background image
HASIL PENELITIAN
Gejala Klinis dan Patologi Anatomi
Mencit akibat Diazinon
Raflizar
Pusat Penelitian dan Pengembangan Pemberantasan Penyakit, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan Rl, Jakarta
PENDAHULUAN
Diazinon merupakan salah satu insektisida golongan
organofosfat yang banyak dipakai dalam usaha pertanian, untuk
mengendalikan hama pada tanaman padi dan sayuran
(1,2)
.
Diazinon sangat toksik oleh karena itu penggunaannya harus
cermat agar tidak mengakibatkan keracunan pada hewan dan
manusia. Insektisida (diazinon) sebagai zat kimia yang beracun
cukup berbahaya bagi ternak dan manusia apabila salah salam
penggunaannya.
Diazinon merupakan racun kontak dan racun sistemik.
Racun kontak adalah racun yang apabila tersentuh langsung
melalui oral, inhalasi dan kontak kulit, ditandai dengan muntah,
hipersalivasi, diare, miosis, depresi pernafasan, tensi menurun,
paralisis atau kejang. Racun sistemik adalah racun yang telah
dilarutkan dalam air dan disemprotkan pada tanaman, cairan
tersebut diserap oleh tanaman melalui akar, daun dan batang.
Tanaman yang terkontaminasi dengan racun itu dimakan oleh
hewan dan manusia sehingga hewan dan manusia mengalami
keracunan
(3,4)
.
Diazinon dapat menimbulkan keracunan pada mamalia,
Letal Dosis 50% (LD
50
) pada tikus akibat pemberian diazinon
per oral adalah 150-220 mg/kg berat badan
(5)
. Tujuan penelitian
ini untuk mengetahui gejala klinis dan patologi anatomi mencit
(Mus musculus) akibat pemberian insektisida diazinon per oral
pada beberapa tingkat perlakuan.
ABSTRAK
Gejala klinis dan patologi anatomi mencit (Mus musculus) akibat pemberian
insektisida (diazinon). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis dan
patologi anatomi mencit (Mus musculus) akibat pemberian insektisida (diazinon). Pada
penelitian ini digunakan 20 ekor mencit (Mus musculus) jantan yang berumur 3 bulan
dengan berat rata-rata 27,8 gr ± 4,9 gr. Diazinon diberikan per oral melalui sempit 1
ml. Mencit yang mati selama perlakuan akan dibedah untuk diamati organ tubuhnya
dan pada hari ke delapan setelah pemberian diazinon, semua mencit dibunuh dengan
cara eutanasi. Penelitian ini dilakukan dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri
dari 4 perlakuan dan 5 ulangan. Masing-masing perlakuan terdiri dari pemberian 0,0
mg, 0,5 mg, 1,0 mg dan 2,0 mg per ekor mencit. Mencit memperlihatkan gejala klinis
lemah, nafsu makan menurun, poliuria, bulu kusam, kordosis dan feses cair. Beberapa
di antaranya kejang setelah itu mati kecuali mencit yang diberikan 0,0 mg diazinon.
Hati, jantung, ginjal dan paru-paru terlihat membengkak dan berwarna hitam. Makin
tinggi dosis diazinon diberikan memperlihatkan berat badan makin menurun. Hambat-
an pertambahan berat badan terlihat sangat nyata (P < 0,01) pada pemberian 1,0 mg
dan 0,5 mg bila dibandingkan dengan kontrol.
METODE PENELITIAN
Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan 5 ulangan pada masing-masing perlakuan.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 51
background image
Hewan percobaan yang digunakan adalah mencit putih jantan
(Mus musculus) yang berumur 3 bulan.
Penentuan dosis diazinon
Diazinon 60 E.C. (emulsifiable Concentreace) rumus
empirisnya C
12
H
21
O
3
N
2
PS. Diproduksi oleh PT. Petrokimia
Kayaku Surabaya dalam bentuk pekat, kemudian dilarutkan
dengan aquadest. Dalam penelitian ini dosis yang diberikan
adalah 0,0 mg/ekor, 0,5 mg/ekor, 1,0 mg/ekor dan 2,0 mg/ekor
dengan volume pemberian 0,5 ml.
