I). Noerhayati et al (2) pada anak-anak karyawan P.G.
Madukismo umur 1 tahun - 9 tahun berkisar : 68,I% - 80,0%
untuk A. lumbricoides, 83,3% - 86,7%
T.
trichiura,
26,2% -
40,0% cacing tambang. Arbain Jusuf (3) di Sembalung Lom-
bok pada anak 0- 9 tahun menemukan 90%, 88%, 13%,
masing-masing untuk
A.
lumbricoides, T. trichiura dan cacing
tambang.
Banyak faktor yang memudahkan terjadinya penularan soil
transmitted helminths antara lain pedesaan, iklim tropis yang
sangat baik bagi perkembangan cacing tersebut telah diobser-
vasi oleh Sofyan Masbar dan Purnomo di Kalimantan Selatan
(4), Is Suharijah et al di Sawahlunto dan Serpong (5). Tanah
yang kontaminasi dengan telur cacing yang tersebar luas ter-
utama di sekitar rumah, pada penduduk yang mempunyai
kebiasaan membuang tinja di mana saja. Sehingga memudah-
kan jari kuku anak yang bermain-main ditanah terkontaminasi.
Derivat piperazin terbukti efektif terhadap Ascaris. Angka
penyembuhan (Cure rate) cukup tinggi, terhadap
A.
lumbri-
coides, telah diketemukan antara lain oleh WHO (6) dengan
pemberian 3 gram piperazin hexahidrat memberikan angka
penurunan sebesar 76%, dengan piperazin phosphat 4,0 gram
10 hari setelah pengobatan angka penyembuhan sebesar
70,7% (7)
,
Tatsushi Ishizaki dan Muneo Yokogawa mengguna-
kan piperazin hidrat dengan dosis 80 mg/kg angka penyembuh-
an 78,5% (8).
Pengobatan infeksi cacing usus pada anak balita dengan pipe-
razin sitrat ini dilakukan dengan tujuan melengkapi paket
balita, untuk menunjang program gizi, yang terdiri atas pe-
nimbangan,
makanan tambahan dan pengobatan cacing,
dengan tujuan untuk mengetahui efek pengobatan dan angka
reinfeksi.
Di samping pemberian obat-obatan, perlu ditingkatkan sani-
tasi lingkungan, dilakukan juga penyuluhan kesehatan ter-
hadap penduduk setempat.
CARA KERJA
Dipilih dusun (grumbul) yang paling miskin di kecamatan
Susukan yaitu grumbul Berta yang merupakan tanah dataran
tinggi. Sebagian besar penduduknya hidup sebagai penderes,
penduduk yang bertani kurang banyak karena sawah hanya
satu kali panen. Biasanya anak balita diasuh oleh saudaranya
yang lebih tua umurnya baru berumur 6 - 7 tahun, maka
perhatian terhadap kebersihan, dan cara makan anak sangat
kurang. Anak biasa membuang kotoran di sembarang tempat.
Dari 90 kepala keluarga di desa Berta didapat 91 anak
balita. Tinja anak balita tersebut ditampung dalam pot, yang
pada pagi harinya diambil oleh petugas kesehatan, untuk
kemudian dikirim ke bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran
UGM. Pemeriksaan dilakukan dengan cara sediaan tebal dari
Kato. Ada 84 anak yang dapat ditampung tinjanya. Pada hari
berikutnya anak tersebut diberi pengobatan dengan piperazin
( Upixon) dengan dosis 1 g/tahun umur, maksimal 3 gram.
Obat diberikan langsung oleh tenaga kesehatan. Kemudian
1 bulan, 2 bulan dan 3 bulan setelah minum obat dilakukan
lagi pemeriksaan tinja untuk mengetahui angka penyembuhan,
angka penurunan telur dan reinfeksi.
Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari s/d April 1978.
HASIL PENELITIAN
Prevalensi cacing usus pada anak balita sebelum pengobatan
pada tabel 1 :
A.
lumbricoides 89,3%,
T.
trichiura 77,4%,
cacing tambang 20,2%.
Tabel 1. Prevalensi infeksi cacing usus pada anak balita di Berta, Susukan,
Banjarnegara.
Macam Cacing
Jumlah positif
% positif
I.
Ascaris lumbricoides
T.5
89,3
2.
Trichuris trichiura
65
77,4
3.
