Obat-obat Anti Malaria Baru
Emiliana Tjitra
Pusat Penelitian Penyakit Menular, Badart Penelitian dan Pengembangan Kesehatan
Departemen Kesehatan R.I., Jakarta
PENDAHULUAN
Pengobatan malaria merupakan salah satu upaya dalam
rangkaian kegiatan program pemberantasan. Keberhasilan peng-
obatan untuk penyembuhan maupun pencegahan tergantung
apakah obat itu ideal, diminum secara teratur sesuai dengan
jadwal pengobatan dan takaran yang telah ditetapkan.
Obat antimalaria yang ideal adalah obat yang mempunyai
efek terhadap semua jenis dan stadia parasit, menyembuhkan
infeksi akut maupun laten, cara pemakaian mudah, harganya
terjangkau oleh seluruh lapisan penduduk dan mudah diper-
oleh, efek samping ringan dan toksisitas rendah '. Sampai saat
ini belum ada obat antimalaria yang ideal. Oleh sebab itu di-
gunakan kombinasi beberapa obat dalam pengobatan.
Dalam program pemberantasan malaria dengan peng-
obatan, Departemen Kesehatan mempunyai standar pengobatan
sesuai dengan daerah dan sensitivitas Palsmodium falciparum
terhadap obat-obat antimalarial. Standarisasi tersebut berguna
untuk mencegah berkembangnya kasus resistensi terhadap obat-
obat antimalaria lainnya.
Resistensi merupakan akibat pemakaian obat yang tidak
tepat. Sampai saat ini hanya P. falciparum yang dilaporkan
telah resisten terhadap klorokuin, maupun obat-obat anti rnalaria
lainnya. Di antara keempat spesies Plasmodia manusia, kasus
malaria P. falciparum tampaknya lebih dominan
2 3 4
dan juga
merupakan penyebab malaria berat yang banyak menimbulkan
kematian.
Di Indonesia dilaporkan terdapat fokus-fokus P. falciparum
resisten terhadap klorokuin pada 26 propinsi
5
6
,
resisten ter-
hadap sulfadoksin-pirimetamin pada 3 propinsi
7 8
,
dan resisten
terhadap meflokuin pada 2 propinsi
9
. Untuk mengatasinya,
perlu diketahui obat-obat antimalaria lainnya yang dapat
dipakai sebagai obat alternatif.
OBAT-OBAT ANTIMALARIA
Berdasarkan rumus kimianya, obat-obat antimalaria dapat
digolongkan sebagai berikut
10 11 12 13
1.
Alkaloida chinchona : kina, kinidin.
2.
4-aminokuinolin : klorokuin, amodiakuin.
3.
8-aminokuinolin : primakuin, kinosid.
4.
Diaminopirimidin : pirimetamin, trimetoprim.
5.
Sulfanamida : sulfadoksin,sulfadiasin, sulfalen.
Sulfon dapson.
6.
9-aminoakridin : mepakrin.
7.
Biguanida : proguanil, klorproguanil, siklo
guanil.
8.
Tetrasiklin : tetrasiklin, doksisiklin, minosi
kiln.
9.
Antibiotik lain : klindamisin, enitromisin
10.
4-metanolkuinolin : meflokuin.
11.
Penantren metanol
: halofantrin.
12.
Seskuiterpen lakton : qinghaosu.
Seskuiterpen peroksid : yingzhaosu.
13.
Pironaridin
14.
Lain-lain.
Berdasarkan efek atau kerja obat pada stadia parasit, obat-
obat antimalaria dapat digolongkan sebagai berikut
10 11 12 13
1)
Sisontosida jaringan primer (pre-eritrositer).
Digunakan untuk profilaksis kausal : B-aminokuinolin, dia-
minopirimidin, biguanida, sulfanamida, dan tetrasiklin.
2)
Sisontosida jaringan sekunder (ekso eritrositer).
Digunakan untuk mencegah relaps : 8-aminokuinolin.
3)
Sisontosida darah (eritrosit)
Digunakan untuk penyembuhan klinis atau supresi : alka-
loida chinchona, 4-aminokuinolin, sulfanamida, sulfon, dan 9-
aminoakridin.
4)
Gamesitosida.
Digunakan untuk membunuh bentuk seksual parasit : al-
kaloida chinchona, 4-aminokuinolin, dan 8-aminokuinolin.
5)
Sporontosida.
Digunakan untuk mencegah pembentukan ookist dan spo-
rosoit dalam tubuh nyamuk : diaminopirimidin, sulfanamida,
dan biguanida.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
58
Obat-obat antimalaria yang dipakai dalam program adalah
klorokuin, sulfadoksin-pirimetamin, kina, tetrasiklin, dan pri-
makuin
1
.
