B E R I T A T E R K I N I
CDK 169/vol.36 no.3/Mei - Juni 2009
204
B E R I T A T E R K I N I
S
tudi sebelumnya menunjukkan bahwa itraconazole
merupakan terapi yang efektif untuk allergic bronchopul-
monary aspergillosis (ABPA) dan David W. Denning, FRCP,
dari Universitas Manchester, UK, dkk meneliti apakah ada
manfaat klinis terapi ini pada pasien asma.
Menurut Denning, beberapa pasien dengan asma berat
secara imunologi tersensitisasi terhadap satu jamur atau
lebih, dan dikategorikan sebagai SAFS. Sebelumnya tidak
diketahui apakah SAFS berespon terhadap antijamur.
Tujuan the Fungal Asthma Sensitization Trial Study tersebut
adalah untuk menilai respon pasien dengan SAFS terhadap
terapi dengan itraconazole oral. Pasien dalam studi men-
derita asma berat dan tersensitisasi terhadap minimal 1 dari
7 jamur berdasarkan uji cukit kulit atau IgE spesifik. Pada
semua pasien, kadar IgE total < 1000 IU/mL dan hasil
pemeriksaan antibodi terhadap Aspergillus negatif.
Dalam studi tersebut, pasien secara acak mendapat terapi
itraconazole oral 200 mg, 2 kali sehari, atau plasebo selama
32 minggu, dan mereka diikuti hingga 16 minggu. Parameter
utama penilaian adalah perubahan pada skor the Asthma
Quality of Life Questionnaire (AQLQ), sedangkan parameter
sekunder adalah skor rinitis, IgE total dan fungsi pernapasan.
Dari 58 pasien, 41% telah dirawat di RS pada tahun sebelumnya
dan skor AQLQ rata-rata basal adalah 4,13. Hasil studi
menunjukkan bahwa perbaikan skor AQLQ rata-rata
setelah 32 minggu adalah +0,85 pada kelompok itraco-
nazole vs -0,01 pada kelompok plasebo (p=0,014). Sekitar
60% pasien kelompok itraconazole menunjukkan peningkatan
skor AQLQ minimal 0,75. Skor rinitis juga membaik pada
kelompok itraconazole dan memburuk pada kelompok
plasebo (-0,43 vs +0,17,p=0,013).
Pada kelompok itraconazole, aliran puncak respirasi pagi
hari membaik (20,8 L/menit, p=0,028) dan IgE serum total
menurun hingga 73% dari basal (-51 IU/mL), sedangkan
kadar IgE serum total meningkat hingga 112% dari basal
pada kelompok plasebo (+30 IU/mL,p=0,001). Pada 16 minggu
setelah terapi, skor AQLQ kembali ke nilai skor sebelum
studi yang menurut peneliti, hal ini menunjukkan pentingnya
melanjutkan terapi antijamur hingga 8 bulan.
Meskipun tidak terdapat kejadian tidak diinginkan yang
berat, 7 pasien berhenti dari studi karena mual, sesak napas,
dan kelemahan otot; 6 pasien dari kelompok itraconazole
dan 1 pasien dari kelompok plasebo.
Keterbatasan studi tersebut adalah kecilnya jumlah sampel,
kurang tepatnya definisi sensitisasi jamur dan alergi jamur,
serta jumlah subyek yang ikut lebih kecil daripada target awal.
Namun hasil studi tersebut menunjukkan bahwa pendekatan
terapi baru dengan menggunakan terapi antijamur pada
asma berat bermanfaat secara klinis dan dapat dicobakan
pada pasien asma yang sulit dterapi. Studi tersebut juga
menunjukkan bahwa alergi jamur penting pada beberapa
pasien dengan asma berat. (EKM)
Referensi :
Barclay L. Severe Asthma With Fungal Sensitization May Respond to Oral
Antifungal Therapy.
http://www.medscape.com/viewarticle/585975?src=mp&spon=38&ua
c=1629AZ. 08/01/2009.
Gray K.A. Antifungals may be useful therapy for severe asthma with
fungal sensitization. Gray Am J Respir Crit Care Med. 2009;179:11-18.
1.
2.
Menurut hasil the Fungal Asthma Sensitization Trial Study yang dilakukan secara acak,
buta ganda dan dengan kontrol yang dilaporkan dalam American Journal of Respiratory
and Critical Care Medicine 1 Januari 2009, sekitar 60% pasien dengan asma berat
dengan sensitisasi jamur (SAFS) berespon terhadap terapi antijamur dengan penurunan
IgE total dan perbaikan rinitis serta aliran respirasi puncak pagi hari. Terapi obat anti jamur
juga dapat memperbaiki kualitas hidup pasien dengan SAFS.
Antijamur Bermanfaat
pada Pasien Asma Berat dengan
Sensitisasi terhadap Jamur