Analisis Data
Data pertambahan berat badan yang diperoleh dianalisis
dengan analisis varian
(6)
. Jika terdapat perbedaan dilanjutkan
dengan uji LSD (Least Significant Difference
7
).
Perlakuan terhadap mencit percobaan
Sebanyak 20 ekor mencit putih jantan (umur 3 bulan) berat
badan 27,8 g ± 4,9 g dibagi dalam 4 kelompok perlakuan,
masing-masing kelompok terdiri dari 5 ekor. Setiap individu
mencit ditempatkan dalam satu kandang, selama perlakuan
mencit diberi makan dan minum secara ad libitum. Makanan
mencit yang Keterangan diberikan adalah ransum ayam petelur
524 yang diproduksi oleh PT. Charoen Phokphan Indonesia.
Komposisi makanan pada lampiran 1.
-
Kelompok I. dosis 0,0 mg/ekor (kontrol)
-
Kelompok II. dosis 0,5 mg/ekor
-
Kelompok III. dosis 1,0 mg/ekor
-
Kelompok IV. dosis 2,0 mg/ekor
Semua perlakuan diberikan secara oral selama satu minggu.
Mencit yang mati selama perlakuan akan dibedah untuk
diamati organ tubuhnya. Sehari setelah perlakuan berakhir
semua mencit yang masih hidup dibunuh dengan cara Eutanasi
dan dilakukan pembedahan. Organ tubuh yang diperiksa adalah
hati, jantung, ginjal dan paru-paru sedangkan gejala klinis yand
didapat dilaporkan secara diskriptif.
Lampiran 1.
Komposisi makanan (524)* untuk ayam petelur
Bahan-bahan yang dipakai
Jagung kuning, dedak havermut, dedak padi, tepung ikan, bungkil kacang
kedelai, bungkil kelapa, kalsium fosfat, kalsium karbonat, natrium klorida,
vitamin A, BZ, B6, BIZ, D3, niacin, kalsium D-pentatonat, kolin klorida dan
anti oksida.
Analisa
Protein
17 - IS%
Lemak
3 - 6%
Serat kasar
6 - 8%
Abu
9 - 12%
Metabolisme energi 2.650 - 2.950 kcal/kg
Keterangan :
* Sumber : PT. Charoen Pokphand Indonesia.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Gejala klinis
Mencit mulai memperlihatkan gejala klinis pada hari
pertama perlakuan. Gejala klinis mencit yang mendapat per-
lakuan dengan berbagai pemberian diazinon per ekor terlihat
pada Tabel 1.
Tabel 1. Gejala klinis mencit (Mus musculus) akibat berbagai pemberian
diazinon
Pemberian diazinon (mg per ekor)
Gejala klinis
0,0 0,5 1,0 2,0
Lemah -
+
+
+
Mata menyipit
-
+
+
+
Salivasi -
+
+
+
Lakrimasi -
-
+
+
Nafsu makan menurun
-
+
+
+
Poliurea -
+
+
+
Bulu kusam
-
-
+
+
Lordosis -
+
+
+
Tremor -
+
+
+
Feses cair
-
+
+
+
Keterangan :
- = tidak ada gejala klinis
+ = ada gejala klinis
Keracunan diazinon dapat menimbulkan gejala.klinis kele-
mahan, depresi, inkoordinasi, hipersalivasi, kekejangan, kele-
mahan anggota gerak, dispnea, diare, tremor dan mati
(8,9,10)
.
Gejala klinis tersebut ada yang sama seperti dilaporkan pada
tabel 1 di atas. Mencit yang diberikan 0,5 mg diazinon per ekor
mati satu ekor pada hari keenam sedangkan mencit yang
diberikan 2,0 mg diazinon per ekor mati kelima-limanya, satu
ekor pada hari kedua, satu ekor pada hari ketiga, dua ekor pada
hari keempat dan satu ekor pada hari kelima perlakuan.
Kematian dapat terjadi karena diazinon yang telah masuk
di dalam tubuh menghambat kerja enzim kolinesterase yang
ada di dalam darah sehingga peredaran darah yang menuju ke
saraf akan terganggu
(11)
. Akibat terganggunya kerja sarag gerak
otot tidak dapat dikendalikan sehingga timbul kekejangan,
lumpuh dan menyebabkan kematian. Akibat keracunan
diazinon terjadi rangsangan yang berlebihan terhadap saraf-
saraf kolinergik. Diazinon mempunyai daya anti kolinesterase
sehingga hidrolisa asetilkolin tidak dapat terjadi. Rangsangan
terhadap saraf-saraf kolinergik itu meliputi reseptor muskarinik
dan nikotinik, adrenal medula dan sinap-sinap pada otot
(1)
.
