UNIVERSITARIA
PEMAKAIAN IRRADIATOR Co--60 untuk
MENSUCIHAMAKAN ALAT--ALAT KEDOKTERAN, SE-
DIAAN FARMASI DAN KOSMETIKA.
Pada tanggal 18--19 Pebruari 1980 di Pusat Penelitian
Tenaga Atom Pasar Jumat, Badan Tenaga Atom Nasional
Jakarta, telah diadakan diskusi panel pemakaian radiasi de-
ngan sinar y Co--60 untuk sterilisasi alat-alat
kedokteran,
sediaan farmasi dan kosmetika, yang mengundang cukup ba-
nyak peminat.
o Dr. Bermansyah (Ka. Unit Akut RSCM). Sekarang ba-
nyak dipakai alat-alat kedokteran sekali pakai
(disposable)
yang telah diradiosterilisasi. Memang alat-alat ini lebih prak-
tis dan harganya jauh lebih murah dari pada alat-alat yang
ulang pakai (nondisposable). Tetapi dalam perhitungan jangka
panjang, alat-alat disposable jatuhnya lebih mahal. Karena itu
terlalu mahal untuk suatu rumah sakit, jika seluruh alat ke-
dokteran diganti dengan alat-alat sekali pakai.
q Dr. Fauzi Sjuib (Lektor Kepala Dep. Fannasi ITB)me-
ngetengahkan bahwa cara-cara sterilisasi konvensional banyak
mempunyai kelemahan. Misalnya,
-- sterilisasi dengan pemanasan tidak dapat diterapkan pada
semua materi, karena ada materi-materi yang tidak tahan
panas.
-- cara tanpa pemanasan, misalnya penyinaran dengan sinar
ultra violet dapat menembus udara dan air, tetapi tidak
dapat menembus materi, sehingga hanya dapat digunakan
untuk mensucihamakan ruangan atau pennukaan yang rata.
--juga mensucihama dengan proses kimia, misalnya dengan
etilen-dioksida (ETO) kurang baik, karena selain daya pene-
trasi kurang, juga ada bahaya ledakan serta adanya sisa-
sisa yang beracun. Sedangkan sterilisasi dengan cara radiasi
dengan sinar y yang dihasilkan oleh Co--60 memberikan
harapan yang lebih baik, karena antibiotika, vitamin, lemak
dan zat-zat lain tidak rusak oleh penyinaran tersebut.
q
Dr. Pratiwi Sapto (Puslit Tenaga Atom Ps. Jumat), me-
ngemukakan segi kimia dari radiasi dengan sinar y, yakni a.I.
bahwa radiasi berenergi tinggi menyebabkan ionisasi dan ek-
sitasi serta pembentukan radikal-radikal. Dalam hal Materi
yang dilarutkan dalam air atau yang mengandung air, maka
air tersebut yang pertama-tama diradiolisa, sehingga terbentuk
radikal-radikal yang kemudian bersenyawa dengan materi.
Karena itu materi yang mengandung air tidak dapat di-
radiosterilisasi.
q
Dr. Moh Ridwan (Direktur Puslit Tenaga Atom Ps.
Jumat) mengatakan, bahwa di banyak negara sudah dipakai
irradiator Co--60 untuk mensucihamakan alat-alat kedokteran,
karena dibanding dengan cara konvensionil, maka cara radiasi
pengion mudah dilaksanakan, mudah dikendalikan, tidak
memberi residu dan harga dapat bersaing. Selain itu, semua
bahan dan bentuk dapat disuci hamakan dengan sinar y
Co--60, dan akan memberikan hasil yang lebih meyakinkan
dari pada tehnik-tehnik konvensionil.
q
Dra. Nazly Hilmy (Puslit Tenaga Atom Ps. Jumat)
mengatakan bahwa dosis radiasi tergantung dari :
-- angka kuman awal
-- tujuan radiasi : untuk mensuci hamakan (radiosterilisasi)
atau untuk menurunkan angka kuman (radiopasteurisasi)
--jenis materi
SIMPOSIUM NYERI KEPALA
KRONIK
Jakarta, 26 Januari 1980.
