parasitologists now consider that the source of the original
specimens of S. incognitum was really of porcine origin.
2).The distribution of classical S. japonicum is li mited to
the distribution of O. hupensis and this species is very fasti-
dious in its ecological requirements. On the othcr hand,
S. incognitum which is adapted to ubiquitous lymnaeid snails
potentially has a much larger distribution in Asia and else-
where than classical S. japnnicum because of the latter snail s
dependece on O. hupensis for transmission.
lf these sympathic schistosomes which share the same
definitive hosts in the same geographic region of Indonesia
hybridize successfully, the result could be offspring capable
of infecting humans yet also capable of utilizing mollusks
such as lymnaeids. ln that event human schistosomiasis could
become a problem throughout all of Asia.
S. japonicum and S. incognitum share the same geographic
area and hosts in two areas of Central Sulawesi - the Lindu and
Napu Valleys. There, Rattus exulans have been found infected
with both schistosomes. ln two cases both schistosomes
species were concurrently found in the same rodent and in
one of these cases a heterologous pair- a S. incognitum male
and a S. japonicum female were found in copula. Subsequen-
tly, this same phenomenon was observed in experimental
animals. Laboratory mice were exposed to 50 S. incognitum
cercariae from West Java and challenged with 50 S. japonicum
cercariae from Central Sulawesi 40 days later. When perfused
48 days after challenge female S. incognitum were found in
the gynecophoral canal of S. japonicum males and vice versa.
Heterologously paired females of both species contained eggs
which, as would be expected, were of maternal origin. The
viability of these eggs regrettably was not determined. Thus,
even though these two mammalian schistosomes have been
isolated through a high level of intermediate host specificity,
their sympatric distribution, both geographically and in
regards at least some definitive hosts, presents a natural
opportunity for recombination of genes that may favorably
affect the hybrid s ability to infect a wider range of interme-
diate or definite host. As far human health is concerned the
most dangerous hybrid would be a schistosome capable of
infecting man that was transmitted through lymnaeid snails.
Schistosomes, like all forms of life, continually adapt to
changes in their environment to survive. It is not unreasonable
to assume that their ability to cycle through humans in
addition to other mammals would enhance their chance of
perpetuating themselves in rice growing areas of Asia.
SUMMARY
As we can see from today s discussion schistosomiasis
in lndonesia is not as simple as one might suppose. There
are most likely a number of unidentified schistosomes in the
lndonesian archipelago. In regard to human health the primary
concern is classical Oriental schistosomiasis which is presently
limited to two remote mountain valleys of Central Sulawesi.
It is of utmost importance that a rational control or eradica-
tion program be developed in the near future before economic
exploitation of Sulawesi spreads this disease to other areas.
The second public health concern involves schistosomes of
mammals other than man which may adapt themselves such
that they exploit or utilize the human population in areas
where they are now enzootic for their own survival. Obviously
thc evolutionary stage is set for them to do so. lf this occurs
schistosomiasis in lndonesia could become a major public
health problem. However, with determined efforts classical
schistosomiasis can be controlled and possibly eradicated
from lndonesia. Indonesia, in this case, would be the first
country in the
world to accomplish such an objective, and
of any country
where schistosomiasis is currently endemic,
Indonesia has the
best opportunities of eradicating this
disease. Further, continued monitoring of animal schistoso-
mes throughout the archipelago can provide a sufficient
early warning system in the event zoophilic schistosomes
take a liking to man and become anthropophilic.
V.
CACING USUS
Pengobatan Massal lnfeksi Cacing Usus
dengan Pyrantel Pamoate pada Anak SD
di Yogyakarta
Noerhayati Soeripto , Soegeng Yuwono M , Cholid Baid-
lowi , Prayitno , Soetrisno Eram , Soelarno .
Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM, P3M Dinas
Kesehatan Propinsi DIY
PENDAHULUAN
Jalan yang paling cepat untuk menanggulangi dan mem-
berantas parasit adalah memutuskan lingkaran hidupnya.
Pada keadaan infeksi cacing usus yang ditularkan melalui
tanah ("Soil transmitted helminths") termasuk :
Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, cacing tambang dan
Strongyloides stercoralis,
cara-cara yang dapat diterapkan
untuk memutuskan lingkaran hidup mereka dapat berupa :
1. Pengobatan
masal
berulang-ulang (secara
periodik)
terhadap penduduk yang terkena infeksi untuk meng-
hilangkan cacing dari dalam tubuh mereka.
2. Perlakuan atau pengobatan terhadap kotoran tinja
untuk membunuh telur cacing maupun larva.