Cacing tambang
17
20,2
Jumlah tinja yang diperiksa = 84.
Tabel 2 menunjukkan prevalensi infeksi cacing usus pada
anak balita menurut jenis kelamin. Anak laki-laki 96.6%
dimana untuk
A.
lumbricoides 90%, T. trichiura 90,0%,
cacing tambang 33,3%. Sedang untuk anak perempuan 92,5%
dengan urutan untuk tiap macam :
A.
lumbricoides 88,9%,
T.
trichiura 70,4%, cacing tambang 12,9%.
Distribusi menurut golongan umur tertera pada tabel 3,
ternyata prevalensi
A.
lumbricoides tertinggi pada golongan
umur 4 tahun - 5 tahun : 90,0% dengan jumlah telur per gram
tinja per penderita sebesar 7146. Untuk
T.
trichiura prevalensi
tertinggi pada golongan umur 3 tahun - 4 tahun yakni sebesar
88,2% dengan jumlah telur per gram tinja per penderita tertinggi
pada golongan 1 tahun - 2 tahun yaitu 332.
Tabel 4 menggambarkan prevalensi menurut jumlah ma-
cam cacing. Ternyata kebanyakan anak mendapat campuran
dari dua macam cacing yakni 57,1%.
Di antara infeksi dengan dua macam cacing,
A.
lumbricoi-
des dan
T.
trichiura lah yang paling sering : 55,9% (tabel 5).
Satu bulan setelah pengobatan ternyata hanya dapat
terkumpul 78 tinja untuk diperiksa.
Tabel 6 memperlihatkan angka penyembuhan dan penurun-
an jumlah telur infeksi cacing usus setelah menggunakan obat
piperazin sitrat (Upixon). Angka penyembuhan tersebut untuk
7 1
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
Tabel 2. Prevalensi infeksi cacing usus pada anak balita di Berta, Susukan, Banjarnegara
menurut jenis kelamin.
Jenis kelamin
Jumlah
yang
diperiksa
Macam
Cacing / Total
A.lumbricoides
T. trichiura
Cacing tambang
Cacing %
Jumlah
pos
%
pos
Jumlah
pos
%
pos
Jumlah
Pos
%
Po
s
pos. pos
Laki-laki
30
27
90
2T.
90
10
33,3
29
96,6
Perempuan
54
48
88,9
38
70,4
T.
12,9
50
92,5
Jumlah
84
T.5
89,3
65
T.7,4
17
20,2
T.9
94,0
Jumlah tinja yang mengandung cacing perut
79 ( 94,0% )
Jumlah tinja yang tanpa cacing perut
5 ( 6,0% )
Tabel 3. Prevalensi dan jumlah telur per gram tinja per penderita menurut golongan umur pada in-
feksi cacing usus pada anak balita di Berta, Susukan, Banjarnegara sebelum mendapatkan pengobatan.
Golongan
Jumlah
Macam
Cacing
umur
dalam
y
ang
diperiksa
A.lumbricoides
T. trichiura
Cacing Tambang
tahun
Jumlah
Prev. RTPG Jumlah
Prev. RTPG Jumlah
Prev. RTPG+
pos.
%
pos
%
pos
%
1 ­ 2 th.
23
20
86,9 2333
13
56,5 332
1
4,3
216T.
2 ­ 3 th.
24
21
8T.,5 3850
20
83,3
84
4
16,6
20
3­ 4 th.
17
16
44,I
4635
15
88,2 117
5
29,41
85
4­ 5th.
20
18
90,0 7146
1T.
85,0 285
7
35,5
133
Total
84
75
89,3 4404
65
77,4
191
1T.
20,2
160
+RTPG = Rata-rata jumlah telur per gram tinja per penderita.
A. lumbricoides 46,I%, T. trichiura 29,4%, cacing tambang
11,5%, sedang angka penurunan berturut-turut 84,6%, 52,7%,
18,9%.
Jumlah anak yang dapat diikuti secara terus menerus
selama 4 bulan hanya 50 anak. Tabel 7 memaparkan prevalensi
untuk
A. lumbricoides berturut-turut 1 bulan, 2 bulan, dan
3 bulan setelah pengobatan : 30%, 30,0%, 52,0%. T. trichiura
berturut-turut : 50,0%, 54,0%, 64,0%. Untuk cacing tambang :
6.0%, 4.0%, 14.0%.