Tidak salah apa yang dikatakan Prof. Mahar Mardjono
bahwa nyeri kepala merupakan salah satu keluhan yang paling
sering dijumpai dalam praktek dokter. Masalah ini demikian
menariknya bagi kalangan kedokteran sehingga jauh-jauh
hari sebelum tanggal pendaftaran ditutup, jumlah peserta
telah melebihi target yang ditentukan, 300 orang.
· Prof. Dr. Mahar Mardjono, Sesepuh Bagian Neurologi
RSCM, menekankan bahwa sebagai titik tolak hendaknya
tiap jenis nyeri kepala dianggap mempunyai dasar organik,
meskipun pada sebagian terdapat juga faktor-faktor psikogen
sebagai etiologi. Sebagian besar kasus-kasus nyeri kepala me-
mang tidak akan dapat ditentukan dengan pasti sebab-sebab-
nya, namun dengan anamnesa yang cukup mendalam dan pe-
meriksaan teliti pada sebagian dapat dibuat diagnosa dan
ditemukan atau diduga etiologinya.
DaIam menyusun riwayat penyakit, perlu ditanyakan:
Iamanya menderita nyeri kepala. Nyeri kepala yang.sudah
diderita puluhan tahun biasanya tidak membahayakan. Seba-
liknya nyeri yang datang mendadak, lebih-lebih kalau disertai
penurunan kesadaran atau kelainan neurologik, mungkin
merupakan gejala meningitis atau perdarahan subarakhnoid.
Nyeri kepala yang baru beberapa hari, minggu, atau bulan,
sulit dievaluasi, mungkin berbahaya mungkin tidak.
Prof.
Dr. Mahar Mardjono : Hendaknya tiap jenis
nyeri kepala dianggap mempunyai dasar organik. "
56 Cermin Dunia Kedokteran No.18, 1980
Yang juga perlu ditanyakan ialah: frekuensi dan lama se-
rangan nyeri kepala, tempat rasa nyeri (aneurisma A. carotis
interna menyebabkan rasa nyeri di belakang satu mata), dan
kualitas nyeri kepala (berdenyut, seperti diikat, pegal, atau
seperti ditusuk). Waktu timbulnya nyeri kepala juga perlu
diperhatikan. Nyeri kepala pada pagi hari yang berkurang atau
hilang bila penderita mulai kegiatan sehari-hari sering meru-
pakan petunjuk hipertensi.
Sebaliknya nyeri--kepala-tegang
makin berat sepanjang hari. Perlu juga ditanyakan gejala-gejala
iringan, faktor yang menimbulkan, menambah atau meringan-
kan nyeri (misalnya batuk atau bersin dapat menambah
rasa nyeri kepala vaskuler intrakranium), serta riwayat kelu-
arga.
Prof. Mahar juga menekankan pentingnya dokter umum
menguasai pemeriksaan funduskopi, rinoskopi dan otoskopi,
untuk mengetahui adanya papiledema, kelainan pada hidung
telinga. Mengenai pemeriksaan EEG, dinyatakan bahwa ke-
mungkinan untuk menambah keterangan dalam menegakkan
diagnosa sangat terbatas; tapi untuk diagnosa epilepsi, atau
untuk menambah keterangan mengenai lokasi suatu proses
ekspansif intrakranium, EEG sangat bermanfaat.
dr. Soemarmo Markam
membahas fisiologi nyeri.
Diuraikannya alat-alat yang peka nyeri di kepala leher;
indera yang menangkap rasa nyeri dan saraf penghantar rasa
nyeri; teori-teori persepsi nyeri; serta penyebab dan mekanis-
me timbulnya rasa nyeri. Mengenai teori persepsi nyeri,
disebutkan bahwa ada tiga teori, (1) teori spesifik, (2) teori
pola, dan (3) teori kontrol gerbang (Melzack Wall) yang
merupakan sintesis teori spesifik dan teori pola.
dr. Soemargo S. membahas penatalaksanaan nyeri
kepala. Mula-mula diuraikannya klasifikasi nyeri kepala diser-
tai gejala atau tanda tandanya. Seperti Prof. Mahar, dr. Soemar
go juga menekankan pentingnya anamnesa. Oleh karena itu
waktu mengambil anamenesa, kita harus sudah mempunyai
suatu konsep pertanyaan-pertanyaan yang sudah dipersiapkan
secara khusus.
