530
| SEPTEMBER - OKTOBER 2010
S
ejak awal tahun 1970-an telah
diketahui teori bahwa asupan
serat yang tinggi dapat mem-
bantu mencegah terjadinya kanker
kolorektal. Namun hasil penelitian
tidak semuanya menyatakan demikian
atau tidak konklusif. Beberapa pe-
nelitian menunjukkan efek protektif
asupan tinggi serat terhadap insiden
kanker kolorektal, sedangkan be-
berapa penelitian lain tidak menun-
jukkan manfaat tersebut. Penelitian
besar mengenai hal ini dipublikasikan
di New England Journal of Medicine,
1999, dan melibatkan 89.000 perawat
di Amerika Serikat. Hasilnya, asupan
serat tidak bermakna menurunkan in-
siden jenis kanker ini. Namun peneli-
tian besar lainnya yang dipublikasikan
di Lancet, 2003 menunjukkan bahwa
asupan tinggi serat secara bermakna
menurunkan insiden terjadinya kanker
kolorektal.
Ketidakkonsistenan hasil penelitian
besar tersebut kemudian berlanjut
hingga pada tahun 2005 dipublikasikan
kembali hasil penelitian analisis terh-
adap 13 penelitian kohort prospektif
dengan tujuan yang sama. Dipub-
likasikan di Journal of the American
Medical Association (JAMA) dengan
total subjek 752.628 orang, penelitian
tersebut menunjukkan bahwa asupan
serat yang tinggi mengurangi insiden
kanker kolorektal. Namun setelah
disesuaikan (adjusted) dengan faktor
risiko lain, hubungan tersebut menjadi
tidak bermakna secara statistik.
Suatu penelitian prospektif case-
control yang menilai hubungan kecu-
kupan konsumsi serat dengan risiko
timbulnya kanker kolorektal baru-
baru ini dipublikasikan dalam suatu
jurnal onkologi ternama, Journal of
the National Cancer Institute. Pene-
litian tersebut melibatkan 579 pasien
kanker kolorektal dan 1.996 subjek se-
bagai kontrol. Subjek tersebut kemu-
dian dinilai pola makannya, terutama
kecukupan seratnya, menggunakan
food diary dan kuesioner food-fre-
quency 4-7 hari. Kemudian dinilai ada
/ tidaknya hubungan antara konsumsi
serat dengan insiden kanker kolorek-
tal setelah disesuaikan dengan faktor
faktor lain, seperti usia, anthropo-
morphic dan faktor sosial-ekonomi,
asupan folat, alkohol, dan kalori.
Hasilnya, ternyata ditemukan adanya
hubungan terbalik antara konsumsi se-
rat dengan insiden kanker kolorektal.
Odds ratio terjadinya kanker kolorek-
tal pada subjek dengan asupan serat
tertinggi (highest quintile) dengan
terendah (lowest quintile) menggu-
nakan food diary yaitu 0,66 (95% con-
fidence interval, 0,45 0,96), artinya
menurunkan risiko terjadinya kanker
kolorektal sebesar 34%. Namun pe-
nilaian menggunakan food-frequency
tidak menunjukkan hubungan yang
bermakna (odds ratio : 0,88; 95% con-
fidence interval, 0,57 1,36).
Disimpulkan bahwa asupan serat
berhubungan terbalik dengan risiko
kanker kolorektal. Perbedaan metod-
ologi (misal, metoda penelitian, me-
toda untuk menilai diet, definisi serat)
mungkin menjadi alasan penyebab
kontroversi hasil penelitian sebelum-
nya. n (NFA)
REFERENSI :
1. Dahm. CC, et al.Dietary Fiber and Colorectal
Cancer Risk: A Nested Case-control Study Us-
ing Food Diaries.JNCI.2010;doi 10.1093/jnci/
djq092
2. MedicineNet.com.High Dietary Intake Fi-
ber May Not Reduce the Risk of Colon Can-
cer.2002
3. Barclay. L.Dieteray Fiber Lowers Colon Cancer
Risk.2003.www.medscape.com
4. Park. Y, et al.Dietary Fiber Intake and Risk of Col-
orectal Cancer: A Pooled Analysis of Prospec-
tive Cohort Studies.JAMA.2005;294(22):2849-
57
Konsumsi Makanan Berserat dan
Risiko Kanker Kolorektal
BERITA
TERKINI
CDK ed_180 Sept'10 OK.indd 530
8/26/2010 3:39:42 PM