3. Tindakan menghilangkan telur cacing atau membuat
agar telur menjadi inaktif dari dalam makanan atau
sayur-sayuran.
Namun di antara hal-hal tersebut di atas, pengobatan masal
berulang-ulang telah diakui sebagai penyangga utama ("The
main pillar") tempat bersandarnya usaha penanggulangan
atau pemberantasan infeksi Ascaris dan cacing tambang (1).
Di dalam masyarakat, terutama di daerah pedesaan, peng-
obatan masal diberikan dengan tujuan untuk mengurangi
jumlah cacing yang dapat menghasilkan telur, sehingga dengan
demikian dapat mengurangi kesempatan terjadinya reinfeksi.
Di Indonesia, meskipun prevalensi cacing yang ditularkan
6 3
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
melalui tanah di antara penduduk pada berbagai golongan
umur cukup tinggi, dapat mencapai 90% atau lebih, tetapi
karena terbatasnya biaya, sarana dan personil, program pem-
berantasan cacing ini belum mendapatkan prioritas. Pada saat
ini yang dilaksanakan adalah program pemberantasan terbatas
dengan mengambil sasaran utama daerah produksi vital seperti:
perkebunan, pertambangan dan transmigrasi, dan telah dilaku-
kan sejak tahun I975.
Adapun obat yang digunakan adalah pyrantel pamoate
yang dianggap cukup efektif, aman dan mudah cara pemb-
beriannya (2).
Di samping pengobatan masal, program pemberantasan
cacing di lndonesia tersebut disertai dengan usaha perbaikan
higiene sanitasi dan penyuluhan kesehatan masyarakat.
Meskipun hasil-hasil pemberantasan
maupun penelitian
pengobatan cacing usus telah banyak dilaporkan dari beberapa
daerah di Indonesia, namun sekedar untuk menambah data,
telah pula dicoba pengobatan masal terhadap infeksi cacing
usus dengan pyrantel pamoate dosis tunggal 10 mg/kg berat
badan, pada anak SD di Yogyakarta. Penyelidikan dilakukan
di dua daerah kecamatan, dengan frekuensi dan jarak peng-
obatan yang berbeda.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian telah dilakukan oleh Bagian Parasitologi Fakultas
Kedokteran UGM bekerja sama dengan P3M Dinas Kesehatan
Propinsi Daerah lstimewa Yogyakarta, sejak tahun I976
sampai dengan I979.
Dua daerah yang diambil sebagai daerah penelitian adalah :
I. Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa
Yogyakarta.
Daerah ini terletak di sebelah utara kotamadya Yogyakarta,
di sebelah barat dibatasi oleh Kabupaten Kulon progo dan
Karesidenan Kedu, di sebelah utara oleh Karesidenan Kedu
dan Karesidenan Surakarta, Propinsi Jawa Tengah. Sedang-
kan di sebelah timur berbatasan dcngan Karesidenan
Surakarta dan sebelah selatan dengan Kabupaten Bantul.
II. Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa
Yogyakarta, terletak di sebelah selatan kotamadya Yog-
yakarta dan Kabupaten Sleman. Di sebelah barat berbatasan
dengan Kabupaten Kulonprogo, di sebelah timur dengan
Kabupaten Gunung Kidul dan Karesidenan Surakarta,
dan selatan dengan Samudera Indonesia. (Gambar I)
Kedua daerah tersebut merupakan daerah pedesaan, di mana se-
bagian besar tanah digunakan untuk pertanian terutama persa-
wahan.
CARA KERJA
I . Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman
Sejumlah I.729 anak berasal dari 7 buah Sekolah Dasar
di Sleman, masing-masing adalah : SD Sleman I sampai dengan
V, SD Medari dan SD Ngangkrik, telah diberikan pengobatan
terhadap cacing usus dengan pyrantel pamoate (Combantrin).
Obat diberikan langsung oleh petugas dari tim penelitian
dengan dosis tunggal I0 mg/kg berat badan berbentuk tablet
a 125 mg pyrantel pamoate pada bulan September I976.
Berdasarkan atas periode prepatent dari cacing yang di-
tularkan melalui tanah tersebut, yaitu kira-kira 5 - 6 minggu
untuk cacing tambang, 7 minggu untuk A. lumbricoides dan
10 minggu untuk
T.
trichiura (3), maka pada penelitian ini,
dalam periode Agustus I976 - Maret I977, telah dilakukan
3 kali pengobatan dengan jarak 2 bulan.