Mengenai pemeriksaan punksi lumbal, dia mempunyai
pengalaman yang menarik di Bagian Neurologi RSCM. Telah
beberapa kali ditemukan kasus-kasus dengan nyeri kepala
berat yang timbulnya akut tanpa tanda-tanda lain dari meni-
ngitis, namun pada pungksi lumbal ditemukan pleositosis;
penderita-penderita tsb. sembuh dengan pemberian antibioti-
ka.
Dia menganjurkan agar setiap penderita nyeri kepala
kronik dibuat foto kepala. Tidak jarang ditemukan kelainan-
kelainan di luar dugaan seperti adanya sinusitis destruksi
tulang karena metastasis tumor.
Pembahasannya diakhiri dengan diagnosa diferensial
berbagai nyeri kepala secara men-detail.
Prof. Dr. B. Chandra, dari Bagian Neurologi Universitas
Airlangga, satu-satunya pembicara dari luar Fakultas Kedokter-
an UI/RSCM, membicarakan masalah vertigo. Rasa pusing
dapat merupakan bagian dari suatu kelompok gejala suatu
penyakit umum, tetapi dapat juga berdiri sendiri dan bertin-
dak sebagai keluhan utama. Orang awam kadang-kadang
mempergunakan istilah pusing bila pikirannya bingung, ada
yang mengartikannya sebagai perasaan ringan di kepala seakan-
akan hendak jatuh pingsan, ada juga yang mencampur aduk-
annya dengan nyeri kepala.
Prof. Dr. B. Chandra : " Penyebab vertigo terbanyak
adalah kelainan di vestibulum. "
Penyebab rasa pusing beraneka ragam. Tapi ia memberi-
kan pedoman yang mudah untuk mengingatnya, yaitu dari
ketujuh huruf yang membentuk kata VERTIGO. Penyebab
vertigo terbanyak adalah di V (Vestibulum), akibat penyakit
Meniere, perdarahan, atau kelainan vaskuler. E (Eight Nerve)
dapat terganggu karena radang atau tumor. R (Fonnatio
Reticularis). T (Tabes dorsalis). I(Imaginasi ) atau karena gang-
guan psikik. G (Generalized), penyakit sistemik yang berat.
O(Optalmologik) yaitu diplopia, kelainan lensa yang berat,
atau karena gerakan optokinetik. Seperti halnya penatalak-
sanaan nyeri kepala, setiap penderita pusing harus dianam-
nesa dengan teliti.
Menurut Prof. Chandra, yang masih dapat dilakukan
oleh dokter umum dalam kasus ini ialah (1) mengambil anam-
nesa yang teliti, (2) pemeriksaan intern., (3) pemeriksaan
neurologik, (4) percobaan Romberg (5) percobaan Unterber-
ger, (6) percobaan menulis (Vertical writing test menurut
Fukuda), dan (7) percobaan Nylen-Barany. Percobaan-perco-
baan dan pemeriksaan lain sebaiknya dilakukan di rumah sakit.
Terapi dan prognosis tergantung kausanya. Terapi
simptomatik dapat berupa sedativa (fluphenazin, haloperidol),
antihistamin (dimenhidrinat), vasodilator (Stugeron, Merislon).
Bila terdapat hidrops vestibulum diberikan diuretika.
dr. Wahjadi D., dari Bagian Psikiatri RSCM mengingat-
kan bahwa diagnosa per exclusionem tidak dapat dipertang-
gungjawabkan. Tidak ditemukannya kelainan fisik pada pasi-
en belum
nterupakan dasar yang cukup untuk menyimpul-
kan bahwa gejala-gejalanya -mempunyai dasar psikiatrik.