OBAT-OBAT ANTIMALARIA BARU
Dalam satu dasawarsa terakhir, banyak berkembang obat-
obat antimalaria baru. Di antaranya ada yang sudah terdaftar
dan beredar di Indonesia.
1.
Sulfalen (sulfametopirasin = kelfisin) pirimetamin
Merupakan obat antimalaria kombinasi golongan sulfana-
mida dan diaminopirimidin. Obat ini sudah terdaftar dan ber-
edar di Indonesia dengan nama Metakelfin.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida jaringan primer,
sisontosida darah dan sporontosida untuk ke empat jenis plas-
modium manusia. Dikemas dalam bentuk 500 mg sulfalen - 25
mg pirimetamin/tablet. Diberikan secara oral, dosis tunggal,
dengan dosis 25 mg/kgbb. untuk anak 15 tahun, 1 tablet untuk
anak 610 tahun, dan 23 tablet untuk orang dewasa. Obat ini
tidak diberikan pada bayi dan wanita hamil. Untuk profilaksis
diberikan dengan dosis sama seperti dosis pengobatan setiap
minggu. Mempunyai waktu paruh 6585 jam, dan konsentrasi
dalam plasma mencapai puncaknya dalam 4 jam.
Efikasi obat ini baik dengan angka penyembuhan di Asia
(Kamboja, Birma, dan Filipina) 80-100%, kecuali di Thailand
karena telah banyak kasus P. falciparum resisten obat antifolat,
sedangkan bebas demam dicapai dalam 13 hari dan bebas
parasit juga 13 hari. Efikasi obat ini di Afrika (Somalia,
Kamerun, Senegal, Nigeria, Volta Hulu, Togo,
Kongo,Tanzania, dan Kenya) adalah angka penyembuhan 92-
100%, bebas demam 13 hari, dan bebas parasit 23 hari.
Efek samping obat ini seperti sulfadoksin-pirimetamin
yaitu : hanya pada orang-orang tertentu berupa urtikaria,
sindrom Steven Johnson, granulositopcni, dan methemoglo-
binemia.
2.
Doksisiklin dan minosiklin
10,13,15
Merupakan obat antimalaria golongan tetrasiklin. Obat ini
sudah terdaftar, beredar dan digunakan sebagai obat anti-
biotika.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida jaringan primer,
khusus untuk P. falciparum tetapi tidak digunakan untuk pro-
filaksis. Dikemas dalam bentuk 100 mg/tablet atau kapsul,
diberikan secara oral, dengan dosis 1,52 mg/kgbb, tiap 12
jam, selama 7 hari, dan hams diberikan bersama kina atau
amodiakuin. Doksisiklin mempunyai waktu paruh 1518 jam.
3.
Klindamisin
10,16,17,18
Merupakan obat antimalaria golongan antibiotika lain.
Obat ini sudah terdaftar, beredar dan digunakan sebagai obat
antibiotika.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk P.
falciparum.
Dikemas dalam bentuk 75 mg dan 150 mg/ kapsul,
diberikan secara oral, dengan dosis 510 mg/kgbb, tiap 12 jam,
selama 5 hari, dan sebaiknya diberikan bersama kina atau
amodiakuin.
Oemijati dkk (1989), telah meneliti obat ini di RSU Dili,
Timor Timur, dengan hasil baik. Klindamisin diberikan kepada
penderita P. falciparum resisten klorokuin secara in vitro dengan
dosis 2 x 300 mg, peroral. selama 5 hari. Angka penyembuhan
100%, dan bebas parasit dicapai pada hari ke 2-6. Efek
samping yang ditemukan ringan dan bersifat sementara.
4.
Meflokuin
1,9,12,13,19,20,21,22,23,24,25
.
Merupakan obat antimalaria golongan 4metanol kuinolin.
Obat ini pernah diteliti, belum terdaftar dan beredar di Indo-
nesia. Di beberapa negara obat ini sudah digunakan secara
luas.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk ke
empat spesies plasmodium manusia. Dikemas dalam bentuk
250 mg/tablet, diberikan secara oral, dosis tunggal, dengan
dosis 1525 mg/kgbb. Obat ini aman untuk wanita hamil.
Dapat diberikan untuk profilaksis dengan loading dose 750 mg,
kemudian 125 mg/minggu. Waktu paruh obat ini adalah sekitar
3 minggu, dan konsentrasi dalam plasma mencapai puncaknya
dalam 1216 jam. Belum ditemukan kasus resistensi silang
dengan obat antimalaria lain. Untuk memperlambat terjadinya
resistensi P. falciparum meflokuin sebaiknya digunakan
kombinasi dengan sulfadoksin-pirimetamin menjadi MSP
(meflokuinsulfadoksin-pirimetamin) yang dapat diberikan
dengan dosis tunggal.
