WHO mengatakan bahwa percobaan klinis di masyarakat
miskin di Afrika Selatan dan Malawi menunjukkan vaksin oral
baru secara signifikan mengurangi beratnya episode diare
yang disebabkan oleh Rotavirus.
Uji coba dilanjutkan di Bangladesh, Vietnam, Ghana, Mali dan
Kenya, tetapi pedoman telah dikeluarkan sebelum hasil
lengkapnya tersedia, sejak tersedianya bukti yang menunjuk-
kan bahwa data manfaat dapat diekstrapolasi ke populasi
dengan pola kematian serupa tanpa memperhitungkan lokasi
geografis (WHO) .
Negara-negara berkembang yang ingin membantu untuk
mendistribusikan vaksin Rotavirus, dapat mencari bantuan
dari Aliansi Global untuk Vaksin dan Imunisasi (Global Alliance
for Vaccines and Immunization/GAVI), di Jenewa dan mitra
kerja WHO.
GAVI, WHO dan badan PBB untuk anak-anak UNICEF kini
bekerja untuk mengembangkan "pendekatan baru yang di-
percepat dan terintegrasi" untuk menanggulangi Rotavirus
diare dan radang paru-paru secara bersamaan.
WHO juga menegaskan bahwa terdapat banyak penyebab
penyakit diare, yang berarti bahwa upaya untuk meningkatkan
kualitas air, standar sanitas dan akses pada garam rehidrasi harus
terus dilanjutkan walaupun telah ada pemberian vaksin. (NFA)
WHO Merekomendasikan
WHO Merekomendasikan
Vaksin Rotavirus untuk Semua Anak
Vaksin Rotavirus untuk Semua Anak
WHO Merekomendasikan
Vaksin Rotavirus untuk Semua Anak
BERITA TERKINI
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
524
O
rganisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan
agar vaksin Rotavirus oral disertakan dalam semua program
imunisasi nasional untuk menangkal setengah juta kematian
akibat diare dan 2 juta perawatan rumah sakit setiap tahun.
"Rekomendasi WHO ini menjelaskan bahwa vaksin-vaksin ini
akan melindungi anak-anak di negara berkembang dari salah
satu penyakit yang paling mematikan yang mungkin mereka
hadapi," kata Tachi Yamada dari Bill & Melinda Gates Foundation.
Anak-anak di Eropa dan Amerika telah mendapat akses
vaksin Rotavirus selama tiga tahun, tetapi belum pernah diuji
dan disetujui untuk negara berpendapatan rendah di mana
penyakit ini bisa mematikan.
Pedoman baru global PBB diharapkan dapat meningkatkan
permintaan vaksin RotaTeq (Merck) dan vaksin Rotarix (Glaxo-
SmithKline) di Afrika dan Asia.
Rotavirus adalah penyebab utama gastroenteritis parah,
termasuk muntah-muntah dan diare, pada bayi dan anak-
anak muda. Infeksi menular ini diperkirakan membunuh
sekitar 1.600 anak-anak di bawah usia 5 setiap hari, terutama
di Afrika dan Asia. Menurut WHO, penyakit yang dapat
dicegah oleh vaksin ini menyumbang lebih dari 35 persen
kematian anak di dunia setiap tahun, yang sebagian besar di
negara-negara miskin.
Vaksin pertama yang dikembangkan oleh Wyeth untuk me-
merangi Rotavirus telah ditarik dari pasar pada tahun 1999
setelah dihubungkan dengan gangguan usus berupa intus-
susception yang langka dan mengancam kehidupan. Vaksin-
vaksin dari Merck dan Glaxo tidak memiliki masalah tersebut.
S
ebuah penelitian memperlihatkan bahwa aspirin kunyah
diabsorpsi lebih baik dibandingkan dengan aspirin padat yang
ditelan maupun aspirin padat yang dikunyah terlebih dahulu.
Hasil penelitian ini dipresentasikan oleh dr. Sean Nordt dari
University of California, San Diego, Amerika Serikat, pada per-
temuan the Society of Academic Emergency Medicine. Hasil
penelitian ini mendukung pedoman terapi (guideline) yang
menyatakan bahwa aspirin kunyah lebih baik pada pasien-
pasien sindrom koroner akut.
Dr. Nordt menjelaskan bahwa walaupun AHA (American
Heart Association) dan ACC (American College of Cardiology)
sudah merekomendasikan bahwa mengunyah tablet aspirin
dapat meningkatkan absorpsi, belum ada penelitian yang
mem- bandingkan secara langsung ketiga cara pemberian
aspirin (aspirin padat langsung ditelan, aspirin padat dikunyah
dulu sebelum ditelan dan sediaan aspirin kunyah).
Penelitian three-arm crossover ini melibatkan 14 sukarelawan
dengan usia rerata 31 tahun (20-61 tahun). Para sukarelawan
dibagi menjadi 3 kelompok: kelompok I diberi tablet aspirin
sediaan padat untuk ditelan; kelompok ke II diberi tablet
aspirin sediaan padat yang dikunyah terlebih dahulu sebelum
ditelan; dan kelompok ke III diberi sediaan aspirin kunyah.
Setiap sukarelawan menerima aspirin dosis supraterapeutik
sebesar 1950 mg. Setelah puasa selama 6 jam, obat diminum
bersama air. Sebelum dilakukan penyilangan (crossover), ada
periode washout selama 7 hari.
Konsentrasi aspirin tertinggi terdeteksi setelah 3 jam pada
ketiga kelompok penelitian: kelompok I (10,4 mg/dL), kelom-
pok II (11,3 mg/dL) dan pada kelompok III (12,2 mg/dL). Kadar
salisilat dalam darah sudah terdeteksi setelah 45 menit pada
kelompok ke III. Pada kelompok I kadar salisilat belum ter-
deteksi setelah 60 menit pada 6 dari 14 orang dan pada
kelompok ke II kadar salisilat belum terdeteksi setelah 60
menit pada 1 dari 14 orang.
Dr. Nordt dan rekan menyimpulkan bahwa sediaan aspirin
kunyah diabsorpsi lebih cepat dibandingkan dengan sediaan
padat yang ditelan maupun sediaan padat yang dikunyah.
Berdasarkan data ini, pemberian aspirin kunyah lebih dianjur-
kan pada pasien sindrom koroner akut.
Penelitian lanjutan berupa penelitian prospektif yang melibat-
kan pasien-pasien dengan sindroma koroner akut perlu dilakukan
untuk mengetahui apakah keunggulan aspirin kunyah dibanding-
kan sediaan padat bermakna secara klinik.
Simpulan:
Aspirin kunyah diabsorpsi lebih baik dibandingkan dengan
aspirin padat yang ditelan maupun aspirin padat yang dikunyah
terlebih dahulu. (YYA)
Referensi :
1. Medicine-Net.com. Chewable Aspirin Is Best for the Heart. [cited 2009 June 04].
Available from http://www.medicinenet.com/script/main/art.asp?articlekey=100326
2. Medscape Cardiology. Chewable Aspirin Best for ACS: Small Study Supports
Guidelines. [cited 2009 June 04]. Available from: http://www.medscape.com/
viewarticle/703126?src=mpnews&spon=2&uac=117092CG
CDK 173/vol.36 no.7/November - Desember 2009
523
BERITA TERKINI
Sediaan
Sediaan
Aspirin Kunyah
Aspirin Kunyah
Diabsorpsi Lebih Baik.
Diabsorpsi Lebih Baik.
Sediaan
Aspirin Kunyah
Diabsorpsi Lebih Baik.
DK 173/vol 36 no 7/No