Sebaliknya adanya faktor emosional tidak berarti gangguan
fisik dapat diabaikan.
dr. Sardjono O.S. membahas obat-obat yang dapat di-
gunakan pada nyeri kepala kronik. Pada prinsipnya kita harus
menggunakan obat secara (1) rasional, (2) menimbang keun-
tungan dan kerugian penggunaan suatu obat dan memilih obat
yang terjangkau daya beli penderita, (3) mengingat kemung-
kinan interaksi obat, dan (4) memperhatikan kemungkinan
ketergantungan obat akibat pemakaian jangka panjang. Obat
yang dipergunakan pada nyeri kepala kronik ada beberapa ma-
cam, yaitu analgesik, alkaloid ergot, antiserotonin, antidepre-
san (karbamazepin), dan obat penenang.
Cermin Dunia Kedokteran
No.18, 1980
57
dr. Sidiarto K. menyatakan bahwa dari semua jenis
nyeri kepala, migren paling lama dan banyak diteliti orang.
Dalam usaha menolong penderita migren, kita harus meng-
ingat kaidah bahwa
"
To cure seldom, to relieve often, and
to comfort always
"
(Oliver W. Holmes). Ada empat jenis mi-
gren, (1) migren klasik, (2) migren umum, (3) cluster heada-
che, dan (4) migren oftalmoplegik dan hemiplegik. Untuk
membedakannya perlu diketahui
(a) intensitas, sifat dan
lama serangan nyeri kepala; (b)
menonjol tidaknya gejala
gastrik (anoreksia, nausea), (c) gejala progroma (aura), (d) ri-
wayat keluarga, (e) faktor presipitasi.
Sebagai contoh migren klasik nyeri kepalanya unilateral,
maksimal 6 jam. Migren umum dapat bilateral dan mungkin
berlangsung lama. Pada migren klasik sering ada riwayat
keluarga dari pihak ayah, sedang pada migren umum dari
pihak ibu. Cluster headache intensitasnya sangat hebat tapi
berlangsung relatif singkat.
Mengakhiri pembicaraannya, dikutipkannya aksioma
Charles G. Reul (1971) yang mungkin bennanfaat bila dikutib
sekali lagi di sini, yaitu:
hipertensi tanpa komplikasi jarang merupakan penyebab nyeri
kepala.
nyeri kepala jarang disebabkan oleh kelainan mata.
-
nyeri kepala yang muncul pertama kali pada usia lanjut sangat
mungkin bukan disebabkan oleh migren, ketegangan otot, atau
gangguan emosional primer.
-
nyeri kepala yang makin berat bila minum alkohol biasanya mi-
gren.
-
nyeri kepala yang berkurang bila minum alkohol biasanya nyeri-
kepala -- tegang.
nyeri kepala yang tidak berhenti-henti selama berbulan-bulan,
bila pemeriksaan neurologik normal, disebabkan oleh mekanisme
psikofisiologik dan bukan tumor otak seperti sering ditakutkan
pasien.
-
nyeri kepala yang menyebabkan insomnia berkepanjangan,
mempunyai aspek dominan depresi dan ansietas.
dr. Sujawan, berbicara mengenai nyeri kepala tegang
otot, menyatakan bahwa otot mungkin terus menerus mene-
gang karena (1) adanya stimuli noksi, ialah rangsangan terus
menerus pada otot kepala, leher atau bahu yang mungkin
disebabkan oleh trauma atau infeksi pada otot itu atau pada
gigi, mata, sinus dsb., (2) ada pekerjaan yang memaksa otot
kepala, leher, dan bahu terus menerus berkontraksi, misalnya
mengetik, mengecat dsb., (3) gangguan psikik dapat menim-
bulkan kontraksi terus menerus meskipun mekanismenya
belum jelas. Ini paling sering dijumpai dalam praktek.
Biasanya diagnosa sudah dapat ditegakkan dengan
anamnesa. Nyeri kepala biasanya telah didetita lama, lebih dari
dua tahun, bertambah nyeri menjelang siang hari dan berku-
rang sesudah beristirahat, sifat nyeri tidak berdenyut, kebas
(dull pain) terutama di bagian depan dan belakang kepala
secara simetrik.
Banyak penderita tidak sampai berobat ke dokter.