Sebelum pengobatan pertama , diambil sampel seeara
random dari semua anak SD yang akan mendapat pengobatan
sebanyak 397 orang (± 20%), untuk diadakan pemeriksaan
tinja dengan cara sediaan tebal Kato dan biakan modifikasi
cara Harada Mori.
Pemeriksaan tinja ulangan dilakukan pada bulan Maret
1977 sesudah 3 kali pengobatan dengan cara yang sama.
Jumlah anak yang diperiksa berkurang menjadi 32I orang,
disebabkan karena anak SD kelas V1 yang telah lulus ujian dan
anak SD kelas I yang baru, tidak diikutsertakan pada
peme-
riksaan.
Kadar hemoglobin (Hb) dari kelompok sampel anak yang
sama telah diukur dengan cara Cyan-methemoglobin sebelum
pengobatan pertama dan sesudah pengobatan ketiga.
II. Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul
Sejumlah 19 Sekolah Dasar di Banttil terdiri atas SD Jara-
kan I sampai dengan III, Blunyahan I sampai dengan II,
Ccpit I sampai dengan V, Wodjo I dan Il, Sewon I dan II,
Timbulhardjo I sampai dengan III, SD Manggung dan SD
Gandok telah digunakan sebagai arena penelitian.
Pengobatan dengan pyrantel pamoate dengan cara seperti
apa yang telah dilakukan di Sleman, diberikan pertama-tama
pada bulan Agustus I977 kepada sejumlah 5.136 anak.
Berdasarkan atas laporan Noerhayati S et aI (4) yang menyata-
kan bahwa angka reinfeksi Ascaris sesudah 6 bulan pengobatan
cukup tinggi, ialah sebesar 53,9%, maka pada penelitian ini
jarak pengobatan diambil
6 bulan.
Dalam periode Agustus 1977 - Maret 1979 diberikan
4 kali pengobatan. Sebelum pengobatan pertama (periode I),
pemeriksaan tinja den gan cara sediaan tebal Kato dan hiakan
modifikasi cara Harada Mori dilakukan terhadap 360 anak
(kira-kira 7,5%) yang diambil secara random dari semua anak
( yang akan mendapat pengobatan ).
Pemeriksaan tinja ulangan dilakukan pada bulan Maret
I978 sesudah 2 kali pengobatan (periode II) dan pada bulan
Maret I979 sesudah 4 kali pengobatan (periode III). Jumlah
anak yang diperiksa pada periode II hanya 252 orang, karena
anak kelas VI yang telah lulus dan anak kelas I yang baru
masuk tidak diikutsertakan. Sedangkan pada periode peme-
riksaan III , disebabkan karena adanya perubahan kurikulum
pendidikan di mana kenaikkan kelas dan ujian diundur selama
6 bulan menjadi kira-kira bulan Juni 1979, maka jumlah anak
yang diperiksa tidak mengalami perubahan.
HASIL PENELITIAN
A. Prevalensi cacing usus sebelum pengobatan
I.
Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman.
Prevalensi
A.
lumbridoides ditemukan sebesar 84,2% dan
T.
trichiura 85,I%.
Infeksi cacing tambang sebesar I6,4% bilamana pemeriksaan
tinja hanya dengan cara Kato, dan 30,3% bilamana dengan
pemeriksaan cara Kato dan biakan modifikasi cara Harada Mori..
Perbedaan prevalensi cacing tambang tersebut sangat ber-
makna (X
2
= 21,32 : P< 0,0I).
Simposium Masalah Penyakit Parasit
6 4
Rata-rata jumlah telur per gram tinja per penderita adalah
sebesar 8.273, 334 dan 54 masing-masing untuk infeksi A.
lumbricoides,
T. trichiura
dan cacing tambang (Tabel I).
Pada Tabel 2 dan 3 dapat dilihat bahwa distribusi infeksi
cacing usus menurut umur 5 tahun - 14 tahun dan menurut
jenis kelamin tidak ada perbedaan yang nyata.
Infeksi cacing tambang ditemukan lebih banyak pada anak
laki-laki (33,5%) daripada anak perempuan (26,4%), tetapi
perbedaan ini juga tidak bermakna (X
2
= 2,37 ; P> 0,05).
11.
Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.
Prevalensi A.
lumbricoides
ditemukan 76,4% dan
T. trichiu-
ra 91,7%.
Sedangkan infeksi cacing tambang bilamana dengan peme-
riksaan tinja cara Kato ditemukan sebesar I3,6%, dan bilama-
na dengan cara Kato dan biakan modifikasi Harada Mori sebesar
4I,4%. Perbedaan ini sangat bermakna (X
2
= 69,66; P< 0,01).