Analisa chi-kuadrat kematian mencit
Tabel 2. Kematian mencit (Mus musculus) akibat berbagai pemberian
diazinon.
Diazinon Hidup Mati Jumlah X2
0,0
mg
5 0 5
0,5
mg
4 1 5
16,192*
1,0
mg
5 0 5
2,0
mg
0 5 5
Jumlah 14
6
20
Keterangan : * Sangat nyata
Kematian pada kasus keracunan diazinon yang tidak
diobati dapat terjadi dalam waktu 24 jam, disebabkan karena
udema paru-paru
(12)
. Udema paru-paru dapat terjadi karena
meningkatnya volume cairan ekstraseluler dan ekstravaskuler
disertai dengan penimbunan cairan dalam sela-sela jaringan dan
rongga serosa
(13)
. Dari data di atas terlihat bahwa angka kema-
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
52
background image
tian mencit cenderung meningkat apabila dosis pemberian
ditingkatkan, kematian mulai terjadi pada pemberian 2,0 mg
diazinon satu hari setelah perlakuan.
Lampiran 2. Pertambahan berat badan mencit akibat berbagai pemberian
diazinon setelah penelitian selesai.
Ulangan
Pemberian
(mg)
Berat badan
akhir perla-
kuan (gr)
Berat badan
awal perla
kuan (gr)
Pertambahan
berat badan
(gr)
I 0,0 25,10
21,95 3,15
II 0,0 24,80
20,02 4,78
III 0,0 29,00
27,75 1,25
IV 0,0 21,08 20,06 1,02
V 0,0 24,00
23,20 1,70
I 0,5 28,75
32,75 -
4
II 0,5 31,10
34,00 -
2,90
III 0,5 25,45
28,05 -
2,60
IV 0,5 - 22,35 -
V 0,5 30,00
32,55 -
2,55
I 1,0 32,35
36,50
-
4,15
II I,0 19,50
23,85
-
4,35
Iil 1,0 27,40
30,25 -
2,85
IV I,0 26,40
29,95 -
3,55
V 1,0 31,00
33,85 -
2,88
Keterangan : - = mencit yang mati
Lampiran 3. Pertambahan berat badan mencit setelah penelitian selesai
akibat berbagai pemberian diazinon.
Pemberian diazinon (mg per ekor)
0,0 (gr)
0,5 (gr)
1,0 (gr)
Jumlah
3,15 -4,00 -4,15
4,78
- 2,90
- 4,35
1,25
- 2,60
- 2,85
1,02 -
-
3,55
Pertambahan
berat badan
1,70
- 2,55
- 2,85
Jumlah
11,90
- 12,05
- 17,75
- 17,90
Ulangan
5 4 5
14
Rata-rata
2,38
- 3,0125
- 3,55
- 1,2786
Keterangan: - = mencit yang mati
Semua mencit yang mendapat perlakuan dengan berbagai
tingkat pemberian diazinon memperlihatkan berat badan me-
nurun jika dibandingkan dengan kontrol. Pertambahan berat
badannya seperti terlihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil uji LSD pertambahan berat badan mencit selama penelitian
akibat berbagai pemberian diazinon.
Pemberian (mg/ekor)
Rata-rata pertambahan berat badan
0,0 2,38
a
0,5 -
3,0125
b
1,0 -
3,55
b
Superskrip yang berbeda memperlihatkan perbedaan pertambahan berat badan
yang sangat nyata (P 0,10).
Perubahan patologi anatomi
Perubahan patologi anatomi mencit (Mus musculus) yang
memperoleh diazinon secara oral memperlihatkan perubahan
pada hati, jantung, ginjal dan paru-paru.
Tabel 4. Patologi anatomi hati mencit (Mus musculus) akibat berbagai
pemberian diazinon.