Efikasi obat ini di Thailand baik, dengan angka penyem-
buhan 90100%, bebas demam dicapai pada hari ke 13 dan
bebas parasit pada hari ke 35. Di Indonesia, walaupun belum
beredar dan dipakai, telah ditemukan kasus resisten di Irian
Jaya dan Jawa Tengah.
Efek samping obat ringan dan sementara yaitu : gangguan
saluran pencernaan, lemah, pusing, insomnia, pruritus, dan skin
rash.
Semua efek samping ini bersifat sementara dan tida
memerlukan pengobatan khusus.
5.
Halofantrin 11,13,26
Merupakan obat antimalaria golongan penantren metanol.
Obat ini belum terdaftar dan beredar di Indonesia. Di beberapa
negara (Perancis dan negara-negara Afrika Barat) obat ini
dalam waktu dekat akan dipakai. Di Indonesia obat ini sedang
diteliti.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk ke
empat spesies plasmodium manusia. Dikemas dalam bentuk
250 mg/tablet, 500 mg/kapsul, dan 100 atau 250 mg/5 ml
suspensi. Diberikan secara oral dengan dosis untuk anak-anak
810 mg/kgbb, tiap 6 jam, dengan dosis total 24 mg/kgbb.
Untuk orang dewasa (> 12 tahun) diberikan 500 mg tiap 6 jam,
dengan dosis total 1500 mg. Tidak diberikan pada wanita hamil
dan menyusui karena mempunyai efek fetotoksik pada binatang
percobaan. Waktu paruh halofantrin adalah 12 hari, dan
konsentrasi dalam plasma mencapai puncaknya dalam 6 jam.
Belum ditemukan kasus resistensi silang dengan obatobat
antimalaria lainnya.
Efikasi obat ini baik, dengan angka penyembuhan men-
dekati 100%, waktu bebas demam 13 hari, dan bebas parasit
23 hari.
Efek samping obat ini ringan dan sementara yaitu ganggu-
an saluran pencernaan : mual, sakit perut, dan diare.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 59
6.
Qinghaosu
12,13,15,27,28,29,30,31
Merupakan obat antimalaria golongan seskuiterpen lakton.
Obat ini belum terdaftar dan beredar di Indonesia. Menzpakan
obat tradisionil Cina dari ekstrak tumbuhan Artemesia annua L
(Qinghao)
yang sebenarnya sudah dipakai sejak ribuan tahun
yang lalu. Selain di Cina, qinghaosu juga diteliti di Birma dan
Thailand.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk P.
falciparum
dan P. vivax. Obat ini baik untuk mengobati malaria
berat atau dengan komplikasi karena efek obat yang sangat
cepat. Dikemas dalam bentuk tablet (artemisin qinghaosu)
untuk per oral, dalam larutan minyak (artemeter) untuk sun-
tikan intramuskular, dalam larutan garam fisiologis (artesunat)
untuk suntikan intravena atau intramuskular, dan dalam bentuk
supositoria untuk rektal supositoria. Dosis yang efektif masih
diteliti. Dosis total untuk orang dewasa adalah tablet : 2,5-3,2
g, larutan minyak : 0,6-1,2 g, dan larutan garam fisiologis : 1,2
g. Tidak diberikan pada wanita hamil karena mempunyai efek
fetotoksik. Waktu paruh qinghaosu adalah 7 jam dan
konsentrasi maksimum dalam plasma terlihat setelah 0,5-4 jam
pemberian obat. Tidak ditemukan kasus resistensi silang
dengan klorokuin.
Obat ini sangat cepat menurunkan demam dan parasit.
Waktu bebas demam yang dibutuhkan adalah 15-22 jam, se-
dangkan bebas parasit antara 30-68 jam. Angka rekrudensi
cukup tinggi yitu > 18% yang biasanya timbul pada hari ke
15-30 setelah pengobatan.
Efek samping obat ini yang didapat adalah penurunan
jumlah lekosit dan retikulosit yang bersifat sementara.
7.
Yingzhaosu
32,33
Merupakan obat antimalaria golongan seskuiterpen pe-
roksid. Obat ini baru dikembangkan dan didapatkan dari
tanaman obat tradisionil Cina.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk P.
falciparum
dan tidak ditemukan resistensi silang dengan kloro-
kuin, meflokuin, dan qinghaosu. Obat ini baik digunakan
dengan kombinasi. Dapat diberikan peroral, atau parenteral.