Rata-rata jumlah telur per gram tinja per penderita
A. lumbri-
coides
sebesar 4.806, T.
trichiura
588 dan cacing tambang
29 (Tabel 4).
Distribusi cacing usus menurut umur 5 tahun - I4 tahun dan
menurut jenis kelamin tidak banyak berbeda. Cacing tambang
lebih banyak ditemukan pada anak laki-laki (44,4%) dari pada
anak perempuan (38,2%), tetapi perbedaan ini tidak bermakna
(X
2
= I,438 ; P>0,05). (Tabel 5 dan Tabel 6).
Tabel 1. Prevalensi dan intensitas infeksi cacing usus pada anak
SD di Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta
(sebelum pengobatan, Agustus 1976).
Cacing usus
Jumlah pos.
% pos.
Rata-rata
jumlah telur
per gram tinja
per penderita.
A.lumbricoides
334
84,2
8.273
T. trichiura
338
85,1
334
Cacing tambang
65
16,4
54
120
30,3
Jumlah
397
Pemeriksaan tinja cara Kato
Pemeriksaan tinja cara Kato dan biakan Harada Mori.
Tabel 2 : Prevalensi cacing usus pada anak SD di Keeamatan Sleman
Kabupaten Sleman Yogyakarta, menurut golongan umur
( sebelum pengobatan, Agustus 1976 ).
Golongan umur Jumlah tinja
C a e i n g
u s u s
dalam tahun
diperiksa
A. lumbricoides
T. trichiura Cacing tam-
bang.
Jumlah
%
Jumlah % Jumlah
%
pos
pos.
pos. pos.
pos.
pos.
5- 9
133
104
78,2
111
83,5 40
30,1
10 - 14
262
228
8T.,0
225
85,9 80
30,5
I5 +
2
2
100,0
2
100
0
0
Jumlah
397
334
338
I20
30,3
Pemeriksaan tinja cara Kato dan biakan modifikasi Harada Mori.
Tabel 3
Prevalensi cacing usus pada anak SD di Kecamatan Sleman
Kabupaten Sleman, Yogyakazta, menurut jenis kelamin
( sebelum pengobatan, Agustus I9T.6 ).
Jenis kelamin Jumlah tinja
C a e i n g
u s u s
diperiksa
A.lumbricoides T.trichiura Cacing tambanp
Jumlah
%
pos
pos
Jumlah
% Jumlah
%
pos.
pos.
pos.
pos.
Laki-laki
Perempuan
215
182
179
83,3
155
85,2
183
85,
1
T.2
33,5
155
85,2
48
26,4
Jumlah
39T.
334
84,2 338
85,1 120
30,3
Pemeriksaan tinja cara Kato dan biakan modihkasi Harada Mori.
Tabel 4 : Prevalensi dan intensitas infeksi cacing usus pada anak SD
di Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Yogyakarta
( sebelum pengobatan, Agustus 1977 ).
Cacing usus
Jumlah pos.
% pos.
Rata-rata
per
per
jumlah telur
gram tinja
penderita.
A.lumbricoides
275
76,4
4.806
T. trichiura
330
91,7
588
Cacing tambang
49
13,6
29
149
4
1,4
Jumlah tinja diperiksa 360.
Pemeriksaan tinja cara Kato
Pemeriksaan tinja cara Kato dan modifikasi Harada Mori.
Tabel 5 : Prevalensi eacing usus pada anak SD di Kecamatan Sewon,
Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menurut golongan umur
( sebelum pengobatan, Agustus 1977 ).
Golongan umur Jumlah tinja
C a c i n g
u s u s
dalam tahun
-
diperiksa
A.lumbricoides T.trichiura Cacing tambang
Jumlah
% Jumlah
%
Jumlah
%
pos.
pos.
pos.
pos.
pos.
pos.
5 - 9
124
90
T.2,6
113
91,1
59
47,6
10 - 14
233
113
78,5 215
91,8
88
37,8
I5 +
3
2
66,7
2
66,7
2
66,7
Jumlah
360
275
76,4 330
91,7
149
41,4
Pemeriksaan tinja cara Kato dan biakan modifikasi Harada Mori.
B. Hasil pengobatan
I. Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman
Selama periode Agustus I976 - Maret 1977 (± 7 bulan),
setelah 3 kali pengobatan masal dengan pyrantel pamoate
I0 mg/kg berat badan dengan jarak pengobatan 2 bulan,
terjadi penurunan prevalensi yang cukup besar terutama untuk
A. lumbricoides
dan cacing tambang.