DISKUSI
Hasil penelitian di Berta menunjukkan bahwa infeksi cacing
usus, pada anak Balita prevalensinya masih cukup tinggi
(tabel I), yakni A. lumbricoides 89,3%, T. trichiura 77,4%,
dan cacing tambang 20,2%. Ini sesuai dengan hasil yang di-
dapatkan oleh J.H. Cross et al di Kalimantan Barat (9), di-
antara 240 anak berumur 1 - 9 tahun didapatkan Ascaris
lumbricoides 84%, Trichuris trichiura 84% dan cacing tam-
bang 40,0%; H. Harun Mahjudin (1978) mengutarakan bahwa
dari hasil survey yang dilakukan sejak tahun 1970, prevalensi
cacing usus di Propinsi Jawa Tengah, untuk A. lumbricoides
73%. T. trichiura 45% dan cacing tambang 22%. Sedang untuk
Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, A. lumbricoides ber-
kisar 76 - 88%, T. trichiura 81 - 89% dan cacing tambang
16 - 70%, tanpa menyebutkan pembagian menurut golongan
umur. Noerhayati dan Soenarno (10), memeriksa anak yang
dirawat di R.S. Fakultas Kedokteran UGM, untuk anak
umur 1 - 6 tahun di antara 27 anak yang dirawat didapatkan
prevalensi untuk A. lumbricoides 37,0%, T. trichiura 44,4%
dan cacing tambang 22.2% dan oleh peneliti yang sama dengan
mengambil penderita di R.S. Surakarta, umur 1 - 6 tahun
sejumlah 39 spesimen didapatkan hasil A. lumbricoides 17,9%,
T. trichiura 17,9%, dan cacing tambang 7,6%.
Prevalensi menurut jenis kelamin (tabel 2 ) terbukti anak
laki-laki lebih tinggi dari anak perempuan. Hasil seperti ini
juga didapatkan oleh Arbain Joesoef et al 1968 untuk laki-
laki A. lumbricoides 94%, T. trichiura 92% cacing tambang
45% sedang untuk perempuan A. lumbricoides 91%, T. tric-
chiura 78%, cacing tambang 9%.
Untuk prevalensi cacing tambang pada anak laki-laki dan
Simposium Masalah Penyakit Parasit
72
background image
Tabel 4. Prevalensi infeksi cacing usus menurut jumlah macam cacing dan golongan umur, pada anak
balita di Berta, Susukan, Banjarnegara
Umur
Jumlah
jenis
cacing
1th.--2th.
2th.--3th.
3th.--4th.
4th--5th.
Total Prosen
0
2
2
1
0
5
5,9
1
9
2
1
4
16
19,0
2
11
17
10
10
48
57,I
3
1
3
5
6
15
17,8
Jumlah
23
24
17
20
84
Jumlah
tinja yang diperiksa
= 84
Tabel 5. Prevalensi infeksi cacing usus menurut macam species cacing
dan golongan umur pada anak balita di Berta, Susukan, Banjarnegara
sebelum pengobatan
U m u r
Macam Cacing
Jumlah Prosen
lth--2th 2th--3th 3th--4th 4th--5th
A.lumbricoides
8
1
1
2
12
14,2
T.trichiura
1
1
--
2
4
4,7
Cacing tambang
--
--
--
--
--
A.lumbricoides +
T.trichiura
11
16
10
10
4T.
55,9
A.lumbricoides +
Cacing tambang
--
1
--
--
1
I,2
T.trichiura +
Cacing tambang
--
--
--
--
--
--
A.lumbricoides +
T.trichiura +
Cacing tambang
1
3
5
6
15
17,8
Jumlah tinja yang diperiksa
= 84
perempuan ternyata berbeda secara bermakna (X
2
= 4,9 ;
p< 0,05). Budining Wirastari et al (11) yang telah menyelidiki
tinja anak yang berobat ke Poliklinik bagian Ilmu Kesehatan
Anak RSCM, di antara 219 anak umur 1 - 5 tahun yang
mengandung infeksi cacing usus, maka didapat 137 anak
laki-laki dan 82 anak perempuan. Sedangkan Aschwin Prawi-
rakusumah et al (12) yang menyelidiki anak yang datang ber-
obat di Bagian Kesehatan Anak FKUP/RSHS Bandung, di
antara 104 anak 1 - 5 tahun didapatkan distribusi investasi
cacing pada anak perempuan 63,6% sedang laki-laki 55,I%.