Pemberian diazinon (mg per ekor)
Ulangan Perubahan
0,0 0,5 1,0
2,0
I Besar
Warna
Normal
Merah
muda
Bengkak
Merah ke-
hitaman
Bengkak
Merah ke-
hitaman
bintik-bintik
Bengkak
2)
Merah tua
hemoragi
II Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
Merah ke-
hitaman
Bengkak
Merah ke-
hitaman
Bengkak
3)
Merah ke-
hitaman
II Besar
Warna
Normal
Merah
muda
Bengkak
Merah ke-
hitaman
Bengkak
Merah ke-
hitaman
Bengkak
4)
Merah ke-
hitaman
IV Besar
Warna
Normal
Merah
muda
Bengkak
6)
abu-abuan
Bengkak
4)
Merah ke-
Merah
belang
Bengkak
Merah ke-
hitaman
hemoragi
V Besar
Warna
Normal
Merah
muda
Bengkak
6)
Bengkak
5)
Merah ke-
Lebih
merah
hitaman
hemoragi
Keterangan :
2) = mencit yang mati pada hari kedua
3) = mencit yang mati pada hari ketiga
4) = mencit yang mati pada hari keempat
Mencit yang mendapat perlakuan dengan berbagai pem-
berian diazinon mengalami pembengkakan pada hati, berwarna
kehitam-hitaman dan ada diantaranya disertai belang-belang
jika dibandingkan dengan kontrol. Terlihat pada gambar 1. Hal
ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Yuningsih (1988)
(14)
di
Sukabumi yaitu hati ayam membengkak berwarna kehitam-
hitaman akibat keracunan diazinon.
5) = mencit yang mati pada hari kelima
6) = mencit yang mati pada hari keenam
Gambar 1. Gambaran makroskopis hati mencit yang mendapat perlakuan
0,0 mg diazinon per ekor dengan 0,5 mg diazinon per ekor.
Keterangan :
(a) : Gambaran rnakroskopis hati mencit yang mendapat perlakuam 0,0 mg
diazinon per ekor (kontrol).
(b) : Gambaran makroskopis hati mencit yang mendapat perlakuan 0,5 mg
diazinon per ekor memperlihatkan pembengkakan serta adanya
perubahan vvarna hati menjadi merah kehitaman.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 53
background image
Tabel 5. Patologi anatomi jantung mencit (Mus musculus) akibat berbagai
pemberian diazinon.
Pemberian diazinon (mg per ekor)
Ulangan Perubahan 0,0 0,5 1,0
2,0
I Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
Merah
coklat
Bengkak
Merah
hemoragi
Bengkak
2)
Merah
hemoragi
II Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
Merah
belang
Bengkak
Merah
kehitaman
Bengkak
3)
Merah
kehitaman
III Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
Merah
kecoklatan
Bengkak
4)
Merah
kehitaman
Bengkak
Merah
kecoklatan
IV Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
6)
Merah
hemoragi
Bengkak
4)
Merah
belang
Bengkak
Merah
kecoklatan
V
Merah
Merah bintik
hitam
Bengkak
5)
Besar
Warna
Normal Bengkak
Merah
belang
Bengkak
Merah bintik
hitam
Keterangan :
2) = mencit yang mati pada hari kedua
3) = mencit yang mati pada hari ketiga
4) = mencit yang mati pada hari keempatr
5) = mencit yang mati pada hari kelima
6) = mencit yang mati pada hari keenam
Mencit yang mendapat perlakuan dengan berbagai pem-
berian diazinon mengalami pembengkakan, berwarna merah
belang-belang dan disertai hemoragi pada jantung jika di-
bandingkan dengan kontrol. Perubahan ini sudah terlihat pada
pemberian 0,5 mg diazinon per ekor. Perubahannya lebih jelas
terlihat pada pemberian 1,0 mg diazinon per ekor (pada
gambar 2 dan 3).
Mencit yang mendapat perlakuan dengan berbagai pem-
berian diazinon mengalami pembengkakan dan disertai hi-
peremi pada ginjal jika dibandingkan dengan kontrol. Per-
ubahan ini sudah terlihat pada pemberian 0,5 mg diazinon per
ekor (gambar 4). Lebih jelas lagi terlihat perubahan ginjalnya
pada pemberian 1,0 mg diazinon per ekor (gambar 5). Ada
diantara ginjalnya mengalami lisut dan berlubang-lubang.
Mencit yang mendapat perlakuan dengan berbagai pem-
berian diazinon mengalami pembengkakan, berwarna merah
bercairan pada paru-paru jika dibandingkan dengan kontrol.