65
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Prevalensi
A.
lumbricoides
sebelum pengobatan sebesar 84,2%
turun menjadi 9,0%, sedangkan cacing tambang dari 30,3%
menjadi 5,0% sesudah 3 kali pengobatan. Berarti terjadi
penurunan prevalensi sebesar 89,3% dan 83,5% masing-masing
untuk
Ascaris
dan cacing tambang. (Tabel 7).
Pada Tabel 8 terlihat bahwa rata-rata jumlah telur per gram
tinja per penderita
A.
lumbricoides
sebelum pengobatan
sebanyak 8.273, menjadi 1.677 dan cacing tambang dari 54
menjadi 27 setelah pengobatan. Terhadap
T.
trichiura,
pyran-
tel pamoate tidak efektif.
Di antara 120 penderita positif infeksi cacing tambang yang
dapat diperiksa darahnya dengan cara Cyanmethemoglobin
sebelum dan sesudah 3 kali pengobatan hanya 88 anak.
Rata-rata kadar hemoglobin (Hb) dari 88 anak sebelum peng-
obatan sebesar 10,479 g%. Sesudah tiga kali pengobatan, 81
anak di antaranya menjadi negatif cacing tambang dengan
rata-rata Hb 11,409 g%.
Kenaikan kadar Hb tersebut sangat bermakna (t=3,263 P<0.01).
II.
Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul.
Dalam periode Agustus 1977 - Maret 1979 (19 bulan) telah
diberikan 4 kali pengobatan masal dengan pyrantel pamoate,
dengan jarak pengobatan 6 bulan. Hasil pemeriksaan tinja pada
bulan Maret 1978 sesudah 2 kali pengobatan (periode II)
dan Maret 1979 sesudah 4 kali pengobatan (periode III) dapat
dilihat pada Tabel 9.
Infeksi
A.
lumbricoides
sebelum pengobatan (periode I)
sebesar 76,4% turun mencapai 28,6% setelah 2 kali pengobatan
(periode II) dan 27,8% setelah 4 kali pengobatan (periode III ).
Tabel
6
:
Prevalensi cacing usus pada anak SD di Kecamatan Sewon,
Kabupaten Bantul, Yogyakarta, menurut jenis kelamin
( sebelum pengobatan, Agustus
1977 ).
Jenis kelamin
Jumlah tinja
C a c i n g
u s u s
diperiksa
A.lumbricoides T.trichiura Cacing tambang
Jumlah
%
pos. pos
.
Jumlah
%
pos.
pos.
Jumlah
%
pos.
pos.
laki-laki
Perempuan
187
173
142
133
75,9
76,9
172
158
92,0
91,3
83
66
44,4
38,2
.Jumlah
360
2T.5
76,4
330
91,T.
149
41,4
Pemeriksaan tinja cara Kato biakan modifikasi Harada Mori.
Tabel
7 :
Prevalensi cacing usus pada anak SD di Kecamatan Sleman
Kabupaten Sleman Yogyakarta (sebelum dan sesudah
pengobatan, Agustus
1976 -
Maret
1977).
Periode
pemeriksaan
Jumlah tinja
C a c i n g
u s u s
diperiksa ---
--
A.lumbricoides T.trichiura Cacing tamban ,
Jumlah
%
Jumlah % Jumlah
%
pos.
pos.
pos. pos.
pos.
pos.
Agustus
1976 (I)
397
334
84,2
338
85,1
120
30,3
Maret
19T.7 (II)
321
29
9,0
282
8T.,9
16
5,0
Pemeriksaan tinja cara Kato dan biakan modifikasi Harada Mori.
Tabel 8
lntensitas infeksi cacing usus pada anak SD di Kecamatan
Sleman, Kabupaten Sleman, Yogyakarta (sebelum dan
sesudah pengobatan, Agustus
1976 -
Maret
1977).
Periode
Jumlah tinja
C a c i n g
U s u s
pemeriksaan
diperiksa -
A.lumbricoides T.trichiura
Cacing tambang
Jumlah RTPG Jumlah RTPG Jumlah RT
pos.
per
penderita
pos.
per
pos.
per
penderita penderita
Agustus
19T.6
(1)
397
334
8.273
338
334
65
54
Maret
197T.
(II)
321
29
I.67T.
282
561
1
27
Pemeriksaan tinja cara Kato
RTPG = Rata-rata jumlah telur per gram tinja.
Tabel
9 :
Prevalensi cacing usus pada anak SD di Kecamatan Sewon,
Kabupaten Bantul, Yogyakarta. (sebelum dan sesudah
pengobatan, Agustus
1977 -
Maret
19T.9).
