Penanganan Kasus Perdarahan
Hamil Muda
Daulat Sibuea
Bagian Obstetri & Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara
Rumah Sakit Dr Pirngadi, Medan
PENDAHULUAN
Salah satu penyebab kematian ibu (maternal) pads masa
hamil muda (umur kehamilan kurang dari 28 minggu) adalah
perdarahan (pervaginam).
Setiap kejadian perdarahan (pervaginam) harus ditangani
segera dengan cara yang baik. Dengan demikian hilangnya darah
yang berkepanjangan dicegah. Hilangnya banyak darah dalam
kurun waktu yang relatif singkat akan berbahaya bagi ibu dan
kehamilannya; bahaya ini semakin parah jika timbul kemudian
infeksi.
Sehubungan dengan besarnya bahaya tersebut, maka setiap
kejadian perdarahan pads masa hamil muda harus segera dikon-
sultasikan kepada dokter. Peringatan ini harus selalu diberikan
pada setiap ibu hamil yang datang memeriksakan kehamilan-
nya.
ETIOLOGI
1)
Abortus
2)
Mola hydatidosa
3)
Kehamilan ektopik terganggu
4)
Kelainan di serviks uteri (trauma, polip, karsinoma)
5)
Kelainan di vagina (trauma, varises, karsinoma)
6)
Kelainan vulva (trauma, varises, karsinoma).
GAMBARAN
KLINIS
Perdarahan yang banyak dalam waktu yang relatif singkat,
akan mengakibatkan volume darah intravaskular berkurang;
untuk menjaga aliran darah ke organ-organ vital (otak, jantung,
pare), pembuluh darah ke organ usus, uterus, ginjal, otot, kulit
mengalami konstriksi (vasokonstriksi) dan frekuensi denyut
jantung semakin meningkat. Perdarahan yang berkepanjangan
tanpa penanganan yang baik akan menimbulkan hipoksi pem-
buluh darah organ-organ. Pembuluh darah yang mengalami
64
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992
hipoksi berubah dari vasokonstriksi menjadi vasodilatasi,
akibatnya aliran darah intravaskular semakin lambat, sehingga
terjadi kegagalan fungsi organ-organ tubuh.
Perubahan-perubahan yang terjadi akibat perdarahan ini
ditandai dari gambaran klinis berupa syok (hemorrhagic shock)
(tabel 1).
Tabel 1. Gambaran klinissyok hemoragis dan hubunganny a dengan infus
cairan (darah) intravena""
PENANGANAN
Jika perdarahan (pervaginam) sudah sampai menimbulkan
gejala klinis syok, tindakan pertama ditujukan untuk perbaikan
keadaan umum. Tindakan selanjutnya adalah untuk menghenti-
kan sumber perdarahan.
Tahap Pertama :
Tujuan dari penanganan tahap pertama adalah, agar pende-
rita tidak jatuh ke tingkat syok yang lebih berat, dan keadaan
umumnya ditingkatkan menuju keadaan yang lebih balk. Dengan
keadaan umum yang lebih balk (stabil), tindakan tahap ke dua
umumnya akan berjalan dengan baik pula.
Pada penanganan tahap pertama dilakukan berbagai ke-
giatan, berupa :
1)
Memantau tanda-tanda vital (mengukur tekanan darah,
frekuensi denyut nadi, frekuensi pernafasan, dan suhu badan).
2)
Pengawasan pernafasan
Jika ada tanda-tanda gangguan pernafasan (adanya takipnu,
sianosis), saluran nafas harus bebas dari hambatan. Dan diberi
oksigen melalui kateter nasal dengan kecepatan 4--5 1 per menit.
3)
Selama beberapa menit pertama, penderita dibaringkan
dengan posisi Trendelenburg.
4)
Pemberian infus cairan (darah) intravena.
Pada tahap pertama dapat diberikan infus cairan : campuran
Dekstrose 5% dengan NaCl 0,9%, Ringer laktat.
5)
Pengawasan jantung.
