background image
Informatika Kedokteran
Konsep standarisasi protokol
untuk bidang health-care information
Ronald T. Gultom
IT Development Division, PT. Kalbe Farma Tbk - Jakarta
Bidang Pendidikan PIKIN (Perhimpunan Informatika Kedokteran Indonesia)
PENGANTAR
Jika kita menganalisis perkembangan teknologi informasi
di dunia kesehatan, kedokteran dan rumah sakit di Indonesia
saat ini, akan terlihat bahwa konsep standarisasi sudah harus
mulai dipikirkan; andaikata konsepnya memang sudah pernah
dibuat atau dikembangkan di Indonesia maka sudah seharusnya
segera diterapkan khususnya pada kegiatan informatika
kesehatan. Saat ini penggunaan teknologi informasi telah
merupakan suatu keharusan di tiap-tiap institusi, juga di
institusi medis. Ada banyak sekali software aplikasi komputer
yang ditawarkan oleh berbagai software house khususnya di
Indonesia. Dan bisa dikatakan bahwa institusi kesehatan seperti
rumah sakit, poliklinik lebih senang memilih software yang
sifatnya tailor-made (bisa diubah-ubah sesuai kebutuhan)
ketimbang package software (software jadi dan siap pakai)
karena sistem di dalam sebuah institusi kesehatan terkadang
berubah-ubah sesuai keinginan dan ide para owner rumah sakit
atau para praktisi manajemen yang bertanggung jawab di dalam
institusi tersebut. Hal tersebut telah mengakibatkan terciptanya
beragam software aplikasi sistem rumah sakit atau yang dikenal
dengan istilah Hospital Information System atau Medical
Information System atau Health Care Information System.
Secara umum sistem aplikasi tersebut bisa dikatakan sama,
namun jika dilihat lebih detail dan lebih teknis, hampir bisa
dikatakan bahwa semua jenis software aplikasi tersebut
berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan atau permintaan para
owner institusi kesehatan pemakai teknologi informasi tersebut.
Hal ini dapat menimbulkan masalah jika suatu saat institusi
kesehatan tersebut saling bertukar data atau informasi, belum
lagi jika harus bertukar data dengan institusi non-kesehatan,
seperti misalnya dengan perusahaan asuransi, dengan bank dll.
Integrasi sistem demikian akan menjadi sulit apabila tidak ada
standarisasi format pada sistem informasi softwarenya. Itulah
sebabnya kendala-kendala tersebut seringkali diatasi dengan
beberapa konsep dan juga software program "jembatan" yang
akan menjembatani pertukaran data dan informasi di antara
beberapa institusi yang berbeda.
Di dunia IT dikenal istilah EDI (Electronic Data
Interchange). Dalam kegiatan bisnis, keberadaan dokumen
elektronik tidak bisa dihindari. Transaksi ekspor dan impor
(antar negara) sudah sejak lama menggunakan EDI. Hampir
semua negara di dunia menggunakan dan menerima suatu
transaksi yang dilakukan dengan menggunakan EDI, dan media
komputer menjadi suatu pilihan untuk menjadi sarana pertukar-
an data dan informasi demikian. Menurut sebuah sumber
Indonesia sudah menggunakan teknologi EDI sejak sekitar
tahun 1970an. Perkembangan teknologi informasi di masa
depan sudah pasti akan sangat meningkat dan institusi medis
sudah harus mulai meng-antisipasi dan mempersiapkan diri.
Di masa depan bisa dikatakan hampir semua institusi
medis dan perusahaan lainnya akan menggunakan teknologi
informasi sebagai alat dalam setiap segi kegiatan kerja. Coba
bayangkan situasi di masa depan seperti ini, misalnya si Anu
sedang menderita penyakit; dia mengadakan konsultasi online
dari rumah lewat internet ke dokter langganannya yang sudah
menggunakan notebook/laptop agar bisa mobile (telemedicine).
Diagnosis dokter dari hasil tanya jawab tersebut mengharuskan
si Anu masuk ke rumah sakit. Maka si Anu mesti melakukan
pemilihan RS dan pemesanan tempat; dia melakukannya pada
saat itu juga melalui media internet di komputer di mana dia
bisa melihat tempat praktek dokter di tiap-tiap rumah sakit
yang terdaftar di internet. Katakanlah si Anu memilih salah
satu rumah sakit, selanjutnya komputer di RS tersebut dapat
mengontak dan terintegrasi dengan sistem komputer di salah
satu perusahaan asuransi kesehatan untuk pengurusan
pembayaran biayanya. Jika si Anu memerlukan obat atau
peralatan khusus, maka komputer si dokter dapat memberitahu
di apotik mana obat atau peralatan tersebut tersedia. Cerita ini
dapat diperpanjang lagi, namun intinya adalah bahwa satu aksi
dapat memicu berbagai aktivitas lain yang saling berhubungan.
Memang ada banyak aspek yang harus dipertimbangkan agar
integrasi sistem dari banyak institusi dapat terlaksana, mulai
dari penyamaan standar hardware, software, development
tools, operating system, infrastruktur dan lain sebagainya.
Topik yang dibahas di sini adalah standar sistem aplikasi
dan terfokus pada health care information system.