Periode
Jumlah tinja
C a c i n g
u s u s
pemeriksaan
diperiksa --
--
A.lumbricoides T.trichiura Cacing tambang
Jumlah
%
pos.
pos.
Jumlah
%
pos.
pos.
Jumlah %
pos.
pos
Agustus
19T.7 (I)
360
2T.5
76,4
330
91,T.
149 41,4
Maret
19T.8
(11)
252
T.2
28,6
239
94,8
62 24,6
Maret
1979 (III)
252
70
2T.,8
252
100,0
52 20,6
Pemeriksaan tinja cara Kato dan biakan modifikasi Harada Mori.
Tabel 10 : Intensitas infeksi cacing usus pada anak SD di Kecamatan
Sewon, Kabupaten Bantul Yogyakarta (sebelum dan
sesudah pengobatan, Agustus
1977 -
Maret
19T.9).
Periode
Jumlah tinja
C a c i n g
diperiksa
pemeriksaan
U s u s
Cacing tambang
A.lumbricoides T.trichiura
Jumlah RTPG Jumlah RTPGJumlah RTPG
pos
per
penderita
pos.
per
pos
per
penderita
penderita
Agustus
1977 (I)
Maret
1978
(II)
Maret
1979
(111)
360
252
252
275
4.806
72
2.794
70
2.443
330
588
49
239
967
12
252
252
8
29
25
1T.1
Pemeriksaan tinja cara Kato.
RTPG = Rata-rata jumlah telur per gram tinja.
Jadi terjadi penurunan prcvalensi sebesar 62,6% dan 63,6%.
Prevalensi infeksi cacing tambang dengan pemcriksaan tinja
cara Kato dan biakan modifikasi Harada Mori ditcmukan
sebesar 41,4% sebelum pengobatan (periode I). Pada periode
11 sebesar 24,6% dan periode 111 20,6%. (Gambar
2)
Penurunan prevalensi sebesar 40,6% dan 50,2%,
masing-masing setelah 2 kali dan 4 kali pengobatan. Terhadap
T.
tri-
chiura,
pengobatan dengan pyrantel pamoate tidak efektif.
Pada Tabel 10, dapat dilihat perubahan intensitas infeksi
atau rata-rata jpmlah telur per gram tinja per penderita.
Simposium Masalah Penyakit Pazasit
66
Gambar 2 :
Prevalensi cacing usus pada anak SD di kecamatan Sleman dan Sewon,
Yogyakarta (sebelum dan sesudah pengobatan Agustus 19T.6 Maret
1979).
Prevalensi
(% pos.l
Untuk infeksi
A. lumbricoides
ditemukan sebelum pengobatan
(periodc I) sebesar 4.806, turun menjadi 2.794 dan 2.443
masing-masing pada periode 11 dan 111. Rata-rata jumlah telur
per gram tinja pada infeksi cacing tambang menurun pada
periode 11, ialah semula 29 menjadi 25. Tetapi pada periodc 111
sesudah 4 kali pengobatan naik menjadi 171.
DISKUSI
Meskipun berbagai macam cara pengobatan masal infeksi
cacing usus dengan pyrantel pamoate, dengan frekuensi
pengobatan dan dosis yang berbeda-beda telah banyak di-
laporkan, namun cara yang benar-benar mantap masih perlu
diselidiki.
Hasil penelitian di· Yogyakarta menunjukkan bahwa peng-
obatan dengan dosis standar pyrantel pamoate 10 mg/kg berat
badan dengan jarak 2 bulan jauh lebih baik jika dibandingkan
dengan jarak yang lebih lama ialah 6 bulan.
Di Sleman, dalam periode Agustus 1976 - Maret 1977
(7 bulan), setelah dilakukan 3 kali pengobatan dengan jarak
2 bulan, prevalensi
A. lumbricoides
tunin dari 84,2% menjadi
9,0%. Berarti terjadi penurunan prevalensi sebesar 89,3%.
Sedangkan untuk infeksi cacing tambang, ditemukan prevale-
si semula 30,3%, turun menjadi 5,0%, atau penurunan preva-
lensi sebesar 83,5%.
67
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
Hasil ini terbukti lebih baik dari pada hasil penelitian
Seo (5), yang telah menggunakan pyrantel pamoate 10 mg/kg
berat badan, dengan jarak pengobatan 2 bulan. Setelah 1 tahun
dan dilakukan pengobatan sebanyak 6 kali, diperoleh penurun-
an prevalensi A. lumbricoides dari 37,8% menjadi 6,I%,
masing-masing pada saat sebelum dan sesudah pengobatan.