Salah satu diantaranya yaitu pada pemberian 1,0 mg diazinon
per ekor mengalami udema paru-paru seperti terlihat pada
gambar 6.
KESIMPULAN
Mencit yang mendapat perlakuan dengan berbagai tingkat
pemberian diazinon per ekor memperlihatkan gejala klinis yang
berbeda sesuai dengan tingkat pemberiannya. Mencit terlihat
lemah, mata menyipit, salivasi, lakrimiasi, nafsu makan me-
nurun, poliurea, bulu kusam, lordosis, tremor, feces cair dan
beberapa diantaranya kejang setelah itu mati. Kecuali mencit
yang memperoleh pemberian 0,0 mg diazinon per ekor.
Pertambahan berat badan mencit yang mendapat perlakuan
dengan 0,0 mg diazinon per ekor mengalami kenaikan, jika
Gambar 2. Gambaran makroskopis jantung mencit yang mendapat
perlakuan 0,0 mg dengan 0,5 mg diazinon per ekor.
Keterangan :
(a) : Gambaran makroskopis jantung mencit yang mendapat perlakuan 0,0 mg
diazinon per ekor (kontrol).
(b) : Gambaran makroskopis jantung mencit yang mendapat perlakuan 0,5 mg
diazinon per ekor memperlihatkan pembengkakan.
Gambar 3. Gambaran makroskopis jantung mencit yang mendapat
perlakuan 1,0 mg diazinon per ekor.
Keterangan :
(a) : Gambaran makroskopis jantung mencit yang mendapat perlakuan 1,0 mg
diazinon per ekor (kontrol) memperlihatkan pembengkakan dan
hemoragi.
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
54
background image
Gambar 4. Gambaran makroskopis ginjal mencit yang mendapat
perlakuan 0,0 mg dengan 0,5 mg diazinon per ekor.
Keterangan :
(a) : Gambaran makroskopis ginjal mencit yang mendapat perlakuan 0,0 mg
diazinon per ekor (kontrol).
(b) : Gambaran makroskopis ginjal mencit yang mendapat perlakuan 0,5 mg
diazinon per ekor memperlihatkan pembengkakan serta adanya perubah-
an warna ginjal menjadi hitam kecoklatan.
Gambar 5. Gambaran makroskopis ginjal mencit yang mendapat
perlakuan 1,0 mg diazinon per ekor.
(a) : Gambaran makroskopis ginjal mencit yang mendapat perlakuan 1 0 mg
diazinon per ekor memperlihatkan ginjal lisut dan berlubang-lubang.
dibandingkan dengan pemberian 0,5 mg dan 1,0 mg diazinon
per ekor. Hambatan pertambahan berat badan terlihat sangat
nyata (P 0,01).
Tabel 6. Patologi anatomi ginjal mencit (Mus musculus) akibat berbagai
pemberian diazinon.
Pemberian diazinon (mg per ekor)
Ulangan Perubahan
0,0 0,5 1,0
2,0
I Besar
Warna
Normal
Coklat
kehitaman
Bengkak
2)
Coklat
Bengkak
Coklat
kemerahan
Bengkak
Coklat
kehitaman
II Besar
Coklat
Merah
kehitaman
Bengkak
3)
Warna
Normal Bengkak
Hitam
kecoklatan
Bengkak
Coklat
kemerahan
III Besar
Warna
berlubang
Bengkak
4)
Normal
Coklat
Bengkak
Merah
keputihan/
berlubang
Bengkak
Coklat
keputihan/
Coklat
kehitaman
IV Besar
Coklat
Bengkak
6)
Merah
kehitaman
Bengkak
4)
Warna
Normal
Hitam
kecoklatan
Bengkak
Coklat
kehitaman
V Besar
Warna
Normal
Coklat
Bengkak
Merah
kecoklatan
Bengkak
Coklat
kemerahan
Bengkak
5)
Coklat
kemerahan
Keterangan :
2) = mencit yang mati pada hari kedua
3) = mencit yang mati pada hari ketiga
4) = mencit yang mati pada hari keempat
5) = mencit yang mati pada hari kelima
6) = mencit yang mati pada hari keenam
Tabel 7. Patologi anatomi ginjal mencit (Mus musculus) akibat berbagai
pemberian diazinon.