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
59
background image
HL7 - standar di bidang health-care information system
Di Amerika Serikat telah lama dikembangkan konsep
standarisasi yang menunjang integrasi sistem di dalam institusi
medis, namanya HL7 (Health Level Seven), ini adalah salah
satu dari beberapa standar ANSI (American National Standards
Institute), yang telah terakreditasi oleh SDO (Standards
Developing Organizations); standarisasi ini dipakai khususnya
untuk bidang atau area healthcare system. Memang organisasi
SDO lebih banyak mengeluarkan standar (atau yang juga
dikenal dengan istilah protocols atau specifications) khusus
untuk bidang kesehatan seperti farmasi, alat-alat medis,
transaksi asuransi (claim processing) dll. Khusus untuk HL7
bidang yang dikaji adalah administrasi data klinik atau rumah
sakit. Berkantor pusat di Ann Arbor, Michigan USA, HL7
sama seperti kebanyakan organisasi lainnya yang
mengeluarkan kebijakan atau framework adalah organisasi non-
profit atau nir-laba. Angota-anggotanya terdiri dari para
providers, vendors, payers, consultants, government groups
dan lainnya yang memiliki minat dalam mengembangkan dan
meningkatkan standar administrasi untuk healthcare system.
HL7 tidak mengembangkan aplikasi software healthcare atau
hospital information system melainkan hanya mengembangkan
konsep, metodologi, spesifikasi dan standar yang akan
memungkinkan beberapa aplikasi software kesehatan yang
berbeda dapat bertukar data satu dengan yang lainnya. Secara
konseptual hal seperti ini sejak dulu sudah dikenal dengan
istilah Electronics Data Interchange (EDI).
Misi dan tujuan dari HL7
Para anggota organisasi HL7 ini memiliki minat dan misi
yang sama untuk menciptakan suatu standar yang bersifat
universal agar pada saatnya nanti dapat dipakai sebagai acuan
bagi para pengembang software aplikasi healthcare (seperti
Hospital Information System dll) sehingga komunikasi dan
pertukaran data di antara masing-masing aplikasi yang berbeda
strukturnya dapat diakomodasi dengan menggunakan definisi
protokol yang sama - integration of electronic healthcare
information; dengan demikian kelak konsep ini akan dapat
meningkatkan efisiensi dan efektifitas setiap organisasi
kesehatan dalam menyediakan informasi dan pelayanan yang
dibutuhkan oleh para pelanggannya.
Mengapa dinamakan HL7
HL7 atau Health Level Seven maksudnya Layer ke tujuh
dari OSI Model yang diaplikasikan dalam konsep healthcare
system. Penerapan model OSI atau Open System
Interconnection yang mengatur konsep protocol layers terdiri
dari 7 layers. HL7 berada di posisi aplikasi atau di layer ke 7
dan berbasis pada aplikasi healthcare.
· Application (layer 7)
· Presentation (layer 6)
· Session (layer 5)
· Transport (layer 4)
· Network (layer 3)
· Data Link (layer 2)
· Physical (layer 1)
Konsep teknis penerapan HL7
HL7 menerbitkan suatu framework berupa template
struktur data berdasarkan Reference Information Model (RIM)
yang berisi spesifikasi tabel dan field sesuai kebutuhan sistem
administrasi di klinik maupun rumah sakit secara spesifik.
Template tersebut akan dijadikan sumber acuan standar bagi
para pengembang aplikasi software.
· Human-to-Human Communication - templates ini
menyediakan konsep atau struktur bagi suksesnya
komunikasi antar orang dalam suatu institusi ataupun antar
kelompok organisasi yang membutuhkan pertukaran
informasi khususnya informasi dalam bidang medis.
· Constraint and validation of computer-to-computer
messages - templates ini digunakan untuk merancang
validasi atau verifikasi input data dalam suatu medical
system.
· Construction - templates untuk mengarahkan dan
mengatur informasi pada media input data. Selain itu
mendefinisikan field-field apa saja yang dibutuhkan dalam
sebuah informasi data, apa saja tipe datanya, nilai field-
field tertentu dalam sebuah medical system dll.
· Predication - templates untuk memastikan output apa saja
yang dibutuhkan pada suatu sistem atau sub-system
determine, contohnya apa saja yang perlu diinformasikan
berkenaan dengan deskripsi hasil test laboratorium, dan
informasi apa saja yang dapat dimanfaatkan untuk para
pengambil keputusan seperti dokter dll untuk membantu
klien.
· Description - templates ini menjelaskan hubungan antara
elemen yang dapat dilihat dari sebuah sistem.
Memang di Indonesia saat ini penerapan standar
pengembangan aplikasi informasi medis agak sulit
dilaksanakan, karena sangat beragamnya pola dan kebijakan
tiap-tiap institusi dan beragam aplikasi software juga telah
terlanjur dikembangkan dan dipakai. Namun bagaimanapun
juga dalam era globalisasi ini dan era perkembangan teknologi
yang begitu pesat saat ini, kita tidak dapat menghindari adanya
kebutuhan akan standarisasi di segala bidang kerja khususnya
di bidang informatika medis. Apabila hal ini dapat tercapai
maka di masa depan semua praktisi medis dan juga masyarakat
pengguna jasa medis akan mendapat manfaat yang besar baik
dari segi efisiensi maupun efektifitas.
KEPUSTAKAAN
1. http://www.HL7.org
2. http://www.care2x.org
3.
http://www.medlineplus.gov
Cermin Dunia Kedokteran No. 152, 2006
60

Document Outline