Umumnya mereka telah mencoba menanggulangi sendiri
dengan berbagai analgetika yang dijual bebas, dengan pijit dan
kerokan. Sebagian, yang tidak dapat mengatasinya berobat ke
dokter.
dr. Idris H.M. menguraikan masalah neuralgia kranialis.
Neuralgia trigeminal dan neuralgia glossopharyngeal umumnya
idiopatik. Pada kedua neuralgia ini kadang-kadang dijumpai
"
trigger
zone", yaitu bagian tubuh yang dengan sentuhan
ringan saja dapat menimbulkan serangan nyeri hebat. Pengobat
an dapat berupa (i) medikamentosa, yaitu fenitoin, karbamaze-
pin, atau kombinasi keduanya; (ii) penyuntikan alkohol pada
saraf atau ganglion; (iii) operasi.
Pengobatan neuralgia post herpetikum belum ada yang
cukup memuaskan. Tapi fenitoin dan karbamazepin kadang-
kadang dapat menolong. Ada juga yang mencoba mengguna-
kan antidepresan (amitriptilin dsb.) atau fenotiazin atau
kombinasi keduanya. Hasil -hasilnya diberitakan cukup memu-
askan. Penyuntikan alkohol biasanya hanya menyembuh-
kan sementara, demikian juga tindakan operasi. Ada percoba-
an lain yang mengombinasikan antidepresan dengan fisiote-
rapi dengan hasil 90% berhasil.
· dr. SM Lumbantobing menyatakan bahwa mengambil
anamnesa dari anak kecil memang sulit karena kurangnya ko-
munikasi. Kadang-kadang
aloanamnesa pun tidak banyak
membantu. Karena itu yang harus dilakukan adalah pemerik-
saan yang teliti. Pembicara menyatakan juga bahwa migren
tidak jarang dijumpai pada anak. Kira-kira 5% dari anak per-
nah menderitanya. Pada anak yang berumur kurang dari
dua tahun manifestasi migren dapat berupa serangan oftalmo-
plegia, mengenai otot yang disarafi oleh N III satu sisi, dan
berlangsung beberapa jam sampai beberapa hari. Sering juga
disertai muntah-muntah dan pucat.
Serangan migren pada anak usia prasekolah biasanya
berupa sakit perut atau muntah yang datang mendadak.
Serangan oftalmolegia dan vertigo dapat menyertainya. Pada
anak yang berusia lebih tinggi gambaran klinik berubah secara
lambat laun, berubah dari gejala perut menjadi nyeri kepala
sebagai gejala utama.
Serangan migren
dapat diatasi dengan analget
i
k dan
antiemetik. Pada kebanyakan anak tidur beberapa jam sering
cukup untuk mengatasi serangan akut. Preparat ergotamin
jarang dibutuhkan. Untuk maintanance (anak yang membutuh-
kannya tidak banyak) dapat dipakai fenobarbital, fenitoin
atau karbamazepin.
Mengenai nyeri kepala tegang otot dikatakannya bahwa
biasanya penderitanya anak yang lebih besar, berusia 10 tahun
atau lebih. Gangguan belajar, persaingan sesama
saudara,
dorongan orang tua yang melampaui batas kemampuannya,
dapat menyebabkan timbulnya keadaan ini.
Kalau boleh memberi sedikit kritik atas siniposium
ini, salah satu kekurangannya ialah banyaknya tumpang tin-
dih (overlapping) masalah yang dibahas para pembicara. Ini
memang sulit dihindarkan karena masalah yang dibahas me-
mang hanya satu -- nyeri kepala.
Juga perlu diperhatikan bahwa huruf-huruf pada
slide
harus cukup besar untuk dapat dibaca peserta yang duduk di
belakang. Untuk mempertahankan komunikasi antara pembi-
cara dan pendengar, pendengar harus dapat melihat si pembi-
cara. Untuk suatu ruangan yang datar sering diperlukan pang-
gung yang
cukup tinggi
agar pendengar yang duduk paling
belakang dapat melihat wajah pembicara.
Secara umum dapat dikatakan bahwa simposium ini
telah berjalan dengan memuaskan.
58 Cermin
Dunia Kedokteran
No.18, 1980