Pemberian diazinon (mg per ekor)
Ulangan Perubahan
0,0 0,5 1,0
2,0
I Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
Merah
keputihan
Bengkak
2)
Merah
muda
Bengkak
Merah
keputihan
II Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
Merah
muda
Merah
bercairan
Bengkak
3)
Bengkak
Merah
bercairan
III Besar
Warna
Normal
Merah
Merah
bercairan
Bengkak
4)
Bengkak
Merah
muda
Bengkak
Merah
keputihan
IV Besar
Warna
Normal
Merah
Bengkak
6)
Merah
bercairan
Bengkak
4)
Merah
muda
Bengkak
Merah
keputihan
V Besar
Warna
Merah
keputihan
Bengkak
5)
Normal
Merah
Bengkak
Merah
muda
Bengkak
Merah
keputihan
Keterangan :
2) = mencit yang mati pada hari kedua
3) = mencit yang mati pada hari ketiga
4) = mencit yang mati pada hari keempat
5) = mencit yang mati pada hari kelima
6) = mencit yang mati pada hari keenam
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001 55
background image
Cermin Dunia Kedokteran No. 131, 2001
56
SARAN
Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap dan me-
yakinkan tentang toksisitas diazinon perlu dilakukan penelitian
lanjutan yaitu pemeriksaan histo patologis dari organ-organ
tubuh yang disebutkan di atas.
KEPUSTAKAAN
1.
Suharto B. Obat dan Pengembangan Masyarakat Sehat, Kuat dan Cerdas.
Penerbit Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Jakarta: 1975.
2. Mutschler E. Dinamika Obat. Buku Ajar Farmakologi dan Toksikologi
(Diterjemahkan dari Arzneimittelwirkungen oleh Mathilda B. Widianto
dan Anna Setiadi Ranti. Edisi 5. Penerbit ITN, Bandung; 1986.
3.
Sastrodihardjo S. Pengantar Entomologi Terapan. Penerbit ITB, Bandung;
1979.
4. Natawiguna H. Pestisida dan Kegunaannya. Penerbit Armico. Bandung,
1982.
Gambar 6. Gambaran makroskopis paru-paru mencit diantara yang
mendapat perlakuan 1,0 mg diazinon per ekor.
(a) Gambaran makroskopis mencit yang mengalami udema paru-paru akibat
pemberian 1,0 mg diazinon per ekor.
Semua patologi anatomi mencit memperlihatkan perubah-
an pada hati, jantung, ginjal dan paru-paru pada berbagai
tingkat pemberian diazinon per ekor. Hati, jantung, ginjal dan
paru-paru terlihat membengkak, berwarna merah kehitaman.
Pada jantung dan ginjal disertai belang-belang. Sedangkan pada
paru-paru diantaranya perlakuan ada yang mengalami edema.
6.
Sudjana. Metode Statistika. Edisi 3. Penerbit Tarsito, Bandung; 1984.
7. Steel RG, Torrie JH. Principles and Procedure of Statistic. 2
nd
ed.
McGraw-Hill Int Book Comp, Japan: Tokyo.
8. Blood DC, Henderson JA. Veterinary medicine 2
nd
ed. Baltimore: The
Williams and Wilkins Comp.
9. Radeleff
RD.
Veterinary Toxicology. 2
nd
ed. Philadelphia. USA: Lea and
Febiger.
10. Yoxal AT. Hird JF. Pharmacological Basic of Small Animal Medicine.
Blackwell Scientific Publications Oxford London Edinburgh Melbourne;
1979.
11. Jones LM. Veterinary Pharmacology and Therapeutics. 2
nd
ed. The Iowa
State Univercity Press; 1957.
for they are the first to discover your mistakes
5.
Matsumura F. Toxicology of Insecticides. Plenum Press, New York and
London; 1985.
12. Casarett LJ., Doull J. Toxicology. The Basic Science of Poisons. London:
Bailliere Tindall, 1975.
13. Himawan S. Patologi Umum. Edisi pertama. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia, Jakarta; 1973.
14. Yuningsih. Kasus Keracunan Insektisida Organofosfat Diazinon Pada
Hewan. Buletin Penyakit Hewan. 1988; XX (35)-9.
Pay attention to your enemies,