Dalam penelitian ini pada anak balita semakin bertambah
umur, prevalensi bertambah. Hal ini nampak pada tabel 3
dan sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Jo Kian
Tjay dan Kwo Eh Hwa (13) pada anak balita di Medan untuk
A. lumbricoides anak 0 - 1 tahun : 15,4%; 1 - 3 tahun 44,2%;
3 - 6 tahun : 49,8%; untuk T. trichiura berturut-turut : 3,4%;
18,I%; dan 38,6%; sedang untuk cacing tambang berturut-
turut I,9%; 4,5%; 8,5%.
Walaupun rata-rata telur per gram tinja perpenderita yang
nampak dalam tabel 3 ini masih ringan. Menurut Totohidayat
dan Halim Danususanto : A. lumbricoides 0--9999: infeksi
ringan. Cacing tambang I--599 termasuk kategori ringan (14).
Dalam penelitian ini (Tabel 4,5) ternyata didapat infeksi
campuran dari dua macam cacing mempunyai frekuensi ter-
tinggi, campuran tersebut ternyata A. lumbricoides dengan
T. trichiura sebesar 55,9%. P. Partono et al (15) diantara 30
specimen tinja anak polisi di Jakarta ditemukan 12 specimen
yang mengandung campuran antara A. lumbricoides dengan
T. trichiura.
Tabel 6 pemberian piperazin (Upixon) nampak lebih
efektif terhadap A. lumbricoides daripada terhadap cacing
usus yang lain. Disini angka penyembuhan untuk A. lumbri-
coides 46,I%, T. trichiura 29,4% dan cacing tambang 11,5%.
E. Kosin (1975) dalam penyelidikannya pada anak sekolah di
Sumatera Utara dengan memberikan 3000 mg piperazin dosis
tunggal dari tiga macam pabrik yang berbeda pada tiap kelom-
pok anak mendapatkan angka penyembuhan untuk A. lum-
bricoides masing-masing sebesar 80%; 73,2%; 48,3%.
Pedro P. Chancro et al (16) dalam penelitiannya di Sepang
Palay di Rumah Sakit Universitas Santo Thomas Manila,
dengan pemberian piperazin hidrat untuk anak 1 - 2 tahun
5cc; 3 - 5 tahun 10 cc dan 6 tahun ke atas 15 cc. Pada pe-
meriksaan langsung sebelum pengobatan didapat hasil ber-
turut-turut prevalensi A. lumbricoides 97,56%; T. trichiura
63,41%, dan cacing tambang 9,76%, setelah pengobatan
prevalensinya
menjadi berturut-turut :
29,27%; 43,90%;
4,88%. Menurut Davis (17) garam piperazin mempunyai efek
angka penyembuhan untuk A. lumbricoides berkisar antara
60 - 90% bahkan dapat lebih , untuk T. trichiura berkisar
antara 0 - 20% sedang untuk cacing tambang kurang dianjur-
kan.
Angka penurunan jumlah telur per gram tinja per penderita
hasil penelitian ini untuk A. lumbricoides sebesar 84,6%,
T. trichiura 52,7% dan cacing tambang 18,9%. Djauhar Ismail
et al (18) dalam penyelidikannya di antara 34 anak balita yang
diobati dengan piperazin sitrat dengan dosis untuk anak
kurang 1 tahun 4 ml; 1 - 2 tahun 5 ml; 3 - 5 tahun 10mI;
dan lebih dari 6 tahun 15 ml. mendapatkan angka penurunan
untuk A. lumbricoides sebesar 82%. Pendapat bahwa piperazin
derivat walaupun tidak merupakan obat pilihan namun telah
menyebabkan angka penurunan rata-rata telur per gram
tinja yang cukup untuk A. lumbricoides telah dikemukakan
oleh Byong Seol Seo (19); V. Zaman (20) mengutarakan
bahwa obat ini digunakan secara luas untuk pengeluaran
7 3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
background image
Tabel 6. Angka penyembuhan dan penurunan jumlah telur infeksi
cacing usus pada anak balita di Berta, Susukan, Banjarnegara.