Fungsi jantung dapat dipantau dengan elektrokardiografi
dan dengan pengukuran tekanan vena sentral.
6)
Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan darah lenekan, golongan darah, jenis Rhesus,
teskesesuaian darah penderita dengan darah donor (cross match),
pemeriksaan pH darah, pO
2
, pCO
2
darah arterial.
Jika dari pemeriksaan ini dijumpai tanda-tanda anemia sedang
sampai berat, infus cairan diganti dengan transfusi darah atau
infus cairan bersamaan dengan transfusi darah. Darah yang
diberikan dapat berupa eritrosit (packed red celO; jika sudah
ti mbul gangguan pembekuan darah, sebaiknya diberi darah segar.
Jika sudah timbul tanda-tanda asidosis harus segera dikoreksi.
Tahap kedua
Setelah keadaan umum penderita stabil, penanganan tahap
ke dua dilakukan. Penanganan tahap ke dua meliputi mene-
gakkan diagnosis dan tindakan menghentikan perdarahan yang
mengancam jiwa ibu.
Tindakan menghentikan perdarahan ini dilakukan berda-
sarkan etiologinya.
ABORSI IMMINENS
Kasus aborsi imminens ditangani secara konservatif dengan
tujuan mengusahakan agar kehamilan dapat berlanjut sampai
cukup bulan.
ABORSI INSIPIENS
Kasus aborsi insipiens ditangani secara aktif dengan tujuan
menghentikan perdarahan dengan mengeluarkan konsepsi.
ABORSI INKOMPLETUS
Kasus aborsi inkompletus ditangani secara aktif dengan tu-
juan menghentikan perdarahan dengan mengeluarkan sisa-sisa
konsepsi.
ABORSI KOMPLETUS
Kasus aborsi kompletus umumnya mengalami perdarahan
pervaginam sedikit-sedikit, cukup ditangani menurut tahapan
pertama saja.
ABORSI TERTUNDA ( MISSED ABORTION)
Kasus aborsi tertunda umumnya tidak menunjukkan gejala
perdarahan pervaginam. Tetapi jika konsepsi yang telah mati
tertahan selama lebih dari 5 minggu akan menimbulkan ganggu-
an pembekuan darah karena hipofibrinogenemia. Untuk meng-
hindari komplikasi ini, sebaiknya konsepsi segera dikeluarkan.
ABORSI INFEKSIOSA (ABORSI SEPTIK)
Kasus aborsi yang disertai dengan infeksi disebut dengan
aborsi infeksiosa. Jika proses infeksinya semakin berat, akan
berlanjut dengan aborsi septik. Kasus-kasus aborsi septik prog-
nosisnya sangat jelek. Untuk menghindari komplikasi ini, se-
baiknya konsepsi segera dikeluarkan.
PENGELUARAN KONSEPSI
Pengeluaran konsepsi dapat dilakukan pervaginam ataupun
perabdominal.
Pengeluaran konsepsi pervaginam
I)
Pada umur kehamilan sampai 12 minggu
1)
Penderita diberi infus cairan dekstrose 5% ditambah oksito-
sin 5--10IU.
2)
Penderita diberi anestesi umum atau anestesi lokal (blok
paraservikal).
3)
Konsepsi dikeluarkan dari uterus dengan peralatan abortus
tang dan sendok kuret.
4)
Setelah konsepsi keluar seluruhnya, diberi suntikan metil
ergonovine 0,2 mg intramuskular dan infus oksitosin dilanjutkan
sampai 8 jam post kuretase.
II) Pada umur kehamilan lebih dari 12 minggu
1)
Penderita diberi infus cairan dekstrose 5% ditambah oksito-
sin 5 -10 IU dengan kecepatan 4 tetes permenit dinaikkan setiap
15 -- 30 menit dengan 4 tetes. Penambahan tetesan dilanjutkan
sampai konsepsi keluar seluruhnya.
2)
Jika ternyata hanya sebagian konsepsi yang keluar, bagian
jaringan plasenta yang tertinggal dikeluarkan dengan peralatan
abortus tang dan sendok kuret. Sebelum tindakan kuretase di-
lakukan, terlebih dahulu penderita diberi anestesi umum atau
anestesi lokal.