Chen et al (6) telah menggunakan pyrantel pamoate dengan
dosis yang rendah ialah 2,5 mg dan I,5 mg/kg berat badan,
untuk pengobatan masal. Dalam 1 tahun, dilakukan 6 kali
pengobatan dengan jarak 2 bulan. Hasil yang diperoleh ialah
penurunan prevalensi A. lumbricoides dari 17,0% menjadi
4,8% bilamana digunakan dosis 1,5 mg. Kebetulan prevalensi
A. lumbricoides pada saat sebelum pengobatan sangat rendah,
sehingga sulit untuk dibandingkan hasilnya dengan keadaan di
Yogyakarta.
Di Sewon, Bantul, Yogyakarta, jarak pengobatan diper-
panjang menjadi 6 bulan, dengan dosis pyrantel pamoate tetap
10 mg/kg berat badan. Dalam periode Agustus 1977 - Maret
69
Cermin Dunia Kedokteran, Nomor Khusus 1980
1978 (7 bulan), setelah dilakukan 2 kali pengobatan, ternyata
bahwa penurunan prevalensi
A.
lumbricoides maupun cacing
tambang tidak sebesar seperti yang telah dicapai di Sleman.
Sebelum pengobatan ditemukan prevalensi
A.
lumbricoides
sebesar 76,4%, turun menjadi 28,6% sesudah pengobatan.
Berarti penurunan prevalensi sebesar 62,6%, sedangkan cacing
tambang, prevalensi semula 41,4% turun menjadi 24,6% atau
penurunan prevalensi sebesar 40,6%.
Namun demikian, hasil pengobatan di Sewon ternyata lebih
baik jika dibandingkan dengan laporan Seo (5) bilamana
menggunakan pyrantel pamoate 10 mg/kg berat badan dengan
jarak 6 bulan. Setelah dilakukan 2 kali pengobatan, prevalensi
A.
lumbricoides yang semula 42,3% turun menjadi 17,5% atau
penurunan prevalensi hanya sebesar 58,6%.
Cabrera et al (7) melaporkan hasil penelitian yang sangat
memuaskan dengan menggunakan pyrantel pamoate 5 mg/kg
berat badan dengan jarak pengobatan 3 bulan. Setelah 1 tahun
atau 4 kali pengobatan, prevalensi
A.
lumbricoides yang
semula ditemukan sebesar 84,4% turun menjadi 0,5% sesudah
pengobatan. Berarti penurunan prevalensi sebesar 99,4%.
Tetapi untuk infeksi cacing tambang, diperoleh prevalensi
sebesar 24,52% dan 10,13% masing-masing pada saat sebelum
dan sesudah pengobatan; atau penurunan prevalensi hanya
58,7%.
Berdasarkan atas besarnya angka reinfeksi cacing usus,
maka Cabrera (8) menyatakan bahwa pengobatan masal yang
dilakukan pada masyarakat sebanyak 3 kali dalam setahun
dengan jarak 4 bulan, dipandang telah cukup baik.
Hal ini sesuai dengan laporan Adiyatma (2) yang meng-
anjurkan bahwa bilamana prevalensi cacing usus di suatu
daerah melebihi 30%, pengobatan masal hendaknya diberikan
sebanyak 3 kali dalam satu tahun.
Mengenai dosis pengobatan pyrantel pamoate, Alisah et al
(9) berpendapat bahwa dosis standar 10 mg/kg berat badan
terbukti paling efektif dan memberikan angka penyembuhan
paling tinggi, jika dibandingkan dengan dosis yang lebih rendah.
Meskipun demikian, mengingat biaya pengobatan yang relatif
mahal, dosis 5 mg/kg berat badan seperti yang telah digunakan
oleh Cabrera et al (7) tersebut di atas dapat dipertimbangkan.
Gupta Mithal (10) menyatakan pentingnya pengobatan
masal
berulang-ulang (secara periodik) diberikan kepada
masyarakat, bilamana keadaan malnutrisi di suatu daerah
berkaitan dengan Ascariasis.
Tetapi pengobatan masal saja tidaklah mencukupi, sebaik-
nya disertai pula dengan usaha perbaikan higiene sanitasi dan
penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
KESIMPULAN
Percobaan pengobatan masal terhadap infeksi cacing usus
dengan pyrantel pamoate 10 mg/kg berat badan, telah dilaku-
kan pada anak SD di dua daerah di Yogyakarta dengan preva-
lensi pengobatan yang berbeda.