Macam cacing
Prevalensi
Angka Rata-rata jumlah
Angka
penurunan
sebeluin sesudah penyem telur per gram
buhan tinja per penderita
%
%
sebelum sesudah
A.lumbricoides 87,2
38,5
46
6.958
1.070 ( )
84:6
T.trichiura
78,5
52,6
29,4
167
9.956
52:7
Cacing tambang 19,2
6,4
11,5
243
197
18:9
( ) Dihitung jumlah penderita positif pada pemeriksaan 1 untuk rata-rata
jumlah telur
A:
lumbricoides: Bahkan menurut Tan Chong Suphajai Siddhi
and Arunee Subchareon (21) obat ini merupakan obat pilihan
untuk sumbatan usus oleh karena ascariasis.
Tiga bulan setelah pengobatan dengan piperazin sitrat di
Berta, prevalensi
A:
lumbricoides telah naik dari 30% menjadi
52% berarti angka reinfeksi-nya 24,4%, sedang angka reinfeksi
untuk
T:
trichiura sebesar 20% dan cacing tambang sebesar 50%
(Tabel 7):
Angka reinfeksi yang diketemukan oleh Noerhayati et al (2)
pada karyawan PG Madukismo dengan pengobatan pyrantel
pamoate, angka reinfeksi untuk
A.
lumbricoides 17,3%,
T:
trichiura belum ada reinfeksi, cacing tambang 0,8%:
KESIMPULAN
-- Hasil penelitian di Berta, ditemukan prevalensi cacing usus
sebagai berikut :
A: lumbricoides
:
89,3%
T.
trichiura
:
77,4%
cacing tambang
:
20,2%
-- Prevalensi cacing tambang pada anak laki-laki lebih tinggi
dari pada anak perempuan :
anak laki-laki
:
33,3%
anak perempuan : 12,2%
berbeda secara bermakna:
-- Infeksi
A:
lumbricoides,
T. trichiura, cacing tambang
disini relatif ringan:
- Sebagian besar anak balita mendapat infeksi campuran,
2 macam cacing, kebanyakan campuran antara
A.
lumbri-
coides dan
T:
trichiura:
-- Hasil pengobatan dengan piperazin sitrat menunujukkan
cukup efektif untuk
A:
lumbricoides akan tetapi kurang
efektif terhadap
T:
trichiura dan cacing tambang, dengan
angka penyembuhan untuk Ascaris 46,1%:
-- Reinfeksi umumnya terjadi setelah 3 bulan, angka reinfeksi
untuk :
A.
lumbricoides
:
24,4
%
T.
trichiura
:
20
%
cacing tambang
:
50
%
S A R A N
Untuk menekan penyebar luasan cacing usus yang ter-
masuk dalam soil transmitted helminths di samping pemberian
obat secara berkala perlu pula ditingkatkan penyuluhan ke-
sehatan lingkungan, serta merobah kebiasaan hidup yang
mempermudah timbulnya infeksi:
UCAPAN TERIMA KASIH
Perkenankanlah kami mengucapkan banyak terima kasih kepada
P
.P.S.E. dan dr. Arif Haliman yang telah mensponsori penelitian ini.
KEPUSTAKAAN
1.Clarke MD, Crose JH, Carney WP, et al: Parasitological survey in
Yogyakarta area of Central - Java, Indonesia 1973:
2: Noerhayati, Soebagyo L, Soegeng Y, Soesanto Tj, Wiyono P, Utono.
Pengobatan infeksi cacing perut yang ditularkan dengan perantaraan
tanah (Soil transmitted helminths) dengan pyrantel pamoate di
Tabel 7. Penurunan prevaiensi dan penurunan jumlah telur infeksi cacing usus pada balita di Berta, Susukan Banjar-
negara, sesudah pengobatan.
Periode Pengobatan
M a c a m C a c i n g
Ascaris lumbricoides
Trichuris trichiura
Cacing tambang
Jum. Prev.
Jum.
telur
RTPG
pend.
Jum.
pos.
Prev.
%
Jum.
telur
RTPG
pend.
Jum.
pos
Prev.