3)
Setelah konsepsi keluar seluruhnya, diberi suntikan metil
ergonovine 0,2 mg intramuskuler dan infus oksitosin dilan jutkan
sampai 8 jam post kuretase.
III. Pada kasus aborsi tertunda
Penderita diberi infus cairan dekstrose 5% ditambah oksito-
sin 5--10 IU, dengan prosedur seperti ad. II; atau dengan pem-
berian prostaglandin jika tersedia, yang hasilnya lebih baik dari
infus cairan berisi oksitosin, atau dengan infus cairan oksitosin
dapat dikombinasi dengan pemakaian laminaria intraservikal.
Tindakan selanjutnya sama seperti prosedur ad II-2, dan ad
II-3.
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80,
1992
65
IV.
Pada kasus aborsi infeksiosa dan aborsi septik
Sebelum tindakan pengeluaran konsepsi dilakukan, terlebih
dahulu diberi antibiotika spektrum lebar (luas).
Prosedur pengeluaran konsepsi sama seperti ad. I atau ad. II.
Pengeluaran konsepsi perabdominal
Untuk kasus aborsi dengan umur kehamilan lebih dari 12
minggu yang gagal dikeluarkan pervaginam dapat dipertim-
bangkan melakukan laparotomi dan dilanjutkan dengan histero-
tomi atau histerektomi. Tindakan histerektomi khususnya diper-
timbangkan pada kasus aborsi infeksiosa atau aborsi septik.
Penanganan tahap kedua Molahidatidosa :
Pada kasus Molahidatidosa pengeluaran jaringan mola-
hidatidosa pervaginam dilakukan seperti prosedur penanganan
tahap kedua kasus aborsi (ad II). Khusus untuk kasus Mola-
hidatidosa risiko tinggi (kasus molahidatidosa berumur 35 tahun
atau lebih, sudah punya anak 2--3 orang), pengeluaran jaringan
Molahidatidosa dipertimbangkan perabdominal (histerektomi).
Setelah jaringan Molahidatidosa keluar seluruhnya pem-
berian profilaksis khemoterapi dapat dipertimbangkan. Obat-
obat khemoterapi seperti methotrexate, dan actinomycin D
adalah merupakan obat-obat yang suing dipakai. Selanjutnya
kasus-kasus ini dipantau selama 2 tahun.
Penanganan tahap kedua Kehamilan Ektopik Terganggu :
Pada kasus kehamilan ektopik terganggu pengeluaran kon -
sepsi perabdominal. Oleh karena tempat nidasi konsepsi umum-
nya terletak di tuba Fallopii, pengeluaran konsepsi ini disebut
dengan Salpingektomi.
Penanganan tahap kedua Kelainan Serviks, Vagina dan
Vulva :
Kasus-kasus perdarahan akibat kelainan serviks uteri, va-
gina dan vulva yang bersamaan dengan kehamilan dapat di-
lakukan secara konservatif. Kehamilan dijaga agar dapat ber-
lanjut sampai cukup bulan, kecuali pads karsinoma.
PENUTUP
Sudah dibicarakan penanganan umum kasus-kasus perda-
rahan hamil muds. Pemahaman dan peningkatan keterampilan
penanganan akan menurunkan angka kesakitan dan kematian
ibu.
KEPUSTAKAAN
1. Cavanagh D, Woods RE, O'Connor TCF, Knuppel RA. Obstetric Emergen-
cies. Third Ed. Philadelphia: Harper & Row Publ.
2. Novak ED, Jones GS, Jones HW. Novak's Textbook of Gynecology, Ninth
Ed. The William & Wilkins Co.
3. Prawiroharjo S, Wiknjosastro H, Sumapraja S, Saifuddin AB. Ilmu Ke-
bidanan. Edisi Pertama. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka, 1976.
66
Cermin Dunia Kedokteran, Edisi Khusus No. 80, 1992