Toksisitas rendah dan tidak ditemukan mutagenisitas.
8.
Pironaridin
34,35
Merupakan obat antimalaria derivat hidroksianilino-benso-
naphtiridin. Obat ini ban' diteliti pada binatang percobaan dan
in vitro.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk P.
falciparum
dan sensitif terhadap P. falciparum resisten kioro-
kuin.
9.
Falcimax TM
36,37
Merupakan obat antimalaria kombinasi kina, kinidin dan
cinchonin.
Adapun kerja obat ini adalah sisontosida darah untuk ke
empat spesies plasmodium manusia. Obat ini diberikan dengan
dosis 12 mg/kgbb. flap 8 jam, selama 7 hari, per oral.
Efikasi obat ini baik, dengan angka penyembuhan 100%,
sedangkan efek samping obat ringan dan sementara.
10.
Lain-lain : 4-piridin metanol, ariltio kuinasolin, 2 fenil
fenol, dihidrotriasin 13
Merupakan obat-obat antimalaria yang sedang diteliti pada
binatang percobaan dan bersifat sisontosida darah.
KESIMPULAN DAN SARAN
Dengan banyak berkembangnya obat-obat antimalaria baru
dan semakin luasnya malaria P. falciparum resisten klorokuin
atau mu/tiding serta semakin dominannya kasus malaria P.
falciparum,
maka pemakaian obat-obat antimalaria ban' perlu
dibatasi yaitu hanya pada kasus-kasus yang gagal dengan obat-
obat standar (program DepKes).
Di samping itu untuk mendapatkan obat antimalaria yang
mendekati ideal dan untuk memperlambat terjadinya strain P.
falciparum
yang resisten obat tersebut, sebaiknya digunakan
kombinasi obat yang sesuai.
Untuk malaria P. vivax belum perlu digunakan obat-obat
antimalaria barn karena P. vivax masih sensitif dengan obat
standar.
Sudah saatnya dikembangkan obat antimalaria tradisionil
Indonesia seperti yang dikembangkan di Cina.
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasik kepada Prof. Dr. Sri Oemijati, Dr. Suriadi Gunawan,
DPH, dan Dra. Harijani AM atas badman dan saran-sarannya.
KEPUSTAKAAN
1.
Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Menular,
Departemen Kesehatan RL Malaria : Pengobatan 3, 1983.
2.
Tjitra E, Harun S, Dewi MR dkk. Tes IFA pada penelitian malaria di
Kepulauan Seribu. Seminar Ilmiah dan Kongres Nasional Biologi ke IX,
10-12 Juli 1989, Padang.
3.
Tjitra E, Sekartuti, Renny M dkk. Sensitivitas P. falciparum terhadap
beberapa that antimalaria di desa Pekandangan, Jawa Tengah. Seminar
Parasitologi Nasional VI dan Kongres P4I V, 23-25 Juni 1990, di Panda-
an. Jawa Timur.
4.
RumahSakit ITCI Balikpapan. Laporan penderita malaria RS 1TCI Balik-
papan, Januari s/d Desember 1989.
5.
Arbani PR. Komunikasi pribadi, 1989.
6.
World Health Organization Project. Drug Resistant Malaria. Report of an
Intercountry Meeting. New Delhi, 13-15 May 1985.
7.
Pnbadi W, Dakung L$, Adjung S. Infeksi P. falciparum resisten terhadap
klorokuin dari beberapa daerah di Indonesia. Medika 1983, 8: 689-693.
8.
Marwoto H. Penelitian resistensi P. falciparum terhadap FansidarŪdi In-
donesia. Laporan akhir penelitian tahun 1983-1985.
9.
Hoffman SL dkk. Invitro studies of the sensitivity of P. falciparum to
mefloquine in Indonesia. Panel diskusi Seminar Parasitologi Nasional dan
Kongres ke II P4I, Bandung, Agustus 1983.
10.
Hoffman SL. Clinics in Tropical Medicine and Communicable Diseases
Malaria : Treatment of malaria. WB Saunders Company 1986; I (1) : 171-
224.
11.
Smith Kline and French. Halofantrine in the treatment of multidrug
resistant malaria. Parasitology Today, 1989.
12.
Excerpta Medina. Xllth International Congress for Tropical Medicine and
Malaria. 18-23 September 1988, Amsterdam, The Netherlands.
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993
60
13.
World Health Organization. Chemotherapy of Malaria. 2nd edition, WHO
Geneva, 1981.
14.
Donno L. Malaria. Farmitalia Carlo Erba, 1986. Milano, Italy.