%
Jum.
telur
RTPG
pend.
pos
%
Sebelum
pengobatan
44
90,0 232532 5286
35
74
.0 4812
137
8
16.0 2981
372
1 bulan
sesudah pengobatan
15
30.0 4047
264
24
50.0 3989
166
3
6
.0 2983
994
2 bulan
sesudah pengobatan
15
30:0 11869
791
27
54.0 3281
121
2
4.0
202
101
3 bulan
sesudah pengobatan
26
52:0 105489 4057
31
64
.0 4961
160
7
14.0
524
74
Jumlah penderita yang dapat dievaluasi sampai dengan bulan April = 50
Simposium Masalah Penyakit Parasit
74
background image
Yogyakarta. Lokakarya Pemberantasan Penyakit Cacing Tambang
dan Parasit Usus lainnya Jakarta 2 - 7 Nopember 1978: KK - 09 ;
1 - 16:
3:Arbain Jusuf, Carney WP, Agustinus, Julis Katini: Intestinal parasi-
tes in Sembalong, Lombok: Bull Hlth Stud Indones 1975 ; III (2) :
11 - 15:
4:Sofyan Masbar, Purnomo: Observasi pendahuluan terhadap kebiasa-
an penduduk dalam hubungannya dengan penularan cacing Ascaris
lumbricoides, cacing tambang dan Trichuris trichiura, di Kalimantan
Selatan: Seminar Nasional Parasitologi Ke I: Bogor, 8 - 10 Desember
1977: KKS - 4: 1- 7:
5:Is Suharijah Ismid, Bintari Rukmono, Indrijono, Runizar Roesin:
Soil pollution with Ascaris lumbricoides in Sawah Lunto and
Serpong: Lokakarya Pemberantasan Penyakit Cacing Tambang dan
Parasit Perut lainnya. Jakarta : 3 - 7 Nopember I978, I - 13:
6: World Health Organization: Control of Ascariasis - report of a WHO
Expert Committee: Approaches to control: Wld Hlth Org Tech Rep
Ser No: 379, 1967; 22 - 29:
7.BoII WJ, Samir Jassif: Comparison of pyrantel pamoate and pipera-
zine phosphate in the treatment of ascariasis: Amer J Trop Med
Hyg 1971; 20 : 584 - 588:
8:Tatsuski, Ishizaki, Muneo Yokogawa: A double-blind comparastive
study of pyrantel pamoate and piperazine phosphate a
scariasis:
Proceeing of the Twelfth SEAMEO Trop Med Seminar: Biology,
Immunology Treatment of parasite and bacterial diseases of Public
Health Importance in Southeast Asia and the Fareast, Bangkok
1974 : 27:
9:Cross JH, Clarke MD, Colle WC, et al: Parasitic infection in humans
in humas in West Kalimantan (Borneo) Indonesia: Trop Geogr Med
1976; 28 : 121 - I30:
I0: Noerhayati S, Soenarno: Prevalensi infeksi cacing yang cara pe-
nularannya melalui tanah di daerah Yogyakarta dan Surakarta:
Musyawarah Nasional II Ikatan Alumni dan Kursus Penyegar Ilmu
Kedokteran I FK UGM: 16 - 28 April 1973, Yogyakarta:
I1:Budining Wirastari, Tri Ruspandji, Sunoto, Suharjono: Penyakit
cacing pada anak: Medika I979; 5 (I) : 15 - I7:
12:Aschwin Prawira Kusumah, Boed S Singadipoera, Hendra Permadi,
Endang Sutedjo: Pemeriksaan telur cacing dalam tinja dan peng-
obatan dengan Triveran: Edisi Khusus Masal cacing usus di Indonesia
dan penyembuhannya:
13:Jo Kian Tjay, Kwo Eh Hoa: Intestinal parasites in infants and
children in Medan (North Sumatera, Indonesia): Paediatrica Indo-
nes 1968; 8 : 6 - 19:
14:Toto Hidayat, Halim Danusantoso: Pengalaman dalam pemeriksaan
dan pengobatan cacing usus pada murid-murid sekolah Hang Tuah
Cilincing Jakarta: Medika 1980; 6 (3) : 117 - 121:
15:Partono, Purnomo, A Tangkilisan: The use of mebendazole in the
treatment of poly-parasitism: Southeast Asian J Trop Med Pub Hlth
1974; 5 : 250 - 264:
16:Pedro P, Chanco JR, Eusibio Cabe JR, M Julieta Y, Vedad BSMT:
Treatment of ascariasis ( a comparative study with piperazine and
tetramizole): The Xth Southeast Asian Regional Seminar on Tropi-
cal Medicine. Bangkok; October 26 - 30 1971; 1 - 13:
17:DavisA.Drug treatment in intestinal helminthiasis: Geneva : WHO
1973: 16 - 19, 46 - 49, 87:
I8:Djauhar Ismail, Utomo, Soegeng Yiuwono, Noerhajati S: The use of
anthelmintics in the treatment of ascariasis: Pediatrica Indones
1976; 16 : 39I - 395:
19:Byong, Seol Seo: Treatment of intestinal parasitic diseases: Medical
Progress 1979; July, 11 - 16:
20:Zaman V. Treatment of intestinal parasitic (Nematoda) infestation:
Medical Progress 1974; November, 37 - 48:
21:Tan Chong Suphajai Siddhi, Arunee Subchareon: Anthelmintics in
children: Mother Child 1979; Nov - Dec, 21 - 23.
