background image
HUMOR
ILMU KEDOKTERAN
KKN
Ketika mahasiswa kedokteran se-
dang KKN di suatu desa yang agak
terpencil, datanglah seorang bocah
kecil yang nampaknya rasa ingin
tahunya besar sekali kepada maha-
siswa itu.
Bocah
: Mas, KKN itu apaan
sih?
Mahasiswa : Oo, Kuliah Kerja
Nyata. Besok kamu
kalau sudah jadi
mahasiswa juga akan
KKN.
Bocah :
Salah
Mas
!
Mahasiswa : Lha yang benar apa ?
Bocah :
(Sambil berlalu) Kesana
Kemari Ngeceng!
Harry
Yogyakarta
YAKIN
Sepasang suami isteri menanyakan
doktemya sebagai berikut :
"Dokter, apa sudah yakin kalau obat
yang diberikan pada kami benar-
benar dapat mencegah kehamilan ?"
Dokter : "Kalau masih ragu, ya lebih
baik... jangan membuat dulu ..."
Juvelin
Jakarta
ANAK 12 ORANG, BEBAS AZAB KUBUR
Suatu hari saya bersama Ibu Camat menghadiri pembukaan Posyandu Baru yang
ada di wilayah kerja puskesmas saya.
Pada saat itu seorang kader posyandu memberitahukan pada saya tentang seorang
ibu (sambil menunjuk sang ibu yang dimaksud) yang tidak mau ikut Keluarga Berencana,
pada hal anaknya sudah 8 orang.
Saya panggil ibu itu, kemudian ia duduk di depan saya. Tujuannya tentu ingin
mengetahui kenapa ia tidak mau ikut KB.
Dokter : "Anak ibu berapa oiang ?"
Ibu
: "Delapan orang Pak Dokter."
Dokter : "Ibu tidak ikut Keluarga Berencana ?"
Ibu
: "Tidak Pak Dokter."
Dokter : "Lho, ...... kenapa tidak, anak ibu kan sudah 8 orang ?"
Ibu
: "Yah, tidak apa-apa, banyak anak kan banyak rezeki. Apalagi kalau sudah 12
orang, saya Kan bebas dari azab kubur, Pak Dokter."
Saya, Ibu Camat, dan kader-kaderposyandu jadi geli mendengar pendapatnya, yang
tidak tabu dari mana sumbemya.
Dr. Refinaldi
Puskesmas Tanjung Redeb
TULANG PATAH
Ketika hendak memetik kelapa, PakNababan tergelincir dan jatuh tunggang langgang
dari pohon. Tulang keringnya patah sehingga ia tidak bisa jalan. Isterinya tak kuat
menggotongnya ke puskesmas, jadi dipanggillah kemenakannya si Ucok. "Cok, pergilah
kau ke Puskesmas dan panggil dokter kemari. Bilang tulangku patah" kata sang paman.
Maka pergilah si Ucok ke Puskesmas untuk menunaikan tugasnya. Kebetulan yang
bertugas di sana adalah dokter baru yang berasal dari Jawa. Setengah jam kemudian
kembalilah ia tanpa disertai dokter. "Apa pula hasil kerja kau ini? Mana dokterya?" tanya
sang paman sambil menahan sakit. "Aku bilang tulang tulangku patah. Tapi dokter itu
bilang aku tak apa-apa, bahkan aku disuruhnya pulang" jawab si Ucok.
"Anak bodoh. Kalau kau bilang tulang, tentu dokter itu tidak mengerti. Kau harus
bilang paman. Sekarang pergilah kau panggil dia lagi" kata sang paman.
Maka pergilah lagi si Ucok memanggil dokter, tapi kali inipun ia pulang dengan
tangan hampa. "Apa yang kau bilang padanya?" sergah sang paman. "Paman pamanku
patah, tapi ia tetap tidak mengerti" jawab si Ucok.
R Setiabudy
Jakarta
Cermin Dunia Kedokteran No. 68, 1991 57