Di Sleman, dalam periode Agustus 1976 - Maret 1977
(7 bulan) telah dilakukan tiga kali pengobatan dengan jarak
2 bulan.
Prevalensi
A.
lumbri
c
oides ditemukan sebesar 84,2% sebelum
pengobatan, turun menjadi 9,0% sesudah pengobatan, dengan
rata-rata jumlah telur per gram tinja per penderita sebesar
8.273 menjadi I.677.
Infeksi cacing tambang prevalensinya menurun dari 30,3%
menjadi 5,0% dengan jumlah rata-rata telur dari 54 menjadi
27, masing-masing pada saat sebelum dan sesudah pengobatan.
Di Sewon, Bantul Yogyakarta, jarak pengobatan diperpanjang
menjadi 6 bulan. Dalam periode Agustus 1977 - Maret 1978
(7 bulan) dilakukan 2 kali pengobatan dengan dosis yang sama.
Penurunan prevalensi maupun intensitas infeksi ternyata tidak
sebesar seperti yang dapat dicapai di Sleman. Prevalensi
A.
lumbricoides sebelum pengobatan sebesar 76,4% turun
menjadi 28,6% sesudah pengobatan, dengan rata-rata jumlah
telur per gram tinja per penderita dari 4.806 menjadi 2.794.
Sedangkan infeksi cacing tambang ditemukan prevalensinya
dari 41,4% turun menjadi 24,6% dan rata-rata jumlah telur
dari 29 menjadi 25, masing-masing pada saat sebelum dan
sesudah pengobatan. Hasil pemeriksaan pada bulan Maret
1979, setelah 4 kali pengobatan dengan jarak 6 bulan, me-
nunjukkan penurunan prevalensi dan intensitas infeksi cacing
usus yang tidak begitu besar.
Prevalensi
A.
lumbricoides turun mencapai 27,7% dan rata-rata
jumlah telur sebesar 2.443.
Sedangkan cacing tambang menunjukkan prevalensi sebesar
20,6%, tetapi rata-rata jumlah telur naik menjadi 171.
Terhadap
T.
trichiura pyrantel pamoate terbukti tidak efektif.
KEPUSTAKAAN
I.Komiya J, Kobayashi A. Techniques applied in Japan for the
control of ascaris and hookworm infections; a review. Japanese J
Med Sci Brot 1965; 18 : I- 17.
2.Adiyatma. Strategi pengobatan pada Program Pemberantasan
Penyakit Cacing yang ditularkan melalui tanah di Yogyakarta.
Simposium Pengobatan Amoebiasis, Helminthiasis usus dan Tricho-
moniasis. Jakarta ; 1980.
3.WHO. Soil Transmitted Helminths. Technical Report Series No.
277, 1964.
4.Noerhayati S, Soebagyo L, Soegeng Y, Soesanto T, Wiyono P,
Utomo. Pengobatan infeksi cacing perut yang ditularkan dengan
perantaraan tanah (Soil Transmitted Helminths) dengan pyrantel
pamoate. Lokakarya Pemberantasan Penyakit Cacing Tambang dan
Parasit Perut Lainnya, Jakarta, lndonesia 1978.
5.Seo B. Studies on the control problems of Ascariasis in Korea.
The Fifth Conference of the Asian Parasite Control Organization,
Jakarta, Indonesia 1978.
6.Chen ER, Hsieh HC, Tseng PT, Chon CH, Wang CM. Determination
of the appropiate intercal of mediaction for ascariasis control.
The Fifth Conference of The Asian Parasite Control
Organization,
Jakarta, Indonesia 1978.
T..Cabrera BD, Arambulo III PV, Portillo GP. Ascariasis control and
eradication in a rural community in the Phillippines. Southeast
Asian J Trop Med Pub Hlth 1975;
8.Cabrera BD. Reinfection and infection rate studies of soil trans-
mitted helminthiasis in Juban, Sorsogon, Republic of The Phillip-
pines. The Fifth Conference of The Asian Parasite Control Organiza-
tion. Jakarta, Indonesia. 1978.
9.Alisah NS, Abidin, Is Suhariyah I, Sri S Margono, Rukmono B.
Treatment trial, minimum effective dose of combantrin in Ascariasis.
The fifth Conference of The Asian Parasite Control Organization,
Jakazta, Indonesia 19T.8.
10. Crupta MC, Mithal S. Effect of periodic deworming on nutritional
status of ascaris infested preschool children receiving supplemen-
tary food. Lancet 19T.7;
Simposium Masalah Penyakit Parasit
70