15.
World Health Organization. Severe and complicated malaria, 1986; 80 :
1-50.
16.
Oemijati S, Pribadi W, Suprijanto S dick. Pengobatan infeksi P. faici-
parum yang resisten terhadap Idorokuin dengan klindamisin. Seminar
Parasitologi Nasional VI dan Kongres P4I V, 23-25 Juni 1990, Pandaan,
Jaws Timur.
17.
Geary TG, Jensen JB. Effects of antibiotics on P. falciparum in vitro.
AmJ Imp Med Hyg 1983; 32 (2) : 221-225.
18.
Seaberg LS, Parquette AR, Gluzman IV dick. Clindamycin activity against
chloroquine-resistant P. falciparum. JlnfectDis 1984; 150 (6) - 904-911.
19.
Bunnag D. Mefloquine. XIIth International Congress for Tropical Medi-
cine and Malaria. 18-23 September 1988, Amsterdam, The Netherlands.
20.
Schwartz DE dkk. Chemotherapy 1982; 28 : 70.
21.
Karbwang J dkk. Eur J Clin Pharm 1987; 32 : 173.
22.
Karbwang J dirk. Br. J Clin Pharmac 1987; 23 : 477.
23.
Harinasuta T dick. Bull WHO 1987; 65 : 363.
24.
World Health Organization Technical Report Series 711, 1984.
25.
Jiang BJ, Li GQ, Guo XB, Yun CK A ntimalarial activity of mefloquine
and qinghaosu. Lancet 1982 (August 7) : 285-8.
26.
Australian Doctor, November 11th, 1988, page : 2.
27.
World Health Organization. The development of Qinghaosu and its deri-
vates as antimalarial drugs. Fourth Meeting of the Scientific Working
Group on the Chemotherapy of Malaria, 6-10 October 1981, Beijing,
People's Republic of China.
28.
Pe TM, Tin S. The efficacy of artemether (Qinghaosu) in P. falciparum
and P. vivax in burma. Southeast Asian J Trop Med Pub H1th 1986; 17
(1) : 19-22.
29.
Pe TM, Tin S. A controlled clinical trial of artemether (Qinghaosu
derivates) versus quinine in complicated and severe falciparum malaria.
Trans Roy Soc Trop Med Hyg 1987; 81 : 559-561.
30.
Li GQ, Guo XB, Jian HX Arnold K. Randomized comparative study of
mefloquine, qinghaosu, and pyrimethamine-sulfadoxine in patients with
falciparum malaria. Lancet 1984 (December 15) : 1360-1.
31.
Tranakchit H. Clinical trials of qinghaosu on malaria. Simposium Pe-
nyakit Tropis dan Parasit 1990, 4 Augustus 1990, Universitas Taruma-
nagara, Jakarta.
32.
Stoholer HR, Jaquet C, Peter W. Biological characterization of novel
bicyclic peroxides as potential antimalarial agents. XIIth International
Congress for Tropical Medicine and Malaria. 18-23 September 1988,
Amsterdam.The Netherlands.
33.
Hofheinz W. Jaquet C, Masciadri R, Schmid G, Stabler HR. Structure-
activity relationship of novel bicyclic peroxide antimalarials related to
yingrhaosu. XIIth Congress for Tropical Medicine and Malaria. 18-23
September 1988, Amsterdam, The Netherlands.
34.
Werdorfer WH. Chemotherapy of malaria. AID malaria strategy meeting.
Columbia, Maryland : 7-10 June 1983.
35.
Qiu CP, Ren DX, Liu DQ, Liu RJ, Gao DQ. Sensitivity of P. falciparum
to pyronaridine and sodium artesunat in Hainan island. China. XIIth
International Congress for Tropical.Medicine and Malaria. 18-23 Septem-
ber 1988, Amsterdam, The Netherlands.
36.
Sabchareon A, Chongsuphajaisidhi T, Singhasivanon V dkk. Erythrocyte
drug level proves to be the crucial factor for dose-finding of an anti-
malarial (Falcimax TM). XIIth International Congress for Tropical Medi-
cine and Malaria. 18-23 September 1988, Amsterdam, The Netherlands.
37.
Chanthavanich P.Chongsuphajaisidhi'f, Sabchareon A. dick. A combina-
nation of quinine, quinidine and cinchonine (Falcimax TM) in the
treatment of falciparum malaria in Thai children. XIIth International
Congress for Tropical Medicine and Malaria. 18-23 September 1988,
Amsterdam, The Netherlands.
Keep your fears to your self, but share your courage with others
(RL Stevenson)
Cermin Dunia Kedokteran No. 83, 1993 61