Kombinasi Mebendazole-Tetramizole dan
Pyrantel Pamoate-Mebendazole Dosis
Tunggal pada Pengobatan Cacing Usus
Soebagyo Loehoeri, Soenarno, Sumarni
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM
PENDAHULUAN
Hingga sekarang masih dicari kombinasi anthelmintik
yang berspektrum luas yang mempunyai kemampuan penyem-
buhan yang tinggi terhadap cacing usus pada umumnya atau
nematoda usus pada khususnya:
Kenyataan infeksi nematoda usus pada penderita kebanyak-
an tidak hanya infestasi tunggal tapi juga multipel, sehingga
dengan sendirinya kita tidak bisa mengatakan pengobatan
terhadap nematoda usus berhasil hanya terhadap salah satu
macam nematoda, tetapi seharusnya juga dapat membebaskan
penderita dari semua nematoda usus yang ada:
Clarke et al (1), dalam penyelidikannya di Yogyakarta
mendapat prevalensi
Ascaris lumbricoides 84,6%, Trichuris
trichiura 90,8%
dan cacing tambang 52,1%: Sedangkan Noer-
hayati et al (2), mendapatkan
A: lumbricoides
52%,
T. tri-
chiura 60,3%
dan cacing tambang
49,3%
di mana infeksi
rangkap dua
33,2%
sedang infeksi rangkap tiga 24,5%.
Noerhayati
(3)
mendapatkan dalam penyelidikannya di
daerah Kodya Yogyakarta infeksi cacing tambang kombinasi
parasit usus lainnya rangkap dua
6,3%,
rangkap tiga
38,4%
dan
rangkap empat 25,0%; sedangkan di daerah Kasihan Bantul
rangkap dua
16,9%,
rangkap tiga
63,9%
dan rangkap empat
14%:
Data tersebut di atas menunjukkan infeksi multipel yang
cukup tinggi di mana pengobatannya diperlukan anthelmintik
yang mempunyai spektrum luas: Kita mengenal beberapa
anthelmintik berspektrum luas antara lain : pyrantel pamoate,
mebendazole di mana
masing-masing mempunyai kelebihan
dan kekurangan:
Hsieh HC et al
(4)
mengatakan bahwa pyrantel pamoate
efektif
terhadap
A: lumbncoides
dan cacing tambang: Mar-
gono S et al (5) menyatakan bahwa pyrantel pamoate efektif
terhadap
A: lumbricoides
dan cacing tambang tetapi tidak
efektive terhadap
T: trichiura:
Partono F et al
(6)
mengemukakan bahwa mebendazole
merupakan anthelmintik yang berspektrum luas dan efektif
terhadap nematoda usus pada umumnya
A. lumbricoides,
T: trichiura,
cacing tambang dan
Oxyuris vermicularis.
Hanya
memberikan gejala "erratic migration" pada
A. lumbricoides
untuk beberapa penderita:
Dalam usaha mencari obat cacing yang benar-benar efektif
terhadap semua nematoda usus yang ada, dengan mengkom-
binasikan obat anthelmintik yang ada dan berspektrum luas
kami mencoba kombinasi beberapa obat dengan dasar me-
nambah kekurangan ataupun mengurangi kerja sampingan
yang mungkin timbul dari masing-masing obat:
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilakukan di RS UGM Bagian Penyakit Dalam
sejak bulan September
1979
s/d Juni
1980:
Penderita yang
positif dengan nematoda usus pada pemeriksaan langsung,
7 5
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980