background image
ABSTRAK
DIGOKSIN UNTUK PAYAH JAN-
TUNG
Kontroversi sekitar penggunaan
digoksin untuk payah jantung diperjelas
dengan hasil penelitian yang melibat-
kan 3397 pasien dengan LV ejection
fraction 0,45. dibandingkan dengan
3403 pasien serupa yang menerima
plasebo. Dosis rata-rata digoksin 0,25
mg/hari dengan follow up rata-rata
selama 37 bulan.
Ternyata mortalitas kedua kelompok
sama; terdapat 1181 (34.8%) kematian
di kelompok digoksin dan 1194 (35.1%)
di kelompok plasebo (RR: 0,99, 95%CI:
0,91­1,07: p = 0.80). Di kelompok di
goksi ada kecenderungan berkurang-
nya kematian akibat payah jantung
(RR: 0.88; 95%C1: 0,77­1,01, p =0,06).
6% lebih sedikit yang dirawat di rumah
sakit. dan juga lebih sedikit yang di-
rawat karena perburukan payah jantung
(26.8% vs. 34,7%, 95%CI: 0,66­0.79.
RR = 0.72, p < 0.001).
Dari percobaan ini ternyata digoksin
menurunkan frekuensi perawatan di
rumahsakit dan mengurangi perburukan,
tetapi tidak mempengaruhi mortalitas.
KOMPLIKASI BEDAH PINTAS
KORONER
Studi prospektif di AS menganalisis
2108 pasien yang menjalani bedah
pintas koroner elektif di 24 rumah sakit
di Amerika Serikat. Sebanyak 129
(6,1%) pasien mengalami komplikasi
neurologik, yang dibagi atas 2 kategori­
tipe 1 ­ lesi lokal, stupor, coma;atau tipe
2 ­ penurunan fungsi intelek. gangguan
memori, kejang.
Sebanyak 3,1% mengalami tipe 1­8
kasus meninggal karena lesi serebral, 55
kasus stroke, non fatal, 2 kasus TIA dan
1 kasus stupor; sedangkan 3,1% meng-
alami tipe 2­55 kasus penurunan fungsi
intelek dan 8 kasus kejang (seizures).
Pasien dengan komplikasi serebral berat
mortalitasnya lebih tinggi ­ angka
kematian 22% di kalangan tipe I, 10%
di kalangan tipe 2 dan 2% di kalangan
tanpa gangguan serebral (p < 0,001)
pada tipe 2 dan 10 hari bila tanpa kom-
plikasi (p < 0,001), dan lebih banyak
yang masuk ke fasilitas perawatan
khusus (47%, 30%, 8%; p <0,001).
Studi kohort atas 3852 wanita ber-
usia 45­74 tahun dilakukan selama 20
tahun: setelah faktor usia disesuaikan.
ternyata wanita dengan kehamilan 6
kali atau lebih mempunyai risiko lebih
hesar untuk terserang stroke (RR: 1,7:
95%C1: 1,2­2,3) atau infark serebri
(RR:1,6 95%CI: 1,2­2,3).
MANFAAT VAKSINASI HEPATI-
TIS B
Sepuluh tahun setelah vaksinasi
masal hepatitis B di Taiwan, para peneliti
memeriksa kembali serum 1515 anak
kurang dari 12 tahun untuk dibandingkan
dengan hasil pemeriksaan tahun 1984
sebelum program vaksinasi dan dengan
hasil studi tahun 1989.
Selama program vaksinasi, 87%
menerima sedikitnya 3 dosis vaksin;
prevalensi hepatitis B turun dari 9,8% di
tahun l984 menjadi 1,3% ditahun 1994;
penurunan yang bermakna terjadi pada
setiap golongan usia 1 - 10 tahun.
Prevalensi antibodi hepatitis Bcore
turun dari 26% di tahun 1984 menjadi
15% di tahun 1989 dan menjadi 4,0%
di tahun 1994; ini menggambarkan
penurunan penularan horisontal, bukan
hanya karena efektivitas imunisasi, teta-
pi juga karena berkurangnya sumber
infeksi. Antibodi hepatitis surface ter-
catat sebesar 70% di tahun 1994.
LIDOKAIN INTRANASAL
Studi di AS menunjukkan bahwa
lidokain 4% intranasal efektif mengatasi
serangan migren akut; di antara 53
pasien, 29 (55%) merasakan sedikitnya
50% pengurangan rasa nyeri dalam 15
menit, dibandingkan dengan 6 di antara
28 pasien (21%) yang menerima plasebo
(p = 0.04); selain itu mereka juga lebih
sedikit yang mengeluh nausea dan
fotofobi.
N. Engl. J. Med. 1997: 336: 525­33
Hk
PEMAKAIAN OBAT ANTIEPILEPSI
Survai atas 4500 pasien epilepsi
anggota British Epilepsy Association
menunjukkan bahwa 98% masih
menggunakan obat antiepilepsi `lama';
dan pasien yang didiagnosis dalam 5
tahun terakhir, 31% menggunakan kar-
bamazepin, 31% Na-valproat dan 17%
karbamasepin lepas-lambat; sedangkan
obat baru seperti lamotrigin hanya 7%,
vigabatrin 4% dan gabapentin 3%.
Hanya 38% responden yangg me-
nyatakan bahwa tingkat kesehatannya
membaik.
Scrip 1996: 2154: 17
Hk
Faktor-faktor pada tipe I ialah
aterosklerosis aorta proksi mal, riwayat
gangguan neurologik dan usia lanjut,
sedangkan faktor pada tipe 2 ialah usia
lanjut. hipertensi sistolik saat dirawat,
penyakit paru dan konsumsi alkohol
yang berlebihan.
N. Engl J. M 1996: 335: 1857­63
Hk
KEHAMILAN DAN STROKE
Bila faktor risiko lain dikoreksi,
maka risiko relatif tersebut menjadi
1,3 (95%CI: 0,9­1.9) untuk semua
jenis stroke dan 1,3 (95%CI: 0,9­1,9)
untuk infark serebri.
Arch Neurol. 1997: 54: 203­6
Brw
JAMA 1996: 276: 906­8
Hk
Di antara yang berhasil, 42% meng-
alami relaps dalam 1 jam.
Scrip 1996: 2154: 17
Brw
Cermin Dunia Kedokteran No. 120, 1997 63